Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Musim Dingin Moskow : Perang Dingin


__ADS_3

"Itu adalah … kita terlambat, desu!"


"Tidak mungkin! Mereka sampai di sini lebih dulu. Kita hanya baru disini," keluh Akishima.


"Mungkin saja mereka rela bolos pelajaran hanya untuk menjenguk Rivandy. Aku sudah tahu dari Nina bahwa hari ini ada kasus bolos akademi," jelas Aurora mengenai pembicaraan dengan Nina.


"Kita harus segera menghentikan mereka. Kalau tidak, Sayangku akan direbut dengan gadis lain dan kawin lari di musim dingin,* ungkap Sheeran dengan akting yang berlebihan.


"Tidak ada kawin lari, desu. Mereka bukan maniak cinta sepertimu, desu," sindir Evelyn sambil mengetik ponselnya.


"Yosh! Akishima, Sheeran. Kalian bertempur sekarang juga! Aku dan Evelyn segera menyelinap dan semacamnya," pinta Aurora mengeluarkan senjata Koch UMp miliknya. 


"Baiklah!" Terima Akishima dan Sheeran mengeluarkan senapan mereka dan berniat menuju ke rumah sakit.


"Ayo!" Ajak Sheeran untuk segera ke lokasi kejadian.


Mereka berdua bergegas ke ruangan rumah sakit sementara Aurora dan Evelyn menyiapkan rencana backup mereka. Mereka bersiap untuk menahan lawan.


[*^*] 


Lorong rumah sakit, sekelompok polisi yang berpatroli untuk menjagaku dari Klub Pangeran. Mereka dibayar oleh kepala sekolah militer. Seorang gadis yang berasal dari Klub Militer. Mei Lisa.


"Tembak dia!" Seru Kapten Polisi.


Mereka menembak Lisa dengan pistol miliknya. Lisa dengan mudah menghindar peluru itu dan membalas tembakan M4A1 miliknya. Alhasil, peluru itu melesat dan menembak polisi dengan mudah. Mereka mundur ke lorong. Namun, Lisa mengenainya dengan mudah. Alhasil, ia membantai semua polisi yang menghalangi jalannya.


"Mudah sekali. Ini bukan lawan yang sepadan," gumamnya dengan memegang senapan miliknya. 


Dia bergegas ke ruangan pasien pengidap Hipotermia. Dia menentukan arah yang tepat untuk menjengukku di ruangan pasien sebelum diambil oleh gadis yang lain. Mendapatkan perintah dari Ketua Klub dengan entengnya dan membawa Rivandy menuju hadapan ketua.


Ketika berjalan tanpa tujuan, dia bertemu dengan seorang loli yang menggunakan piring terbang. Dia menggunakan kekuatan supernatural untuk menunjukkan dirinya. Itu adalah Kotori Andromeda.


"Yo! Kita bertemu lagi, Loser!" Ejek Kotori sambil menari. 


"Kau lagi. Kenapa kau selalu menghalangi jalanku?" Tanya Lisa dengan perasaan sinisnya.


"Seharusnya, aku berkata begitu. Kau tidak akan mendapatkan Rivandy dengan paksaan itu," jawab Kotori dengan tenang. 


"Kali ini, aku akan mengalahkanmu sekarang juga," tekad Lisa membidik Kotori. 


Kotori menghindar tembakan dan menahan serangan peluru. Dia menyerang balik kepada Lisa dengan serangan piring hitamnya. Namun, Lisa bisa menghindari dengan mudah. Dengan kerja kerasnya, dia bisa memprediksi serangan Kotori. Kalau Akishima melihat ini, ini sama seperti Kenbunshoku Haki tingkat ahli.


"Kebetulan sekali. Aku ingin menghajarmu lebih keras lagi."


"Silahkan saja! Aku akan menghabisimu sekarang juga," lontar Lisa menggunakan M4A1 untuk menghabisi Kotori.


Kotori dan Lisa berduet lagi. Mereka melancarkan kerusakan peluru dan supernatural, sehingga pertarungan akan lebih sengit lagi.


