Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
[Zera Lelousiana]


__ADS_3

2 September 2025, jam 15:10, di Kelas I Saintek F. Para siswa dan siswi sudah diperbolehkan pulang karena jam pelajaran telah berakhir. Terdapat seorang siswa sedang tertidur di kursinya dekat jendela pada saat semua siswa sudah pulang.


Siswa itu memiliki rambut hitam kusut dan mata biru yang kaya akan pemandangan malam. Tubuhnya yang cukup kecil dan sedikit kurus daripada siswa pada umumnya. Dia sering tertidur di kelas, sehingga setiap guru yang mengajarnya sangat kesal padanya. Ia juga sering tidak fokus saat pelajaran itu.


Ada seorang wanita yang berambut ponytail panjang dengan pinggiran poni dan pinggiran yang panjang warna turquoise. Warna matanya hitam menatap suasana kelas yang sepi. Ia berpostur ideal dengan panjang pinggang sebesar 80 cm dan *********** sebesar 81 cm. Tinggi badannya mencapai 162 cm dengan berat badan 40 kg. Badannya sangat atletis, sehingga ia dilirik oleh Klub Olahraga untuk bergabung dengannya.


Kecantikan gadis itu tidak bisa diremehkan. Ini sama seperti Rivandy yang tampan bagaikan seorang pangeran dari kerajaan yang jauh. Gadis itu bisa disejajarkan dengan seorang pangeran. Dengan sikapnya yang sopan dan sangat cantik, banyak siswa yang mengejarnya sama seperti Rivandy yang dikejar oleh 100 gadis.


Nina Alpenliebe, siswa Kelas I Sanitek A, sekelas dengan Rivandy. Nina menghampiri siswa yang tertidur itu. Dia mengeluarkan megaphone kecil miliknya yang disimpan di belahan dadanya, kemudian, ia mengarahkan megaphone itu kepada siswa itu mulai menyerukan suara yang keras.


“Zera. Bangunlah!” Seru Nina membangunkan Zera.


Namun, siswa itu, tidak mau bangun. Ia masih tertidur dengan lelap. Nina yang tidak mudah


“Bangun! Zera Lelousiana! Waktunya pulang! Sinta dan Diana sedang menunggumu, lho,” ujar Nina cemas dengan


“Hmph! Dasar tukang tidur! Aku akan membawamu ke suatu tempat,” pikir Nina dengan niat jahatnya.


Ia membawa Zera dengan pangkuannya dan membawanya ke taman akademi. Sesampainya di taman, Nina melepaskan pangkuan Zera dan menceburkannya ke dalam kolam setelah mengamankan tas miliknya.


Zera pun tercebur di kolam dengan seragam miliknya yang basah.


“Rupanya kamu sudah bangun, ya,” omel Nina menghela nafasnya karena Zera terbangun pada akhirnya.


“Ayo pulang! Sinta dan Diana sedang menunggumu. Mereka akan mengomelmu, lho,” canda Nina  tersenyum nakal


Zera hanya terdiam dengan omelan Nina. Nina dan Zera sudah berteman semenjak usianya 9 tahun di Frelighsburg, yang terletak di lokasi yang indah di kaki Gunung Pinnacle, di tepi Sungai Pike.


Nina yang memiliki jiwa semangat yang tinggi yang disertai dengan sopan santunnya. Dia sudah terbiasa dengan Zera yang suka tertidur di kelas saat sekolah dasar. Entah kenapa Zera selalu tertidur di kelas pada siang hari. Mungkin dia memang pemalas, namun ia cukup tenang.


Mereka mendapatkan surat dari pemerintah Kanada untuk mengikuti pelajaran di Akademi Militer Spyxtria, dengan Nina, Sinta, Diana, dan Zera sebagai murid yang terpilih untuk melanjutkan sekolah di sana. Pemerintah Kanada akan membiayai mereka saat mereka berangkat ke Rusia.


Sesampainya di Moskow, mereka mencari apartemen mereka yang cocok untuk mereka. Zera dan Nina memilih apartemen sendiri, sementara Sinta dan Diana memilih untuk tinggal bersama. Meskipun mereka tinggal di apartemen yang berbeda, mereka bisa berkumpul sebagai teman lama mereka.


“Nina. Tidak bisa,” cekal Zera yang mengapung di kolam.


“Ayo, Zera! Kamu pasti bisa, kok!” Seru Nina selalu mendukung Zera.


