
“Aku pulang, Papa, Mama,” sapa Sheeran kepada orang tuanya di depan kedua pasangan itu.
Aku melihat banyak ruangan rusak dan tidak bisa ditempati lagi. Luas ruangan itu sangat sempit dan tidak layak huni. Atap rumah bocor dan tembok rusak. ini lebih parah daripada apartemen Hammer sebelumnya.
Aku ingin memperbaiki tempat ini. Namun, tidak bisa. Karena musim dingin, itu membuatku terbunuh dengan mudah. Barang yang dipesan tidak tentu sampai ke tempat yang terperinci ini.
Aku tidak percaya dengan apa yang ada di penglihatanku itu. Aku tidak menyadari latar belakang mengenai Sheeran. Kedua orang tua itu bukanlah yang kulihat. Mereka menghampiriku dan Sheeran yang membuatku merasakan firasat yang buruk. Kenapa ini bisa terjadi? Bahkan, peluang matematika pun tidak bisa menghitung kemungkinan yang sangat kecil itu.
Maafkan aku, Sheeran! Aku tidak menyadari penderitaanmu.
Mereka adalah … orang tua berusia 70-80 tahun.
“Kau melihatnya. Iya kan, Rivandy?” Tanya Sheeran dengan suram.
Aku tidak bisa berkata apapun. Aku tidak mengerti bagaimana Sheeran bisa lahir dengan kedua orang tua yang sudah tua itu. Aku tidak mengerti lagi dengan keluarga ini. Tempat ini hanya untuk orang miskin.
Aku menjawab, “Aku melihatnya. Sangat memprihatinkan. Aku sampai tidak bisa berkata apapun."
“Begitu, yah?” Gumam Sheeran ingin menangis.
Sheeran mengalihkan perhatian kepada orang tua. Ia dengan keberaniannya mengungkapkan hubunganku kepada Sheeran. Dia mengungkapkan dirinya sebagai identitas yang ia miliki sekarang. Dengan senyuman palsunya, ia memperkenalkan kedua orang tuanya kepadaku.
“Papa. Mama. Ini suamiku, Rivandy. Dia adalah Pangeran Akademi,” jelas Sheeran memperkenalkan aku pada orang tuanya.
“Apa? Dia suamimu?” Tanya kedua orang tua yang sudah tua terkejut dengan pernyataan itu.
“Iya. Dia suamiku. Tapi, aku belum siap untuk hamil. Dia masih kedinginan,” jawab Sheeran dengan mengeluarkan perasaan malunya.
“Oh begitu, yah? Kalau begitu, kami akan mengantarkannya ke kamar sekarang juga." Ayah Sheeran yang sudah kurusan segera menyiapkan sesuatu.
“Aku juga,” lanjut ibunya yang sudah tua renta itu.
Aku terdiam memandang orang tua Sheeran meninggalkanku. Sheeran hanya menatap mereka dengan kasihan dan prihatin. Ia mulai tersenyum dengan palsunya dan menoleh padaku yang sedang berdiri.
"Ayo. Suamiku. Aku akan mengajakmu keliling. Tapi, kamu harus menyimpan semua barangmu dulu," pesan Sheeran membujukku untuk pergi ke ranjang.
"Umu. Tapi, apakah kita sarapan dulu?" Usulku berniat melakukan sesuatu.
"Tidak ada sarapan yang bisa dimakan," jawab Sheeran meninggalkanku dan segera menuju ke ruang tamunya.
Aku semakin tidak mengerti seberapa miskinnya Sheeran, sehingga tidak bisa membuat sarapan. Aku juga tidak mengerti kenapa Sheeran mengenalkanku kepada orang tuanya sebagai suaminya. Tidak kusangka akan terjadi seperti itu. Aku juga tidak terlalu mengerti kenapa Sheeran mengajakku tiba-tiba.
Tidak bisa dipercaya. Aku melakukan kesalahan besar dan membuat Sheeran sakit hati. Dia memarahiku karena alasan yang kurang jelas. Dia tidak ingin membiarkanku melakukan aktivitas yang memberatkan. Contohnya, pekerjaan rumah dan lain sebagainya.