[*^*]


Di sebuah lorong dekat ledakan. Ada 2 tuan putri kerajaan yang sedang berkonflik dengan Klub Pangeran. Anggota itu bukanlah anggota biasa. Mereka adalah gadis yang pernah mengikuti lomba memasak, Karmila dan Elaviana. Mereka bergabung dengan Klub Pangeran dan menyetujui perintah Ketua Klub Pangeran. Mereka hanyalah seorang gadis dengan penampilan yang sama.


Mereka dengan senjata tombak yang di tangan mereka. Mereka menggunakan teknik martial arts mereka jika senjata mereka tidak efektif. Mereka menyebutkan nama mereka sebagai nama "Black Clover" atau disebut sebagai "Semanggi Hitam".


Di hadapan mereka, ada 2 tuan putri yang mengikuti Klub Disiplin. Mereka adalah Sinta dan Diana dengan pedang dan perisai mereka. Diana mengenakan baju zirah berwarna hijau, sehingga ia dijuluki sebagai Green Knight. Sementara itu, Sinta mengenakan baju zirah yang cukup ketat. Karena itu, mereka memanggilnya Missionary Knight.


"Ada apa kalian datang kemari?" Tanya Diana dengan serius.


"Kami datang untuk menjenguk Pangeran! Jangan halangi kami!" Pinta Karmila menatap Diana dengan serius.


"Kalian tidak diizinkan untuk menjenguk Rivandy. Dia sedang tidak boleh diganggu," larang Diana dengan serius.


"Halah! Kamu ingin menghisap cairan Pangeran. Jangan berbohong kau!" Marah Elaviana mengarahkan senjatanya kepada Diana. 

__ADS_1


"Jangan marah! Kita bisa bicarakan baik-baik. Siapa tahu kamu menyukainya. Aku juga menyukainya. Kalau dia sembuh, kita bisa menculiknya dan melecehkannya di hotel bersama-sama," usul Sinta dengan licik.


"Ide yang bagus, anak baik!" Puji Karmila dengan baik. 


"Saya salut padamu," lanjut Elaviana.


Sinta cengengesan. Ia melontarkan, "Hehehe. Terima kasih."


"Kalian boleh mengajaknya ke love hotel saat ia sembuh. Namun, kalian harus menghadapiku demi ksatria!" Oceh Diana dengan wibawa.


"Ayo, kita selesaikan ini!" 


Akhirnya, mereka bertarung. Sinta melindungi Diana dengan kekuatan misionaris dan Diana membalas serangan kepada Elaviana. Karmila mengambil kesempatan menyerang Sinta. Mereka saling balas menyerang tanpa memikirkan nasib rumah sakit yang dirusak oleh mereka 


"Tunggu! Jangan berkelahi! Aku ingin menyelesaikan dengan baik-baik," cocor Sinta terlalu baik.


"Kita bertarung dulu untuk kehormatan kami," balas Karmila.


"Baiklah, aku akan meladeni kalian semua," tekad Sinta memulai menggunakan tekniknya.


"Missionary : Frey Strike!" 


Sinta menebas udara dan tebasan itu melesat ke Elaviana. Elaviana menghindar dengan mudah dan menyiapkan kuda-kudanya sebelum menyerang Sinta.


"Hanya itu kemampuan kau? Rasakan ini!" Tanya Elaviana meremehkan Sinta.


"Ulele Pante : Wakanda Anda!" 


Elaviana memutar tombaknya dan melemparkan ke Diana. Diana tidak bisa menahan serangan itu. Alhasil, tombak itu mengenai dada Diana dengan keras. Namun, masih berdiri tegak melihat dirinya di tusuk tombak. Diana melepaskan tombak itu dan masih berdiri tanpa ada pergerakan apapun.


"Diana!" 


"Tunggu, apa yang kamu lakukan?" Tanya Sinta mulai marah melihat Diana terluka.


"Aku akan menghabisimu sekarang juga," tekad Sinta dengan kemarahannya.


"Missionary : Nero Clutch!" 


Kekuatan dan tekad Sinta memberikan tenaga yang cukup kuat untuk menghajar mereka. Namun, mereka belum terkena serangan sedikit pun. Mereka menghindar dengan mudah dan menyerang balik.


Sinta tidak akan kalah. Ia terus menerus menyerang mereka yang jahat kepada Diana. Namun, Dewi Fortuna berpihak kepada mereka, sehingga mereka mampu melakukan teknik ofensif mereka untuk membungkam Sinta. Sinta tidak dapat berbuat apapun. Hanya terjatuh dengan pedang yang menyentuh lantai. Sementara itu, Elaviana dan Karmila mendahuluinya dan segera berpesan sesuatu untuk ksatria yang kalah.


