Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Aurora Sentinel 1,6


__ADS_3

Aku berada di dekat pintu apartemen Aurora masuk dengan menggunakan teknik "Arctic Warfare : Translucent" untuk menerobos masuk ke dalam. Melewati semua molekul yang membentuk pintu apartemen Aurora. Aku memasuki ruangan apartemen yang cukup gelap dan menakutkan itu.


Rasanya, aku seperti hantu yang akan menakuti anak kecil.


Entah kenapa apartemen Aurora seperti rumah hantu. Kalau apartemen yang hancur bersamaan dengan Aurora meminum alkohol, aku akan ketakutan setengah mati dan merasakan horor yang sangat kental itu.


Memikirkannya membuatku merinding. Berharap seandainya Aurora tidak akan mengenal Vodka atau Gin. Ini lebih baik. Aku merasa ketakutan setelah merawat Aurora yang tidak sengaja meminum alkohol. Itu akan membuatku menjadi korban untuk Aurora. 


Dengan Aurora meminum alkohol, bukan berarti ia menang dari para gadis yang lain. Aku akan menjadi seorang remaja yang dipenuhi ketakutan dan mimpi buruk. Mata cinta Aurora membuatku dua kali berpikir keras untuk mendekatinya. Aku lebih mudah terangsang dan segera menjual tubuhku dengannya. 


Setelah memasuki ke apartemen Aurora, aku terjatuh ke lantai karena sebenarnya tidak mampu untuk berdiri lagi. Suhu tubuhku terbilang menurun. Kalau Sheeran mengetahui ini lagi, dia akan memarahiku lagi seperti perjalanan sebelumnya. 


Aku mencoba merangkak dan berdiri untuk bergerak ke kamar Aurora. Aku mendengar teriakan itu sebagai tanda-tanda dari sebuah mimpi buruknya. Aku menahan dan bergerak di tengah kegelapan.


Aku sudah memasang "Arctic Warfare : Observation" untuk melihat garis dan bidang yang membentuk Aurora. Dia berada ada di depanku. Aku menghampirinya dan mencoba untuk memanggilnya kembali. 


Aku hanya fokus dengan Aurora yang mengalami kondisi kacau. Aku menyebabkan semua ini. Mengingat masa lalu kelam memang memukul hati dan perasaan.


Oleh karena itu, aku akan menebusnya walaupun mati sekalipun. Kalau aku mati, Sheeran menangis sekeras-kerasnya dan menyalahkan seseorang yang membunuhku. Membalaskan dendam kematian suaminya seperti film drama. Aku tidak terlalu ingin menontonnya. Hanya Aurora yang suka menonton drama percintaan.


Aku sampai di pintu kamarnya, mencoba berdiri dari rangkakku agar bisa membuka pintu lalu menjelaskan mengenai kejadian itu. Kalau dilihat-lihat, sudah tidak ada penjelasan. Aku melakukan sesuatu untuknya, hanya membuat kesadaran untuknya agar dia percaya padaku.


Ini salah satunya jalan untuk menghancurkan sisi gelap Aurora.


Aku membuka pintu dan melihat Aurora menghancurkan kayu solid. Aku menghampiri Aurora dan melakukan kejutan untuknya. Dengan sisa tenaga yang terakhir, aku melakukan sebuah tebusan mengenai perselingkuhan itu


Aku … akan menjinakkan kepribadian keduamu, Aurora.


"Aurora," panggilku yang membuat Aurora menoleh.


Aurora menoleh. Ia melihatku yang berdiri di depannya. Karena sudah di penglihatan Aurora, dia menjadi marah tak karuan dan menghampiriku dengan membawa sebuah kapak yang ia pegang di tangan kanannya. Dengan kebencian, ia segera melancarkan ketakutannya kepadaku.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Aurora melempar kapaknya ke arah kepalaku dengan keras.


Kapak itu mendarat di kepalaku. Tekanan kapak itu membuat kepalaku berdarah dengan hebat. Aku masih bisa berdiri tegak dan tidak pernah tumbang sekalipun. Meskipun begitu, darahku mengalir di dahi dan turun ke hidung. 


Aku menjawab, "Tentu saja untuk menebus semua kesalahanku."


