Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Musim Dingin Moskow : Hadiah dari Tuan Putri 1,2


__ADS_3

Ketika lomba berlangsung, Nona Claveriska menyelesaikan buket yang ia buat. Ia menambahkan sesuatu agar menambahkan peluang kemenangan. Yah … setidaknya 1% saja cukup. Dengan antusias, ia membuat buket tercantik hanya untuk Pangeran.


Sinta dan Diana menyelesaikan buket buatan mereka. Mencari dan memetik bunga sudah dilakukan. Hanya menjadikan buket agar mereka bisa menyerahkannya pada Pangeran. Mereka berharap aku menyukainya.


Aku dan Nina sedang romantisan dengan menyuapiku. Aku terlena dengan masakan Nina yang jauh lebih baik. Ini sedikit hangat tapi aku mengabaikan sesuatu. Rasanya audah cukup dengan masakan hangat itu. Jika aku mendesah luar biasa, siapa yang tanggung jawab?


Aku harap jangan Neesan lagi. Sudah tidak tahan dengan permainan itu. Itu membuatku semakin melemah.


Aku tidak merasakan perjuangan mereka membuat buket bunga dengan susah payah. Mereka harus membuat buket agar tidak mengalami patah hati.. Aku juga tidak melihat perasaan mereka.


Entah kenapa aku lebih sering didekati oleh banyak gadis. Setidaknya lebih dari 10 gadis yang ingin menikah denganku. Aku tidak tahu apa motif mereka mengenai itu.


Permainan pun berakhir dengan cepat. Aku sudah menghabiskan makanan yang Nina buat. Dengan suapan Nina dan perawakan istri idaman, itu sudah cukup membuatku lebih baik. Aku iri pada Zera dengan gadis yang baik dan sopan itu.


Nona Claveriska, Diana, dan Sinta sudah mengumpulkan buket bunga mereka. Mereka berusaha untuk memanggil Nina agar menilai buket buatan tuan putri. Namun, tubuh Nina terlalu banyak menghasilkan hormon Dopamin karena terlalu bahagia bisa menjadi istri buat Pangeran.


Nina mendapatkan peran wasit menjadi lalai dengan lomba. Ia malah kecanduan untuk menjadi seorang istri untuk Pangeran, yaitu aku.


"Aduh! Aku maaf. Aku jadi wasit," lontar Nina dengan gaya Tehe-nya.


"Huft! Kamu ini bagaimana. Wasit melupakan sesuatu," kritik Nona Claveriska.


"Wasitnya ingin menjadi istri Pangeran," komentar Sinta tanpa pikir panjang.


"Iya. Pangeran itu sangat tampan dan baik, sehingga wasit jadi luluh hatinya padanya," lanjut Diana menganalisis tentang motif Nina.


"Aku tidak tahu apa motif kalian saat ini." Aku mulai curiga.


"Kalian jangan komentar lagi! Aku akan memeriksa hasil kalian,” oceh Nina dengan menahan malunya.


"Ini Rivandy. Silahkan! Tolong terima buket ini! Kamu pasti menyukainya." Sinta memberikan semua perasaan yang ada di buket.


Aku menerimanya dengan baik dan akan merawat buket bunga yang diberikan Sinta. Aku ingin bertanya padanya bunga apa yang dirangkai menjadi buket.


"Apa ini?" Tanyaku menerima bunga dalam jumlah genap.


"Ini adalah bunga Mawar Putih," jawab Sinta tersenyum lebar.


"Oh. Begitu. Apakah aku boleh menyimpannya?" Aku menerima itu tanpa ada kejanggalan.


"Iya. Kamu boleh menyimpannya," jawab Sinta memperbolehkanku untuk menyimpan bunga itu untuk kenangan.


Aku mengerti perkataan Sinta itu. Dia sangat senang dan puas dengan hasil yang dicapai. Ia tidak berpikir aku akan menolak buket itu dengan mentah-mentah. Sinta berharap kemenangan yang dicapai terwujud juga.


Aku menerimanya. Namun, bukan berarti Sinta yang akan menang. Aku mencari kandidat lain untuk menjadi pemenang. Masih ada banyak gadis yang akan menjadi pemenang. Kalau Aurora memberikan buket bunga itu, Sinta akan kalah dengan mudahnya.


