Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Shiori von Zuckerberg 1,3


__ADS_3

26 November 2025, jam 06:00, sebentar lagi musim gugur di kota Moskow akan berakhir dan musim dingin semakin tiba. Aku, gadis berambut orange dan mata orange-hitam sudah mengenakan seragam akademi, menggunakan stoking hitam dan rok pendek, serta dasi hitam dan pakaian putih polos itu. 


Aku mengingat seragam SD pada saat mengenakan seragam ini. Rasanya tidak ada yang berbeda dengan ini. Aku seperti anak SD yang sudah lulus ke SMP lebih awal. Aku sudah lancar berbahasa Rusia sekarang. Jadi, tidak ada yang menghalangiku lagi.


Setelah keluar dari apartemenku, aku berniat untuk menjenguk Shiori dan mengajaknya untuk berangkat bersama. Keempat temanku sudah berangkat duluan. Mereka meninggalkanku begitu saja. Aku jmemberi pesan pada mereka tapi mereka tidak membaca dan membalas pesan dariku.


Saat menghampiri ruangan Shiori, aku menekan tombol pintu untuk membuatnya keluar. Namun, tidak ada reaksi apapun. Shiori tidak ada dan membuka pintu. Aku membuka pintu dua kali dan menunggu Shiori lagi. Namun, Shiori tidak ada lagi. Aku menekan bel yang ketiga, Shiori tidak muncul lagi. Mungkin dia sudah berangkat duluan atau apa. 


Karena sudah kehabisan kesabaran, aku berangkat menuju akademi sekarang juga. Aku menaiki taksi yang murah lalu bertemu pada sopir taksi. Kemudian, mengarahkan sopir taksi itu kepada akademi dengan Google Maps yang kuberikan padanya. 


Hanya beberapa siswa yang menggunakan taksi ke akademi. Itu karena mereka orang kaya atau mereka terburu-buru. Aku menggunakan ini karena aku ditinggali mereka. Aku akan membalas mereka dengan taksi itu. 


[*^*]


Setelah sampai di akademi, aku menunggu mereka yang meninggalkanku di apartemen..Aku harap bisa balas dendam. Karena itu, aku sudah menyiapkan senjata rahasia untuk mengerjai mereka 


Sebuah pistol mainan yang hampir mirip dengan pistol milikku. Pelurunya cuman air dingin. Ini untuk mengancam mereka dan membuat mereka ketakutan. Aku bersembunyi di pintu masuk akademi untuk menunggu kedatangan mereka.


Saat menjalankan aksiku, aku kelar dari persembunyianku dan memperlakukan mereka seperti perampokan. Aku menghampiri dia dengan cepat dan menarik pelatuk, sehingga air dingin pada leher mereka. 


“Rasakan itu! Itu akibatnya kalian meninggalkanku,” desisku dengan sebuah aura jahatku.


Namun, sasaranku meleset. Aku berniat melakukan itu pada Farah, Wulan, Andika, atau Yudha. Itu adalah Shiori dengan tubuhnya yang semakin memburuk. Aku malah membuatnya lebih buruk. Kondisi tubuhnya yang buruk dengan sentuhan air dingin. 


Sejak itu, masalah pun dimulai. 


Shiori terdiam sejenak. Ia tidak bergerak sedikitpun, hanya berdiri di depanku. Aku sadar dengan dan menyembunyikan pistol mainanku. Aku berusaha agar hubunganku dengan Shiori baik-baik saja.


“Shiori. Rupanya kamu disini? Kamu sendirian? Tidak bersama yang lain?” Tanyaku pada Shiori yang terdiam kaku.


“Maafkan aku. Aku pikir orang lain,” lanjutku meminta maaf.


Shiori tidak merespon apapun, hanya terdiam suram dengan permintaan maaf dariku. Ia tidak bisa menerima minta maaf itu. Entah diterima atau tidak. Aku tidak mengerti dia selalu menjaga jarak dariku. 


Tiba-tiba ia lari dariku dan meninggalkanku di pintu gerbang akademi. Kemudian, ia menahan tangisannya ketika merasakan masa lalu yang cukup kelam. Aku tidak akan membiarkan Shiori berjalan sendirian lagi. Aku menyimpan pistol mainan itu di saku celanaku dan segera berlari.


