Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Denis Spyxtria 1,3


__ADS_3

28 Oktober 2025, jam 11:02, di ruangan unit kesehatan yang dipenuhi dengan peralatan kesehatan. Obat-obatan, serum, peralatan operasi, dan sebagainya. Dokter yang merawat pasien sedang menjalankan operasi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh mereka. Pasien yang di ruang inap sedang bersantai untuk tidak memikirkan sesuatu.


Denis terbangun dari ranjangnya sambil melihat di sekitar. Ia melihat Kota Moskow yang sedang mendung. Kemudian, ia beranjak dari ranjangnya sambil terduduk dengan murungnya. Ia tidak terlalu mengingat apa yang telah terjadi selanjutnya.


Ia melihat luka yang berada di dadanya sambil menyentuh sedikit perbannya. Ia menyentuh dengan lembut sambil merasakan sedikit rasa sakitnya. Ia juga tidak merasakan peluru yang memasuki tubuhnya saat para gangster itu melakukan tembakan.


“Sepertinya, tidak ada peluru. Apa yang telah aku lakukan?” Gumamnya sambil berpandangan ke bawah.


Ketika Denis sedang merenungkan yang telah ia lakukan, hujan di Kota Moskow kembali turun dengan suhu udara yang cukup dingin. Udara yang mencapai 3 derajat itu telah membuat suasana Kota Moskow menjadi lebih suram dan dingin.


[*^*]


Jam 12:05, ketika udara mulai turun, ada sepasang siswa dan siswi memasuki ke ruangan Denis. Mereka bertemu dengan dokter yang sedang istirahat. Mereka diizinkan ke ruangan Denis setelah mereka menjawab pertanyaan dari dokter itu. Hasilnya, mereka memasuki ke ruangan itu sambil membawa sesuatu.


“Denis,” panggil sepasang siswa dan siswi dengan nada pelan.


“Aurora, Rivandy,” sahut Denis dengan murungnya.


“Apa yang terjadi pada kelasmu? Hammer dimana?” Tanya Aurora sambil memegang bekalnya.


“Aku tidak tahu. Mungkin dia sedang dirawat di ruangan sebelah,” jawab Denis sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Ini. Aku berikan ini padamu. Saphine membuat ini padamu.  Zhukov bilang, ‘Tolong kalian jagalah Denis! Ada seorang gangster yang akan mengincarnya,’ begitu,” jelas Aurora.


“Selain itu, Neesan memberi pesan padaku. Aku kesini untuk …,” ucapku terhenti karena sebuah suara menggema di telingaku.


“Pergilah!” Raut Wajah Denis menjadi gelap mendengar nama Cherry-neesan.


“Eh?!” Aku dan Aurora kebingungan dengan suara itu.


“Apa maksudmu, Denis?” Tanya Aurora kebingungan.


“Aku bilang pergilah!” Pinta Denis dengan suara keras.


“Kamu kenapa, Denis? Tidak biasanya kamu seperti ini,” cekalku merasa Denis berubah.


“Iya, benar,” lanjut Aurora.


“Aku tidak butuh kalian! Kalian tidak perlu membantuku!” Denis memarahiku dan Aurora.


“Oi! Apa maksudmu? Kenapa kamu malah mengusir kami?” Tanyaku dengan serius menanggapi hal itu.


“Lagipula, kamu memiliki masalah dengan Neesan, iya `kan?” Lanjutku sambil mengoceh.


“Sudah. Sudah. Tidak perlu bertengkar!” Aurora melerai perdebatan.


Perdebatan ini terus berlanjut meskipun Aurora berusaha melerai. Denis selalu mengomeli sementara aku hanya terdiam dengan lontaran yang singkat. Aku tidak terlalu ingin banyak bicara dan mengoceh. Aku selalu melakukan aksi untuk menyelesaikan masalah.


“Kau tidak akan paham dengan perasaanku, Rivandy!” Teriak Denis menggema di pikiranku.


