
22 Desember 2025, siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria mendapatkan jatah liburan. Mereka bisa pulang kampung - pulang ke negara masing-masing - terlebih dahulu atau menetap di Moskow untuk beristirahat.
Aku diperbolehkan pulang ke apartemenku setelah menjalani hukuman bersama sahabatku. Namun, harus dirawat karena aku akan mati jika terpapar udara dingin Moskow. Akishima dan Aurora tidak membiarkanku mati. Tapi, mereka harus menjalani aktivitas mereka sendiri. Oleh karena itu, mereka mencari orang yang bisa merawatnya.
Mereka tidak akan membiarkan aku dirawat orang yang salah. Mereka harus mencari orang yang tepat. Orang yang mesum luar biasa, dan merawatnya dengan senang hati.
Saat itu, masalah akan dimulai dari sekarang.
[*^*]
Jam 08:23, di depan apartemen, Sheeran sudah berhadapan dengan Akishima dan Aurora yang mengemas barang mereka. Mereka cukup serius dalam perbincangan mereka. Mereka berdua sedang meminta tolong sesuatu. Namun, Sheeran agak ragu menerima itu.
“Sheeran. Tolong rawat Rivandy! Aku harus pulang ke Greenwich besok,” mohon Aurora dengan sangat.
“Eh? Kenapa?” Tanya Sheeran ragu dengan itu.
“Aku juga harus bertemu dengan Akihabara. Di sana, jalan ninjaku terpanggil,” lanjut Akishima.
“Kau ke sana hanya untuk menonton anime dan membaca manga, kan?” Tanya Sheeran melihat niat Akishima.
“Tapi, aku juga harus pulang ke kampung untuk menjenguk keluargaku di sana,” tolak Sheeran dengan halus.
“Biasanya, kamu bersemangat saat bersama Pangeran. Ada yang aneh padamu,” komentar Akishima dengan blak-blakkan.
Sheeran mengalah dengan Akishima. Dia tidak bisa berdebat lagi dengannya seperi dahulu. Aurora juga membuat lebih buruk, sehingga Sheeran membuat keputusan terakhir untuk menangani masalah ini.
“Ya Sudah! Aku akan menghubungi Evelyn. Dia tidak akan menolak kalau merawat Rivandy,” lirik Sheeran membuka ponselnya
Ketika ia membuka ponselnya, ia mendapatkan notifikasi dari Evelyn. Ia membuka aplikasi Telegram dan segera melihat pesan yang dikirimkan Evelyn pada saat sama di tengah konflik itu.
[Telegram]
[Evelyn : {Video 1:23} 8:25]
Sheeran membuka pesan itu dan melihat video yang Evelyn kirimkan. Ia mengunggah video itu sebelum memutarkan videonya. Tidak lupa, ia menggunakan sistem hologram yang diprakarsai oleh Telegram pada tahun 2025
“Ini aku, Evelyn desu. Jika kamu melihat video ini, aku tidak bisa di Moskow, desu. Sekarang, pada tanggal 22 Desember 2025, jam 08:25, aku tidak berada di tempat sini, desu. Aku sudah berada di Sankt Petersburg untuk melakukan sesuatu di sana, desu. Sheeran, aku akan menyerahkan Rivandy padamu, desu.”
“Aurora dan Akishima sudah memberikan suara untukmu, desu. Kamu akan merawat Rivandy agar tidak mati, desu. Biasanya kamu akan senang dengan itu, desu. Bisa bersamanya hari ini, desu. Kamu harus melindunginya agar Rivandy tidak berada di tangan yang salah, desu.”
“Kalau Rivandy mati, aku akan membawamu ke pasar malam, desu,” ancam Evelyn mengakhiri pembicaraannya.
“Sial! Kenapa Evelyn juga?” Tanya Sheeran mengutuk Evelyn.
“Ok, sudah diputuskan. Kami pergi dulu,” pamit Aurora dan Akishima membawa barang bawaan mereka.
“Tunggu! Kalian pergi kemana?“ Tanya Sheeran mencegah mereka pergi.
“Bandar Udara Internasional Sheremetyevo.” jawab Aurora tanpa menoleh pada Sheeran.