Dia juga tidak membiarkanku untuk membayar apapun. Dia yang membayar itu semua. Tiket kereta, tiket bus, dan biaya pemandian air panas khusus suami istri. Aku ingin sekali membantunya. Namun, dia terlalu membebankan dirinya dan bertekad menjadi istri yang mandiri supaya aku akan terus bersamanya.
Kuputuskan untuk pergi menuju ke kamar saat orang tua Sheeran mengantarkanku. Ruang tamu, ruang dapur, kamar orang tua, toilet, dan lainnya membuat orang lain muntah dengan hebatnya. Aku ingin sekali muntah. Namun, aku tidak bisa. Aku tidak boleh menyakiti Sheeran.
Sesampainya di kamar, aku merasa terkejut bukan main. Ini adalah kamar yang paling buruk yang pernah ada. Kamar yang diukur dengan luas 2x2x2,4. Hanya terdapat ranjang yang hanya cukup berdua dan lemari yang kecil. Aku juga melihat lantai rusak dan retak.
Aku juga tidak tahu bagaimana Sheeran bisa masuk SD kalau seperti ini. Aku tidak melihat perabotan yang terlihat baik. Semuanya berantakan. Tidak habis pikir bagaimana Sheeran bisa membayar biaya sekolah dengan perabotan yang berantakan itu.
“Baiklah! Aku akan disini sementara waktu. Terima kasih,” ucapku berterima kasih padanya.
“Sama-sama. Aku harap kamu dan Sheeran anakku hidup bahagia selamanya,” ucapnya dengan senyuman tuanya.
__ADS_1
“Iya. Kau benar."
“Aku ingin ke dapur dulu untuk melakukan sesuatu. Setelah aku ganti baju, bolehkah aku menemanimu ke dapur?” Tanyaku mengambil pakaian dan segera mengganti bajuku.
“Silahkan!” Orang tua Sheeran mempersilahkanku untuk ganti baju.
Aku mengganti mantelku dan baju yang membuatku gerah. Lalu, aku menggantinya dengan pakaian hangat, yakni sweater yang diberikan oleh Sheeran padaku tempo hari. Setelah mengenakan pakaian panjang dengan sweater dan celana panjang dengan kaos kaki dan kaus tangan, aku menoleh kepada orang tua itu.
“Silahkan ikut aku!”
Aku mengikuti mereka dan segera ke dapur. Aku tidak melihat Sheeran di mana pun. Dia menghilang setelah aku masuk ke kamarku. Tidak ada listrik, teknologi, dan alat perabotan yang cukup modern. Ini seperti kehidupan zaman gua.
“Ini dapurnya,” tunjuk orang tua itu menunjukkan dapur yang sangat tidak enak dipandang.
Aku hanya terdiam dengan pemandangan dapur yang sudah tidak tertolong lagi. Aku hanya melihat di lemari yang menyimpan makanan. Di sana, aku hanya melihat sayuran yang bisa dimakan. Tidak ada hewani. Lalu, ada bumbu dapur yang dibuat sederhana. Aku merasa prihatin pada Sheeran meskipun aku tidak ingin memperlihatkannya kepada orang lain.
Aku segera mengambil ikat kepala yang sudah dipasang oleh alat penghangat tubuh. Bibi Anita sudah memasangnya dan benda yang hangat itu hanya dipakai sekali dan bertahan selama 30 menit. Setelah itu, alat itu tidak dapat dipakai lagi.
“Serahkan padaku! Aku akan memasak. Meskipun ini musim dingin, aku akan berusaha untuk Sheeran,” tekadku segera mengambil beberapa bahan makanan yang bisa dimasak.
“Iya, suami Sheeran.” balas orang tuanya meninggalkanku mencari bahan makanan.
Aku segera mengambil lobak dan memotongnya lalu mengambil beberapa gelas air bersih dan sedikit garam. Setelah memotong lobak, aku segera menyalakan api dengan cara tradisional. Ini sedikit melelahkan. Untung saja aku menggunakan korek api modern. Korek itu membantuku di situasi saat ini.
