
Keesokan harinya, Jam 07:00, aku dan Akishima berada di ranjang bersama. Aku merasakan tubuh Akishima yang seharum bunga Sakura. Aku tenang sekarang. membuka mata dan melihat dia yang lelah.
Pada saat bersamaan, Akishima membangunkanku. Kemudian, mandi dan segera mengenakan kaos miliknya. Ia mengenakan rok pendek warna coklat. Aku terdiam sambil mengenakan pakaian yang diberikan oleh Akishima.
Aku masih ketakutan. Mimpi buruk dan trauma masih membekas.
Tapi, ...
Setidaknya, Akishima berada di sampingku.
“Aku pergi dulu. Kalau mau sesuatu, katakan padaku! Aku akan memberikan sesuatu padamu,” pamit Akishima menoleh padaku dan di depan pintu kamarku.
Aku mengangguk di tempat tidur dengan perban di tubuhku. Aku tidak mengeluarkan suara setelah mengalami hal yang dramatis. Aku masih terdiam di ranjang dengan kaos yang dikenakan.
Dia meninggalkanku dan keluar dari apartemenku. Aku terdiam dan menetap di kamar seperti Evelyn pada saat itu. Aku merasakan hal yang sama dengannya, yaitu ketakutan akan mimpi buruk dan trauma.
Ini semua salahku. Aku yang membuat Evelyn pergi dari Moskow.
[*^*]
Pada jam 08:01, sebuah trotoar pertigaan ramai karena hari libur di kota Moskow. Banyak.penduduk Moskow menghabiskan waktu mereka di musim semi. Para pelajar pada umumnya, terutama siswa dan siswi akademi bersantai di rumah atau pergi ke taman untuk melupakan semua pekerjaan mereka.
Dua menit kemudian, ada 2 remaja membawa kue kecil yang tidak beraturan. Karena suatu insiden, kue itu tidak simetris
Tak lama kemudian, Aurora dan Zhukov datang kemari dengan kondisi baik-baik saja. Saphine menghampiri mereka yang kebetulan lewat. Jadi, mereka berkerumunan karena suatu alasan.
“Eh? Kebetulan kita berkumpul disini,” sahut Saphine menoleh pada mereka sesaat.
"Iya. Aku dipanggil Akishima," sambung Zhukov singkat.
“Aku juga," lanjut Hammer.
Di tengah perbincangan, seorang gadis yang menghampiri mereka. Dia dengan kaos luas dan rok pendek miliknya. Langkah kakinya membuat mereka menoleh pada seorang gadis itu.
Mereka melihat Akishima berjalan mendekati mereka. Mereka memberi perhatian pada Akishima dan segera memanggil namanya untuk mendiskusikan sesuatu.
“Akishima!” Panggil mereka tidak heran pada Akishima.
Akishima mendekati mereka. Lalu, menghentikan langkahnya. Kemudian, ia menangis kesakitan seperti anak kecil. Mereka menjadi heran dengan sikap kekanak-kanakan seperti itu. Semuanya heran dengan tingkah laku Akishima seperti anak kecil
“Akishima. Ada apa denganmu?” Tanya Aurora melihat Akishima menangis.
“Sakit!” Jawab Akishima menjerit kesakitan sambil menangis.
“Kenapa kamu mengeluh kesakitan?” Tanya Saphine bertambah bingung.
“Tusukan Rivandy sangat menyakitkan! Aku tidak akan tahan dengan luka di dadaku.Chopper saja tidak bisa mengobatiku. Jadi, aku tahan luka itu sampai selesai,” lanjutnya membuat tangisan itu semakin keras.
Mereka ingin menepuk dahi mereka. Tidak perlu meladeni anak kecil seperti Akishima. Saphine menghela nafas karena Akishima masih belum berubah. Aurora ingin sekali mengejeknya. Namun, ia mengurungkan niat itu demi Akishima.
“Sudah kuduga. Kau memang sok kuat. Namun, pada akhirnya, kamu cengeng juga,” ejek Zhukov dengan senyuman kecut.
“Kau memang mengejekku!” Rengek Akishima memegang bahu Zhukov.
“Tidak! Ini memang kenyataan,” ucap Zhukov membuat Akishima menggerutu.
“Kalian berdua. Bagaimana dengan kuenya?” Tanya Saphine beralih ke Denis dan Hammer.
“Agak sedikit gosong. Aku ingin memperbaikinya. Tapi, sudah terlambat. Aku akan diomeli oleh Cherry jika dia mencicipi kue ku,” jawab Denis mengesampingkan dengan kakaknya.
“Tapi, kami menjatuhkannya di trotoar. Jadi, kuenya berantakan seperti ini,” cerita Hammer tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Dasar ceroboh! Kalian akan membuat Rivandy sedih,” omel Saphine menggembungkan pipinya.
