
"Aku memiliki lawan yang cocok untuk kalian. Kalian mendapatkan musuh yang tidak bisa diremehkan."
"Heh? Jangan bercanda! Aku tidak ingin berurusan dengan CIA ze!" Alda menghindar.
"Menjijikkan! Aku tidak akan menghadapi sialan itu!" Pandangan Leisse kembali ke buku.
"Lawan kita akan terasa menyenangkan! Kita akan menghajarnya dengan kekuatan tank milikku!" Natasha malah bersemangat.
"Tidak usah sok ceria! Aku benci sikapmu!" Natalia memarahi Natasha.
"Heh? Jangan begitu! Aku akan menunjukkan kekuatan sebagai gadis Rusia yang kuat dan tangguh." Natasha menyombongkan diri.
"Elliot sialan! Apa yang ia lakukan? Selalu saja sibuk dengan Quartet." Sasha berpikiran tentang Elliot.
"Mech 12. Mata-mata yang sudah meretas data akademi dengan cepat. Aku sudah mengetahui nomor IP dan semacamnya." Dr. Cherry
"Menarik! Aku akan menghabisi orang sialan itu, ze! MI6, James Bond, sekumpulan pecundang yang tidak berguna. Kemampuannya hanya bermain perempuan. Itulah sebabnya, aku ingin bertemu dengannya, ze."
"Alda! Jaga mulutmu!" Natalia mulai berkomentar.
"Cerewet! Kau selalu mencampuri urusanku, ze." Alda merespon.
"Tch! Kau selalu tidak bisa mengerem. Kau memang ...."
"Alda! Natalia! Berisik!" Leisse memanggil untuk menyuruh diam.
"Kau yang terlalu diam." Natalia membalas panggilan itu
"Oh iya. Ivantino Alonso Sentinel. Ia adalah Mech 12." Dr. Cherry menunjukkan foto Ivantino melalui hologram.
Ivantino ditunjukkan dengan data yang valid. Mereka berempat paham dengan lawan yang cukup sulit untuk ditangani.
[Mata-Mata MI6
Nama : Ivantino Alonso Sentinel
Lahir : 15 Maret 2005
Peringkat : Senior
Ras : Robot Alien (Type Optimus Prime)
Kekuatan : Holy Tech
Kelemahan : Oneesan]
"Robot itu. Rupanya berani juga dia. Ini bisa jadi pertempuran yang epik, ze.* Alda membetulkan kacamatanya.
"Ivan-chan! Itu dia. Aku akan melindungi Ri-chan dari Ivan-chan. Ini bisa jadi adegan drama cinta segitiga. Muehehe." Natasha mulai berkhayal.
"Menjijikkan! Dia sekelas dengan serangga yang membuatku sulit untuk tidur." Leisse mengkritik Ivantino.
"Ada lagi, Nona Cherry? Aku tidak puas berhadapan dengan sosok yang menjijikkan itu." Natalia membuang muka dari foto diproyeksikan.
"Aku akan menghubungimu nanti. Sasha." Dr. Cherry mencairkan suasana agar tidak tegang.
"Aku mengerti," paham Natalia.
"Bagaimana dengan Denis? Aku tidak ingin dia datang kemari." Leisse mulai mengangkat bicara.
"Tenang saja. Dia tidak akan mengganggu kita, ze." Alda menganggap ucapan Leisse dengan enteng.
"Lupakan dia! Rivandy lebih penting." Dr. Cherry mengalihkan perhatian.
"Oi! Cherry! Bagiamana dengan gadis Rusia?"
"Mereka aman saja, kok. Mereka sudah menjadi tunangan Rivandy. Tinggal menunggu kesempatan agar kehidupan mereka bahagia."
"Sheeran Chezka, Violet Valkyre. Saphine Vera, Cleverley Medicine. Mereka sudah berada kendali Rivandy. Tidak apa. Mereka akan lulus dan menjadi agen PBB selanjutnya." Lanjut Cherry.
"Ah! Aku banyak saingan lagi." Natasha mengacak kepalanya.
"Kau sudah gila! Aku akan melarangmu membaca novel romantis selamanya." Natalia menegur Voyage.
"Rivandy memang sulit ditebak. Mungkin aku akan menambahkan suatu sihir pada tubuhnya." Leisse menutup buku dan matanya.
"Oh iya. Aku ingin memperkenalkan seseorang yang akan menjadi generasi selanjutnya. Dia sedikit melenceng jauh dari gadis Rusia. Sepertinya, dia blasteran, ze."
__ADS_1
"Ah, Richel Renji. Aku menantikannya." Dr. Cherry memainkan poni rambutnya sejenak.
Mereka terdiam sejenak. Namun, Natalia mulai mendiskusikan sesuatu."Aku sudah membuat draft nanti."
"Peter dan Sasha. Kalian melindungi target dari serangan MI6. Setidaknya, kalian harus membantunya secara aktif."