Aurora tidak percaya perkataamku. Ia mencabut kapak dari dahiku dan aku masih terdiam di tempatku saja. Rasa sakit di tubuhku membuat hati dan perasaan menjadi lebih buruk. Aku merasakan darah yang mengalir keluar tubuhku. Aku tidak tahu Aurora melakukan sejauh itu untuk menghancurkanku.


Aku tidak tahu apa yang membuatnya ke Moskow dan bagaimana caranya belajar bahasa Rusia. Aku ingin tahu apa tujuannya datang kemari. Tapi, aku tidak peduli dengan semua pertanyaan yang terlintas di pikiranku. Aku justru mendiamkan saja sampai pertanyaan itu menghilang. 


Aurora memegang kapaknya dan melihatku dengan tatapan mimpi buruknya. Ia merasa semua laki-laki itu adalah Playboy dan mempermainkan perempuan. Padahal, aku dicium paksa dan dibayar dengan murah. Belum lagi aku berhubungan dengannya. Itu bisa lebih murah lagi. Aurora mulai berteriak dengan mimpi buruk yang ia ungkapkan. Aku hanya mendengar itu dengan tenang.


"Apa yang bisa kau tebus?" Tanya Aurora mengayunkan kapaknya ke dadaku secara vertikal.


Dengan hempasan kapak itu membuat tulang rusukku terasa patah. Aku tidak bisa melakukan apapun untuk menahan rasa sakitku ini. Itu pun terus berlangsung selama beberapa detik kemudian.


Aku masih belum tumbang dan merasakan rasa sakit yang ada di tubuhku lagi. Ini adalah rasa sakit yang diutarakan oleh Aurora dalam bentuk sakit hati, kecewa, dan sedih. Aku merasakan seolah-olah aku adalah Aurora. Tidak bisa melawannya balik karena aku bukan tipe yang akan menyakiti wanita.


Aku membiarkan Aurora menyakitiku karena aku lemah pada wanita. 


Aku melanggar prinsip ini, sehingga ini yang bisa kudapatkan dengan hukuman yang pantas dan membiarkan Aurora ingin membunuhku.


Aurora menyerang dengan geram karena aku belum tumbang juga. Karena itu, dia menggunakan kapaknya untuk membunuhku.


"Kenapa kamu belum tumbang saja?" Aurora melempar kapak itu padaku. 


Kapak itu mengenai dadaku, merasakan tulang rusukku patah lagi. Aku ingin sekali berteriak kesakitan. Namun, ini demi Aurora. Aku menahan itu semua dan ingin mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya. Aku ingin sekali berteriak kesakitan. Namun, entah kenapa tubuhku tidak mendapatkan reaksi apapun. 


Ketika itu, Aurora semakin marah dan menargetkan kakiku agar aku tumbang. Benar saja. Dengan luka yang berada di kakiku, aku terjatuh dan tidak bisa melawan lagi. Dengan agresifnya, Aurora menumbangkanku dan mengayunkan  kapaknya ke perutku. 


"Matilah!" 


"Matilah!"


"Matilah!" 


"Matilah!"


"Matilah!" 


"Matilah!"


"Matilah!" 


"Matilah!"


"Matilah!"


Serangan kapak 10 kali membuat perutku berlubang. Aurora terus menghempaskan kapak kepada perutku sebagai pelampiasan masa lalu. Ia tidak percaya dengan seorang pangeran yang akan mendampinginya dalam buku cerita.


Rasanya sakit sekali di perutku. Aku tidak bisa berteriak. Aku memanggil bukan manusia. Aku hanya seorang yang tidak diinginkan oleh orang lain. Namun, diperlukan oleh Akishima dan Sheeran. Karena itu, aku adalah ….

__ADS_1


Setelah Aurora menghempaskan kapaknya ke perutku, dia melakukan target yang lainnya untuk menyiksaku karena akj melakukan perselingkuhan kepada Aurora. Padahal, dia tidak memintaku menjadikan pacarnya. Kalau bisa, kenapa tidak seperti Sheeran saja? Itu lebih baik.


Setelah luka yang merambat di daerah lain, Aurora ingin sekali menyiksaku lagi dan lagi. Ia menghancurkan tubuhku seperti barang furniture dan memperlakukanku seperti barang pelampiasannya selama itu. Menghancurkan dengan kapak dan mencabiknya sampai pada unit terkecilnya. 


