Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Akademi : Hubungan Ksatria dan Tuan Putri


__ADS_3

17 Oktober 2020, jam 12:10, di lorong akademi menuju ke kantin, aku sedang dijaga oleh Aurora, Akishima, Evelyn, dan Sheeran semenjak kejadian 2 hari yang lalu. Mereka takut aku menghilang entah kemana. Jadi, mereka menggunakan pakaian ksatria untuk menjagaku agar aku tidak berkeliaran.


Tak lama kemudian, aku secara tidak sadar diseret ke kanan dengan paksa agar mereka tidak menyadarinya. Aku yang diseret ke kanan segera menyadari pikiran dan mental. Di tengah persiapan itu,ada seorang siswa yang membisik telingaku. 


"Rivandy-dono. Apakah kau disini?" Tanya siswa itu yang ternyata Spinx Sentinel. 


Aku menjawab, "Aku di sini," dengan spontan. 


"Syukurlah! Rivandy-dono baik-baik saja …," lega Spinx sambil bernafas lega.


" … sampai kau menyeretku ke sini. Aku akan mendapatkan masalah," lanjutku mendengar perkataan Spinx. 


"Kesampingkan masalah itu, Rivandy-dono. Aku kesini mengantarmu ke Nona Claveriska sepulang sekolahnya nanti," jelas Spinx dengan antusias. 


"Omong-omong, ini dimana?" Tanyaku.


"Ini ruangan Klub Memasak," jawab Spinx dengan singkat.


"Biasanya tidak gelap begini," komentarku melihat ruangan yang cukup gelap. 


"Lalu, kenapa kau membawaku ke sini? Kenapa dia saja yang menghampiriku ke kelas?" Tanyaku mengenai kejanggalan ini.


"Tidak bisa, Rivandy-dono. Ada empat ksatria Charlemagne yang sedang menjagamu dengan ketat," balas Spinx mengenal 4 ksatria yang menjagaku.


"Tidak. Kau tidak usah khawatir dengan mereka. Mereka berakting seperti ksatria agak bisa menjagaku dengan ketat," jelasku menenangkan Spinx. 


"Dame desu, Rivandy-dono. Mereka akan.mengetahuiku. Apalagi kalau mereka Paladin. Aku akan dikalahkan dengan cepat," jawabnya mengenai Paladin yang mengalahkannya.


Aku menghela nafas dan bergumam, "Lebih baik kau harus mereset otakmu tentang ksatria," menatapnya dengan datar.


Setelah berbincang sedikit, aku mengetahui apa yang ia inginkan. Aku ingin dia mengantarku ke Claveriska, siswi Kelas I Soshum C. 


Aku pernah mendengar nama itu. Tapi, aku tidak ingat dimana mengingat namanya saja tanpa melihat wajahnya dan penampilannya. 


Shokugeki dan surat cinta. Ah. Itu dia. Karena dua hal itu, dia mengutus seseorang untuk membawaku kesini. 


Ini lebih baik jika ia langsung berhadapan denganku. 


"Rivandy-dono?"


"Rivandy-dono?!* Panggil Spinx.


"Eh, maaf. Aku tidak mendengarmu," balasku mengenai kesalahanku.


"Rivandy-dono lebih baik bergerak bersamaku. Aku akan menjagamu dari Evil Integrity Itu," tekad Spinx dengan mengubah transformasinya menjadi seorang ksatria.


"Sepertinya, dia mengalami Chuunibyou yang cukup parah."


Aku mendengar kata itu di suatu informasi yang aku peroleh di internet. Jadi, Chuunibyou adalah sebuah istilah sehari-hari di Jepang yang diterjemahkan menjadi "sindrom tahun kedua sekolah menengah", atau juga sering disebut sebagai "sindrom kelas delapan", setingkat dengan kelas 2 SMP sederajat. 


Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan para remaja yang memiliki delusi keagungan, yang mana mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa mereka memiliki pengetahuan tersembunyi atau kekuatan rahasia. 


Aku mendapatkan itu dari Wikipedia setelah menonton anime "Chuunibyou Demo Koi Ga Shitai" yang diputarkan di TV Animax. 


Aku hanya iseng saja. Kurang lebih seperti itu.


Siswa yang ada di hadapanku adalah Chuunibyou tipe Ksatria. Aku baru tahu yang seperti itu.


Tidak ada pilihan lain. Aku harus mengikutinya.


Setelah keluar dari ruangan Klub Memasak yang gelap, kami berjalan dengan cukup pelan dan tenang.


"Kita akan kemana?"


"Kita bolos dulu. Kemudian, kita akan berhadapan dengan Nona Claveriska jam 17:45," 


"Hah?! Kau mengajakku bolos?!" Protesku yang membuat Spinx mengangguk.


"Apakah tidak ada cara lain?!" 