Aku menggunakannya untuk membakar tungku api lalu mencampurkan beberapa bahan dan lobak ke tungku itu. Setelah menunggu beberapa saat, aku mencicipinya dan menyelesaikan masakan sebelum aku kedinginan dan Sheeran akan memarahiku. Ini tidak ada jendela untuk menutup udara dingin.
“Yosh! Masakan telah selesai,” gumamku sudah menyelesaikan masakanku.
Aku segera menghidangkan Sup Lobak Putih pada mertuaku. Aku ingin mereka menghidangkan masakan yang cukup layak seperti anak kota. Ini lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Para mertua sekalian. Aku hidangkan sesuatu untuk kalian. Tolong nikmati!” Aku menyodorkan itu kepada orang tua Sheeran.
Ibu dan Ayah Sheeran memakan masakanku dengan lahap. Mereka tidak percaya menyantap masakan yang terenak yang pernah dibuat. Mereka merasa ada seorang pangeran yang dikirim untuk menyelamatkan kehidupan.
Ketika mereka terlena dengan hidanganku, Sheeran kembali sambil membawa hasil tangkapannya. Ia membawa sebuah tanggapan yang cukup biasa. Ia tidak bisa menangkap rusa. Jadi, ia hanya mencari beberapa mangsa kecil dan menangkapnya.
“Ibu. Ayah. Suamiku. Aku sudah mendapatkan kelinci untuk makan siang,” panggil Sheeran.
Tidak ada jawaban. Karena itu, Sheeran mencari keberadaan orang tua dan suaminya. Ia tidak menemukan di ruang tamu, ruang dapur, maupun tempat lainnya. Ketika bergerak menuju ke ruang makan, ia melihat orang tuanya yang sedang kaku dengan hidangan di atas meja.
Ia segera beraksi dan segera menghampiriku dengan perasaan marah. Ia mengeluarkan pistolnya dan menyerahkan kepada kepalaku. Aku bergerak mundur darinya dan kebingungan apa yang Sheeran lakukan.
“Tunggu! Apa yang kau lakukan? Kamu mau membunuh orang tuaku?” Tanya Sheeran ingin menembakku.
“Aku tidak melakukannya. Aku ….” Aku berusaha mencekal agar tidak ada tembakan yang terjadi di kepalaku.
“Sheeran. Suamimu luar biasa,” potong ayah Sheeran.
“Kau tidak boleh membunuh suamimu. Dia adalah orang yang akan cocok di sisimu,” lanjut ibu Sheeran.
Sheeran menghentikan tembakannya karena pujian orang tuanya padaku. Aku hanya bernafas lega dengan pengertian itu. Dengan begitu, aku selamat dari peluru Sheeran.
“Sheeran. Ini untukmu. Selagi aku bisa menghangatkan diri, aku memberikannya untukmu."
“Tidak usah. Aku sedang banyak pekerjaan. Anak-anak sedang menungguku di luar. Jadi, kamu makan saja,” tolak Sheeran menahan laparnya.
__ADS_1
“Tidak boleh! Meskipun miskin, kamu tetap makan,” larangku menghentikan Sheeran.
“Kau tidak pernah memahami perasaanku, Rivandy,” cekal Sheeran menahan tangisannya.
“Aduh! Mereka bertengkar lagi!” Seru ayahnya melihat pertengkaran itu.
“Bisa jadi hiburan nih..Kapan lagi bisa menonton drama sinetron secara langsung?” Lanjut Ibunya minum air putih dengan pelan.
Aku menghela nafas dengan Sheeran yang cukup tertekan itu. Aku berpesan, “Ok. Silahkan bekerja! Aku akan memakan ini semua. Kalau ada sesuatu, panggil aku! Aku akan melakukan apa saja untukmu sebagai istriku,” dengan tatapan serius.
Sheeran luluh dengan pernyataan itu. Tidak tahan lagi dengan apa yang aku lontarkan padanya. Sheeran ingin sekali menahan tangisannya. Ia tidak ingin menangis di hadapanku dan akan melakukannya di tempat lain.
“Iya. Aku akan … memanggilmu. Aku pergi dulu,” pamit Sheeran berlari sambil meninggalkan gubuk itu dengan tangisannya.