Dengan teriakan tersebut, aku merasakan hal yang tidak enak. Suasana ruangan itu menjadi hening setelah teriakan itu. Aku tidak mengatakan apapun. Aku merasa ini seperti yang Akishima bayangkan. Di saat aku berpikir, ada Aurora yang sedang terdiam dan mengeluarkan suaranya.


“Rivandy?” Panggil Aurora memecahkan pemikiranku.


Dengan itu, aku memegang tangan Aurora dan segera meninggalkan ruang inap Denis. Kemudian, aku memberi pesan kepada dokter untuk memberi waktu pada Denis untuk menyendiri.


Denis hanya terdiam dengan apa yang kulakukan. Dia kembali tidur di sisi kiri sambil memegang selimutnya. Selimut yang ia tutupi di matanya menjadi lembab secara mendadak. Ia hanya merenungkan apa yang telah ia lakukan kepadaku dan Aurora.


“Kenapa mereka semuanya ikut campur?”


[*^*}


Jam 12:10, di satu gang yang cukup gelap dan sepi dimana aku mencari Akishima pada tempo hari,  ada sebuah perkumpulan yang sedang menghadap ke sebuah bos. Ketua gangster itu menghadap ke dengan keringat dinginnya.

__ADS_1


Bos itu berbadan gemuk, bermata dua dan mata kanannya ditutupi oleh penutup mata seperti seorang bajak laut. Ia berseragam hitam dengan Pizza Hut yang ada di tangannya. Ia berdiri di gang dengan tatapan sinisnya.


“Maaf, Tuan! Kami tidak mendapatkan Denis. Kami kehabisan waktu,” sesal ketua itu dengan sangat memohon.


“Dasar tidak berguna! Aku ingin Denis hidup atau mati!” Geram bos itu tidak puas dengan hasil gangster itu


“Memangnya kenapa kamu ingin mencarinya? Bukankah ini terlalu beresiko?” Tanya ketua gangster itu dengan keingintahuannya.


“Karena dia sudah mencongkel mataku! Selain itu, dia membuat hubunganku dengan Presiden Rusia menjadi memburuk,” jelasnya dengan penuh amarah sambil memperlihatkan matanya yang sudah dicongkel.


“Maafkan aku, Pak Menteri!”


“Sudah! Aku ingin kalian untuk menculiknya. Ini fotonya,” pintanya menunjukkan foto itu pada ketua itu.


Ketua itu melihat foto wanita itu yang sedang mengenakan celemeknya. Ia juga melihat wanita yang merupakan incaran dari seorang bos itu.


“Baiklah! Kami akan menculiknya agar membuat Denis itu datang kemari,”  tekad ketua itu segera menjalankan misinya.


Sebelum para gangster itu beraksi, bos itu berpesan, "Ingat! Aku tidak akan toleransi jika kalian gagal lagi,” dengan raut wajahnya yang cukup memerah.


Ketua gangster itu mengangguk dengan pelan sambil meninggalkan bos yang sedang berdiri  Pandangan mereka menjadi pudar dan menghilang. Bos itu memakan pizza miliknya dengan rakus.


Bos itu membuang kotak pizza setelah menghabiskan makanannya. Lalu ia berjalan dengan angkuhnya sambil melihat pemandangan gang yang cukup kotor itu. Padahal, Pemerintah Moskow sudah melarang warganya untuk membuang sampah sembarangan. Masih saja orang yang melakukan itu.


“Kotor sekali tempat ini. Aku segera keluar dari sini,” umpat bos itu meninggalkan gang itu sambil membawa seseorang ke ruangannya.


Bos itu menaiki mobil yang sudah disediakan oleh anak buahnya dan segera meninggalkan gang yang sepi itu.


“Aku akan membalasmu, Denis Spyxtria.”


[*^*]


Jam 14:56, pelajaran akademi telah berakhir, para siswa dan siswi dipersilahkan untuk pulang dari akademi. Mereka yang anggota klub yang dijadwalkan pada hari Senin segera menuju ke Klub mereka. Termasuk aku dan Aurora yang menuju ke Klub Saintek. Aku mencegah Aurora agar ia tidak minum alkohol lagi.