“Ayo cepat! Nanti Bandaranya akan ramai, tuh,” ajak Akishima agar berjalan lebih cepat.
Aurora tertawa dengan banyolan itu. Ia menjawab, “Itu hanya 200 orang saja,”
“Tunggu aku! Aku tidak bisa. Aku ingin ….” Ucapan Sheeran terhenti oleh sebuah panggilan.
“Sheeran?” Panggilku melihat Sheeran sambil mengenakan mantel hangat yang diberikan dari Eleva.
“Ada apa?”
[*^*]
__ADS_1
Jam 14:24, aku menginap di apartemen Sheeran sambil membawa barangku. Aku tidak bisa tinggal di apartemenku karena Aurora dan Aksihima meninggalkanku. Aku tidak bisa melakukan aktivitas sendirian karena musim dingin Moskow yang semakin memburuk. Jadi, Sheeran membawaku kemari.
“Selamat datang, Pangeran! Apakah kamu baik-baik saja?” Sapa Bibi Anita di hadapanku
“Tidak. Dokter bilang aku tidak boleh melakukan aktivitas yang memberatkan,” jelasku mengenai kondisiku.
“Oh, begitu.” jawabnya memahami apa yang ku jelaskan.
“Sheeran. Tolong cuci gelas ini! Rin sedang pergi belanja,” panggil Bibi Anita pada Sheeran.
“Baik. Aku akan membersihkan gelas ini,” respon Sheeran mengambil gelas itu dan mencucinya.
Aku tidak mengerti dengan pikiran Sheeran. Biasanya dia sungguh bersemangat dan ceria dengan aku yang berhadapan dengannya.
Rin tidak akan kembali dalam waktu lama. Aku hanya menunggu dan tidak melakukan apapun. Aku hanya mengemas barangku saja. Tidak ada yang lain.
Saat sedang duduk di ruang tamu Sheeran. Sheeran menghampiriku dengan suram. Ia sudah menyelesaikan pekerjaan yang idiakukan sebelum melakukan sesuatu setiap tahunnya. Dia sudah berada di hadapanku. Aku pun memanggil Sheeran dan memberi perhatian padanya walaupun aku masih lemah.
"Sheeran?"
"Rivandy. Kalau kamu mau bilang sesuatu, silahkan katakan! Ini terakhir kalinya aku melakukan sesuatu untukmu. Aku harus bersiap-siap dulu untuk pulang ke … kampungku,"
"Kamu aman disini bersama Bibi Anita. Aku akan pergi besok dan akan kembali sebelum Tahun Baru. Jangan kabari aku!" Sheeran meninggalkanku yang sedang duduk.
Aku menerima itu dan mengutak-atik handphone milikku. Ini mirip sekali dengan ponsel milik Andela. Namanya merk handphone sama. Isi ponsel yang ia gunakan adalah video porno. Entah kenapa Andela menyukai hal yang seperti itu. Itu membuatku muak dan muntah.
Hal itu membuat Eleva membencinya.
Pada saat Sheeran dan Bibi Anita sedang membicarakan sesuatu, Rin datang ke apartemen Sheeran dan segera merawatku dengan kemampuan yang dilatih di Klub PMR. Rin juga merupakan seorang siswi yang menjadi role pendukung untuk merawat seseorang. Kurasa, aku tidak pernah melihatnya bertarung.
Aku dirawat oleh Rin dengan hati yang tulus. Dia menyuapiku dan menciumku dengan tujuan aku bisa menghangatkan diriku. Aku yakin Rin bisa menahan dirinya, tidak seperti Neesan yang selalu kecanduan akan tubuhku. Setelah merawatku, aku istirahat dengan cukup. Sebelum Rin meninggalkan ruang kamar, aku bertanya padanya.
"Tidak. Aku tidak mau pulang. Soalnya, aku sudah senang disini. Lagipula, dengan adanya kamu, aku sudah tidak cemas lagi. Kalau bisa, kita akan menikah setelah lulus nanti," jelas Rin mendekatiku dan meletakkan kepalanya di dadaku.