__ADS_1


"Kenapa tidak langsung saja menghampirinya di kelas atau yang lainnya," 


"Rivandy-dono, coba lihat ini!"


"Kau sudah berhubungan dengan 4 ... tidak lima kubu. Kubu pertama, Kubu Klub Pangeran, kubu yang kedua, Kubu Charlemagne, kubu Ketiga, Kubu MVP, kubu yang keempat, Kubu Modern, dan kubu yang kelima, Kubu Disiplin," jelasnya dengan kemampuan nalar ksatrianya.


"Aku tidak mengerti apa yang kau pikirkan," protesku dalam hati.


"Jika kita ketahuan oleh kelima kubu tersebut, akan memicu peperangan yang tiada habisnya," jelasnya.


"Kau benar. Aku mengingat pertempuran yang memanfaatkanku sebagai tameng. Lalu, aku dibawa entah kemana dan Rin menyelamatkanku," pikirku yang didengar oleh Spinx. 


"Rin?" Spinx membenturkan kepalanya mendengar nama itu.


"Tidak ada. Dia hanya temanku saja," celaku. 


"Tidak apa, Rivandy-dono. Aku akan menghadapinya dengan kekuatan ksatriaku," tekadnya berlagak seperti seorang ksatria.


"Chuunibyou-nya kambuh lagi," gumamku dalam hati melihat pose itu.


Kalau tidak salah, dia seperti karakter yang aku lihat di internet. 


Coba aku pikir dulu! Hmm … oh iya. Aku mendengar Karakter Saber di anime Fate Series. Lagi-lagi aku mengetahuinya. Aku seperti seorang otaku saja. 


Argh! Aku tidak bisa berpikir lagi. Semuanya berada dalam jalan buntu. 


Sesaat kemudian, tangannya menyentuh ke tanganku yang penuh pikiran. Tangannya seperti tangan seorang Misionaris Gereja Ortodoks. Dia memegang tanganku sesaat sambil berharap denganku.


"Jangan khawatir, Rivandy-dono. Aku akan melindungimu dari serangan mereka sampai titik penghabisan," desahnya sambil tersenyum lebar. 


Aku ingin membalasnya. Namun, aku tidak bisa melakukannya. Pada saat momen itu terjadi, …


"Itu dia, desu! Tangkap dia, desu!" Seru sebuah suara yang memecahkan ketenangan ini.


"Eh?!" Aku terkejut dengan suara yang ada di telingaku.


"Hiya!" Mereka yang berkostum ksatria segera melancarkan serangan mereka dengan senapan mereka. 


"Tunggu, tapi. …." Aku mencoba menghentikan Spinx.


"Ayo bolos bersama!" Ajaknya sambil tersenyum lebar. 


Aku salah menilainya. Aku mengira ia adalah Chuunibyou. Namun, tidak mungkin seorang Chuunibyou memiliki sikap yang sebenarnya, yakni seorang ksatria. 


Ia melancarkan teknik khususnya yang ia latih selama ini. Ia menggunakan kepada orang yang lemah pada sisi ksatria. 


"Estoc Arc : Iron Straight Slash!"


Tebasan itu membuat mereka berempat terhempas ke udara dan hilang sejauh mata memandang. Aku mencoba untuk menolongnya.


"Jangan cemas, Rivandy-dono! Aku baik-baik saja," tolaknya sambil menahan diri agar tidak terjatuh.


Teknik ini memang manjur. Namun, jika digunakan terus menerus, akan menimbulkan kematian.


Aku menggendongnya dan membawanya di unit kesehatan. Setelah menidurkannya di ranjang, aku mencoba kembali ke kelas. Namun, ia menolak aku pergi. Setelah itu, ia berpesan, "Setidaknya … kau menemaniku sampai bel pulang!" 


Dengan pesan itu, aku memutuskan untuk menghentikan langkahku dan segera duduk di sampingnya yang sedang berbaring. 


Aku membuka handphoneku dan membaca PDF sambil menemaninya karena aku bosan. Spinx mencoba untuk melakukan sesuatu. Ia ingin berbicara padaku. Namun, tidak bisa. Ia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan.


Di tengah suasana yang sepi, Spinx mencoba untuk memanggilku. Ia menggerakkan bibirnya untuk bicara. Namun, aku terfokus dengan layar handphone sambil membaca sesuatu.


Akhirnya, Spinx bertanya, "Rivandy-dono! Kamu baca buku apa?!*


Aku menjawab, "Buku pelajaran + artikel," dengan singkat. 


"Artikel apa?" Tanyanya kembali.


"CNN Daily Life," jawabku singkat sambil mematikan handphone 

__ADS_1


"Apakah kau punya handphone?" Tanyaku kepadanya. 


"Aku punya. Tapi, aku jarang menggunakannya. Soalnya, aku tidak terlalu bisa menggunakannya," jawabnya sambil mengambil handphone dan memainkannya. 


