Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Kamar Ganti Wanita


__ADS_3

10 Oktober 2025, jam 07:32, aku dan Nina diperbolehkan untuk kembali menuju ke kelas. Kami dijaga oleh Diana dan Sinta tanpa kusadari keberadaannya. Sinta harus menjaga jarak dariku sekitar 5 meter karena ditakutkan traumaku akan terjadi lagi. 


Diana Ravenrought, siswi Kelas I Soshum A, sekelas dengan Shiori dan Bella, menjagaku dari belakang agar aku tidak akan mengalami trauma lagi. 


Tak lama kemudian, Aurora dan Evelyn bertemu denganku yang sedang berpegangan dengan Nina. Karena aku masih melihat aura agresif dari sisis Aurora. Aku bersembunyi di belakang.


“Halo, Nina. Halo, Rivandy.”


“Rivandy, maafkan aku! Apakah kamu masih takut padaku? 


Aku belum menjawab. Agar tidak terlihat canggung, Nina menjawab, “Jangan khawatir! Aku akan menjaganya. Kalian bisa bersama sisinya jika ia sudah sembuh,” menenangkan Aurora.


Evelyn yang melihatku bersembunyi dari Aurora bertanya, “Kapan ia sembuh, desu?”


“Dia akan sembuh sekitar satu bulan lagi,” jawab Nina mengerjai Evelyn.


“Eh?! Bulan depan, desu?! Tidak mungkin, desu!” Evelyn mengeluh dengan jawaban itu. 


Nina tertawa dengan sikap Evelyn yang polos itu. Ia merespon, “Aku hanya bercanda, kok. Dia bisa sembuh sekitar dua hari lagi,” dan menjelaskan kondisiku.


“Tapi, selama Aurora tidak menyentuh alkohol, Rivandy akan baik-baik saja,”  lanjut Nina sambil berjalan menuju ke kelas bersamaan dengan Aurora dan Evelyn.


Kedua gadis itu hanya terdiam dengan itu. Mereka menuju ke kelas dan menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun, aku harus mengejar ketertinggalan dalam ilmu militer karena aku tidak mengikuti pelajaran selama 3 hari. 


[*^*]


Jam 09:13, pelatihan militer semakin berlanjut. Nina menemaniku dan mengawasi Aurora dan Evelyn. Kami belajar untuk melakukan tembakan pada sasaran, bersembunyi dari tembakan lawan, dan melakukan simulasi untuk meningkatkan kemampuan dan skor.


Pada saat latihan itu berlanjut, seorang guru bimbingan militer kami, Stephan William menghampiriku dan Nina. Ia membawa paket yang berat dan segera menitipkan kepadaku. Ia ingin menitipkan kepada siswa lain. Namun, ia memilihku karena ia mempercayaiku.


“Rivandy, tolong bawa pakaian ini ke kamar ganti pria!” Suruh Pak Stephan memberikan paket rompi pria kepadaku.


“Pak, bolehkah kau menemaninya?” Tanya Nina tidak membiarkanku untuk berjalan sendirian.


Pak Stephan melarang, “Tidak boleh! Kau tidak boleh menemaninya dengan alasan apapun.”


“Tapi, dia sedang CPTSD, Pak. Masih dalam tahap penyembuhan,” jelas Nina mengenai penyakitku.


“Tidak apa-apa. Aku tidak menyuruhnya ke kamar ganti wanita,” canda Pak Stephan menertawakan Nina.


“Huft! Tapi, kalau aku mendengar laporan mengenai Rivandy, aku akan menuntutmu,” kesal Nina sambil berbalik badan.


Aku mengambil paket itu dan segera mengabarkan ke Nina, Aurora, dan Evelyn untuk segera keluar dari kelas dan menuju ke kamar ganti pria untuk menyimpan paket itu dan akan kembali ke kelas.


[*^*]


Jam 09:17, aku memasuki ruangan kamar ganti setelah aku membuka pintu. Ruangannya cukup sepi dan rapi. Aku mencium bau harum, sehingga aku bisa mencari tempat untuk menyimpan paket yang kupegang.


Aku berjalan menuju ke tempat nakas untuk menyimpan paket itu. Banyak tempat yang cukup asing bagiku. Loker warna merah muda, tanda hati pada setiap nama, dan aksesoris wanita, seperti bando, bedak, ikat rambat, dan lainnya.


Pada saat aku berjalan dengan membawa paket rompi, ada seorang gadis yang sedang melepaskan bajunya dan sedang menggunakan deodoran. Aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Aku hanya fokus untuk mencari tempat untuk bisa menyimpan paket ini. Tidak ada tempat yang cocok untuk paket ini.


Ia menoleh pada sosok yang asing. Ia terkejut dengan aku yang sedang mencari sesuatu. Ia berteriak, “O-Onii-chan?!”


