Rivandy Lex : Modern Military

Rivandy Lex : Modern Military
Masalah Psikologi : Akishima Renji 1,7


__ADS_3

Kamis, 2 Oktober 2025, para siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria diperbolehkan untuk bersekolah. Mereka bersiap untuk bersekolah setelah libur 3 hari karena kesalahan jadwal. Mereka menerima buku PDF pada saat liburan dijalankan.


Mereka hanya membaca di rumah dan segera menjalankan aktivitas lainnya Mereka juga berkumpul di apartemen teman mereka agar menghilangkan kebosanan mereka. Mereka terbebas dari pekerjaan rumah karena kelalaian dari kepala sekolah.


Jam 07:09, gadis berambut violet, Sheeran Chezka sedang berjalan menuju ke akademi. Sebelum itu, ia mencariku agar ia bisa memeluknya. Sudah tiga hari Sheeran menahan libidonya untuk memelukku.


Setelah sampai di pertigaan jalan, ia melihatku dan segera menghampiriku dengan cepat agar ia bisa memeluknya. Namun, ia terkejut melihatku, melihat aku yang dipeluk oleh Akishima dengan erat sambil bersembunyi dari lainnya.


“Oi! Apa yang kau lakukan pada Sayangku?” Sheeran memarahi Akishima yang sedang memelukku.


Akishima terdiam dengan ocehan itu. Begitu juga denganku. Aku mengisyaratkan agar Sheeran tidak mengganggu kami untuk sementara. Sheeran hanya terdiam dengan itu. Ia terus memanggilku “Sayang” agar ia bisa mencari perhatian kepadaku. Hanya saja itu percuma saja.


Dia tidak bisa melakukan hal itu. Mencegahnya saja tidak mungkin dilakukan.


Dengan terpaksa, Sheeran mengikutiku dari belakang dan menunggu waktu yang tepat.


Sesampainya di akademi, aku dan Akishima berpisah. Aku menyerahkannya kepada Zhukov karena ia merupakan teman sekelas Akishima. Setelah itu, aku kembali ke kelas sambil mengucapkan selamat tinggal kepada Akishima dan Zhukov.


Setelah sampai di kelasku, aku dihampiri oleh Aurora dan Evelyn. Mereka menghukumku karena aku tidak menerima kabar dari mereka. Alhasil, aku tidak boleh lepas dari pengawasan mereka.


Entah ini sial atau beruntung.


Namun, aku harus mengikuti alur mereka. Nina menertawakanku. Entah apa maksud dari tawa itu. Aku tidak mengerti dengan guyonan Nina.


Pikiran wanita memang menyeramkan.


[*^*]


Jam 10:00, siswa dan siswi semua kelas dan angkatan segera keluar dari kelas setelah mengikuti pelajaran yang cukup melelahkan itu. Aku, Aurora, dan Evelyn segera menuju ke kantin. Sebelum itu, Akishima menghampiriku sambil memelukku dengan erat tanpa mengeluarkan kata apapun.


Aurora dan Evelyn akan mengawasiku. Jika kau macam-macam, mereka akan mencekikku.


Apakah ini nasibku yang didekati oleh banyak gadis?


Sepertinya iya. Aku harus waspada mulai detik ini.


[*^*]


Jam 10:05, Aku, Akishima, Aurora, dan Evelyn sudah sampai di kantin. Kami memesan yang cukup lezat bagi lidah kami. Aku bernafas lega karena aku sudah diberikan ₽ 75.000 per bulan dari Pak Stephan. Begitu juga dengan siswa lainnya.


Meskipun begitu, aku harus mengisi kartu kreditku agar kartu milikku bisa berjalan dengan mulus. Jika saja aku mentraktir mereka, uangku akan habis di pertengahan bulan dan aku mencari pekerjaan sampingan untuk memperoleh uang saku tambahan.


Setelah membeli makanan, kami segera menuju ke tempat duduk yang kosong. Terdapat 4-10 kursi setiap meja. Jadi total kursi yang ada di kantin menjadi 216 atau 6 pangkat kubik.


Tak lama kemudian, Sheeran muncul secara tiba-tiba dan langsung mendekatiku. Akishima masih terdiam dan lengket di sisiku. Sheeran menyapa, “Hai! Sayang! Apa kabar? Kamu sedang apa?” Sambil merayuku.


Akishima terdiam dengan itu dan menatap Sheeran dengan tajam. Aurora dan Evelyn makan makanan khas Inggris sambil bermain handphone. Sheeran dan Akishima masih berselisih untuk merebutku.


Ini keseharian yang cukup melelahkan.