Aku terdiam dengan sandaran di bantal dan sifat Rin yang manja. Sedikit kehangatan yang berada di hati Rin membuatku lebih tenang. Namun, di tengah kehangatan itu, ada seorang gadis yang menghampiri kami yang sedang romantisnya. Dia tidak menerima ada kecurangan disini.
"Rin! Keluar dari kamarku! Aku mau mengobrol dengannya," Pinta Sheeran dengan amarahnya yang membludak.
"Tapi, Sheeran. Aku …."
"Keluar dari apartemenku, dasar Janda Tidak Berguna!" Usir Sheeran mengeluarkan Rin dengan terpaksa. Rin hanya menahan rasa sakitnya di dadanya. Aku hanya terdiam dengan amarah Sheeran.
"Sheeran? Ada apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu! Kau pasti selingkuh denganku," geram Sheeran menatapku dengan sinis.
"Tidak! Dia merawatku, kok," celaku menahan Sheeran.
"Jika aku pergi dan kau berselingkuh dengannya, aku akan mengurungmu di luar yang dingin dan kau akan mati bersama gadis janda itu," ancam Sheeran mengambil pakaiannya dan segera meninggalkanku di ranjang.
Aku hanya terdiam dengan ancaman Sheeran. Sheeran merasa sedikit tertekan dengan realita itu. Aku hanya ingin segera melakukan sesuatu agar Sheeran tidak menjadi lebih buruk.
Tidak ada pilihan lain. Dengan tubuhku yang melemah itu, aku hanya menunggu sambil melihat TV lokal yang ada di Rusia saat ini. Aku melakukan aktivitasku dengan memandang jendela setiap harinya.
[*^*]
Jam 20:12, aku segera membaca buku yang kubaca sebelum tidur. Membaca novel Final Fantasy XV di tanganku lalu membolak-balik buku yang ku baca. Ini dilakukan agar aku bisa mengisi waktuku. Aku tidak bisa menjadi orang yang rajin. Jika, aku bekerja dengan keras di paparan suhu dingin, aku akan mati. Kalau aku mati, Sheeran alan dijual oleh Evelyn. Aurora dan Akishima akan membully Sheeran dan membuat Sheeran menjadi gadis yang hina.
Pada saat yang bersamaan, Sheeran datang ke kamarnya dan segera menghampiriku yang sedang membaca buku. Ia dengan wajah suram segera membereskan kopernya. Aku hanya melirik dengan koper yang disiapkan.
"Ada apa, Sheeran? Kau tidak sehat," sapaku perhatian pada Sheeran yang murung itu.
__ADS_1
"Besok, kau harus berangkat bersamaku. Aku tidak mau Rin sialan itu membuatku kesal. Dia akan merebutmu dariku," pinta Sheeran dengan tatapan serius.
"Tunggu! Apakah kamu bertengkar dengannya?" Tanyaku pada Sheeran yang menyiapkan koper miliknya.
"Bisa dibilang begitu. Rin tidak akan mendekatimu," jelas Sheeran dengan tatapan sinisnya.
"Tidurlah! Aku mengemas barang sebelum pergi. Aku memiliki banyak pekerjaan sekarang," usul Sheeran padaku untuk tidur.
Aku menerima dengan terpaksa dan segera tidur dari ranjang Sheeran dan ia akan mengurus semua itu. Ia berharap aku bisa pergi meningkatkan kehangatan tubuh biasa saja,
Aku hanya mengikuti perintah itu dan menunggu pergi bersama Sheeran. Aku tidur di ranjang dan segera menantikan Sheeran.
[*^*]
Keesokan harinya, aku terbangun dengan terpaksa. Dengan guyuran air yang cukup deras membuatku tidak bisa melanjutkan tidurku. Aku tidak tahu ini air apa, ini membuatku tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Setelah membangunkan diri, ternyata ada Sheeran yang sudah mengguyurkan air padaku. Aku tidak mengerti kenapa dia melakukan itu. Atas dasar apa ia mengguyurkan air padaku.
“Sheeran. apa yang kau lakukan?” Tanyaku terbangun dengan terpaksa.