“Maaf. Hehehe.” Denis dan Hammer mulai cengengesan.
“Oh iya. Aku ingin bertanya. Dimana Gadis Cabul itu?” Tanya Akishima merujuk kepada Sheeran.
“Sheeran?!” Mereka semua memikirkan Sheeran.
“Aku sudah menghubungi dan mengirim pesan ke Telegram. Namun, dia tidak menjawabku sekalipun,” jawab Aurora dengan jujur.
“Tch! Disaat Rivandy sedang bermasalah apa yang ia lakukan?“ Keluh Akishima pada Sheeran yang sedang tidak ada.
“Ayo! Kita jenguk Rivandy!” Ajak Zhukov pada remaja yang berkerumun.
Mereka menerimanya dengan baik dan menuju ke apartemenku. Akishima berjalan di sisi Aurora dan membuat rencana agar aku bisa datang kembali.
Mereka akan membuat kejutan padaku walaupun ini masih belum cukup. Hanya ini yang mereka lakukan.
__ADS_1
[*^*]
Jam 12:00, aku masih terdiam di ranjang sepanjang hari. Tidak keluar dari kamarku. Aku ingin tetap disini. Aku sudah paham apa Evelyn rasakan. Ia pernah mengurung diri di kamarku sepanjang hari. Aku tidur seranjang dengan Aurora Aku bahkan melakukan ciuman dan meraba tubuh satu sama lain.
Ini membuat Evelyn tidak akan kembali lagi selamanya. Aku malah membuat keputusan yang salah. Aku juga masih lemah dengan otoritas dengan bangsawan sialan itu.
Aku harap … kehidupanku berakhir seperti Evelyn.
Namun, ada seorang gadis yang sedang menghampiriku. Dia membujukku untuk keluar dari kamarku.
"Ayo. Rivandy! Kita keluar!" Ajak Akishima memegang tanganku.
Aku masih ketakutan. Berusaha untuk menghindari pintu. Aku takut kalau mereka melihatku secara menyedihkan.
"Tidak apa-apa. Kalau aku berbohong, aku akan menjadi wanita yang hina untukmu," tekad Akishima ingin menjadi wanita yang kotor kalau ia mengkhianatiku.
"Hentikan! Aku tidak mau keluar! Aku tidak bisa. Mereka akan membenciku. Mereka tahu kalau aku pembunuh," larangku tidak membiarkanku keluar.
"Kau pasti bisa. Aku akan membantumu. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu," bujuk Akishima agar aku bisa tetap bersamanya.
"Jadi, ayo! Aku akan melindungimu!" Akishima melindungiku.
Aku merasa lebih tenang. Bukan berarti, aku bisa aman sepenuhnya. Masih ada ketakutan yang dirasakan. Aku masih takut dengan mereka. Mereka belum tahu apa yang aku derita selama ini.
Terpaksa aku mengikuti perintahnya. Aku tidak percaya dengan semua ini. Aku yakin … akan ditakuti dengan mimpi buruk dan trauma.
Kalau Akishima berkhianat, dia menanggalkan semua pakaiannya dan selalu menemaniku sampai akhir.
Kami keluar dari kamarku dan menunggu kedatangan mereka. Kami merasa seperti pasangan suami istri yang menunggu kedatangan tamu. Ini membuat ingatanku yang baru. Ingatan masa depan.
Ada ketukan pintu dari pintu apartemen. Ketukan itu terdengar di kepalaku. Ada seorang gadis yang sedang mendatangi kepadaku. Hanya saja, dia merasa kasihan padaku.
"Permisi," sapa seorang gadis membuka pintu
Gadis itu, Saphine Vera, menghampiri dan mendekati padaku. Dengan santainya duduk di depanku yang ketakutan Dengan senyumannya itu, membuatku tidak yakin ia akan menyakitiku.
Tak lama kemudian, 3.orang remaja membawa kado segera masuk. Sisanya, Aurora yang berada di sisi mereka. Dia santai duduk di sebelah Saphine. Denis dan Hammer duduk berhadapan dengan Saphine dan Aurora. Zhukov berhadapan denganku dan Akishima.
Ini membuatku bingung. Apakah mereka … akan melakukan hal yang menyakitkan atau tidak?
Aku tidak tahu. Aku akan tahu nantinya.
"Kami memberikan kue padamu. Aku belum tahu ulang tahunmu kapan. Tapi, ini perintah dari Zhukov. Tidak ada pilihan lain," lanjut Hammer.
"Hei. Rivandy. Kamu tahu? Kami ingin sekali membuatmu lebih baik. Hanya saja, aku ingin kamu sehat seperti biasanya dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Aku tidak bisa memberikan apapun padamu. Setidaknya aku datang kesini untuk menghiburmu," curhat Saphine mengenai harapannya padaku.
