
Lisa bertemu dengan Kotori dan Shiori. Dia ingat pada mereka yang selalu menghalangi jalannya. Sudah dua kali Kotori menghalangi Lisa. Lisa merasa diremehkan saat itu. Namun, tidak lagi. Saatnya balas dendam!
“Kita bertemu lagi,” sapa Lisa dengan tatapan sinis dari monokel.
“Seharusnya, aku mengatakan itu,” ejek Kotori melakukan gestur ejekan pada Lisa.
“Kau pikir dengan ejekan itu bisa memprovokasi?” Tanya Lisa dengan tidak mengerti.
“Aku akan menunjukkan kekuatanku untuk melindungi Rivandy.” Kotori mengeluarkan senjatanya untuk menunjukkan dirinya.
“Lawan aku! Aku akan ladeni kalian.” Sikap Lisa berubah dengan haus peperangan.
“Shiori. Kita hajar dia!” Ajak Kotori menoleh pada Shiori.
Shiori mengisi ulang sebelum memulai pertarungan yang melelahkan itu. Setelah itu, Lisa dengan senapan MA41 sudah siap untuk melakukan pertempuran yang menentukan kemenangan.
Akhirnya, mereka melakukan pertarungan untuk ketiga kalinya. Kotori menghindari dengan mudah karena kekuatan supernaturalnya. Shiori melakukan perhitungan yang cukup ketat agar pelurunya melesat mengenai Lisa.
“Electro Dubstep : Colorblind!”
Kotori menggetarkan sebuah ruang dan waktu, sehingga Lisa tidak bisa menambah Kotori. Selang beberapa detik kemudian, Shiori melakukan tembakan dan membidik perutnya. Lisa dengan pengalaman saat militer menghindar dengan jarak peluru yang dekat dengannya.
Kemudian, Lisa melancarkan serangannya kepada Kotori dengan pisau. Kotori menahan tebasan itu dengan piring hitam dan Shiori melakukan tembakan lagi. Lisa menghindar dengan mundur ke belakang dan mengganti pisau dengan pistol.
Ia menembak Kotori di bahu sebelah kiri. Namun, Shiori menghentikannya dengan menahan tembakan itu. Terlambat. Kotori tidak bisa menghindar dan terkena tembakan di bahu. Kotori menahan luka itu dan segera mencari cara untuk bersembunyi.
Lisa mencoba menghentikan Kotori yang kabur. Namun, Shiori menahan serangan Lisa dengan tembakan peluru yang menangkis peluru Lisa. Kotori bisa kabur dan mencoba mengobati luka dengan perban miliknya. Ia juga membuka sebuah kotak P3K untuk mengambil beberapa obat untuk menahan lukanya.
“Sial! Kenapa dia semakin kuat saja?” Gumam Kotori menahan luka di bahu.
Ia sudah mengobati luka itu dengan sekejap dan kembali lagi ke medan pertempuran. Shiori dan Lisa melakukan baku tembak. Mereka kadang menembak, menghindari dan melakukan teknik bela diri mereka.
Pertarungan semakin berlanjut dan berlarut pada jam 09:67 yang terpampang di dinding mal.
[*^*]
Di lorong Mall yang sepi karena pengunjung mal mengungsi keluar mal, Bella berlari bersamaku dengan pandangan setengah kabur. Setelah sampai di suatu tempat yang tidak diketahui, ia menidurkanku di lantai dan istirahat.
“Mungkin tidak ada yang bisa mengejarku,” gumam Bella menahan nafasnya.
:”Mumpung Onii-chan tidak sadar, aku akan mengerjainya,” pikir Bella yang sudah terhasut dengan niat jahatnya.
Bella membuka bajuku dan mengenakannya di tubuhnya. Ia membuka semua pakaianku dan hanya ****** ***** yang tersisa. Ia membuka bajunya dan mengenakan pakaianku di tubuhnya, lalu ia memakai baju yang dipakai.
Ia memotretku yang tidak mengenakan pakaian selain ****** *****. Dia senang dengan aku yang terkapar karena aku diperkosa oleh Kotori. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana aku diperkosa oleh Shiori. Ia ingin merekamnya.
“Sekarang. kau tidak bisa mengalahkanku, Onii-chan. Nanti, kamu akan diperkosa oleh Shiori nanti,” pikirnya merasa bahagia karena aku dilemahkan olehnya.