Pada saat itu, ada sekumpulan orang yang sedang memasuki ruang unit kesehatan. Salah satu dari mereka mulai memanggil seseorang setelah memasuki ruangan itu. Pria berambut gelombang silver bersama pria dengan gaya rambut ponytail dan satunya adalah gadis mantan.


“Oi! Denis!” Sebuah panggilan membuat suasana hening itu pecah.


“Denis? Apa kamu sudah bangun?” Tanya Saphine yang sudah berhadapan dengan Denis.


Denis tidak menjawab. Ia tidak mau menjawab pertanyaan karena ia selalu berpaling dari mereka. Ia berpandangan ke bawah sambil melihat selimut yang ia kenakan.


“Denis. Aku ingin bicara denganmu,” ucap Zhukov dengan tatapan serius.


“Apakah kau benar melakukan sesuatu, sehingga membuat kesalahan fatal?” Jawab Eleva dengan serius.


“Tolong jawab aku! Aku tidak suka diabaikan,” Eleva Zhukov memaksa.


Denis masih tidak menjawab. Eleva yang diabaikan oleh Denis itu segera meneriaki dengan penuh amarah. Dengan teriakan itu, Denis merasa kemarahan dari mereka seperti kemarahan dari seseorang yang ia kecewakan Ia tidak bisa menghadapi itu dan memilih untuk lari.


“Oi! Denis. Kau tahu siapa mereka, kan? Mereka mengincarmu dan aku yang terseret dalam masalahmu. Kau harus bertanggung jawab!” Geram Eleva sambil menggenggam kerah baju pasien milik Denis.


“Berisik! Kalian tidak perlu mencampuri urusanku!” Bentak Denis membuat Eleva dan Zhukov harus menjauh darinya.


“Denis. Tunggu sebentar! Jangan marah! Coba ceritakan padaku! Apa yang terjadi padamu? Aku juga mengkhawatirkan Hammer, lho,” bisik Saphine di depan Denis sambil menenangkan Denis.


“Tidak ada yang bisa kuceritakan,” jawab Denis dengan sikap murungnya.


“Cerita saja! Atau kau akan ,...” Ucapan Eleva terdiam.


“Eleva. Tolong diam!” Saphine memerintahkan Eleva untuk diam.


“Huh?! Jangan perintahkan aku, Anak Jalanan!” Eleva mendorong Saphine hingga terjatuh.

__ADS_1


“Aku tidak terima dengan itu. Salahmu membuatku dimarahi oleh gadis mesum itu,” bantah Eleva.


“Kamu membuat Hammer terluka.” lanjut Zhukov.


“Eleva, Zhukov. Kalian harus pergi dari sini sekarang! Aku akan mengurusnya nanti!” Usir Saphine menghentikan keributan itu.


“Sudah kubilang ....” Ucapan Eleva terpotong dengan sebuah tepukan di bahunya.


“Eleva. Kita pergi. Biarkan dia sendiri!” Pinta Zhukov menepuk bahu Eleva dengan tatapan meyakinkan.


“Saphine. Kami mengandalkanmu,” pamit Zhukov sambil meninggalkan Saphine dan Denis sambil membuka pintu dan keluar dari sini.


“Tch! Menjengkelkan saja,” gerutu Eleva pergi bersama Zhukov.


Setelah Zhukov dan Eleva pergi, Saphine berduaan dengan Denis. Saphine mencoba berdiri sambil memegang ranjang dengan kuat untuk bisa berdiri. Kemudian, ia segera mendekati Denis dengan penuh kasih sayang.


“Denis.Tolong ceritakan padaku! Apa yang terjadi padamu sampai kamu diincar oleh gangster itu?” Tanya Saphine dengan aura keibuan.


“Tidak ada,” jawab Denis berpaling dari Saphine.