"Aku, dan Elvy akan berada di balik bayangan. Ini sudah cukup untuk tugas kami. Ketika Richel, masuk akademi, kami akan turun tangan. "
"Aku harap bisa bertemu dengan Cheru-chan. Kita bisa bermain bersama dan akan terasa menyenangkan jika kita memulai akademi dengan menyenangkan."
"Kalau kamu tidak lulus, aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Sasha mengancam Voyage.
"Eh?! Tidak mungkin!" Voyage terpancing dan menoleh ke Sasha.
Di tengah pertengkaran Sasha dan Voyage, Peter mulai menyetujui."Aku setuju dengan rencana ini, ze. Meskipun ini bertentangan dengan berbagai kondisi. Aku berharap Pasukan Merah tidak ikut campur, ze."
"Night Angel dan Akihabara Actors. Heh! Mereka adalah monster yang terkutuk. Terlalu terpaku dengan sihir." Leisse menyimpan buku mantra miliknya.
Pembicaraan selesai meskipun masih banyak yang harus dibahas. karena waktu mau habis, mereka harus meninggalkan tempat ini dan bergegas meninggalkan akademi.
"Hanya ini yang hanya kami sampaikan."
"Kenapa kalian tidak menginap di mansion milikku?" Tawar Cherry.
"Aku sudah memesan apartemen pada kami. Tidak usah cemas!" Alda mengeluarkan 20 lembar ₽ 10.000 kepada Cherry.
"Alda memang flayboy! Uangnya dia dapat dari hasil berjudi." Leisse melirik Alda dengan dingin dan sinis.
"Tidak apa! Aku tidak keberatan, ze. Ini untuk bertahan hidup setelah menjalani kehidupan dengan pejabat sialan itu, ze."
"Shihihi! Aku sudah memesan apartemen nomor 307 agar tidak jauh dari Ri-chan! Aku diberikan uang sebesar ₽ 120.000 dari Aru-kun."
"Aku tidak butuh uang hasil judi itu. Itu terlalu berdosa." Natalia menolak.
"Aku bisa bekerja sampingan sambil mencari informasi mengenai sihir."
Dr. Cherry tertawa kecil. Keempat remaja itu cukup menarik. Tidak bisa dibayangkan mereka dicap sebagai mata-mata yang terpilih pada pemerintahan kali ini.
"Kalian boleh keluar! Aku harus bekerja lagi. Semoga berhasil! Jangan sampai tertangkap Bu Minerva yah!"
"Aku menantikannya. Aru-kun. Nata-chan. Rei-chan. Kita akan kemana?" Natasha bertanya keluar ruangan bersamaan.
"KIta harus bertemu dengan siswa Rusia terlebih dahulu lalu pulang."
"Tidak keberatan," jawab Leisse singkat mengikuti mereka bertiga sambil membawa buku mantra.
Dr. Cherry kembali bekerja. Mengawasi mereka dari luar sambil menatap layar laptop secara bersamaan.
[*^*]
Jam 10:00, aku meninggalkan kelas dan bertemu dengan Sheeran. Akishima dan Aurora harus mengerjakan tugas akademi. Aku dan Sheeran berjalan bersama seperti seorang kekasih.
"Sayangku! Ayo kita beromantis di kantin! Aku kehangetan. aku juga mau pesan sashimi juga."
"Iya. Aku akan menunggunya. Lagipula tugasku sudah selesai lebih awal."
Tiba-tiba, ada seorang gadis yang setinggi denganku, Dengan cepat, ia memelukku dan tidak akan meninggalkanku.
"Ri-chan!" Panggil seorang gadis pirang mengenakan beanie memelukku tiba-tiba.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan?" Aku mengeluh karena pelukan gadis itu. Baunya sangat harum, sehingga sulit dilepaskan. Aku takut Sheeran akan marah padaku.
Sheeran menjadi marah. Pikirannya menjadi negatif karena pelukanku dengan gadis yang memelukku dengan erat. Seolah dia merindukanku.
"Tunggu! Apa yang kau lakukan, dasar Janda? Sayangku! Siapa dia? Apakah dia simpanan gelapmu?"
"Aku tidak tahu! Gadis ini tidak bisa dilepaskan begitu saja."
"Ri-chan jahat! Dia tidak mengenalku!" Gadis itu malah memelukku dengan erat. Tidak mau melepaskanku.
Di tengah keributan akibat perselingkuhan itu, seorang remaja berkacamata datang menghampiriku. Seolah memberikan memori yang lain.
"Yo! Rivandy! Lama tidak bertemu lagi. Kuharap kamu tidak membunuh orang lagi, apalagi wanita, ze." Remaja kacamata itu mengejekku sambil bersandar di tembok.
"Kau siapa?" Aku menatap ke arahnya dan bertanya degan sayu.