Aku yang mendengar teriakan itu segera menoleh ke sumber suara. Aku melihat gadis berambut orange yang sedang mengganti pakaiannya. Aku bertanya, “Permisi, dimana aku bisa meletakkan paket ini?”


Aku melihat postur tubuh Bella yang seperti lolita. Tidak beda jauh dengan Evelyn. Namun, ia lebih muda dariku. Ia bertanya balik, “Onii-chan! Kenapa kamu disini?! Ini kan kamar ganti wanita!”

__ADS_1


“Eh?! Aku melihat hal yang aneh. Aku melihat loker yang penuh dengan aksesoris dan pakaian wanita, sehingga aku bingung dimana aku bisa meletakkan paket ini,” jelasku sambil melihat sekitar.


“Kau salah masuk ruangan, Onii-chan! Apa kau buta?” Bella terus mengomel.di depanku.


Di tengah omelan itu, ada gadis yang hanya menggunakan handuk karena selesai mandi. Gadis itu menghampiriku yang diomeli oleh Bella. ia menyapa, “Eh! Rivandy! Apa kabar?”


“Shiori, Aku baik-baik saja sampai Shiva mengomel di hadapanku,” jelasku menghampiri Shiori sambil menunjuk Bella yang sedang mengomel.


“Aku bukan Shiva! Aku Bella!” Bella berteriak di depanku.


Shiori tertawa mendengar jawaban dariku. Tatapanku kepada Shiori cukup sayu. Ia bertanya, “Hei, Rivandy. Apakah kamu mau melihat tubuhku yang halus dan mulus ini?” 


Shiori mengira aku melihat tubuhnya yang terbalut dengan handuk. Padahal, aku hanya melihat wajahnya yang merayuku. Aku terdiam dengan rayuan itu. Bella yang melihat itu segera berteriak, “Hoi! Shiori! Apa yang kau lakukan?” 


“Jangan merayunya!” Bella memarahi Shiori yang sedang memegang tubuhku. 


Aku hanya terdiam dengan tingkah mereka berdua. Mereka sepertinya tidak waras. Selain itu, aku tidak tahu mengapa Shiori merayuku. Kalau saja Shiori agresif seperti Aurora yang meminum alkohol, aku akan berteriak dan menjauh darinya. 


Jika ada keributan di kamar mandi wanita, Diana Ravenrought, selaku anggota Klub Dispilin akan melancarkan aksinya untuk membiusku dan membawaku ke ruangan itu lagi.


Aku yang sedang dirayu Shiori bertanya, “Shiori. Aku ingin bertanya. Dimana aku meletakkan paket ini?” sambil memberikan paket itu kepada Shiori.


Shiori malah tertawa dengan keluguanku. Ia menjawab, “Kau tidak bisa menyimpan itu dimana pun. Tapi, jangan khawatir! Aku akan menemanimu,” memegang tubuhku dengan lembut.


“Kalau bisa, aku akan menemanimu sampai … akhir … hayat,” lanjutnya sambil berpose nakal.


“Shiori!” Serang Bella membekap mulut Shiori dan bertengkar dengannya.


“Kya! Bella. Apa yang kau lakukan?” Shiori memberontak.


“Kalau kau merayu Onii-chan sekali lagi, aku akan menghajarmu sekarang juga,” ancam Bella sambil memegang tubuh Shiori dengan erat.


Di tengah perkelahian itu, seorang gadis yang hanya mengenakan masker dan pakaian dalam khusus anak kecil. Ia keluar dari kamar mandi dan mengeluh, “Kalian berisik sekali! Aku tidak bisa tenang di sini."


“Oh. Rivandy. Lama tidak bertemu. Mereka kenapa?” Kotori menghampiriku sambil melihat pertengkaran Shiori dan Bella.


“Aku tidak tahu. Sepertinya mereka bergulat."


[*^*]


“Oh, kamu tidak tahu ini kamar ganti wanita?” Dugaan Kotori benar mendengar keluguanku.


“Aku baru melihatnya.” jawabku membenarkan dugaan Kotori.


“Kalau kau sengaja masuk kesini, aku akan menghajarmu,” ancam Bella dengan aura iblisnya.


“Dasar anak kecil! Mentalnya sedang mengalami pertumbuhan,” ejek Shiori dengan muka bebek.


“Sekali lagi kau bilang begitu, aku akan menghajarmu sekarang juga,” ancam Bella mengepalkan tangannya da siap menghajar Shiori. 


“Iya. Maaf. aku tidak mau terkena pukulan darimu. Soalnya, kamu sudah menghajar Andika dan Yudha sampai benjol.” Shiori takut dengan pukulan Bella yang akan mendaratnya.


