Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Mimpi Buruk dan Trauma : Kebencian Siswi Akademi


__ADS_3

25 Maret 2026, di sebuah kamar di dalam apartemen. seorang gadis yang tertidur dalam kondisi berantakan dan dengan pakaian yang berantakan. Rambut orange menjadi berantakan akibat posisi tidurku yang tidak baik. Aku menjadi seperti ini sebelumnya.


Aku terbangun pada saat alarm ponsel menunjukkan pukul 05:21. Aku mematikan alarm yang berdering. Aku sudah memasangnya pada jam 05:00. Namun, aku tidak bisa bangun pada saat yang tepat. Aku selalu diganggu dengan mimpi buruk yang selalu aku ikuti.


Aku mematikan ponselku dan pergi ke kamar mandi. Aku mengenakan sabun dan shampo untuk mengucek tubuhku yang mungil. Setelah mandi, aku mengenakan handuk kimono dan segera mengenakan seragam akademiku.


Aku tidak bisa sarapan terlebih dahulu. Aku terlalu terburu-buru dan tidak terlalu memikirkan bahan masakan apa yang ingin ku masak. Jadi, aku tidak sarapan dulu. Aku masih dalam kondisi yang tidak terlalu baik untuk saat ini. Masih banyak faktor yang cukup membuatku malas. Sifat orang Indonesia ini selalu melekat pada diriku.


Jadi, aku harus segera bersiap walau aku tidak bersemangat seperti sebelumnya.


Tak lama kemudian, "Bella. Apakah kamu masih di dalam? Cepatlah! Aku masih menunggumu di luar," panggil seseorang di depan pintu apartemenku.


"Iya. Aku akan keluar sebentar lagi" sahutku keluar dari apartemenku.


Aku keluar dari apartemenku dan bertemu dengan Shiori. Shiori sedang berada di depan mataku dan mengajakku pergi bareng.


"Ayo! Kita pergi!" Ajak Shiori untuk meninggalkan akademi.


Aku hanya menurutinya dan pergi bersamanya. Kami segera meninggalkan apartemen dan menuju ke akademi. Andika dan Yudha sudah bersama Eleva. Farah dan Wulan berjalan bersama Andela. Jadi, hanya aku dan Shiori yang berjalan bersama menuju ke akademi.


Entah kenapa aku merasakan aura yang merah dan lekat. Aku merasakan sesuatu. Aku tidak tahu siapa saja yang membuatku membenci seseorang. Aku tidak mengerti kenapa aku membenci seseorang itu? Aku juga mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi.


"Bella. Ini masih belum membaik. Sebaiknya, kita jenguk Rivandy sepulang sekolah nanti. Bagaimana?" Usul Shiori kepadaku.


Aku hanya terdiam saja. Aku tidak peduli dengan kondisi mengenai Rivandy. Dia sama seperti seorang monster. Aku juga mengetahuinya di berita BBC kemarin. Ini membuatku semakin membencinya. Entah kenapa itu bisa terjadi.


Aku tidak tahu lagi. Aku segera menjalani aktivitasku sebelumnya. Itu adalah seorang siswi akademi pada umumnya.


[*^*]


Setelah sampai di gerbang, aku dan Shiori segera memasuki lorong dan menuju ke Kelas I Soshum A. Sesampainya di kelas, aku duduk di dekat kursi Shiori. Aku segera duduk termenung karena merasa tidak semangat.


Shiori hanya membaca Light Novel Youjo Senki Volume 7. Light Novel itu bertemakan Perang Dunia yang sedang berseteru. Empire, negara yang adikuasa segera mengibarkan perang pada musuhnya, sehingga cerita itu menjadi seru. Tidak heran Light Novel Youjo Senki dapat diadaptasi menjadi anime dan anime movie. Hanya beberapa waktu untuk diadaptasi ke season berikutnya.


Di tengah suasana kelas itu, ada dua gadis bangsawan sedang mengobrol. Mereka sama seperti seorang bangsawan. Mereka justru mengkhawatirkan seseorang yang seharusnya mereka tidak aku dengar. Itu adalah seseorang yang penting pada tugas matematika.


"Sinta. Apakah kamu sudah selesai mengerjakan tugasmu?" Tanya Diana di depan Sinta.