Berikutnya, giliran Diana. Diana menawarkan sesuatu untukku dan membuat buket bunga agar bisa menjadi tunangannya untuk pertama kalinya. Aku mengharapkan bunga itu lebih baik daripada milik Sinta.


"Ini, Sayangku. Aku harap bunga ini menjadi pertunangan kita," tawar Diana sambil mencium tangannya dan meniup tangan itu.


Aku menerima buket itu serta rayuan itu. Melihat buket bunga yang berjumlah genap itu di kedua tanganku dan menyimpannya di dalam teras itu. Aku melakukan itu agar aku bisa membawanya pulang nanti. Aku ingin tahu apa yang Aurora dan Akishima berikan untukku pada saat diberikan buket bunga.


"Thanks, Diana," terimaku sambil mengucapkan terima kasih.


"Selama Rivandy senang, aku juga senang. Aku bersiap menjadi seorang janda untukmu," gumam Diana berbunga-bunga dan berniat ingin menjadi istriku.


Aku dan Nina hanya terdiam dengan tingkah Diana itu. Kami merasa Diana sudah mabuk akan cinta. Sinta juga. Entah kenapa sejak aku menolong Zera mereka semakin melekat padaku.


Terakhir, Nona Claveriska menyerahkan buket lengkap dengan hiasan yang berkilauan. Ia menempel benda yang berkilauan itu pada buket bunganya. Jika dijual di toko bunga, maka tidak ada yang membelinya. Hanya orang kaya, CEO, dan bangsawan yang membelinya.


"Ini campuran dengan aksesoris emas. Jadi, aku harap kamu menerimanya untukmu dan menjadi tunanganku untuk sementara. Aku juga ingin memperkenalkan dengan ibu dan ayahku di Perancis. Ini dilakukan agar kamu menjadi seorang yang berada di sampingku sampai tua nanti," curhat Nona Claveriska dengan perasaan malunya.


Aku menerima itu dengan lapang dada dan membawa buket bunga itu menuju ke teras beranda untuk memikirkan siapa yang menang. Aku berbalik badan dan segera menilai siapa yang akan menjadi pemenang dalam segala aspek.


Sebelum itu, aku diberikan buket bunga tambahan dari Nina. Nina memberikan bunga itu sebagai tanda agar aku cepat sembuh, tidak boleh sakit. Aku harus menjalani aktivitas akademi sebelum tugas semester meskipun semua pekerjaanku telah selesai. Aku tidak tahu apa yang aku lihat sebelumnya.


"Semoga lekas sembuh, Rivandy. FYI, aku dan Zera membuat buket bunga ini selama semalaman. Jadi, kami membuatnya dengan susah payah dan segera mendoakan kesembuhanmu. Aurora dan Evelyn juga ingin memberikan padamu. Tapi, mereka tidak bisa. Jadi, biar aku saja,” jelas Nina memberikan buket bunga padaku.

__ADS_1


Aku hanya mengucapkan terima kasih dengan tanpa perasaan sedikitpun. Bukan berarti, aku adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Aku hanya tidak tahu cara meluapkan perasaanku itu. Jadi, yah … seperti ini.


Aku menerima buket bunga dalam bentuk genap. Aku tidak tahu siapa yang aku pilih sebagai pemenang. Ini terlalu membingungkan. Kalan aku diberikan bunga dari Shiori, Aurora, Sheeran, dan Neesan, aku tidak bisa memilih. Aku hanya menyimpannya.


Buket milik SInta adalah buket yang cukup langka. Mawar Putih. Makna yang simpatik. Aku hanya berpikir tentang perasaan Sinta mengenai kesembuhanku. Aku memang sudah sembuh. Namun, aku harus dirawat sebelum liburan musim dingin.


Berikutnya, Diana. Bunganya dari Siberia. Ini cukup menarik perhatianku. Aku hanya merasa belum bisa menerima hal yang sederhana itu. Maksudku, aku belum bisa menerima cinta dari Diana. Dia cukup baik dan perhatian. Namun, aku merasakan hatiku yang menolak itu.