Aku semakin tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Ucapan itu membuatku tidak bisa berkata apapun.
"Tara!" Denis dan Hammer membuka hadiah yang berupa kue yang berantakan.
Aku bingung dengan penglihatanku sendiri. Aku merasa diberi kejutan dengan hasil kue yang berantakan. Aku kira ini sebuah kegagalan. Namun, ini menandakan sepertiku.
"Ini cukup berantakan, Ri-chan!" Denis memperingatkanku soal kue yang berantakan itu.
"Kuenya kena kecelakaan. Habisnya, aku membuatnya seperti ini," lanjut Hammer cengengesan.
Zhukov menghela nafas dengan kecerobohan mereka berdua. Aurora hanya tersenyum melihat tingkah laku mereka. Ia juga merasa kasihan padaku yang terpaku dengan kue.
Aku mencoba kue yang berantakan dengan mencicipi sebentar. Aku menggunakan pisau milikku untuk memotong dengan sekejap dan menggunakan pisau seperti garpu. Kemudian, memakannya.
Setelah mencicipi kue itu, aku merasakan kepahitan dalam mulutku. Mengingat semua kepahitan yang ku alami sebelumnya. Tidak ada pilihan lain. Aku mengungkapkan kejelekan dari kue ini.
"Ini … pahit. Ini sepahit kehidupanku," komentarku ingin mengalirkan air mata ke pipiku.
Mereka terharu dan kasihan padaku. Ini memang pahit. Tapi, ini memang pas untuk keadaan sepertiku.
Aku merasa takut kali ini. Ingin menghindar dari mereka. Namun, dicegat oleh Akishima. Dia tidak akan membiarkanku kabur kali ini. Aku menoleh pada mereka di tengah air mata yang akan mengalir keluar di mataku.
"Kenapa kalian melakukan sejauh ini? Padahal, aku hanya …." Aku mengungkapkan semua rasa takut yang kuderita.
*Rivandy. Kalau kamu tidak ada, aku tidak akan di sini sampai sekarang. Aku mungkin sudah dijual saat ini. Jadi, jangan salahkan dirimu!" Saphine menghiburku dengan mengingat kejadiannya.
"Kau yang mengingatkanku dengan harapan dan cita-citaku. Aku mungkin tidak menyadari bahwa aku menjadi gadis malam. Tapi, dengan kamu yang terluka, aku akan siap mengobatimu. Meskipun itu mustahil, aku akan melakukannya. Entah aku mampu menjadi dokter psikologi dan dokter umum, aku lakukan."
"Jadi, aku tidak ingin membuatmu sedih lagi," lanjut Saphine mengakuiku.
Aku tidak percaya apa yang aku telah lakukan. Aku memang membunuh. Tapi, itu untuk menyelamatkan Saphine dari pria belang itu. Aku tidak tahu sampai kapan aku terus begini.
Denis mulai bangkit dan mengaku. Ia akan menjelaskan semua perasaannya padaku.
__ADS_1
"Ri-chan. Aku tidak akan menjadi seperti ini karenamu. Aku tidak pernah tahu kapan ini terjadi. Karena kamu melukai dirimu sendiri, itu membuatku terbebas dari belenggu kejahatan. Jadi, jangan pikirkan kesalahanmu!"
"Kau yang membuatku seperti sekarang ini, Ri-chan!"
Aku semakin terkejut dengan perkataan Denis. Mereka tidak akan pernah melupakanku. Aku justru melupakan mereka dan mengingat semua mimpi buruk itu.
"Eh?!"
"Itu benar, Ri-chan! Aku tidak pernah menyadari bahwa kamu menolongku. Kau rela membersihkan semua apartemen dan mencariku. Lalu, kamu membunuh semua orang jahat yang mengejarku. Kau rela terluka karena aku."
"Jadi, aku kesini untuk membalas budi padamu."
Hammer juga. Keberadaanku belum tentu sia-sia. Aku tidak sadar dengan semua ini. Kenapa mereka melakukan ini untukku? Padahal, aku takut kalau ini terulang lagi.
"Rivandy. Jangan pikirkan bangsawan lagi! Aku saja sudah cukup. Aku sangat takut saat itu. Aku menghancurkan beberapa perabotan rumah untuk melampiaskan amarahku. Aku pikir semua lelaki itu sama saja. Aku tidak tahu kenapa aku menjadi seperti ini dan berakhir dengan kegelapan yang aku alami "
"Aku sadar. Kamu membuatku percaya lagi. Aku membuatmu terluka. Aku tidak sadar saat itu. Namun, kamu membuatku mendapat kesempatan kedua. Kesempatan kedua untuk saling mencintai. Karena itu, aku jadi terlalu protektif dan tidak mengetahui perasaanmu yang penuh luka itu."