“Shiori! Tunggu aku! Jangan tinggalkan aku!” Bella mengejar Shiori yang mengucurkan air matanya.


Sepertinya, aku terlalu berlebihan. Aku tidak berharap kalau Shiori akan sakit hati padaku jika aku menjahilinya. 


Sesampainya di kelas, aku mendekati Shiori dan segera berbicara dengannya lebih lama lagi. Sebelum itu, aku melihatnya yang sedang duduk dengan wajah yang suram itu. Namun, aku merasakan sebuah gelombang yang terdengar di telingaku.


Diana dan Sinta datang ke kelas dan memanggilku, “Bella sayang!” 


Aku menyahut, “Apa?” Menoleh pada mereka berdua.


“Tolong kumpulkan tugas ini pada Bu Mila,  dong,” pinta Sinta dengan warna malaikatnya.


“Hah? Kenapa aku harus melakukan itu?”


“Tolonglah! Rivandy saja menerimanya dengan ikhlas,” oceh Sinta.


Aku menyerah. Aku menyerah pada bujukan mereka. Mereka menyebutkan nama Onii-chan lagi. Kalau aku bertemu dengannya, aku akan membalasnya nanti.


Aku mengambil kertas dan segera pamit, “Aku akan mengumpulkan tugas ini dan langsung kembali kesini.” 


Entah apa yang disuruh oleh Bu Mila itu.  Sebagian besar guru memberikan tugas pada kami dengan bentuk PDF dan Word. Semuanya diketik, tidak ditulis lagi.


“Sampai jumpa, anak kecil yang manis!” Puji Diana sebenarnya mengejekku.


“Kami akan selalu mendukungmu,” lanjut Sinta.

__ADS_1


Dasar Oneesan! Aku yang lolita ini iri pada mereka. Aku harap masih ada yang senasib padaku. Aku harap Onii-chan tidak digoda oleh mereka.


[*^*]


Jam 10:01, jam pelajaran akademi telah berakhir. Aku selesai mendengar penjelasan guru menghampiri Shiori untuk mengajaknya ke suatu tempat. Namun, Shiori menghindar dariku. Aku tidak mengerti apa yang ia lakukan. Kenapa ia menghindar dariku?


Aku berlari mengejarnya. Kami keluar dari kelas dan saling mengejar satu sama lain. Kami berlari tanpa tujuan. Shiori lari agar bisa menyembunyikan keberadaannya.  Aku tidak membiarkan dia untuk lolos kali ini. Aku juga tidak membiarkannya untuk menderita lagi.


Aku tidak peduli dengan pikiran yang lain. Aku memilih menunda tugas Bu Minerva daripada kehilangan Shiori. Lebih buruk lagi, Shiori akan menjauh dariku. Aku tidak peduli kecepatan lariku lebih lambat daripada Shiori. Aku harus mengejarnya dan menangkapnya untuk diberi keterangan lebih lanjut.


Aku tidak akan membiarkan teman sekelasku lari dariku.


“Shiori! Tunggu aku! Apakah kamu masih marah padaku?” Tanyaku mengejar Shiori.


“Kamu sepertinya menghindar dariku,” lanjutku menahan nafas.


Shiori tidak menjawab. Ia hanya bertatapan lurus ke depan dan mencari tempat persembunyian  Aku tidak mau membiarkannya lolos lagi. Meski itu membayar nyawaku.


Namun, aku tidak bisa mengejarnya. Shiori terlalu cepat. Dengan itu, aku memilih untuk menghentikan lari mengejar Shiori. kecepatannya bisa mencapai 10 m/s. Dia bisa berlari 100 meter dengan waktu 10 detik.


Ketika aku berbelok kiri, aku tidak melihat Shiori. Dia tidak ada dan aku mencoba mencarinya ke seluruh penjuru. Kedua mataku menelusuri lingkungan akademi di sekitar Jika dia tidak ada, aku harus mencari petunjuk untuk menemukannya. Namun, tidak ada yang bisa ku temukan.