"Jangan khawatir! Setelah, saya mengeksploitasi Pangeran sampai kering, saya akan menyerahkan padamu. Dia akan menjadi sampah jika tidak bisa menghibur kami," ucap Karmila dengan penuh tawa.


"Jangan lakukan itu! Kamu tidak pernah mengetahui perasaan Rivandy.  Aku tidak mengajak kalian untuk melakukan hal itu. Aku hanya mengajak kalian untuk mengajaknya untuk saling mencintai. Bukan mengeksploitasinya," larang Sinta mencoba untuk berdiri.


"Maafkan saya! Saya tidak bermaksud bekerja sama dengan kamu. Saya mau permisi sebentar," pamit Elaviana segera meninggalkan Sinta tersungkur kaku.


Sebelum itu, Diana berseru, "Kalian akan menyesal dengan perlakuan kalian! Kalian tidak akan mendapatkan Rivandy selamanya," mengeluarkan aura ksatrianya.


Namun, tidak ada mendengar peringatan Diana. Hanya bergerak maju untuk mencari Rivandy dan membawanya ke suatu tempat.


[*^*]


Pada pertempuran di lobi rumah sakit, seorang memakai pisau Cold Steel berhadapan dengan ketiga gadis mengenakan perisai mereka. Mereka adalah anggota dari Klub Pangeran yang akan menjenguk Rivandy.


Eleva yang menyerang mereka dengan sekuat tenaga tidak bisa menembus pertahanan mereka. Eleva selalu menyerang mereka tapi tidak bisa memberikan kerusakan. Eleva mundur beberapa langkah dan terdiam beberapa saat.


"Tch! Mereka tidak membiarkanku untuk menghalangi mereka," umpat Eleva berhadapan dengan ketiga gadis itu. 


Dengan sombongnya, Stephany bertitah, "Jangan halangi kami! Kami ingin menjenguk Pangeran saja."


"Iya. Kalau kamu disini, kami tidak bisa berkunjung dan bertemu dengan Pangeran," lanjut Aria.

__ADS_1


"Aku juga. Aku harus berurusan dengan orang kasar sepertimu," lanjut Milia dengan marah. 


Mendengar percakapan itu, Eleva tersenyum kecil, membalas, "Oceh saja sesuka kalian! Kalian tidak akan mendapatkan Rivandy walaupun kalian mengalahkanku disini."


"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Jadi, pergi dari sini!" Usir Milia dengan tatapan seriusnya.


"Aku tidak ingin ikut campur dengan lelaki keras hati sepertimu. Kau sudah tidak waras," ejek Aria memandang Eleva dengan rendah.


"Aku akan mengalahkanmu dan segera menjenguk Pangeran sebelum ada yang mengambilnya duluan," ancam Stephany dengan serius. 


Mendengar ancaman itu, Eleva merespon, "Orang amatir seperti kalian tidak akan tahu apa yang kulakukan. Menghancurkannya saja tidak akan membuatku marah. Aku menikmatinya dan segera menghabisi kalian kalau perlu."


Aria, Stephany, dan Milia sedang menghindari serangan Eleva. Mereka mencoba untuk menyerang Eleva pada saat yang tepat. Namun, dengan kegesitan Eleva, mampu mendekat dan menghancurkan senjata perisai itu. Stephany langsung panik dan berganti posisi dengan Aria. Lagi-lagi Eleva menghancurkan senapan milik Milia dan Aria. Mereka terpojok dengan kondisi yang memberatkan.


Eleva bisa pergi dari sini dan mencoba untuk pergi ke ruanganku. Sebelum Eleva pergi, Stephany bertanya, "Untuk apa kau datang kesini?" 


Eleva membalikkan setengah badannya dan menoleh wajah dengan agresif. Ia menyapa ketiga gadis dengan kekalahan itu. Ini adalah sebuah pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum mendapatkan akibat yang buruk.


"Aku kesini untuk melakukan sesuatu yang kulakukan. Aku akan menyelesaikan sekarang juga,* curhatnya. 


"Oo. Begitu." Eleva mengerti.