Aku hanya terdiam dengan tingkah Sheeran yang menahan tangisan. Aku memakan masakanku yang hangat bersama mertuaku. Kedua mertuaku menerimanya dengan baik. Alhasil, aku menjadi akrab dengan mereka berdua.
[*^*]
Sheeran meninggalkan rumahnya yang tidak layak dihuni itu. Tidak hanya rumah Sheeran yang tidak layak huni itu. Semua desa yang ia tinggal hanyalah gubuk. Kepala desa pun hanya menggunakan sisa kayu untuk membuat rumah.
Sheeran menuju ke pohon yang dipenuhi dengan salju itu. Ia duduk di antaranya dan segera menundukkan dirinya untuk mengeluarkan air matanya. Ia melakukannya tanpa diketahui siapapun.
Berbagai curhatan Sheeran terluapkan di dalam hatinya. Ia tidak memperlihatkannya pada siapapun. Ia terluka karena banyak beban yang dipikul olehnya. Bukan sembarangan. Ini sangat serius.
“Kenapa? Kenapa? Kenapa Rivandy selalu membujukku? Aku adalah istrinya. Seharusnya, dia diam saja. Biarkan istri tercinta yang melakukan itu semua! Tapi, dia malah ingin melakukan sesuatu,”
“Aku berbohong padanya. Dia memang suamiku. Padahal tidak.Tapi, aku ingin menjadi suaminya. Tapi, aku tidak mau membebankannya. Aku yang melakukan itu sendirian itu sudah cukup."
“Kenapa dia tidak mengerti? Dia memang tidak peka. Aku tidak ingin membuatnya beban lebih berat lagi. Ini musim dingin. Rivandy tidak akan bertahan lebih lama lagi,”
“Tapi, dia selalu saja mencampurinya. Padahal, dengan aku melakukan itu semuanya, dia akan selalu berada di sisiku. Aku tidak mau Rivandy meninggalkanku karena aku tidak berguna.”
“Kalau Rivandy mati, tidak ada yang bisa menjadi suamiku dan keluar dari zona ini. Zona kemiskinan."
“Aurora dan Akishima akan menghajarku. Evelyn akan membawaku ke pasar malam dan menjadi gadis cabul seumur hidup. Mereka juga … akan menyalahkanku atas kematian Rivandy.”
“Aku juga ingin hidup bahagia dengannya walaupun aku pernah melakukannya di permainan Among Us. Akishima dan Aurora memarahi Rivandy karena tidak percaya pada mereka. Dia hanya percaya padaku.”
“Itu cukup membuatku bahagia.”
“Aku ingin bersamanya. Kalau bisa, aku ingin membuat anak seperti permainan itu.”
Aku ingin keluar dari zona merah ini ~ Sheeran Chezka.
Sheeran menangis tersedu-sedu dengan air mata yang membasahi roknya. Ia tidak percaya bahwa perasaan sedihnya membuatnya lebih buruk lagi. Soal anak-anak yang menunggu Sheeran hanyalah sebuah kebohongan. Mereka hanya menunggu Natal pada saat itu.
“Sebentar lagi, anak-anak semakin tumbuh dan meninggalkan desa ini. Yang tua akan mati dan dikuburkan. Yang muda akan hidup sampai tua disini. Tidak ada harapan lagi. Aku merasa kehidupan desa ini akan berakhir puluhan tahun lagi.”
"Aku tidak mau melihat mimpi buruk ini. Desa ini akan seperti desa mati dan ditinggalkan begitu saja."
"Aku tidak bisa memikirkan itu lagi. Aku tidak mau disini terus dan menetap disini. Apa yang akan kulakukan? Orang tuaku hanya mati secara sia-sia. Mereka sudah tua dan tidak bertenaga."
"Kehidupanku hanya seperti ini. Apakah aku tidak cukup? Haruskah aku berusaha keras lagi? Tapi, bagaimana caranya? Aku bukan seorang putri. Aku hanya ... aku hanya ... aku hanya gadis miskin yang tidak punya harapan untuk berubah."
Hanya satu jalan dari semua ini. Rivandy tolong aku! ~ Sheeran Chezka.
__ADS_1