“Salah mereka. Aku menghajar mereka karena mereka mengerjaiku," jelas Bella.


“Rivandy. Aku akan memperingatkanmu. Sebaiknya kamu keluar dari sini sekarang juga." Kotori memperingatkanku untuk keluar dari kamar mandi itu.


“Kalau tidak, mereka akan menangkapmu dan segera menghisap menyalurkan hasrat mereka," jelas Kotori yang sudah mengenakan pakaian akademi. 

__ADS_1


“Lalu, apa yang aku lakukan dengan membawa paket yang cukup berat ini?”


“Jangan khawatir, aku akan membantumu,” putus Shiori sambil mendekatiku.


Bella terpaksa membantuku. Ia bertingkah seperti gadis tsundere. Ia tidak bisa mengatakan apapun karena sudah didesak oleh Shiori. Aku melihat mereka yang sedang bertengkar itu. 


“Bukan berarti aku ingin membantumu, mereka semua setuju dengan itu,” ucap Bella dengan berakting seperti gadis tsundere.


“Ok, kalau begitu kita akan segera keluar dan ….” Kotori menghentikan perkataan dan melihat semua gadis masuk ke kamar ganti untuk mengganti baju setelah melepas lelah mereka.


“Gawat! Sembunyi!” Kotori memegang tanganku dan segera menuju ke ruangan penyimpanan. 


Bella dan Shiori mengikuti Kotori yang segera menuju ke ruangan penyimpanan. Aku memastikan bahwa paket itu telah aku jaga. Aku tidak mau mereka mengambil rompi pria itu. 


Jika Pak Stephan tahu kalau aku di sini, ia akan menertawakanku.


Semua gadis pergi ke loker mereka dan segera mengambil handuk mereka dan mandi. Mereka menyimpan senjata di sisi mereka dan segera menggantikan pakaian mereka. 


Aku hanya memperhatikan mereka secara seksama. Shiori dan Bella mencari rute agar aku bisa keluar dari sini. Kotori segera melihat aktivitas itu bersamaku.


“Onii-chan. Jangan lihat!” Bella melancarkan pukulannya di kepalaku, sehingga aku langsung tidak sadarkan diri.


“Bella. Jangan memukul Rivandy!” Tegur Kotori yang melihat Bella memukulku.


“Lihat! Dia tidak sadarkan diri,” lanjut Kotori melihatku 


“Rivandy, sadarlah!” Kotori berusaha membangunkanku.


“Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan emosiku,” sesal Bella meminta maaf pada Kotori.


Kotori berusaha untuk membangunkanku. Ia mengambil headphone bersama handphone miliknya dan memasangnya di telingaku. Kemudian, ia menyalakan musiknya yang berjudul “Panda Eyes - Highscore” agar aku bisa membuka mataku.


Namun, Kotori tidak bisa membangunkanku. Aku masih pingsan karena aku dipukul Bella  Kotori sudah menyetel volume sampai 100%. Namun, aku tidak terbangun juga. 


“Sial! Kenapa kau tidak bangun, Rivandy?” Resah Kotori melihatku tidak terbangun.


“Kalau begitu, aku akan membangunkannya dengan ini,” usul Shiori membuka pakaiannya dan segera memelukku.


“Shiori, apa yang kau lakukan?” Bella protes dengan tingkah laku Shiori.


“Ara. Bukankah kamu memukulnya sampai ia pingsan?” Tanya Shiori mendengar protes dari Bella/


“”Iya. Tapi, yah … gak gitu juga kali,” balas Bella sambil menahan wajahnya yang memerah.


“Kalian, jangan berisik! Nanti kita ketahuan,” tegur Kotori sambil melerai perdebatan itu.


Shiori melakukan pelukan padaku dan menggigit telingaku agar aku terbangun. Telinga yang ia gigit melakukan reaksi pada tubuhku, sehingga aku sadar kembali. 


“Tidak! Jangan mendekat! Aku masih ingin hidup!” Aku berteriak sekencang mungkin.


Aku berbalik badan dan melihat Shiori yang sedang memelukku sambil tersenyum. Aku lega dengan itu. Aku melirik, “Oh. Shiori. Aku kira aku akan diperkosa oleh Aurora.”


“Onii-chan. Jangan melihat!” Bella menutup mataku dengan handuknya.


“Bella. Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Aku segera melepaskan handuk yang dililitkan di mataku.


Kotori mendengar keributan itu dan menegur lagi, “Jangan berisik, aku sedang mencari jalan …. ”

__ADS_1


Kotori terkejut. Ia tidak bisa bergerak sedikitpun. Sekumpulan gadis melihatku dengan 3 gadis yang mengelilingiku. Bella dan Shiori langsung terdiam.


“Oops!”


__ADS_2