“Ini masih jam 04:58,” lanjutku melihat jam dinding
“Cepatlah mandi! Kau harus persiapkan diri! Aku harus mengumpulkan barangmu dan kita akan pergi jam 6:00 nanti,” pesan Sheeran menatapku dingin.
“Tapi, Sheeran, disini dingin sekali. Jadi, ...”
“Aku sudah siapkan air panas untukmu. Jadi, kau tidak akan mati kedinginan,” pamit Sheeran meninggalkanku.
Aku meninggalkan kamar Sheeran setelah mendapatkan pesan itu. Aku tidak terlalu memahami Sheeran berubah. Dia juga bertengkar dengan Rin pada saat aku istirahat di apartemen.
Jadi, aku putuskan untuk mandi dengan air panas dan segera berpakaian. Aku mengenakan kaos hitam dan celana panjang. Lalu, aku mengenakan mantelku bersama dengan syal merahku. Dengan begitu, aku siap untuk berangkat.
Kalau Sheeran, dia mengenakan jas musim dingin, stocking tebal, dan rok pendek yang hangat. Ia membawa barang yang cukup berat. Entah apa itu. Aku sudah siap dengan dengan dompet dan ponselku. Ini bertujuan agar bisa bepergian tanpa ada halangan sekalipun.
Entah kenapa dengan keadaan Sheeran. Awalnya, dia melarangku untuk ikut. Sekarang, aku harus ikut dengannya. Maklum saja, dia sedang menstruasi atau apapun itu.
Setelah mempersiapkan diri dengan pakaian dan koper, kami pergi menuju pagar untuk meninggalkan apartemen Sheeran. Sebelum itu, kami segera menuju ke tempat Bibi Anita berada sebelum meninggalkan tempat ini. Kami datang kepadanya dan segera pamit dari Bibi untuk pulang kampung.
“Bibi. Kami pergi dulu,” pamit Sheeran berhadapan dengan Bibi Anita.
“Sampaikan salamku pada Rin. Aku minta maaf karena bertengkar padanya kemarin,” pesan Sheeran sedikit bersalah pada Rin.
“Tidak apa-apa. Kalian berkelahi kemarin. Jadi, aku akan menenangkannya,” balas Bibi Anita.
Sebelum pergi di tengah musim dingin, Bibi Anita berpesan, “Sheeran! Hati-hati di jalan! Jangan sampai lupa pulang! Kita bisa merayakan Tahun Baru di sini”
Sheeran mengangguk dan meninggalkan Bibi Anita bersama denganku yang membaca Novel Final Fantasy XV. Sheeran sudah membuat antisipasi agar aku tetap selamat. Kami saling berciuman agar aku tetap hangat. Tapi, kami tidak melakukan hal yang berlebihan.
Dia juga mengganti alat penghangat pakaian milikku secara berkala agar aku bisa beraktivitas walaupun aku sangat lemah. Dia melakukan itu semua agar aku bisa bertahan hidup.
Kami berjalan menuju ke Stasiun kereta api Paveletskaya Moskwa. Di sana, kami akan memesan tiket untuk keluar dari Moskow dan segera pergi ke desa yang Sheeran tinggali dulu. Tempatnya tidak jauh dari sini. Hanya butuh 4 km biar bisa ke sana.
[*^*]
Kami sampai pada jam 7:57. Aku memandang tempat yang cukup besar dan ramai. Kami menelusuri rel yang tersusun rapi dan ada kereta yang terangkut untuk menuju ke kota lain.
Kami memesan tiket untuk kami berdua dan menunggu kereta sambil duduk dengan sedikit tegang. Menunggu kereta yang akan ditumpangi sebelum memasuki kereta. Aku membaca buku novel yang belum selesai kubaca. Sheeran tidur di pahaku. Dia sedikit bermasalah dengan itu. Tapi, sudahlah! Dia adalah gadis pada umumnya.
Setelah menunggu lama, kami menaiki kereta yang sesuai dengan tiket yang sesuai dengan kami pesan. Tiket itu bertuliskan sebuah tujuan suatu tempat. Kami masuk ke kereta api dan pergi.
Tempat itu adalah Kota Voronezh, kota di bawah Moskow.
__ADS_1