Ayolah! Aku butuh beberapa petunjuk untuk menemukan Shiori.


Apakah ini semua perbuatan Valhalla?


Aku tidak tahu apa itu Valhalla. yang penting aku harus mencari Shiori terlebih dahulu dan menanyakan semua ini. 


Aku mengatur nafas agar aku bisa mencarinya lagi. Setelah itu, aku mencarinya di seluruh penjuru akademi. Shiori yang bersembunyi segera kembali menuju ke kelas  Ia berlari sambil menahan perasaannya.


Setelah mencarinya cukup lama, aku tidak menemukan keberadaannya. Aku tidak menyadari bahwa siswa dan siswi sudah kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran.


Begitu sampai di kelas, guru Geografi sudah berada di depanku.  Dia sudah memegang sebuah senjata pedang miliknya yang merupakan warisan dari kakeknya. Guru itu melihatku dan menanyakan keterangan mengenai keterlambatan ini.


“Kemana saja kau?” Tanya guru itu.


“Aku mencari Shiori dan ….”


“Shiori ada di sini dan kau malah keluyuran. Sekarang aku meminta kau untuk berdiri di lorong sampai pulang sekolah nanti,” tegur guru itu dengan kejam.


“Tapi, Pak, ….” Bella mencela.


“Ikuti saja perintahku!” Guru itu membentak Bella.


Aku keluar dari kelas dan berdiri di lorong dengan perasaan kesal. Aku tidak mengerti apa yang ia lakukan. Ia membuatku dihukum di lorong. Aku tidak suka diperlakukan seperti itu. Aku hanya menanyakan pertanyaanku dan dia lari dariku.


Waktunya pembalasan!


Mau tidak mau aku harus menanyakannya meskipun aku marah!


[*^*]


Jam pelajaran akademi telah berakhir. Semua siswa dan siswi pulang dari akademi dan menjalankan aktivitas mereka masing-masing. Mereka bisa mengunjungi taman sebelum pulang. Entah kenapa romansa di akademi ini semakin berkembang. Yah … mungkin mereka adalah senior Sinta yang cukup baik.


Di Kelas I Soshum A, semua siswa dan siswi pulang dan membubarkan diri dengan tas mereka. Aku segera mengetahui Shiori akan pulang dan menanyakan sesuatu meskipun aku diperlakukan dengan buruk.


Ini kesempatanku atau tidak sama sekali. 


Shiori meninggalkan kelas saat kelasnya sudah sunyi. Aku segera menghadangnya dan tidak akan membiarkannya kabur.


“Kau tidak bisa kabur lagi dariku,” tekadku tidak membiarkan kabur. 

__ADS_1


Situasi ini semakin memaksa. Pertengkaran yang tidak dapat dihindari. Aku dan Shiori bertatapan muka dengan tajam. Aura ketegangan yang semakin menggelora untuk diluapkan olehku.


Akhirnya, Shiori membuka suaranya. Ia menjawab, “Bella. Biarkan aku lewat dan jangan dekati aku!”


“Kamu kenapa? Kenapa kamu menjauh dariku?” Tanyaku dengan emosiku yang meluap.


“Aku mengajakmu untuk ke kantin dan kau menolaknya. Aku juga menolak uang sewa bulanan. Tidak hanya aku, kau juga menolak kepada pekerja kantoran yang lainnya dan temanku,” beberku mengenai peristiwa yang telah terjadi.


“Aku dihukum oleh guru geografi dan berdiri di lorong sampai pulang hanya karena kau! Kau juga merasa tidak nyaman jika aku berada di sampingmu.”


“Apa yang membuatmu ingin menghindar? Kau membenciku? Katakan saja kau membencimu! Aku akan menjauh darimu besok."


Shiori hanya terdiam dengan curhatan yang dilontarkan itu. Aku semakin marah padanya dan kesal dengan tindakan bisunya itu. Aku mendekatinya dan menggenggam kerah bajunya. Lalu, aku menamparnya berkali-kali agar ia menjawab pertanyaanku. Namun, percuma saja. Shiori masih belum menjawab.


