Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Evelyn Emily 1,5


__ADS_3

9 Februari 2026, jam 08:21, pelajaran akademi masih berlangsung. Aku sudah lelah dengan tugas dan ingin tidur. Karena tugas pembuatan buku itu membuatku ingin tidur nyenyak. Aurora juga begitu. Dia ingin tidur dan melakukan hubungan denganku meskipun Aurora masih perawan.


Kami tidak tahu Evelyn tidak masuk selama 4 hari. Apakah Evelyn sudah selesai dan terlalu sibuk dengan urusan sendiri? Kami harus menyelesaikan tugas kami sebelum terlambat. Entah apakah yang lainnya sudah membuat buku.


Semua tugas yang kuberikan sudah selesai. Tugas makalah militer dan proses pembuatan buku sudah selesai. Tinggal menunggu beberapa saat sebelum tugas itu diterima dan aku bisa hidup tenang.


Aku harap Novel "Eiric Scorvyaka : Fight for University" dengan 118 halaman dan dari referensi Bokutachi wa Benkyou Dekinai (We Never Learn) bisa diterbitkan dan memperoleh ISBN.


Aurora juga membuat buku tentang "World of Knowledge" yang berisi 100 halaman dengan tata letak buku yang cukup rapi. Aku tidak sabar untuk membaca buku buatan Aurora.


Buku Evelyn juga. Aku ingin tahu apakah Evelyn mengerjakan tugas dengan baik. Tapi, saat ini tidak ingin memikirkannya. Aku lebih baik ingin tidur meskipun sudah tahu apa isi dari pelajaran ini


Setelah pelajaran selesai, aku dan Aurora berniat untuk tidur bersama. Kami menyambungkan kursi dan meja untuk tidur. Lalu, tiduran sambil memeluk Aurora. Aurora memelukku dengan mencium leherku. Aku merasakan tubuh Aurora masih harum meskipun terbebani dengan tugas yang sudah selesai dikerjakan.


"Rivandy. Aurora. Kalian sedang apa?" Tanya Nina pada kami yang sedang tertidur.


"Ayo! Bangun! Aku ingin mengajak kalian ke kantin. Zera dan lainnya menunggu kalian," ajak Nina kepada kami untuk ke kantin.


"Apakah kamu tidak capek? Aku sudah menyelesaikan semua tugasku. Aku ingin tidur dan merasakan tubuh Aurora yang wangi ini," tolakku karena kecanduan dengan tubuh Aurora.


"Iya. Kamu benar. Tapi, aku sudah istirahat yang baik," sanggah Nina masih bersemangat meskipun ujian menanti.


"Pergi saja! Aku masih ingin memeluk tubuhnya yang sangat menggoda ini. Saking menggodanya, aku ingin sekali cepat untuk menikah," usir Aurora meraba tubuhku dan memelukku seperti boneka.


"Tidak secepat itu! Kau akan langsung dikeluarkan," gumam Nina yang melihat Aurora mengelus tubuhku.


"Silahkan ke kantin! Aku tidak terlalu ingin makan. Aku ingin istirahat saja," tolakku memejamkan mataku.


"Kalau Aurora hamil, aku tidak akan bertanggung jawab," pamit Nina segera meninggalkan kami dan segera menuju ke kantin.


Aurora hanya terdiam memejamkan mataku. Aku melakukan hal yang sama karena lelah mengerjakan tugas. Kami selalu berpelukan saat ingin tidur. Kami berharap bisa pulang dan tidur bersama sambil melepaskan pakaian kami.


Kami malah mencium dan melakukan yang romantis di tengah kelas dan merasakan sensasi tanpa kesadaran. Kami melakukan seperti suami istri meskipun kami belum melakukan penetrasi saat tidur. Kami hanya mencium dan saling meraba tubuh yang halus.


Tapi, kami tidak melakukan hal yang berlebihan. Seolah-olah menjadi binatang liar. Kami menjadi tontonan para murid kelas I Saintek A.


"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Guru fisika dengan rotan di tangannya.


Kami terbangun dan melihat para penonton yang tertawa kecil. Guru Fisika malah marah melihat kami berciuman dan memeluk satu sama lain. Guru itu cemas jika kami membuka pakaian kami dan melakukan penetrasi.