"Tentu saja belum. Aku tidak bisa mengerjakannya. Matematika kali ini sangat susah," tanya Sinta merasa matematika itu menyulitkan.


"Kalau saja ada Pangeran Rivandy, kita tidak menjadi kerepotan begini," keluh Diana merasa menyesal.


"Iya. Kamu benar. Dia sangat senang hati untuk mengerjakan soal yang sulit ini. Meskipun Shiori sudah ada, namun bukan berarti dia bisa diandalkan," oceh Sinta mengeluh dan menyalahkan Shiori.


"Tapi, aku sangat kangen padanya. Aku ingin sekali memberi kabar padanya," respon Sinta khawatir.


"Semoga saja," harap Diana dengan sedikit pucat.


Obrolan mengenai Rivandy membuatku kesal. Aku merasa tidak enak mendengar obrolan itu. Aku tidak bisa menahan amarahku seketika. Aku ingin sekali menghajar orang itu. Kebencian dan ketakutan telah menghantuiku. Aku sudah muak tentang Rivandy lagi. Aku ingin mengakhirinya.


Aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Aku bergerak ke arah kedua gadis itu dan mengancamnya seperti seorang sandera. Shiori masih berada dalam fantasi Perang Dunia Kedua. Jadi, ia tidak memikirkan lingkungan sekitar. Diana terkejut karena aku memegang kerah seragam Diana secara tiba-tiba. Jadi, dia hanya diam saja.


"Dengarkan aku, dasar murahan! Kalau kau membahasnya lagi, aku tidak akan memaafkanmu!" Aku berteriak dan memegang seragam Diana.


Aku mendorongnya sesaat dan keluar dari kelas. Mereka hanya terdiam apa yang aku lakukan. Menatap satu sama lain karena aku memperlakukan Diana dengan buruk. Jadi, aku tidak peduli. Shiori tidak melihatku keluar dari kelasnya. Dia hanya menunggu jam pelajaran akademi.


Jam pelajaran militer ditunda beberapa pekan ke depan karena keputusan dari kepala sekolah. Dia juga tidak mengijinkan kami untuk melakukan aktivitas militer. Ini berlaku untuk ke semua kelas. Bahkan, aktivitas Klub Militer terpaksa ditunda beberapa saat kemudian. Ini semua salah Rivandy. Tidak! Reinhardt Elizabeth V.


"Ada apa dengan anak kecil itu?" Tanya Sinta melihatku keluar.


"Entahlah. Mungkin dia sedang pubertas," sahur Diana dengan mata sayu.


Aku keluar dari kelasku dan segera menjauh. Aku tidak peduli dengan pelajaran lagi. Aku sudah tidak bisa bertahan untuk tidak mendengarkannya. Aku segera menyembunyikan diri agar guru akademi tidak menemukanku. Ini sudah cukup bagiku.

__ADS_1


Mungkin … aku bolos dulu sebentar.


[*^*]


Jam 10:12, aku hanya terdiam dan bersembunyi di balik pohon akademi. Pohon itu memiliki bekas pukulan yang cukup keras. Aku hanya termenung dengan apa yang telah kulakukan.


Namun, ada sebuah suara yang memanggilku dari atas. Aku mendengar suara itu. Aku mendapat suara itu dari atas. Aku merasakan aura dari atasku. Dia seorang loli sama sepertiku. Dia hanya duduk sambil memandang musim semi di Moskow.


"Bella. Sedang apa kau disini?" Tanya Kotori yang sedang duduk di ranting pohon.


"Tidak ada. Aku hanya termenung saja," jawabku hanya mengangguk saja.


"Oh iya. Aku melihat aura yang sangat buruk padamu. Ada apa?" Tanya Kotori padaku yang sedang termenung.


"Tidak ada. Aku hanya … ingin termenung saja," jawabku berbohong pada Kotori.


"Apakah kamu memiliki masalah dengan Shiori lagi?" Tanya Kotori menebak pikiranku.


"Tidak. Ini adalah urusan yang lain. Aku merasakan sesuatu yang buruk. Lebih buruk dari sebelumnya," jawabku masih berpaling dari Kotori.


Kotori turun dari pohon dan mendekati ku. Dia sedang merencanakan sesuatu padaku. Ia hanya mengatakan sesuatu padaku. Mengenai hal yang penting bagiku. Dengan tubuh loli, ia mengatakan hal yang tidak anak kecil lakukan.