“Hoi! Jawab! Jangan diam saja! Jawab pertanyaanku ini!”


“Mulut itu digunakan untuk berbicara! Kalau tidak punya mulut, lebih baik kau tidak memiliki mulut sama sekali! Aku sudah kesal denganmu. ”


“Aku tidak mau mengatakan itu. Aku tidak mau menjawabnya. Aku tidak tahu,” jawab Shiori sambil menggelengkan kepalanya.


“Jangan tidak tahu! Aku sudah muak dengan sikapmu belakangan ini!” Bentakku memukul Shiori dan Shiori terjatuh ke lantai.


Shiori tidak bisa berdiri karena dengan bentakan itu. Tekanan batin yang cukup keras tidak akan membuatnya lebih kuat lagi.


“Jawablah pertanyaanku, dasar penyendiri! Aku tidak mau terlarut dengan pertanyaan ini!” Aku mengeluarkan pistol asli dan menembak Shiori. 


Shiori tidak melawan. Ia hanya tertembak olehku. Aku tidak peduli lagi. Aku sudah kesal padanya. Dia bukan orang yang kukenal. Dia hanyalah gadis yang payah dan pecundang.


Setelah meluapkan kemarahanku, aku segera pergi dari Shiori yang sudah tergeletak di lantai. Aku mengambil tasku di kelas dan segera pulang ke apartemenku. Aku juga memesan taksi karena malas berjalan sekarang.


Setelah meninggalkan akademi dengan menaiki taksi, Shiori memutuskan untuk pulang dan mengeluarkan air matanya pada saat ia berjalan. Setelah sampai di apartemen dengan penuh tangisan, ia segera memasuki ruangan nya dan takkan keluar lagi.


[*^*]


Jam 18:13, Shiori mengeluarkan air matanya dan teriakan sebagai tangisan yang cukup keras. Ia berbaring di atas kasur dengan jarum yang melekat padanya. Tangisan dikeluarkan sekencang-sekencangnya dan mengingat sesuatu yang melukainya. 


Ia merasakan seakan-akan hidupnya telah berakhir. 


Setelah tangisannya berhenti, ia kembali ke ruangan penyiksaan dengan langkah yang berat. Ia memasuki ruangan penyiksaan itu dan di depannya, ada sebuah ruangan penyiksaan (Iron Maiden) yang sudah berada dalam tatapannya. 


Ia menanggalkan semua pakaiannya sebelum menyiksa diri. Setelah itu, ia mengunci pintu Iron Maiden dan merasakan penderitaan dengan jarum di dalamnya. Ia menyetel Iron Maiden itu agar bisa dibuka keesokan harinya. 


Percuma. Tidak ada seorang pun yang bisa bertahan selama itu. 


Ia berteriak karena merasakan kesakitan dengan duri yang memasuki tubuhnya. Ia menangis karena sebuah penyesalan, hanya berdiri dengan luka dan darah yang mengalir di seluruh tubuhnya.


Tidak ada lagi yang berada di sisinya. Ia sendirian di tengah sebuah kegelapan. 


Maafkan aku, Bella. Aku tidak bisa  bersamamu terus. Aku akan mati besok ~ Shiori von Zuckerberg.


Di tengah sebuah tangisan yang cukup keras itu, a berkata, “Maafkan aku yang tidak berguna ini! Aku hanya gadis yang tidak bisa diharapkan.'


Ia terus berkata yang disampaikan olehnya sebelum meninggalkan dunia yang fana dan rapuh itu. Ia tidak bisa membayangkan kehangatan saat ia memiliki seorang teman. Ia hanya seorang penyendiri dan tidak diinginkan. 


Ia juga berharap duri itu akan menusuk jantungnya secara pelan pelan.


Setiap detik, setiap menit dan jam telah berlalu. Duri itu semakin menusuk tubuhnya yang semakin melemah itu. Shiori tidak akan berhenti menangis karena dia merasakan sakitnya Iron Maiden.


Ia mengingat sesuatu di dalam mimpinya itu. 


ia mengingat masa lalu yang kelam dan suram.

__ADS_1


__ADS_2