"Sekarang, kalian berdiri di lorong karena melakukan hal yang tidak pantas di pelajaran saya!" Suruh guru itu segera mengeluarkan kami.


Para penonton tertawa kecil sebelum dimarahi oleh guru fisika. Nina ikutan juga sebelum mengikuti pelajaran dan melanjutkan pekerjaan akademi mereka. Kami berdiri di lorong dengan menahan kantukan kami.


Jam 12:01, pelajaran berakhir. Kami menunggu guru fisika yang menghampiri kami dan memarahi kami karena melakukan hal mesum seperti mencium dan memeluk seperti suami istri. Kami menjawabmya dengan logis dan membuktikan buku yang kami buat. Guru itu melihat dan membacanya sementara.


Ia membaca sekilas. Halaman demi halaman ia baca meyakinkan kami agar memaafkan perbuatan kami. Karena tulisan bahasa Rusia yang rapi dan mudah dibaca, guru itu menikmati buku buatan kami.


Dia menerima alasan itu dan menganggap kami siswa yang rajin. Aku lega meskipun masih menahan kantukku karena harus menulis 1300 kata dalam sejam tanpa nonstop. Aurora hanya bisa menulis 800-1000 kata dalam sejam. Dia menerima itu dan menegur kami agar harus istirahat di sela mengerjakan tugas.


Hukuman kami berakhir, asalkan tidak mengulangi kejadian yang sama. Dia juga menyarankan kami untuk menyelesaikan pendidikan terlebih dahulu sebelum menikah karena sudah banyak kasus kawin lari di lingkungan akademi.


Kami memahaminya dengan baik dan menuju ke kantin lalu memesan kopi. Kami sangat ingin tidur dan lelah sekali. Kami berharap bisa pulang dan ingin melepaskan pakaian kami di ranjang yang empuk dan tidur bersama.


Itu untuk kesehatan. Bukan yang lainnya.

__ADS_1


[*^*]


Jam 15:01, pelajaran akademi berakhir. Aurora memutuskan untuk mengikuti Klub Saintek sebelum tidur. Aku ikut bersamanya. Namun, aku izin dulu karena aku harus berjalan sebentar dan memutuskan untuk pulang karena sudah lelah dengan tugas.


Ketika ingin berjalan, ada seorang gadis yang menghampiriku. Dengan ramahnya, ia segera menghampiriku yang mengantuk dan mencoba untuk menyadarkanku dengan senyumannya.


"Halo. Rivandy. Apakah tugasmu sudah selesai?" Tanya Hanna menyapaku.


"Aku hanya mengantuk. Itu saja," jawabku masih merasakan kantuk.


"Kau seperti leveling saja! Kamu begadang hanya untuk menaikkan level," canda Hanna tertawa kecil.


"Iya. Ada yang bisa kubantu?" Tanyaku masih menyadarkan diri.


"Rivandy Sayang! Aku mohon! Tolong kirimkan paket ini pada Evelyn. Ini tugas dari Klub Robotik. Ketua memang selalu memberikan tugas. Aku ingin sekali menyerahkan ke Evelyn," jelasnya mengenai situasi Klub Robotik.


"Aku sudah memecahkan simbol Enigma ini. Ini adalah alamatnya," lanjutnya memperlihatkan sesuatu padaku.


"Iya. Aku akan mengirimkannya pada Evelyn." Aku menerima permohonan dari Hanna dan mencari cara untuk memberikan pesan pada Evelyn.


"Bagus. Kalau sudah, hubungi aku! Aku selalu terbuka untukmu," balas Hanna dengan aura kasih sayang.


Aku menerima pemberian dari Hanna dan bergegas untuk menemukan Evelyn. Dia juga memberikan kopi agar aku tidak bisa tidur. Aku menyimpannya untuk nanti dan tidak memberikannya ketika tidur.


"Terima kasih atas kopinya. Hanna. Aku akan memberikan ini dan Evelyn sekarang juga," tekadku memberikan paket itu pada Evelyn.


Hanna merasa tertolong dengan aku sebagai penerima minta tolong. Aku mendapatkan kepercayaan dari Hanna.


"Sampai jumpa, Rivandy! Saranghaeyo!" Pamit Hanna memberikan Finger Heart padaku.