"Tapi, bohong!" Seru Aria melakukan tembakan dan tembakan itu mengarah padanya. 


Eleva mengkhawatirkan tembakan itu mengenai dadanya, menghindari dengan tenang dan tidak mau tembakan itu mengenai lukanya. Ia harus tetap sehat bugar seperti biasanya, tidak mau ada luka yang di tubuhnya. Andela akan merawat lukanya lebih dalam lagi.


Ini membuat Eleva semakin kesal karena Andela selalu menemaninya ketika sakit. Eleva harus sehat bugar setiap saat.


"Hoi! Mencoba menembak saat lengah itu tidak baik. Kalian harus menghadapi dan menjalani pertempuran ini dengan mata kosong. Kalau tidak, aku akan menghajar kalian,"  pesan Eleva


Dengan itu, Stephany dan Aria melancarkan serangan mereka dengan beberapa peluru. Mereka membuat senjata baru dan melakukan pengepungan kepada musuh. Eleva hanya terdiam dengan itu dan mulai serius. 


Ia mulai merencanakan sesuatu untuk menghadapinya. Menghadapi mereka bertiga. 


[*^*]


Rapat Zoom telah berakhir. Farah dan Dina berada dalam ruangan khusus untuk operasi. Menyamar seperti dokter dan melirik sekitar apakah ada Pangeran yang sedang tertidur. Mungkin tidak.ada. 


Oleh karena itu, mereka beradaptasi dan melakukan penyembuhan yang pas untuk penyakit Hipotermia tingkat parah seperti Rivandy.


Mereka mengendap-endap dan mencari alat untuk menyembuhkan pasien lalu mengambil seperlunya dan membaca buku jurnal mengenal hasil tes yang dilakukan secara berkala oleh para dokter. Mereka juga mengambil mikroskop elektronik untuk memastikan bentuk darahku.


Setelah itu, mereka keluar dari ruangan dan melakukan operasi untuk menyembuhkan pasien yang penting.


Pasien yang akan menjadi seorang pacar yang sangat cantik dan manis.


[*^*]


Jam 15:12, Sima Rinko segera pulang meninggalkan akademi dan segera menuju ke rumah sakit. Sebelum itu, ia membeli sebuah jeruk hangat dan buah hangat lainnya. Ia membeli pakaian pria yang cukup hangat agar aku bisa mengenakannya.


"Rivandy. Kamu kenapa? Apakah kamu diserang oleh suhu dingin? Jangan khawatir! Aku akan menyembuhkanmu sekarang juga," tekad Rin sambil berjalan menuju ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, ia bertemu dengan kedua gadis yang sudah bersiap diri untuk menjenguk pasien. Gadis lolita yang memegang laptop untuk meretas sesuatu dan gadis satunya untuk menunggu sesuatu. 


"Anu. Aku …." Rin mulai bertanya pada gadis manis itu.


"Sebentar, aku akan …." Aurora menyahut. 


Aurora terkejut dengan sosok gadis yang sedang memegang sesuatu. Aurora mengingat sesuatu pada gadis ini. Gadis ini merupakan seorang yang tenang dan kalem. Setelah konflik dengan Klub Pangeran, Aurora pulang ke rumah karena dirawat. Pada saat mampir untuk menemukan sesuatu, ia melihat pakaian dalam yang berada di apartemen Rivandy tepatnya di kamar dan ranjang, sehingga Rin pulang tanpa mengenakan pakaian dalam dan menjadi target pria hidung belang.


Inilah yang menyebabkan Aurora dan Rivandy bertengkar. Mereka berkelahi karena ada pihak ketiga yang sedang mendatangi kehidupan rumah tangga mereka. Dia adalah gadis yang suka berselingkuh. Kalau saja Aurora mengetahui hubungan itu, dia akan marah besar dan menghajar kedua pasangan sejoli itu


Aurora melihat gadis itu dengan jelas. Tubuh gadis yang sudah murahan dan tidak pantas untuk dijadikan pasangan yang baik. Aurora berharap Rivandy tidak menjadi sasaran dari gadis janda dan murahan. Entah kenapa ia ingin berubah menjadi Langit Malam Hitam. Namun, menahan emosi itu demi Rivandy tersayang.

__ADS_1


"Kau adalah …."


__ADS_2