Namun, di tengah kebahagiaan di hati Bella, ada dua wanita yang mengikutinya. Kedua wanita itu sedang mabuk Oneesan Ara Ara. Mereka menghampiri anak kecil yang telah melucutiku.
“Ara Ara. Kamu sedang apa, anak kecil?” Tanya wanita itu mendekati Bella.
“Sudah kubilang aku bukan anak kecil, Shiori!” Cocor Bella karena dipanggil anak kecil.
“Eh? Kamu apakan dia?” Tanya wanita yang lain.
“Tidak ada. Aku hanya ….”” Bella menoleh ke belakang dan berniat untuk berbohong.
“Eh?!” Bella merasa terkejut karena kedua wanita itu berhadapan dengannya.
Bella merasa terkejut karena melihat ada kedua wanita yang sedang menghampiri Bella dengan mata cinta. Dengan seragam Power Ranger dan tubuh Oneesan Ara Ara, membuat Bella semakin waspada kepada mereka.
“Kalian siapa?” Bella menanya dengan nada yang cukup tinggi.
“Kamu tidak tahu kami?” Tanya Sheeran memiringkan kepalanya.
“Ya iyalah!” Jawab Bella meneriaki kedua wanita itu.
“Kalau begitu, aku adalah kakak RIvandy. Akishima Renji.” sapa Akishima dengan teknik Oneesan Ara Ara.
“Aku adalah suaminya,” lanjut Sheeran dengan dadanya yang semakin menggoda.
“Lalu, kamu apakan adikku yang manis?” Tanya Akishima dengan gestur Oneesan Ara Ara.
“Mana aku tahu! Jangan mengaku menjadi kakak Onii-chan!” Bella memarahi kedua wanita itu.
“Bukankah kamu yang mengaku sebagai adiknya?” Tanya kembali Akishima.
“Tidak ada pilihan lain. Aku hanya ...” Bella berusaha untuk menjawab meskipun ia malu.
“Hei. anak kecil!” Potong Sheeran menghampiriku.
__ADS_1
“Aku Bella! Aku bukan anak kecil” Cocor Bella menoleh ke Sheeran..
“Apakah kamu ingin menikmati tubuhnya?” Tanya Sheeran merayu Bella.
“Tentu saja tidak! Aku menyita pakaiannya dan memotretnya. Tidak ada pilihan lain,”
“Jaa. Bolehkah aku menikmati tubuhnya?” Tanya Sheeran memeriksa tubuhku.
“Tidak boleh! Kotori melarangku untuk melakukan itu.” Bella melarang Sheeran untuk
“Eh?! Kenapa? Padahal, aku suaminya,” keluh Sheeran dengan tatapan Oneesan Ara Ara.
”Jangan mengaku sebagai istri! Mana ada suami istri masih sekolah!” Bella menegur Sheeran karena tidak mungkin ada suami istri saat sekolah akademi.
“Kalau begitu, kita beri pelajaran loli ini!” Ajak Akishima mencoba untuk memberi pelajaran pada Bella.
“Kita meremas tubuhnya dan menumbuhkan dadanya. Kita minum cairannya dan melucutinya,” lanjut Sheeran ingin meremas dada Bella.
“Hentikan! Jangan lucuti aku!” Bella berjalan mundur dan tidak bisa lari lagi.
Namun, tidak bisa. Bella sudah terpojok di tembok. Tidak bisa berbuat apapun karena ia sudah di pojok oleh Akishima dan Sheeran. Bella mencoba untuk mencari cara untuk kabur. Namun, tidak ada celah untuk kabur.
“Jangan lucuti aku! AKu belum bisa menjadi gadis remaja. Aku baru 10 tahun,” ucap Bella merasa ketakutan karena keberadaan mereka berdua.
“Itadakimasu!” Akishima dan Sheeran memegang baju Bella dan segera melepaskannya.
“Hentikan!” Bella mencoba menghentikan kedua wanita itu walaupun tidak bisa.
“Jangan remas aku!”
“Aku masih suci.”
“Hentikan!”
“Tidak!”
[*^*]
Andela melihat sebuah pertarungan yang sengit. Ia juga melihat tank dan robot sedang meluncurkan misilnya untuk menghabisi Klub Pangeran. Merasakan q jantungnya berdetak karena ada sebuah pertarungan untuk merebutkan Pangeran Rivandy.