Aku membicarakan sesuatu dengan topik yang pas dengannya  agar aku akrab dengannya. Dia menerima hal itu. Dia lahir dengan penuh kesatriaan. Dia selalu melatih diri untuk menjadi lebih kuat setelah dikalahkan oleh Paladin. Entah siapa Paladin itu, yang pasti dia terkagum dengannya. 


Aku mengingat mereka yang terhempas oleh teknik itu. Teknik itu cukup mengerikan. 


Mereka akan membunuhku pada saat yang tepat. 


Sudahlah! Aku tidak terlalu memikirkannya. 


[*^*] 


Jam 15:12, kami memutuskan untuk pulang ke mansion. Kami berterima kasih pada dokter dan segera meninggalkan akademi dengan teknik sembunyi kami. Ini cukup merepotkan. Namun, dengan ini, kami selamat dari kejaran banyak kubu yang menghantuiku.


Jam 16:12, kami sudah tiba di mansion dengan jalan kaki. Kami berjalan selama sejam penuh untuk tiba di mansion yang besar itu. Kami akhirnya masuk dan segera menuju ke pertemuan.


Namun, ada seorang gadis yang menghampiriku dan Spinx dengan bibir dan tubuhnya yang seksi itu. 


"Pangeran!" Panggilnya dengan nada agresifnya. 


Dengan pelukan itu, aku mengingat apa yang terjadi pada Aurora yang tidak sengaja meminum alkohol. Aku ketakutan dengan itu. Jika orang lain takut dengan hantu, aku akan ketakutan dengan hebat jika aku bertemu dengannya. 


"Selamat datang! Kamu mau apa? Mau makan dulu? Mau mandi dulu? Atau … a … ku?" Tanya gadis itu dengan berpose nakalnya. 


Dengan gestur itu, aku hanya terdiam kaku. Aku mengeluarkan wajah yang penuh ketakutan. 


"Jangan diam dong! Aku akan mengajakmu ke ranjang jika seperti itu."


Ingin sekali aku berteriak, namun aku tidak bisa saking takutnya. Aku memutuskan untuk bersembunyi diri di belakang Spinx agar aku merasakan keamanan.


"Ada apa, Rivandy-dono?" Tanya Spinx yang di belakangku. 


"Dia menakutkan. Seharusnya, aku tidak datang kesini,* gumamku penuh dengan ketakutan. 


"Rivandy-dono! Halo! Sadarlah!" Spinx mencoba menyadarkanku tapi tidak bisa. 


"Dia kenapa?" Tanya siswi itu dengan polos. 


"Ini semua salahmu, Aura-neechan," tegur Spinx sambil memelukku. 


"Eh?! Bukannya dia ingin aku?" Tanya Aura dengan pura-pura polos.


"Ini semua salahmu. Sepertinya, dia korban pelecehan seksual. Kau seharusnya tidak boleh merayunya," lanjut seorang siswa yang menghampiri keributan itu.


"Spinz-niichan," panggil Spinx menoleh ke Spinz.


Spinz segera menghampiriku dan bertanya, "Nee. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Spinz menghampiriku dan mendekatiku.


Aku tidak menjawab. Aku hanya terdiam dengan mata kosong mendengar jawaban itu.


"Kalau begitu, ayo masuk ke dalam! Nona Claveriska sedang menunggumu," ajaknya menuju ke ruangan mansion.


Aku dibawa oleh Spinx untuk segera mengadakan pertemuan dengan Nona Claveriska. Spinz dan Aura hanya mengikutimu dari belakang.


Aura tertawa kecil dan segera menyergap Spinx dengan ganas. Spinx mencoba memberontak. Namun, sergapan Aura sangat kuat, sehingga tidak memungkinkan Spinx untuk melepaskannya.


"Kamu kemana saja? Jam segini baru pulang," tanyanya sambil merayunya.


"Aura-neechan, dame! Aku masih normal, kau tahu," tolak Spinx dengan rayuan itu.


"Hmm. Sebagai hukuman, kau harus tidur denganku selama 2 hari. Jangan kabur, ya!" Aura meninggalkan Spinx dan menuju ke ruangan utama.


"Oh iya. Kalau kamu kabur, aku akan memakannya dan tidak akan membiarkan hidup. Hihihi," lanjutnya sambil menahan tawanya.


Spinx hanya pasrah melihat tingkah kakaknya. Ia tidak bisa menolak permintaan itu. Hubungan sedarah ini tidak dianjurkan untuk meningkatkan tahap yang serius.


Ini bukan soal itu. Ia harus memikirkan perasaan Nona Claveriska yang tidur di pangkuannya sejak tersesat di hutan.

__ADS_1


Dia masuk ke mansion dan pertemuan dengan Nona Claveriska akan dimulai 2 jam 20 menit lagi.


__ADS_2