Namun, entah kenapa aku masih bisa hidup dengan banyak luka itu. Entah kenapa aku ingin melakukan hal terakhir sebelum mati. Aku merencanakan ini agar aku meninggalkan dunia ini. Berniat untuk merasakan sensasi sebelum meninggalkan dunia ini. Sensasi itu adalah aku ingin … menciumnya.


Aurora sudah membuat kerusakan pada tubuhku. Ada beberapa tulang yang ia hancurkan padaku. Aku merasa ini seperti sebuah memori yang hilang. Bukan Aurora yang melakukannya, namun, orang lain. Aurora masih saja menggunakan kapaknya untuk membunuhku. 


Ia masih belum menyerah sebelum tubuhku dicabik-cabik dan diberikan makan oleh serangga yang menjijikan. Ini cukup sadis dan gore. Aku penuh darah itu hanya memiliki satu kesempatan untuk menyembuhkannya. Lebih baik daripada tidak sama sekali. Dengan itu, aku bisa menyembuhkan IDI Aurora.


Pada saat itu, aku mulai beraksi. 


Ketika Aurora sudah lelah menghancurkan tubuhku dengan kapak miliknya, dia berhenti sejenak dengan hentakan kapak itu. Tak lama kemudian, aku bangkit dan melancarkan keinginanku pada Aurora. 


Aku mulai bergerak dengan pelan dan sontak membuatnya tertekan. Dia menjauh dariku dan mempertahankan dirinya dengan sebuah kapak yang ada di tangannya. Ia berpikir aku akan membalas serangannya. Ia bersiap untuk menghancurkan secara penuh untuk melampiaskan emosinya.


"Mundur! Jangan mendekat! Aku akan membunuhmu, Rivandy!" Ancam Aurora dengan teriakan dan jeritan.


Aku berjalan dengan penuh darah. Perutku sudah berlubang karena Aurora. Apendikular bagian kaki dan dada mengalami fraktur. Banyak darah keluar dari tubuhku. Dahiku mengalami keretakan. Terakhir, Hanya melihat Aurora yang mengenakan bikini warna hitamnya.


Aku berjalan dan mendekatinya. Aurora merasa terancam dan bersiap untuk mengayunkan kapak. Ia berpikir aku akan menghajarnya seperti orang lain. 


Namun, ….


Aku memeluknya sambil menciumnya dengan tulus. Aurora merasa terkejut dengan ciuman itu. Bahkan, ciuman itu mengingatkan memori yang kelam itu. Ia tidak percaya dengan pangeran yang di buku cerita fantasi. Namun, berkat ciuman ini, ini terasa seperti seorang pangeran.


"Lepaskan aku! Kau tidak mengerti perasaanku!" Aurora memberontak dengan pelukan penuh dengan darah dan ciuman mendadak.


Tapi, aku terdiam. Terus memeluknya dengan erat dan tidak akan melepaskan pelukan itu. Aku sudah membuatnya mengingat momen kelam itu. Jadi, aku tidak akan membiarkan diriku bersalah karena melakukan hal yang membuat Aurora tidak percaya padaku.


Pada saat yang sama, Aurora mencoba untuk melepaskan pelukanku.


"Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa kamu peduli denganku? Pangeran Rivandy?!"  Tanya Aurora ingin menangis.


Aku tidak menjawab. Terus memeluknya dan tidak membiarkan dirinya berada di kegelapan. Aurora terus memberontak dan memukul dadaku yang sudah rusak.


Namun, selang beberapa detik, Aurora kehilangan niat untuk membunuhku. Pemberontak itu segera memudar dan menghilang. 


Setelah aura memberontak itu menghilang, ia terdiam dengan pelukan hangat dari seorang pangeran. Ia tidak bisa berpikir jernih karena aku memeluknya dengan erat dan tulus. Dia menjadi gadis yang ketakutan dan tidak percaya apa yang ia lakukan. 


Ia membuat diriku menjadi seorang remaja yang penuh dengan penderitaan. Karena itu, Aurora menahan air matanya.


"Kenapa kamu …. Aku …." Aurora menahan tangisannya karena dipeluk dengan luka yang di tubuhku.