Terakhir, lebih parah lagi. Buket bunga yang mewah ini membuatku ilfill. Ini pertama kalinya aku mendapatkan buket bunga yang seperti ini. Ini seperti pemberian seperti seorang yang cukup spesial untukku. Entah kenapa hatiku merasa terluka dengan pemberian ini. Kenapa genap?


Aku tidak tahu. Aku hanya merasakan sesuatu yang berdarah.


Ingin sekali menyelesaikan dengan memutuskan siapa yang akan menjadi seorang pemenang. Aku harus memutuskan dengan tepat dan cepat agar aku dapat memutuskan pemenang dengan tepat.


Sebelum penilaian itu dilakukan, ada seorang wanita yang sedang menghampiri dengan mengenakan handuk kimono miliknya. Entah kenapa dia melakukan itu. Semoga saja dia tidak menggodaku lagi.


“Ara-Ara. Ada kontes pemberian bunga, ya?” Neesan menyapa kami dari kejauhan.


“Kochou-Sensei,” sahut mereka berempat.


“Neesan,” jawabku sambil mencium buket bunga.


“Aku datang kemari untuk melihat kontes ini,” jawab Neesan mendekat pada kami berlima.


Saat mendekat kemari, ia melihat ada 4 buket bunga yang tersusun rapi. Salah satu buket itu diambil olehku untuk menciumnya. Aku mengambilnya untuk mencium bau yang cukup harum. Itu adalah buket milik Nina.


“Kenapa kalian memberinya bunga dalam jumlah genap?” Tanya Neesan dengan penglihatan yang tajam.


“Eh?” Keempat gadis itu kebingungan apa yang Neesan tanyakan.


“Memangnya kenapa, Sensei?”


“Kalau kalian memberikan buket dalam jumlah genap padanya, yang menerimanya akan mengalami hal sial. Itu digunakan untuk pemakaman. Jika kalian memberi buket itu yang sudah kujelaskan, … dia akan mati, lho!”


“Eh? Benarkan?” Tanya Nona Claveriska tidak mengerti.


“Oh iya. Menurut Russia Beyond, ‘Hal ini sangat penting. Jangan pernah memberikan bunga dalam jumlah genap. Di Rusia, bunga dalam jumlah genap dikaitkan sebagai rasa duka dan biasanya diberikan dalam upacara pemakaman. Tidak peduli bunga apa pun itu — tulip, iris, atau anyelir, pastikan jumlahnya ganjil.’ Aku baru tahu. Tapi, aku tidak mengeceknya terlebih dahulu,” jelas Nina membaca melalui website Russia Beyond.


Mendengar penjelasan dari sumber Russia Beyond, aku merasakan hatiku terluka. Terkejut dengan buket bunga yang mereka berikan. Tidak peduli itu indah dan menawan, selama itu berjumlah genap itu membuat hatiku teriris.


“Jadi, kalian … datang kesini untuk membunuhku?” Tanyaku mengeluarkan aura ketakutanku setelah menghitung semua buket bunga itu.


“Tidak! Aku tidak sengaja,” jawab ketiga gadis bangsawan.


“Semuanya buket jumlah genap, kok” lanjut Neesan membocorkan semua itu.


“Jadi, ...” Nina menjadi suram mendengar buket bunganya yang ia berikan.


“Ahh! Aku tidak sengaja membunuhnya. Harusnya aku menghitungnya dulu,” sesal Nona Claveriska tertunduk murung.


“Huwa! Aku malah berniat untuk membunuhnya,” sesal Sinta menangis dan depresi.


“Tidak bisa dimaafkan. Aku memang wanita pembawa sial. Aku … aku menjual tubuhku agar Rivandy memaafkanku,” tekad Diana menahan tangisannya.


“Rivandy. Maafkan aku! Aku tidak sengaja membuat hatimu terluka,” sesal Nina sambil memelukku.


Aku hanya berdiri kaku. Mereka ingin membunuhku dengan buket bunga. Dengan empat buket bunga yang berjumlah genap, itu sudah cukup untuk membuat mimpi buruk dan trauma itu terulang kembali.


Apa ini?


Sepertinya aku mengingat sesuatu. Kesialan dan peluang kematianku akan semakin mendekat. Apakah ini sudah saatnya aku akan mati?