"Haduh! Kamu malah melupakanku, ze. Kita pernah bertemu sebelum kamu masuk akademi, ze." Remaja itu mengingatkanku tentang suatu memori.
__ADS_1
"Oh. Alda. Lama tidak bertemu. Aku harap kamu tidak berjudi dan bermain perempuan." Aku ingat remaja itu dan kembali menyapa.
Sheeran menjadi terkejut. Hubunganku dengan kedua orang misterius denganku menjadi pertanyaan. Dia memberanikan diri untuk bertanya padaku.
"Eh? Kamu kenal dia?" Tanya Sheeran ketakutan.
"Aku pernah bertemu dengan mereka di Liburan Musim Semi. Pamanku mengajakku ke Siberia untuk bertemu mereka berempat. Mereka selalu memaksaku untuk akrab dengan mereka," jelasku.
"Eh? Ri-chan! Ri-chan!" Natasha melepaskan pelukanku
"Kenapa?"
"Coba tebak. Apa yang terjadi padaku sekarang?"
"Ee ... apa yah. Aku tidak tahu."
"Hayo! Tebakannya mudah, lho. Apartemen dan murid. Itu aja."
"Itu.... " Aku belum sempat berpikir jernih menjawab pertanyaan itu.
Sebelum itu, Denis dan Hammer datang kepadaku dan berniat untuk memelukku lagi. Sheeran dan Natasha melirikku sebagai lelaki yang hina akibat hubungan LGBT.
"Ri-chan!"
"Apa yang kalian lakukan?" Aku panik karena dipeluk dari belakang.
"Ri-chan! Mereka siapa?" Natasha mulai berpikiran negatif.
"Itu ..."
"Lucu sekali. Denis. Aku tidak habis pikir dengan nasibmu saat ini, ze."
Denis menghindari kontak dengan Alda. Entah apa hubungan mereka yang memburuk itu. Aku rasa hubungan mereka tidak baik.
"Bibi Rita! Denis berulah lagi, ze!" Alda meninggalkanku dan mengadu ke Bibi Rita.
"Kemari kau, Alda!" Denis mengejar Alda dengan memegang senapannya sementara Hammer melepaskan pelukanku dan mengejar Denis.
"Denis! Tunggu aku!"
Ternyata, Alda mengerjai Denis seperti anak-anak. Aku malah berprasangka buruk. Sheeran dan Natasha bertengkar karena aku.
"Yo! Rivandy! Kamu memang kejam. Teman lama sendiri dilupakan. Natasha dan Leisse menemuimu" Zhukov menyapaku dan datang tiba-tiba. dengan dua gadis di sebelahnya.
"Rivandy! Kalau kamu menghilang setelah membunuh bangsawan, aku akan menghajarmu." Natalia mendekatiku dan memberiku peringatan.
"Itu ..."
"Kamu memang penakut. Selalu menyendiri dan melekat pada Paman Roman. Kau lebih cocok sebagai anak perempuan." Leisse menyindirku dan menyamaiku dengan anak perempuan.
"Hentikan!" Aku malu seketika.
"Beruntungnya! Kamu mendapatkan empat teman yang perhatian padamu. Aku tidak habis pikir kau selalu menetap di Moskow selama setahun."
"Sayangku! Jangan selingkuhi aku! Aku akan membuatmu nikmat sampai tua nanti." Sheeran memelukku dan tidak akan melepaskan pelukanku sambil menangis.
"Hentikan! Aku tidak pernah memikirkan hal itu!"
Zhukov tertawa kecil karena tingkah Sheeran. Ia malah menambah masalah lagi kepada gadis yang satunya.
"Natasha! Hati-hati! Rivandy akan meninggalkanmu di kelas 2 nanti kalau kamu tidak melindunginya." Zhukov menghasut Natasha setelah mendekati Natasha.
"Tidak! Ri-chan! Jangan pergi! Aku akan melindungimu." Natasha malah terkena hasutan Zhukov.
"Hentikan! Aku tidak bisa bernafas." Aku dipeluk Natasha dan Sheeran secara bersamaan.
"Sampai jumpa! Aku ingin ke kantin dulu." Zhukov memberikan salam perpisahan padaku dan kedua gadis itu mengikutinya.
"Dasar! Lebih baik, dia selalu berteman dengan anak perempuan saja." Natalia membuang muka dariku.
"Menyedihkan." Leisse mulai membuka buku mantra.
"Zhukov! Tunggu! Tolong aku!" Aku meminta pertolongan pada Zhukov.
Mereka meninggalkanku sendirian dengan pelukan dua gadis yang tidak bisa dilepaskan. Zhukov dan lainnya tidak mendengarkanku. Mereka meninggalkanku dengan rasa tidak bersalah.
Sudahlah! Mereka memang cuek padaku meksipun tidak membiarkanku untuk kehilangan harapan.
__ADS_1