“Wah! Ada yang bertarung ranjang nih! Aku akan menyerbunya,” pikirnya melihat sebuah pertarungan yang cukup kuat.
“Serang!” Andela terjun dari lantai atas dan segera mengikuti pertempuran.
Seseorang itu menarik Andela ke lorong yang sepi akan pertarungan. Andela berpikir ada seorang pria mesum yang akan memperkosanya. Andela ingin sekali diperkosa. Apalagi, ia ingin diremas dengan lembut.
“Kya! Aku mau diperkosa! Tolong buka bajuku!” Andela ingin melepaskan bajunya.
“Huh?!” Orang yang menarik Andela merasa kesal dengan tingkah Andela yang mesum.
“E-Eleva. Sedang apa kau disini? Kamu ingin memperkosaku?” Tanya Andela merasa terkejut dengan Eleva yang di hadapannya.
“Tolong buka bajuku! Tapi, pelan-pelan saja!” Lanjut Andela ingin diperkosa.
“Bodoh! Aku tidak melakukan itu. Aku datang untuk memulangkanmu,” cocor Eleva ingin memulangkan Andela.
“Eh?! Kenapa?! Lagipula kamu tidak bangun tadi pagi. Kamu selalu main game dan melupakan permainan ranjangmu itu. Karena kamu tidak bangun, aku pergi ke mal dan cari restoran. Aku juga ingin memberikan sesuatu untukmu,” jelas Andela menyalahkan Eleva.
“Apa ini?” Tanya Eleva memegang ponsel milik Andela.
Andela merasa terkejut karena kehilangan ponselnya dan ponselnya sudah berada di tangan Eleva. Eleva sangat kesal karena Andela meninggalkan ponselnya di mal. Ia merasa cemas kalau ponsel itu disadap dan mencari informasi yang penting.
“Eleva! Kenapa ponsel itu ada di tanganmu? Apakah kamu sudah melihat video porno terbaruku?” Tanya Andela dengan otak mesum.
“Tentu tidak! Aku cemas kamu diculik dan diperlakukan sebagai budak, kau tahu!” Eleva memarahi Andela yang selalu keluyuran.
“Sudah! Kita pulang saja!” Eleva memendamkan amarahnya dan menarik Andela pulang.
“Tunggu Eleva! Bagaimana dengan Pangeran Rivandy?” Tanya Andela menoleh ke Eleva.
“Jangan pikirkan dia! Karena dia, pertempuran mal sudah dimulai,” jawab Eleva dengan tatapan sinis.
“Eleva! Jangan bawa aku pulang!” Rengek Andela ingin lepas dari cengkraman Eleva.
“Setidaknya, ajak aku ke ranjang! Aku ingin ….” Omelan Andela dipotong oleh Eleva.
“Diam! Aku akan menghukummu di rumah!” Eleva memarahi Andela karena tidak bisa diam.
Eleva memulangkan Andela ke apartemen mereka. Ia akan menghukum Andela untuk tidak boleh memegang ponsel selama seharian. Setelah itu, mereka meninggalkan mal tanpa melihat pertempuran yang akan terjadi.
[*^*]
__ADS_1
Pertarungan mal sedang terjadi. Lisa dan Kotori bertransaksi kerusakan dengan tebasan mereka. Shiori melakukan tembakan yang cukup keras karena Shiori tidak akan membiarkan Kotori terluka meskipun Kotori telah mengkhianatinya.
Sementara itu, Rima sedang mengendarai tank meskipun tidak tahu caranya. Ia tidak bisa mengetahui bagaimana caranya untuk mengendarai tank. Oleh karena itu, dia menekan tombol tank secara sembarangan dan menimbulkan tabrakan di toko mal.
Karena Rima tidak bisa menggunakan rem karena tombol rem tidak bisa digunakan lagi. Tidak ada pilihan lain, ia menyalakan ponselnya dan memasang tongsisnya. Kemudian, ia merekam dirinya yang sedang merusak tank Klub Militer.
“Oh tidak! Tanknya tidak bisa direm. Aku butuh bantuan kalian.”
“Jika kalian ingin menghentikan tank, katakan ‘Tank, jangan jalan!’”
“Katakan bersama-sama!”
“Tank, jangan jalan!”