"Dengarkan aku, Anivesta Bella! Kau tidak boleh bolos dalam pelajaran hanya karena memiliki masalah yang kecil. Kau melakukan hal yang buruk pada orang lain karena psikologimu masih belum terbentuk. Kau juga tidak tahu apa yang telah kau lakukan sebelumnya. Kau lupa dengan apa yang terjadi pada kejadian sebelumnya."


"Kalau kau melakukan hal yang buruk pada Rivandy, kau akan menyesal suatu saat nanti. Roda kehidupan yang kau pilih akan menjadi lebih buruk. Ini bukan seperti yang diharapkan."


"Ini adalah.suatu kekuatan supernatural yang dimiliki oleh Rivandy untuk mengubah sesuatu yang tidak dimiliki oleh manusia. Aku juga tidak menyangka bahwa Rivandy menjadi sosok yang menyeramkan. Ia bisa saja membuat semua orang ketakutan."


"Aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kau juga tidak menyadarinya apa yang dibalik dari semua ini. Ini adalah sebuah jebakan untuk seseorang. Orang itu merencanakan agar kami terkena jebakannya. Rivandy hanya diperalat untuk mengingat masa lalunya."


"Dengan itu, tidak semua orang bisa memahami perasaannya yang menderita itu. Itu juga membuat siswa dan siswi menjadi trauma. Namun, tidak hanya itu. Kehidupan mereka menjadi terancam. Mereka akan takut jika dia kembali lagi."


"Jadi, jangan membuatnya lebih sakit lagi!"


Aku tidak percaya dengan perkataan itu. Aku merasa Kotori melakukan hal yang sama seperti yang lainnya. Mereka selalu membahas Rivandy. Padahal, aku tidak ingin mendengarkannya. Aku ingin sekali melakukan sesuatu yang harus kulakukan. Meskipun melanggar sebuah perkataan itu, aku lakukan itu.


Namun, ….


"Hei!"


Aku menoleh ke samping. Aku melihat ada guru sosiologi yang menghampiriku. Aku tidak menyangka aku ditemukan. Aku tidak peduli dengan pelajaran akademi lagi karena itu. Jadi, aku akan dihukum.


"Jadi, selama pelajaran pertama saya, kamu bolos disini. Iya kan?" Tanya guru itu berhadapan denganku.


Aku hanya terdiam dengan ceramah itu. Guru itu selalu mengoceh untuk menceramahiku. Aku merasa bersalah karena melakukan hal yang buruk. Aku meninggalkan kelas hanya karena aku sudah muak dengannya.


"Karena kamu tidak mengikuti pelajaran pertama, aku akan menghukum siswi yang tidak patuh dalam peraturan akademi kali ini. Jadi, ikuti aku!" Guru itu pergi dan menyuruhku untuk mengikutinya.


Aku dan guru itu segera menuju ke ruangan konseling untuk diberi keterangan lebih lanjut. Aku hanya terdiam di tengah ocehan guru itu. Padahal, aku berada di Kelas Soshum A. Kelas yang selalu memiliki peluang untuk menjadi Ace Spyxtria. Mereka adalah siswa dan siswi yang berprestasi. Aku hanyalah sebuah halangan untuk mereka.


Cadmium Sentinel Kelas Saintek A Angkatan 2022, Chelsea Arslan Kelas Saintek A Angkatan 2023, dan Filia Andela Kelas Soshum B Angkatan 2024. Mereka adalah siswi yang mendapatkan julukan Ace Spyxtria. Namun, masih misteri siapa yang mendapatkan selanjutnya.


Dia juga membandingkanku dengan siswi yang lain. Termasuk Shiori. Aku merasa hancur namun tidak berdarah. Ini seperti orang tua di Indonesia dimana orang tua selalu membandingkan anak mereka ke anak tetangga. Ini cukup mengesalkan. Tapi, aku tidak bisa melawan kenyataan ini.


Alhasil, aku dihukum berdiri di lorong ruang guru sampai pulang. Aku terpaksa menghadapi hukuman itu. Aku seperti orang yang cukup sial. Merasa tidak mampu kali ini. Aku hanya mendapatkan sebuah cibiran yang tidak menyenangkan bagi sebagian kecil orang. Ini sudah cukup untukku.