Setelah makan, kami segera untuk membubarkan diri. Sheeran kembali ke kelasnya dan segera mengerjakan tugas Soshum. Akishima mengajakku ke taman sambil mengobrol sesuatu. Aurora dan Evelyn segera menuju ke perpustakaan untuk mencari referensi agar mereka bisa menyelesaikan pekerjaan akademi mereka.


Pekerjaan akademiku sudah selesai lebih dahulu sebelum jam pelajaran berakhir. Jika seorang guru memberikan tugas padaku, aku langsung menyelesaikan dengan cepat dan lengkap agar aku bisa memiliki waktu luang.


Jika mereka mengetahui aku sudah menyelesaikan tugas, mereka akan memaksaku untuk membantu mereka. Jika ditambah dengan Nina, aku akan kewalahan.


Jam 10;20, aku dan Akishima bersantai di taman sambil melihat pemandangan taman di akademi. Dia menggenggam tanganku seperti pasangan. Aku menggunakan “Arctic Warfare : Camouflage” bersama Akishima agar keberadaan kami tidak diketahui oleh Klub Pangeran atau Klub Militer.

__ADS_1


Dia merasa nyaman berada di sisiku, menyandarkan kepalanya di pundakku karena hanya kau yang bisa mengerti tentang Akishima. Ia memang gadis yang baik. Gadis yang disakiti oleh temannya sendiri.


Aku berharap Akishima akan menggangguku lagi.


Pada saat ketenangan itu, Akishima mulai berbicara, “Rivandy. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”


Aku menjawab, “Iya. Apa itu?” Memandangi taman yang indah.


Akishima menjawab, “Aku takut. Aku takut kalau mereka akan mengkhianatiku suatu saat nanti."


“Hm?” Aku bingung dengan pertanyaan itu.


“Aurora, Evelyn, Hammer, Denis, Sheeran, Saphine, dan … Zhukov.” Akishima memanggil nama mereka yang ditakutkan akan mengkhianatinya suatu saat.


“Aku khawatir mereka akan memperlakukanku kedua kalinya,” lanjutnya dengan perasaan cemasnya.


“Bukan berarti aku tidak menyebutmu pengkhianat,” lirihnya dengan perasaan tsunderenya.


Aku yang duduk segera mengajak Akishima berdiri dan menonaktifkan kemampuanku. Aku mengajaknya ke tempat pancuran di tengah taman. Setelah sampai disana, aku berhadapan dengan Akishima dan segera menyampaikan sesuatu padanya.


“Kalau mereka berkhianat dan melakukan sesuatu padamu, panggil aku dengan peluit ini! Aku akan datang kemari,” tekadku memberikan peluit kecil yang berstiker Cartoon Network kepada Akishima.


“Saat aku datang kepadamu, kau boleh melampiaskan kemarahanmu padaku. Kau boleh menamparku, memukulku, menusukku, dan membunuhku. Kau juga boleh memaksaku untuk tinggal bersamamu sampai akhir hayat nanti,” lanjutku dengan tatapan serius.


Akishima sangat tersentuh dengan itu. Ia tidak perlu menderita lagi. Matanya menjadi bercahaya sebagai tanda kasih sayang itu. ia ingin sekali menikah denganku setelah lulus nanti.


“Rivandy. Bolehkah …. aku ...,” ucapnya terbata-bata sambil menahan wajahnya yang memerah.


“Tentu saja boleh,” jawabku sambil berpegangan tangan dengan Akishima.


Aku dan Akishima sedang mendekatkan kepala kami. Kami segera melakukan mendekatkan bibir kami. Kemudian, kami mencium bibir kami secara bersamaan agar menimbulkan percikan cinta yang ada di hati kami.


"Kya! Ada Pangeran!" Seru seorang siswi yang melihatku mencium Akishima.


"Mana?" Tanya siswi lainnya yang tiba di taman.


"Itu dia! Kejar!" Seru siswi yang melihatku mencium Akishima.


Kami ketahuan oleh siswi dari Klub Pangeran karena kami mencium di tengah taman dekat pancuran. Aku melihat 10 gadis yang bersiap untuk menangkapku. Aku berbalik badan dan menoleh ke Akishima untuk mengajak kami untuk kabur.


"Akishima! Waktunya pergi! Mereka akan mengejar kami. Jadi, bersiaplah!" Aku mengajak Akishima untuk kabur dari kejaran.


Akishima mengangguk mengerti dan segera mengenakan mode barunya.


"Kalau begitu, kita akan kabur bersama," balas Akishima sambil tersenyum.


"Power Ranger : Berubah!"


Akishima melakukan transformasi menjadi Power Ranger. Seragam sudah ku amankan dan berjanji akan menjaganya agar tidak diambil orang lain.


Kami kabur menuju ke koridor dan anggota Klub Pangeran melakukan tembakan. Akishima membalas tembakan itu dan membuat peluang untuk ku kabur. Namun, aku memutuskan lari bersamanya.