“Aku akan mendukungmu.” Nina berniat mengganti seragamnya dengan pakaian Cheerleader-nya untuk mendukung Zera.


“Tidak usah! Merepotkan saja,” larang Zera langsung beranjak dari kolam taman akademi dan keluar dengan pakaiannya yang basah kuyup.


“Rencana berhasil!” Nina semakin semangat dan mengacungkan jempolnya sebagai keberhasilannya.


“Aku mau pulang,” pamit Zera segera mengambil tasnya dan meninggalkan Nina.


Nina yang melihat itu segera menghampiri Zera dengan segera. Zera memalingkan wajahnya ke Nina karena Nina terlalu sempurna. Ia bisa disejajarkan oleh Rivandy. Hanya saja, dia justru memilih untuk menemani Zera yang pemalas, cuek, dan sangat buruk.


Setelah Nina dan Zera keluar dari akademi, ada dua orang gadis yang bertindak seperti orang dewasa. Kedua gadis itu sedang menunggu Zera dan Nina sambil mengobrol dengan anggun tapi akrab.


Gadis dengan dengan rambut perak panjang dan mata biru keunguan. Dia mengenakan seragam akademi yang sangat rapi dan elegan. Tidak lupa dengan aksesoris bunga mawar putih di rambutnya. Postur tubuhnya terbilang ideal, walaupun tidak seideal Nina.


Namun, sikapnya sangat baik hati dan tidak sombong, Menjadikannya sebagai gadis yang bisa didekati oleh siapapun. Gestur tubuhnya yang elegan dan anggun itu layaknya seperti seorang bangsawan.

__ADS_1


Sinta Sentinel. Siswi dari Kelas I Soshum A. Sekelas dengan Shiori dan Bella.


Gadis dengan kulit pucat, mata biru muda cerah, rambut pirang platinum dengan poni samping kanan dan kiri, dan warna rambut hijau teh. Dia dianggap sangat cantik, menawan, dan sangat normal. Dia tidak tahan dengan ruangan yang kotor.


Diana Ravenrought, gadis yang berasal dari Kelas I Soshum B. Sekelas dengan Andika.


“Hmph! Dasar Zera! Selalu saja terlambat. Kasihan Nina, tahu,” gerutu Diana karena sifat Zera yang terlambat dengan nada bicara yang elegan.


“Sudahlah, Diana! Zera pasti terbawa mimpi. Iya ‘kan?”  Tanya Sinta yang melancarkan senyumannya kepada Zera.


Zera hanya terdiam dengan lontaran senyuman dari Sinta.


“Tolong katakan sesuatu, dong!” Pinta Sinta sabar dengan tingkah laku Zera yang cuek itu.


“Yah sudah! Nanti, aku akan mengajakmu ke suatu tempat pada akhir pekan nanti. Kamu pasti tidak akan menolaknya,” ajak Sinta berhadapan langsung dengan Zera.


“Aku tidak akan datang,” respon Zera melewati Sinta untuk pulang.


“Aku sibuk,” lanjutnya berjalan pulang dengan menundukkan kepalanya.


“Sibuk menatap bulan yang indah dan cemerlang itu sepanjang malam? Atau apa yah?” Tanya Nina tahu apa yang Zera lakukan.


Zera tidak menjawab pertanyaan itu. Ia mengabaikan pertanyaan itu dan segera meninggalkan mereka. Namun, Nina, Sinta, dan Diana mengejar Zera agar ia tidak meninggalkan mereka.


Mereka sudah terbiasa dengan sikap Zera yang sangat buruk. Ia selalu membuat orang lain bernasib sial. Karena itu, Zera dijauhi oleh orang di sekitarnya. Zera tidak memiliki teman dan orang tua  sampai ketiga gadis itu menemaninya meskipun Zera tidak dapat mengubah sikapnya menjadi lebih baik.


Pada persimpangan jalan, Sinta dan Diana mengucapkan selamat tinggal kepada Zera dan Nina. Zera masih tidak menjawab dan hanya melambaikan tangan dengan lambat. Nina yang sedang mengantarkan Zera segera mempercepat langkah kakinya agar ia tidak ditinggalkan oleh Zera.


Zera dan Nina pulang dengan hiruk pikuk kota Moskow yang sangat sibuk itu.