“Tank, jangan jalan!”
“Tank, jangan jalan!”
“Tank, jangan jalan!”
“Tank, jangan jalan!”
Karena perkataan Rima, membuat tank itu terhenti. Rima senang karena tidak akan menghancurkan toko mal lagi karena tank yang ia kendarai. Dengan itu, Rima merasakan keberhasilan dan ingin menyanyikan keberhasilan itu.
“Berhasil!”
“Berhasil. Berhasil. Berhasil Hore! We did it!‘
“Pertama, kita sudah ….” Rima ingin menyanyi sampai akhir..
“Rima,” panggil Hanna melalui aplikasi Zoom.
“Iya. Ada apa?” Tanya Rima melihat Hanna yang sedang keadaan darurat.
“Aku butuh bantuanmu. Satu tank sudah hancur. Bisakah kamu datang ke pertempuran?” Tanya Hanna merasakan kewalahan karena anggota Klub Pangeran membuat robot yang dikendalikan oleh Hanna sudah mengalami kehancuran.
“Okie Dokie,” terima Rima dengan senang hati.
“Aku akan ke sana,” tutupnya segera menutup aplikasi Zoom.
Ia merekam lagi dan menyapa, “Halo, aku Rima. Tadi, aku ditelpon sama temanku, Hanna. Dia butuh bantuanku. Apakah kau tahu apa yang harus aku lakukan?”
“Iya. Kita harus menolongnya. Kita harus menuju ke medan pertempuran,“ jawabnya dengan penuh riang sambil memasuki tank.
“Katakan ‘Tank! Ayo jalan!’”
“Katakan lebih keras!”
“Lebih keras!”
Tank itu jalan dengan perlahan. Rima merasa bangga karena tidak perlu menekan tombol tank untuk jalan. Ia merasa lega kalau tidak perlu melakukan hal yang merepotkan lagi.
“Hore! Kita sudah bisa menjalankan tank kita, teman-teman!” Rima sangat bahagia karena tank
Tak lama kemudian, Aurora dalam mode Langit Malam Hitam bertemu dengan sebuah tank yang berada dalam perjalanan menuju medan pertempuran. Ia merasa terkejut kalau monster itu akan menghabisinya.
“Oo. Ada Swiper, teman-teman!” Rima melihat Aurora yang menghampirinya.
“Dia akan menghancurkan tank kita yang tercinta ini dengan tambakan hatinya.” lanjutnya sambil merekam dirinya.
“Kalau kita mau menghentikan dia, katakan, ’Swiper! jangan tembak hatiku!’”
“Swiper! jangan tembak hatiku!”
“Swiper! jangan tembak hatiku!”
“Swiper! jangan tembak hatiku!”
“Swiper! jangan tembak hatiku!”
“Swiper! jangan ….” Ucapan Rima terhenti karena peluru P90 milik Aurora telah membuat kerusakan di tank.
Akibatnya, tank itu mengalami kebocoran minyak dan meledak akibat suhu panas menelan minyak dan mengarahkan ke tangki bensin. Aurora menghampiri tank yang mulai meledak dan mengambil Rima lalu menghempaskan Rima ke lantai dengan keras.
Rima tidak bisa menyadarkan dirinya. Ponselnya sudah retak akibat injakan Aurora dengan keras. Ia sudah membuat Rima tidak sadarkan diri. Aurora memeriksa tubuhnya sebelum meninggalkannya.
Dengan itu, Aurora bisa tenang dan melakukan pencarian padaku. Dengan mata biru yang menyala, dia bisa mencariku dengan jarak 10 km panjangnya.
Dia meninggalkan Rima yang sedang tergeletak bersama tank yang hancur akibat bensin bocor. Karena itu, Aurora bisa melakukan pencarian yang cukup detail di mal dan mencariku. Dia juga tidak membiarkan Oneesan Ara Ara untuk memperkosaku. Itu karena serum yang ia berikan tidak akan mempan sementara.
Serum yang digunakan Aurora tidak bisa dijelaskan dari dunia kedokteran. Ini cukup langka karena serum Aurora bisa menyembuhkan penyakit yang langka dalam kondisi tertentu.
__ADS_1
Don’t worry, Rivandy! I’ll find you although I can't find you! I won’t let you raped anymore ~ Aurora Sentinel (Black Night Sky)