Aku tidak mengerti. Apa tujuan mereka datang kemari?


Neesan menghampiriku lalu memelukku dengan pelan dan penuh kasih sayang. Aku merasakan tubuhnya yang sangat bersih dan harum. Aku ingin lagi. Aku mau melanjutkannya lagi.


“Sudah! Aku akan merawatmu,"

__ADS_1


“Kamu jangan khawatir! Aku akan menghukum mereka."


“Um.” Aku hanya menerima pelukan itu dan menahan semua penderitaanku.


Sejak saat itu, aku dibawa ke ranjang dan dirawat oleh Neesan dengan senang hati.


[*^*]


Sementara itu, keempat gadis itu berhadapan dengan Neesan di ruang tamu. Mereka dipanggil oleh mengenai tindakan mereka padaku.


“Maafkan aku! Aku tidak tahu itu membunuhnya,” lontar Nona Claveriska dnegan menyesal.


“Aku juga tidak bisa memaafkan diriku. Bolehkah aku menjadi budak?” Tanya Diana berniat untuk membuka bajunya.


“Zera tidak akan memaafkanku kalau Rivandy mati,” sambung Nina menangis tersedu-sedu.


“Hukuman Zera lebih parah. Aku dilarang minum air putih selama seharian,” lanjut Sinta menahan tangisannya.


“Bahkan, aku tidak bisa mengenakan pakaianku selama 3 jam,” lanjutnya.


“Sinta. Kau yang menghukum diri sendiri,” balas Diana melirik ke Sinta.


“Maaf,” respon Sinta.


Neesan mendengar semua keluhan tiu. Ia merasa niat jahatnya tersebut dalam pikirannya. Ia memikirkan gadis itu cukup polos. Dengan niat jahat itu, ia akan mempermainkan mereka yang polos itu.


“Karena perbuatan kalian, Rivandy menangis keras. Bahkan, dia harus istirahat di ranjang dengan waktu yang belum ditentukan. Karena itu, aku akan menghukum kalian,” jelas Neesan dengan serius.


“Apakah kamu akan mengirimkan kami ke pasar malam dan menjual diri dengan harga murah?” Tanya Sinta dengan antusias.


“Tidak. Aku tidak akan mengirimkan kalian kesana,” jawab Neesan sinis.


“Apakah kamu menghukum kami dengan mengenakan pakaian rakyat jelata?” Tanya Nona Claveriska.


“Aku sudah putuskan hukuman yang pantas untuk kalian yang membuatnya menangis. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri."


“Jadi, kalian harus ....”


Dengan hukuman itu, mereka menerimanya dengan senang hati. Demi aku yang istirahat di ranjang, mereka melakukan apapun untukku. Mereka melakukan hal yang aneh, bahkan cabul sekalipun.


Hukuman mereka dimulai dari sekarang.


[*^*]


“Nina. Ayo kita ke kantin. Aku akan mengajak Sinta dan lainnya,” ajak Aurora tiba-tiba di depan Nina.


“Tidak. Terima kasih. Aku tidak terlalu ingin banyak bergerak,” tolak Nina dengan manis.


“Kau aneh. Biasanya kamu bersemangat."


“Iya, desu. Dia sangat pasif, desu,” lanjut Evelyn memeluk Aurora.


“Sudah. Kalian pergi ke kantin saja. Aku membawa bekal, kok,” saran Nina mengambil bekalnya.


“Tunggu dulu. Jangan-jangan kamu …” Aurora mulai curiga pada Nina.


“Ya sudah! Aku mau menjenguk RIvandy nanti.” Aurora pasrah dengan itu


“Tidak boleh! Kakak Rivandy sangat menyeramkan,” larang Nina ketakutan.


“Sejak kapan Rivandy punya kakak, desu?” Tanya Evelyn bingung.


“Aku tidak tahu. Ayo!” Ajak Aurora.


Mereka pun pergi. Mereka tidak menyadari yang Nina rasakan. Nina terpaksa menerima hukuman itu.


Hukuman itu adalah tidak boleh mengenakan pakaian dalam ke akademi.

__ADS_1


__ADS_2