[*^*]


Zera yang menggunakan pistol laser tidak bisa berkutik lagi dengan ketiga gadis yang kompak itu. Mereka yang berasal dari Klub Pangeran sudah terbiasa dengan latihan militer untuk menangkap Pangeran.


{PP520 (Laser)}



Akhirnya Kelas I Saintek F dikalahkan dengan mudah.dengan gadis dari Klub Pangeran, Aria, Stephany, dan Millia, mendominasi pertempuran itu dan seorang siswa yang mengambil Kubik kuantum.


Permainan pun berakhir, Zera melihat notifikasi yang terlihat ada foto seorang siswa dayang mengambil Kubik Kuantum untuk memenangkan itu.


[Misi Gagal!]


[Siswa Kelas I Soshum C, Richard Meleouse Elizabeth V mengambil Kubik Kuantum]


Setelah itu, ia melihat notifikasi lainnya untuk melihat sejauh mana Zera bisa melakukannya.


[Zera Lelousiana


 Kelas I Saintek F


 Preview Score : D-

__ADS_1


 Catatan : Jangan menyerah! Ayo bangkit lagi!]


Zera sangat murka dengan kata “Jangan menyerah!” Ini selalu muncul berulang kali di pikiran Zera.


“Kenapa semua orang memegang kata ‘Jangan menyerah!’ Itu? Aku tidak mau memegang kata itu meskipun aku selalu disemangati oleh ketiga gadis yang berisik itu,” pikir Zera menutup notifikasi di hadapannya dan segera menuju ke kursi penonton untuk menyendiri.


Setelah menyendiri selama beberapa saat kemudian, Nina muncul di kursi penonton. Ia yang melihat Zera bergegas untuk


Nina yang menghampiri Zera itu mulai bertanya, “Zera. Bagaimana dengan nilaimu?” Ingin tahu


“Aku gagal,” jawabnya dengan singkat.


“Ayolah! Jangan menyerah! Kamu masih …,” hibur Nina terpotong karena Zera meninggalkan Nina dan menuju keluar dari kelas militer untuk bolos.


Nina yang melihat itu hanya terdiam lesu dengan perasan Zera. Air matanya keluar dengan tidak sengaja, lalu mengalir ke pipinya. Ia memejamkan matanya untuk menghindari tangisan itu.  Ia pun menyeka tangisan dengan siku tangannya.


“Sampai kapan kamu terus begini, Zera?”


“Aku tidak tahan dengan perasaanmu itu.”


“Jika orang lain dalam posisiku, dia akan menangis keras.”


“Sinta dan Diana berusaha untuk memperbaikimu. Tapi, tidak bisa.”


“Meski kamu menderita, kamu masih bertahan. Dengan kata itu, itu cukup membunuhmu. Aku paham betul dengan penderitaan itu. Tapi, hanya satu yang bisa kukatakan padamu.”


“Aku mencintaimu, Zera.”


Sebelum menangis keras, ada tiga siswa yang menghampirinya untuk bertanding dengan kelas lain.


“Nina!” Panggil siswa rambut biru..


“Kamu kenapa?” Tanya siswa berkacamata..


“Apakah kamu merasa tidak enak badan?” Tanya siswa pendek itu.


“Aku tidak apa-apa,” jawab Nina mempertahankan penderitaannya.


“Nina. Selanjutnya! Kita akan bertanding dengan Kelas I Soshum D. Mohon kerjasamanya,” ucap Rivandy memberikan minuman energi kepada Nina.


“Iya.” Nina pun  tersenyum dibalik penderitaan.


“Rivandy. Tolong punyaku juga,” seru siswa berkacamata tu.


“Magazine-nya juga,” ujar siswa berambut biru.


“Ambil sendiri sana! Aku sedang dipanggil yang lain,” gerutu Rivandy.


“Janganlah begitu!” Cela siswa pendek itu.


Nina meminum dengan perlahan dan bersiap untuk bertanding dengan siswa lain. .


[*^*]

__ADS_1


Jam 14:50, Nina mengemasi barangnya untuk pulang. Ia mengirim pesan kepada Sinta dan Diana untuk membiarkan Zera sendirian. Sinta dan Diana menyetujuinya. Mereka pulang seperti biasanya dan melupakan perasaan Zera yang semakin sakit itu. Mereka  harus melakukan sesuatu sebelum terlambat.


Mereka tidak ingin Zera sendirian dengan penderitaan yang semakin membesar.


__ADS_2