"Sekali lagi, terima kasih. Kau sudah membuatnya terluka dengan perbuatanmu. Dia pasti akan mati."
"Jadi, aku ingin membalas kebaikanmu. Aku akan melindungimu. Aku tidak akan membuatmu terluka lagi.*
Aku tidak tahu. Aurora juga. Mereka tidak peduli denganku yang ketakutan dan menyeramkan. Mereka tidak peduli aku membunuh mereka dengan sadis. Mereka hanya peduli apa yang aku lakukan sebelumnya.
"Rivandy. Lihat apa yang kau lakukan! Kau sudah membuat mereka berkumpul. Kau hanya tidak sadar dengan perbuatanmu. Kau hanya perlu melakukan apa yang kau lakukan. Aku bahkan, tidak percaya kamu melakukan luka dan penderitaan yang kau hadapi."
"Jadi, jangan berpikir tentang masa lalumu! Kau sudah berada di hadapan kami. Mereka disini untukmu! Jangan berpikir kami datang kesini untuk menyakitimu!"
"Aku akan melindungimu sampai kamu menjadi lebih kuat. Setelah itu, kita akan bertarung bersama dan mencapai keberhasilan kita, yaitu lulus."
"Kita akan capai ini bersama. Setelah lulus, kita akan bekerja dan mengadakan reuni lagi. Ini akan menjadi kenangan untuk kita semua. Yang ada disini akan menjadi memori yang bagus. Memori untuk menggantikan masa lalu yang kelam itu "
Aku menjadi ingat dengan kehangatan itu. Aku tidak sadar dengan kehidupan sebelumnya. Aku hanya sibuk meratapi masa lalu yang sangat kelam dan penuh kebencian. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku saat ini.
Rasanya ingin menangis. Tapi, aku ingin menangis di pangkuan Akishima. Sebab itulah yang membuatku ingin mengalirkan air mataku.
Setelah mereka menghiburku, satu persatu dari mereka menghilang. Mereka harus bekerja sampingan di cafe. Saphine harus belanja di super bersama dengan Aurora.
Aku dan Akishima pergi ke kamar dan berpelukan. Aku mulai mengucurkan air mataku seperti kemarin. Aku ingin kembali. Aku ingin aku diberi kesempatan lagi.
Aku ingin kembali bersama mereka..
Tapi, aku takut ini terulang lagi. Aku membuat semua siswa dan siswi akademi yang ketakutan itu.
Aku ingin dipeluk dengan hangat dan mengucurkan air mataku.
Aku ingin mereka percaya padaku.
[*^*]
Sebuah ruangan di rumah sakit, beberapa pasien dirawat di rumah sakit. Para dokter segera merawat mereka yang dipenuhi ketakutan..
Namun, ada seorang pasien bergerak dengan aura kebenciannya. Dia bangkit dari tidurnya. Namun, dia sudah tidak bisa melakukan apapun lagi.
"Ada apa?" Tanya dokter melihat pasien yang meronta.
"Tidak tahu. Dia seperti ini barusan," jawab dokter lainnya panik.
Namun, ada sebuah suara yang seakan akan mengancamku. Dia bangkit dan berteriak. Para dokter terkejut dengan kondisi siswa yang penuh kebencian..
Richard, Elizabeth V, siswa akademi yang masih berpeluang untuk hidup. Walaupun sebentar, ia menyampaikan pesan setelah kekalahan dari seorang pembunuh bangsawan.
"Kau akan membayar ini semua!"
"Aku akan menghancurkanmu, Reinhardt Elizabeth V!"
Setelah pesan itu, tubuhnya tidak tergerak lagi. Para dokter kebingungan dengan pasien yang sudah sekarat. Para dokter tidak bisa menyembuhkannya. Proyektor kesehatan menunjukkan bahwa Richard sudah tewas. Aurora tidak bisa menyembuhkannya karena luka yang diterima Richard sudah parah.
Di tengah kepanikan itu, seorang melihat kematian murid akademi. Ia melaporkan sesuatu yang penting kepada Cherry. Dia mendapatkan laporan yang sama kepada siswa yang lainnya, sehingga menjadi sebuah keputusan.
"Lapor. Ini dokter. Aku melapor pada kepala sekolah akademi. Bahwa Richard Meleouse Elizabeth V, sudah tewas. Diulangi. Richard Meleouse Elizabeth V telah tewas."
"Baiklah. Kerja bagus dan kembali bekerja!" Keputusan Cherry disampaikan.
"Siap! Aku akan kembali dan identifikasi kasus kematian."
"Sepertinya. aku harus membuat laporan lagi.*
[Jumlah siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria Angkatan 2025 dari 255 orang menjadi 254 orang]
__ADS_1
[Jumlah siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria Angkatan 2023 dari 95 orang menjadi 93 orang]