Aku menuju ke rumah Evelyn dan memberikan sesuatu padanya. Aku sudah tahu alamatnya. Hanya saja, aku tinggal menuju ke sana. Aku keluar dari akademi dan segera memesan taksi agar aku bisa pergi ke rumah Evelyn dengan cepat.


[*^*]


Jam 15:34, aku naik taksi karena sudah lelah dengan berjalan kaki. Taksi itu lebih baik. Aku juga sudah mengisi tempat tujuanku. Jadi, aku bisa tidur untuk sementara sebelum menghabisi ke rumah Evelyn.


Setelah sampai, aku membayar sopir dengan kartu kredit dan turun dari taksi. Aku melihat rumah Evelyn yang cukup besar dan seperti seorang bangsawan. Aku meminta memori yang pecah dan tidak bisa diingat lagi. Aku bergerak menuju ke depan pagar dan menekan tombol masuknya.


Bel berbunyi. Namun, tidak ada yang merespon. Aku menekan tombol lagi dan tidak ada respon. Sama saja. Begitu 3 kali aku menekan tombol, ada seorang penjaga yang menghampiriku. Mereka berbadan besar dan mengepal tangan mereka dan bersiap untuk memukul.


"Dilarang masuk, Nak! Kau tidak boleh masuk tanpa seizin Nyonya!" Larang salah satu penjaga itu menghadang jalanku.


"Tapi, aku datang kemari untuk membawakan ini pada Evelyn," jelasku sambil menyodorkan pada mereka.


"Kau tidak perlu memberikannya pada anak budak itu! Dia sudah tidak perlu lagi dengan peralatan robot itu. Dia sudah menjadi robot untuk Nyonya," jelas penjaga itu dengan serius dan dalam hatinya tertawa kemenangan.


"Eh?!"


Apa yang mereka bicarakan? Kenapa mereka mengatakan hal itu padaku? Tidak mungkin. Kenapa mereka mengatakan anak budak? Aku tidak mengerti. Tidak tahu kenapa mereka mengatakan sekejam itu Aku merasakan hal yang aneh terjadi pada mereka.


"Pergilah dan jangan kembali lagi!" Usir mereka membawaku keluar pagar rumah.


Aku terusir dengan mudah. Aku pergi dari hadapan mereka dan menenangkan diriku. Setelah itu, aku memikirkan cara masuk. Aku melihat pagar dan rumah di sekitar. Celah di rumah ini kelihatan. Jadi, aku bisa masuk dengan mudah


Kalau tidak dengan bujukan, aku akan masuk dengan paksa. Aku menggunakan teknik yang baru. Ini sama seperti stealth dan camouflage. Hanya saja, ini bisa mendeteksi apa yang bisa kucari. Ini bisa digunakan untuk menyusup dan mengetahui peta yang dicarinya. Ini sangat berguna.

__ADS_1


"Arctic Warfare : Intruders!"


Aku mengganti pakaian seragam menjadi pakaian militer warna hitam dengan cepat. Teknik itu digunakan sebagai penyusup ke suatu tempat. Setelah berubah, aku kembali ke tempat semula dan mencari celah untuk bisa masuk. Begitu melihat pagar, aku melihat kesempatan agar bisa menyusup.


Aku mundur beberapa langkah sebelum menarik nafas. Sudah bersiap dan berlari menuju ke pagar dan melangkahinya. Dengan langkah kaki, aku menaiki pagar dan melakukan salto kemudian masuk ke dalam pagar.


Yosh! Waktunya mencari Evelyn dan memberikan barang ini padanya.


Aku mencari pintu masuk dan melihat titik merah yang menjadi target penyusupan ini. Aku masuk dengan perlahan dan mengambil sepatuku agar tidak meninggalkan petunjuk. Setelah masuk, aku memandang ruangan yang bersih mengkilap. Ruangan itu sangat bersih. Lebih bersih daripada pabrik pembuatan SD Card pada handphone dan laptop. Anehnya, tidak ada pelayan dan lainnya yang membersihkan ini semua.


Aku mencari Evelyn meskipun memutar rumah ini sekian kali. Dari ruangan satu ke ruangan yang lainnya. Aku menuju ke belakang dan mengidentifikasi peta rumah itu. Dengan itu, aku sudah siap untuk mencari Evelyn meskipun ada keanehan yang tersebar dalam rumah ini.