Mereka kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran lagi. Aku tidak membayangkan jika Andika dan lainnya melihatku. Aku ingin diperlakukan hal yang buruk. Ini cukup bagus untuk seorang yang sangat buruk. Jadi, aku hanya terdiam saja.


[*^*]


Jam 15:02, jam pelajaran akademik telah selesai. Banyak siswa dan siswi pulang ke rumah dan mengikuti klub mereka masing-masing. Mereka pulang dan melakukan aktivitas mereka yang biasa mereka lakukan. Para guru dan pihak akademi segera pulang. Kepala sekolah harus mengurung diri untuk menyelesaikan tugasnya.


Aku yang dihukum hanya berdiri di depan lorong ruang guru sebagai aib untuk Kelas Soshum A. Ini baru pertama kalinya aku mendapat aib yang sebesar itu. Itu pun aku hanya melakukan kesalahan yang kecil. Aku melakukan kesalahan yang cukup besar. Aku adalah anak yang tidak berguna.

__ADS_1


Namun, ada seorang gadis yang membawa tas milikku. Gadis itu cukup perhatian dan tidak membiarkanku merasa lebih buruk. Dia dengan aura keibuannya menghampriku yang sedang di hukum itu. Itu adalah Shiori.


Shiori memberikan tas padaku dan memanggil, "Bella!"


"Ayo pulang! Aku mencemaskanmu," ajaknya untuk pulang ke apartemen.


Aku menerimanya dan menolak,"Tidak terima kasih! Aku ingin ke supermarket terlebih dahulu. Banyak barang belanjaan yang harus kubeli."


"Eh?! Benarkah?! Kalau begitu, aku ikut denganmu,* usul Shiori merasa cemas padaku.


"Tidak. Aku bukan anak kecil lagi. Aku sudah bisa pulang sendiri. Jadi, kamu boleh pulang duluan," tolakku dengan usulan Shiori yang keibuan.


Aku meninggalkan Shiori yang berhadapan denganku. Aku meninggalkannya dengan ego milikku dan ingin melakukan hal yang harus kulakukan. Aku akan mengakhiri semua ini.


Aku akan … menghajar Reinhardt sialan itu.


Jam 15:23, Shiori pulang terlebih dahulu. Aku segera menuju tempat yang sudah aku tekadkan. Aku menyusup kedua gadis yang pulang ke apartemen mereka.


Andika dan Yudha sedang menghabiskan waktu mereka dengan teman lainnya. Farah dan Wulan masih sibuk melakukan urusan penting di ruang guru. Mereka sama sekali tidak menanyakan keadaanku. Jadi, aku bisa bebas sekarang. Aku bisa melakukannya tanpa halangan apapun. Jadi, aku akan membuatnya menyesal.


Aku menyelinap ke sebuah sebuah celah agar mereka tidak melihatku. Aku sudah melatih diri dengan kemampuan menyelinapku pada pelajaran militer. Aku sudah melakukannya dengan baik walaupun aku melanggar dan menyalahgunakan kekuatan dan kemampuanku.


Aku tidak peduli. Aku tidak akan membiarkan mereka mengetahui keberadaanku. Aku mengikuti setiap langkah mereka yang mereka lalui. Mereka berjalan dan mampir dalam sebuah tempat. Aku hanya menunggu mereka pergi dan menjadi seorang penguntit walaupun aku tidak boleh melakukan hal itu.


Ini adalah hal yang harus kulakukan. Aku akan memata-matai mereka dan membuatku menghampiri dan mendekati Reinhardt. Heroin seperti mereka menunggu beberapa saat sebelum keluar dari tempat itu.


Aku mengikuti Heroin Reinhardt agar bisa bertemu dengannya dan menghajarnya. Aku tidak peduli kalau aku menjadi seorang penjahat. Aku memang anak kecil yang buruk. Selalu saja mendapatkan psikologi yang berat.


menghampiriku.


Aku berpura-pura untuk sibuk dengan ponsel yang kupegang. Aku sudah membuat sesuatu agar rencana ini sukses. Tidak ada halangan yang akan menghalangiku. Aku juga sudah mempelajari Moskow di Russia Beyond dan artikel yang lainnya. Aku justru sangat handal dalam melihat situasi saat ini. Aku akan menunggu dan menunggu mereka yang sedang masuk itu.