Aku tidak menjawab lagi, memutuskan untuk memeluknya dengan hangat. Aku bukan seorang yang gegabah dan bodoh. Aku melakukan ini agar ingin menyadarkan Aurora yang selalu merusak furniture di apartemennya. 


"Rivandy….?"


Saat itu, Aurora menjadi … percaya padaku.


[Sfx : Christina Perri - A Thousand Years]


[Lirik lagu Christina Perri - A Thousand Years]


The day we met,


Frozen I held my breath


Right from the start


I knew that I'd found a home for my heart


Beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall


But watching you stand alone?


All of my doubt suddenly goes away somehow


One step closer


I have died everyday waiting for you


Darling don't be afraid I have loved you


For a thousand years


I'll love you for a thousand more

__ADS_1


Time stands still


Beauty in all she is


I will be brave


I will not let anything take away


What's standing in front of me


Every breath


Every hour has come to this


One step closer


[I have died everyday waiting for you


Darling don't be afraid I have loved you


For a thousand years


I'll love you for a thousand more


And all along I believed I would find you


Time has brought your heart to me


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


I'll love you for a thousand more]


Ohh


One step closer


I have died everyday waiting for you


Darling don't be afraid I have loved you


For a thousand years


I'll love you for a thousand more


And all along I believed I would find you


Time has brought your heart to me


I have loved you for a thousand years


I'll love you for a thousand more


Aurora mengucurkan air matanya dengan deras dan tidak membiarkan dirinya cukup menghancurkan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya. Aku yang terluka itu pun sudah cukup.


"Rivandy. Maafkan aku! Aku membuatmu seperti ini!" Aurora mulai mengaku.


"Aku tidak percaya padamu karena aku cemas. Aku tidak punya sesuatu untuk melindungiku dari mereka. Aku takut kamu menjadi pasangan dari gadis lain. Aku cemas kalau kamu menghilang dariku. Maka dari itu, aku melampiaskan semua amarahku dengan menghancurkan barang."


"Aku tidak mau Sheeran menjadi istrimu. Soalnya, aku tidak punya siapapun lagi. Aku dicampakkan oleh pangeran lain dan berselingkuh dengan gadis lain. Aku tidak mau mengulangi hal yang sama lagi."


"Habisnya, kamu adalah …. Pangeranku."


Pengakuan itu membuatku lega karena aku membuatnya mengaku dengan perasaanya. Sudah mengetahui alasan dari semua itu. Perselingkuhan, penghancuran ruangan, dan pribadi yang lain.


Aku memeluknya dengan erat dan membuatnya nyaman di sisiku. Aurora bukan seorang psikopat. Tapi, hanya gadis kecil di tengah dunia yang rapuh itu.


Aurora memelukku sambil menciumku dengan romantis. Dia juga membalas pelukan hangat di tengah luka yang parah. Aku mendengar curhatan dan lega dengan pembalasan itu


Setelah tangisannya berhenti, Aurora merasakan hal yang aneh pada tubuhnya. Rambut rambut berubah menjadi warna hitam, tinggi badannya meninggi. Dia berubah. Dia mengubah dirinya dengan natural. Dia bukan monster yang akan mencelakaiku.


Dia adalah Aurora dengan pribadi yang lain.


Aurora tertidur di pangkuanku. Aku menunggu Aurora agar bisa tidur di ranjangnya sampai tertidur lelap. Kemudian, aku meninggalkannya dan menuju ke apartemenku.


Sebelum itu, aku tidak bisa menggerakkan badanku sehingga terpaksa berada di sisi Aurora. Aku tidak bisa bergerak lagi karena tubuhku sudah mencapai batas. 


Biarkanlah! Aku tidak bisa bergerak untuk sementara waktu.


Sudah cukup kalau Aurora sudah kembali. Dia memelukku dengan erat dan tidak akan membiarkan aku meninggalkannya.


Aku tidak bisa bergerak lagi. Aku tidak terlalu berharap aku bisa hidup. Seperti ini saja sudah cukup. Aurora dengan mode Black Night Sky melakukan kecupan ke pipiku. Ia nyaman jika aku berada di sisinya selama ini

__ADS_1


I'm sorry, Prince Rivandy! I let you suffer to save me. I promise. I'll not let you suffering anymore - Aurora Sentinel.


__ADS_2