Aku semakin mengungkapkan keanehan dalam rumah. Semakin lama semakin aneh. Tidak ada pembantu atau maid yang membersihkan rumah ini. Aku merasa curiga karena melihat keanehan yang terjadi pada rumah ini.


Ada apa dengan rumah ini? Tidak ada seorangpun yang membersihkan rumah ini. Tidak mungkin rumah ini dibersihkan satu orang sekalipun.


Ini terkesan mengeksploitasi. Aku mencari dan menemukan Evelyn lalu membersihkan tugas ini padanya. Aku sudah semakin dekat dengan titik temu dengan target. Aku bergerak beberapa menit dengan rute yang benar. Ini karena ada peta yang terpampang di pandanganku secara virtual. Ini sangat membantu seseorang.


Saat berjalan di lorong, aku mendengar suatu pembicaraan. Pembicaraan itu sama seperti mata-mata. Aku menghampirinya perlahan dan merekam pembicaraan itu untuk berjaga-jaga. Aku bisa memberikan bukti pada suatu masalah. Aku juga sudah memotret beberapa bagian. Kalau bisa, aku sudah memotret secara 360 derajat.


Aku mendengar suatu pembicaraan yang sangat penting bagi wanita itu. Dengan mudah, ia akan membawa Evelyn ke London. Dia mengirimkan mata-mata untuk mengantarkan Evelyn ke London untuk diperbudak di kerajaan. Aku tidak terlalu mengerti.


Kenapa? Kenapa mereka mengincar Evelyn? Apa yang mereka dapatkan dari Evelyn?


Jangan-jangan …


Aku akan membawa Evelyn pergi! Aku tidak mau berurusan dengan mereka lagi. Evelyn juga. Aku sudah merekam ini semua. Aku harus menemukan Evelyn dan segera pergi dari sini.


Aku berlari cepat dan melihat penjaga yang berpatroli di lorong. Mereka berjalan tegak dan layaknya pasukan Perang Dunia 2. Setelah mereka pergi, aku bergerak secara diam-diam dan segera menemukan Evelyn.


Kenapa banyak sekali penjaganya sedangkan aku tidak melihat orang yang membersihkan semua rumah ini?


Aku tidak mengerti. Aku tidak mengerti dengan mereka. Rasanya aku mengingat sesuatu yang rapuh. Dengan itu, aku segera menemukan keberadaan mereka dan mengungkapkan ini semua. Aku sudah merekam semua bukti tidak ada yang lari dariku.


Ini seolah-olah dengan ingatan dan mimpi buruk itu. Itu merasa cukup dekat dan dalam mendekatiku secara perlahan.


Ketika mendekati ke titik merah, aku melihat sosok gadis yang sedang mengepel. Gadis itu sedang fokus dengan pel lantai tanpa henti. Ini lebih terkesan menjadi robot. Ini adalah seorang gadis yang mirip dengan robot.


Aku segera menghampirinya dan bertanya padanya. Aku melepaskan teknikku dan menunjukkan diriku. Ini bertujuan agar aku tidak dicap sebagai hantu.


"Hai. Nak. Aku ingin bertanya. Apakah kamu melihat Evelyn?" Tanyaku pada gadis itu.


Ia tidak menoleh padaku. Hanya sibuk dengan pekerjaannya. Ketika aku menghampirinya, aku terkejut dengan penglihatanku. Ketidakpercayaan ini mulai terkuak di dalam pikiranku.


Aku kasihan pada Evelyn dengan pikiran dan hati. Kalau saja orang lain melihat ini, mereka akan melaporkannya pada polisi dan pelaku itu dijatuhi hukuman atas kasus eksploitasi. Tapi ini tidak berlaku pada seseorang dengan kekuasaan.


Pantas saja, aku melihat keanehan dari semua ini. Aku tidak menyangka Evelyn menjadi seperti ini. Perasaanku lebih kental dari logika seorang lelaki. Aku tidak bisa ... melakukan apapun. Psikologinya sudah tidak tertolong lagi.


Kenapa dengan mereka? Kenapa mereka ingin melakukan sejahat itu?


Evelyn. Kamu ....


Kenapa kamu menjadi seperti ini?


Kamu ... berubah

__ADS_1


__ADS_2