Jam 10:29, kami sedang berlari menuju ke tempat yang kami tidak ketahui. Mereka mengejar kami sambil melakukan tembakan. Akishima membalas tembakan itu dengan snipenya. Aku hanya fokus berlari sambil menggiring Akishima menuju arahku.


Karena bel akademi berbunyi, anggota Klub Pangeran membubarkan diri dan kembali ke kelas.


Kami bernafas lega karena pengejaran ini sudah berakhir. Aku mengembalikan seragam akademi berbau bunga Sakura kepada Akishima. Akishima senang sekali dan segera ke kelas.

__ADS_1


Sebelum ke kelas. Ia mendekatkan kepalanya ke kepalaku dan berkata, "Aku mencintaimu, Rivandy," sambil mencium bibirku.


Aku yang membalas ciuman Akishima menahan agar tubuhku tidak memanas. Walaupun ini sangat hangat, bukan berarti aku bisa melakukan tingkat yang lebih tinggi kepada Akishima. Aku perlu membutuhkan 3 tahun agar aku bisa bebas dari mimpi buruk dan trauma.


Aku harap aku tidak mengecewakan Cherry-neesan.


[^*^]


Jam 15:12, Aurora, Evelyn,.Denis, Hammer, Zhukov, Sheeran, dan Saphine berkumpul di gerbang menunggu aku dan Akishima untuk pulang bersama.


Tak lama kemudian, aku dan Akishima muncul juga. Kami saling berpelukan dengan romantis, sehingga membuat Sheeran menjadi iri hati.


"Tunggu, apa yang kalian lakukan? Kami sudah menunggumu, lho," omel Sheeran kepada Akishima yang sedang berpelukan padaku.


"Dasar Akishima. Dia selalu menempel pada Rivandy," gumam Zhukov sambil tersenyum.


"Zhukov! Bolehkah aku peluk Ri-chan?" Tanya Denis dengan mata berbinar-binar.


"Tidak boleh. Aku akan menembak kalian jika kalian memeluk Rivandy," larang Zhukov membusungkan dadanya.


"Ayolah! Biarkan aku memeluk Ri-chan!"


"Aku juga!" Lanjut Hammer mendekati Zhukov.


"Tidak boleh!" Tegas Zhukov.


"Zhukov jahat!" Denis menahan tangisannya.


Zhukov tertawa dengan banyolan itu. Saphine juga. Ia menjawab, "Ayolah! Zhukov hanya bercanda, kok."


Akishima yang mendekati Sheeran melakukan pukulan dua hari kepada dahi Sheeran. Setelah itu, ia berucap, "Kau tidak akan mendapatkan Rivandy karena dia sudah menjadi milikku," dengan nada sombong.


"Aku sudah menciumnya. Jadi, aku yang mengambil yang pertama," lanjutnya sambil berjalan pulang melepas pelukanku.


Sheeran sangat marah dengan direbutnya "Sayang." Ia membalas, "Aku akan membalasmu, Janda!"


Akishima yang mendengar itu segera terpancing dan mengoceh, "Hadapi aku kalau bisa, Dasar Mesum!"


Akhirnya Sheeran dan Akishima berantem untuk merebutku. Mereka mengeluarkan kata pedas mereka sambil melancarkan aksi mereka untuk memberikan perhatian padaku.


Aurora yang melihatku direbut mulai berbicara, "Berkelahi saja terus. Aku akan merebut Rivandy setelah kalian bertengkar," sambil berjalan pulang bersama yang lain.


"Aku akan menyerahkan keperawananku kepada Pangeran setelah 3 tahun, desu," lanjut Evelyn berpaling dari 2 gadis yang sedang bertengkar.


Aku hanya menepuk dahi melihat tingkah mereka. Aku menjawab, "Kalau kalian bertengkar begini, aku akan direbut oleh Klub Pangeran dan dibawa ke suatu tempat," menutup mataku.


Akhirnya,.mereka berempat mengomeliku dengan kata pedas mereka. Denis dan Hammer menjalankan aksi untuk merebutku. Situasi semakin memanas. 6 orang berdebat siapa yang menjadi pasanganku. Aku hanya menutup telingaku. Zhukov dan Saphine mendukungku dan melihat pertengkaran mereka yang manis.


Sebelum itu, aku bertanya, "Zhukov. Kau tidak sekolah dari hari yang lalu. Kenapa?"


Zhukov tersenyum mendengar itu. Ia menjawab, "Kau akan tahu jika kau menunggu selama setahun."


"Ayolah! Beritahu aku!" Desakku agak Zhukov membeberkannya.


Aku kesal dengan jawaban itu.


Yah ... setidaknya ini cukup menyenangkan.

__ADS_1


Aku punya banyak teman sekarang.


__ADS_2