Saphine masih belum menyerah. Ia mencari ide untuk membuat Denis lebih baik. Selain itu, Saphine menatap tubuhnya yang sudah menjadi bekas orang lain. Ia berjanji untuk tidak melakukan apapun lagi karena ia sudah bertekad untuk menjadi dokter setelah Rivandy menyelesaikan masalah dengan aksi dan luka.


“Sudah. Kita tenangkan dulu pikiranmu. Kamu mau apa? Mau keluar? Mau disini? Atau mau a … ku?” Goda Saphine agar Denis merasa lebih tenang.


Saphine tertawa ketika Denis merasa terdiam. Ia berharap Denis kembali menjadi semula. Namun, tidak mungkin penderita PTSD sembuh dengan sendirinya. Ia butuh dokter psikologi untuk menangani hal itu.


Tidak berhasil. Denis belum disembuhkan. Namun, Saphine masih sabar dalam menghadapi PTSD. Ia tidak membiarkan Denis semakin sendirian.


Akhirnya, Saphine memutuskan untuk menemani Denis. Ia mendekati Denis yang berada di ranjangnya. Kemudian, ia mendekati Denis dengan perlahan sambil memegang tangannya dengan lembut. Setelah itu, ia memeluk Denis dengan perlahan.


“Aku akan disini bersamamu. Tenang saja. Aku akan memuaskanmu,” bisik Saphine dengan nada pelan.


Denis menerima itu dan Saphine memeluk Denis dengan penuh kehangatan. Mereka memperluas akan hubungan mereka dan suasana ruangan inap itu menjadi hening.


[*^*]


Jam 16:03, hujan Kota Moskow sudah reda. Banyak air hujan yang menggenangi jalanan dan bangunan. Para awan segera meninggalkan ke Kota Moskow dan segera menuju ke kota St.Petersburg.


Di tengah aktivitas warga Moskow yang dimulai, aku dan Aurora pulang ke apartemen kami. Kami sudah lelah dengan aktivitas klub itu. Selain itu, aku menjaga Aurora agar dia tidak minum alkohol agar ia tidak menyakitiku perasaanku.


Tiba-tiba ada sebuah bayangan yang sedang mengikutiku. Aku mulai curiga dengan itu. Aku segera mewaspadai diri agar tidak tertangkap. Namun, dia semakin mendekat. Dia bersembunyi di bayangan agar bisa menculikku.


Dia bergerak cepat dan menculikku dari belakang sehingga Aurora tidak tahu dengan itu. Ia membawaku ke tempat yang sepi. Setelah itu, ia memelukku agar aku merasakan sensasi yang sangat mengenakan ini.


“Rivandy? Kamu dimana? Rivandy? Rivandy?” Aurora kebingungan dan menoleh ke sekitar.


Sial! Aku terangsang lagi.


Aku mencoba untuk memberontak. Namun, orang itu menunjukkan dirinya. Wanita itu adalah Cherry-neesan yang sedang memelukku. Aku terkejut dengan itu, merasakan rangsangan yang hebat di tubuhku.


“Ne-Neesan?!” Panggilku melirik pada Neeaan.


“Ara-Ara. Kamu nakal sekali, yah?” Goda Cherry-neesan.


“Neesan. Jangan begitu! aku malu.” Wajahku mulai memerah.


“Sudah. Kita akan berangkat.” Cherry-nesan menggendongku untuk membawaku ke suatu tempat.


“I-Iya.” Aku hanya menerima hal itu.


Setelah sampai di suatu tempat, aku melihat bangunan yang pernah kulihat sebelumnya. Aku merasakan Cherry-neesan yang mulai berinisiatif untuk menceritakan sesuatu. Ia dengan tubuhnya yang seksi itu mendekatiku dengan aura yang menggoda.


“Neesan. Ini kan ….” Mataku mulai melebar melihat pemandangan sebelumnya.

__ADS_1


“Sudah waktunya aku memberitahumu.. Aku akan menceritakan ini padamu. Tolong dengarkan aku, Sayang!”


__ADS_2