Itu adalah … gadis yang akan membawaku kepada Reinhardt.


[*^*]


Setelah mereka keluar dari tempat itu, aku segera menyusul mereka dan memastikan mereka tidak mengetahui keberadaanku. Aku segera mencari tempat persembunyian ku agar aku bisa menguntit mereka lebih jauh lagi. Aku merasa seperti seorang cabul yang akan melakukan kejahatan pada cewek SMP. Kuharap tidak ada polisi yang datang kemari untuk menangkapku.


Mereka pergi ke supermarket untuk membeli sesuatu. Aku juga ingin kesana untuk menutupi kebohonganku. Aku segera membeli barang dengan segera dan tidak membiarkan mereka lepas dari penglihatanku. Mereka membawa banyak barang belanjaan untuk kebutuhan mereka. Apalagi untuk Reinhardt.


Setelah mengambil barang yang cukup, mereka menuju ke mesin kasir. Aku hanya menyelesaikan barang belanjaanku dan smengikuti mereka. Setelah membayar dengan kartu kreditku, aku mengikuti mereka lagi.


Aku tidak membiarkan mereka lolos dariku. Sudah tahu apa yang mereka lakukan. Aku hanya menunggu kesempatan untuk melancarkan aksiku. Untuk membuatnya merasa apa yang kurasakan semenjak insiden membunuh ketiga bangsawan itu.


Ini adalah untuk diriku sendiri.


[*^*]


Setelah Aurora dan Akishima sampai di apartemen mereka, mereka kembali ke kamar dan mengetahui keberadaan Rivandy. Mereka masuk ke dalam dan merawat Rivandy di kamar. Aku sudah tahu apa yang mereka lakukan. Aku akan menunggu mereka keluar dan aku akan masuk sebelum pintu terkunci.


Ini butuh timing yang tepat. Tidak boleh terlalu cepat dan tidak boleh terlalu lambat. Setelah mereka merawat Rivandy, mereka segera pergi dari apartemennya dan aku akan masuk. Mereka tidak menyadari bahwa aku sudah masuk ke dalam dan menyusup ke dalam apartemen nomor 301.


Mereka segera kembali ke apartemennya dan melanjutkan aktivitas mereka masing-masing. Aku sudah masuk ke apartemen orang yang ku benci. Aku segera melihat ruangan apartemen dan mencarinya. Aku melihat ruangan yang rapi dan berbeda dengan apartemen milikku. Dengan itu, aku bisa mencarinya dengan bebas.


Aku memutuskan untuk mencarinya. Aku akan menghajarnya karena ia melakukan pembunuhan pada Bangsawan Inggris dan hampir membunuh Ratu Inggris. Aku merasa tidak mengetahui bahwa Reinhardt melakukan hal yang sangat jahat. Aku membuat pilihan seperti ini agar aku tidak takut lagi dengan pembunuh sepertinya.


Akhirnya, aku menemukannya. Aku membuka pintu kamar dan menemukan keberadaannya. Aku melihatnya sedang terdiam di ranjangnya. Aku merasa muak dan ingin muntah. Ingin sekali melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan. Ini demi egoku sendiri.


"Aku menemukanmu, Reinhardt!" Gumamku menatapnya tajam.


Reinhardt menoleh padaku dan menatapku dengan penuh ketakutan. Ia terpanggil dengan nama yang seharusnya tidak boleh dipanggil. Aku menatapnya dengan penuh kebencian karena melihatnya melakukan pembunuhan pada minggu sebelumnya. Dia yang menyebabkan akademi menjadi kacau balau. Ia harus bertanggung jawab atas semua kesalahan ini.


Dia tidak berbicara sekalipun. Dia hanya menjauh dariku. Dia tidak bisa kemanapun lagi. Aku sudah menguncinya. Aku bisa keluar kapan saja. Dia tidak boleh kabur lagi. Aku akan memberinya pelajaran. Pelajaran yang membuatnya jera. Ini sama seperti pembullyan.

__ADS_1


"Kutemukan kau! Kau sekarang tidak bisa lari lagi, Reinhardt Elizabeth V!" Aku bersiap untuk mengeksekusinya.


__ADS_2