
17 Desember 2025, jam 15:12, ada sekelompok orang yang bersembunyi di mansion. Mereka memulai operasinya untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Mereka menerobos pagar mansion dan terlihat oleh penjaga dengan mudah.
“Tangkap mereka!” Seru Penjaga mansion itu.
Beruang itu mencoba untuk menyerang penyusup itu.
“Jangan harap kau bisa hidup!” Remaja itu menyerang beruang penjaga itu dan membunuhnya dengan cepat. Para penjaga menembak remaja itu. Namun, remaja dengan aura psikopatnya, mengalahkan mereka dengan mudah.
Sementara remaja yang lainnya menyusup ke dalam mansion dan segera mencari seseorang. Mereka menemukan yang dicari dan membawanya keluar. Ini terdengar seperti perampokan. Mereka bisa leluasa merampok sementara Neesan masih berada di akademi.
Remaja yang membasmi penjaga itu meninggalkan mansion bersama remaja yang lainnya sambil menjaga sasaran dan mengarahkan tempat yang sangat dingin untuk membangunkan seseorang.
[*^*]
Aku bangun dari tidurku. Dengan suhu yang cukup dingin, aku terbangun terpaksa dan menyadarkan diri. Aku tidak bisa bergerak karena suhu dingin memaksaku untuk menyengat tubuhku agar aku melemah dan mati seketika.
Dingin! Apa Neesan membuka jendela lagi? Atau mitos mengenai buket bunga itu terjadi? Ini sudah terjadi. Terlambat untuk meminta maaf. Namun, ada seorang remaja yang memanggilku.
“Oi! Kau tidak bisa berdiam diri di tempat dingin itu,” panggilnya menyodorkan mantel hangat padaku.
Aku segera mengenakan mantel dengan cepat agar bisa bertahan di musim dingin. Tak lama kemudian, aku melihat ada tiga remaja yang sedang datang kemari. Eleva hanya mengenakan celana panjangnya, Spinx dan Zera mengenakan mantel dan syal milik mereka.
“Eh. Eleva? Spinx? Zera? Kenapa kalian disini?” Tanyaku sudah mengenakan mantel itu.
“Aku akan menggantikan Nona untuk menjengukmu. Dia terkena hukuman,” jelas Spinx.
“Mereka tidak becus,” lanjut Zera merujuk pada Sinta, Diana, dan Nina.
“Oi! Heta Yarou! Kalau aku tidak datang, kau pasti diperbudak oleh kakakmu,” sindir Eleva dengan tatapan sinisnya.
“Bukankah aku berada di ranjang?” Tanyaku bingung dengan lingkungan di sekitarku.
“Ceritanya panjang. Eleva-kun dan Zera-kun datang kemari untuk membawamu ke suatu tempat,” jelas Spinx antusias.
“Kau akan tahu nantinya,” lanjut Zera singkat.
“Ok. Kita akan kemana?” Tanyaku mendengar penjelasan mereka.
Zera berjalan sebentar dan tertuju pada pandangan yang lurus di tengah suhu dingin ini. Ia berhenti dan berpinta, “Ikuti aku!"
"Kau akan tahu nantinya," lanjutnya.
“Zera! Megane! Pastikan dia baik-baik saja,” lanjutnya bergerak ke tempat tanpa mengenakan baju.
“Aye! Aye! Captain!” Zera dan Spinx segera melaksanakan perintahnya.
Akhirnya, aku dibawa oleh ketiga remaja itu dan melewati hamparan musim dingin yang cukup menyiksa. Zera dan Spinx tidak membiarkanku kedinginan dan bertahan dari cuaca dingin. Mereka menyiapkan benda yang hangat agar aku tetap hidup.
Tak lama kemudian, Eleva menghentikan langkahnya di tengah perjalanan. Melihat dengan sesaat dengan sebuah bangunan yang cukup jauh dari hadapannya. Zera dan Spinx baru mengetahui tempat itu. Baru pertama kalinya mereka melihat tempat yang seperti ini.
“Ada apa, Eleva-kun?”
“Kita sudah sampai,” jawab Eleva memasuki tempat itu.
Aku hanya terdiam lalu bergerak bersama Spinx dan Zera. Mereka mengantarkanku untuk ke sebuah ruangan yang merasa asing bagi kami. Mereka tidak mau membiarkanku untuk tersungkur di atas salju.
Saat kami memasuki tempat itu, kami melihat alat olahraga yang tersebar dan tersusun rapi. Mulai dari Alat Kebugaran, Meja Foosball, Mesin Basket, Permainan Biliar, Virtual Memanah, Tournament Simulator, Virtual Game, dan Virtual Catur Hexagon.
Bahkan, ada Dota 2 Online, Virtual League of Legends, Counter Strike : Global Offensive Online, Apex Online, Fortress Arena, Rainbow Six Siege, Battlefield 7, Call of Duty : Advanced Warfare, dan Battle Fortnite.
Tempat ini cukup hangat bagi keempat remaja itu. Tidak ada yang berpikir ada tempat yang artistik dan hangat di tengah musim dingin dan ukuran bangunan yang kecil itu.
“Eleva-kun. Apa ini? Tempat ini sangat hangat,” puji Spinx dengan antusias.
“Tempat ini kutemukan saat aku kabur dari gadis mesum. Awalnya tempat ini adalah rongsokan. Jadi, aku memperbaikinya,” jelasnya sambil memandang sekitar ruangan yang luas itu.
“Nice Place, Eleva,” lanjut Zera memuji Eleva.
“Heh! Itu hanya kebetulan saja,” sanggah Eleva berpaling dari Zera.
“Tempat ini … cukup hangat. Ini. Aku kembalikan pakaianmu,” lontarku memberikan sesuatu pada Eleva.
“Terserah,” terima Eleva mengambil dengan keras.
“Oi! Aku ingin mengumumkan sesuatu,”
__ADS_1
“Hari ini … kita akan bersenang-senang disini! Tugas semester telah berakhir. Aku sudah stres dengan ujian yang melelahkan itu. Waktunya bersenang-senang! Kita tidak akan memikirkan tugas lagi!”
“Aa. Aku tidak sabar menantikannya. Bolehkah aku mencoba Virtual Battle Online?” Tanya Spinx merasa semangat dengan pengumuman Eleva barusan.
“Itu namanya Tournament Simulator!” Cocor Eleva.
“Aku ingin juga,” lanjut Zera.
“Silahkan! Kalian boleh disini sepuasnya,” terima Eleva sambil mengangkat bahunya.
Spinx dan Eleva segera bergerak ke ruangan Tournament Simulator yang ia mainkan. Aku hanya terdiam dengan sikap mereka seperti anak kecil.
“Kau! Karena kau disini, aku akan melatihmu dengan keras,” panggil Eleva sambil mencari sesuatu.
Aku terdiam dengan pakaian yang hangat. Ini lebih baik daripada mansion milik Neesan. Aku menunggu sambil melihat di sekitar. Banyak ruangan yang modern dan mewah di penglihatanku. Aku tidak tahu Eleva adalah orang konstruktor yang baik.
“Kita akan main Biliar. Kalau kau kalah, kau harus mentraktirku makan yang enak. Kau adalah juara Lomba Memasak,” tantang Eleva dengan senyuman tantangannya.
“Umu,” terimaku sambil mengangguk pelan.
Akhirnya kami main Biliar. Eleva membidik bola putih dan mengenai bola bernomor dengan keras. Setelah itu, bola itu mengenai lubang untuk mendapatkan poin. Ketika Eleva membiarkan bola putihnya masuk ke lubang, ini saatnya aku menunjukkan kemampuanku.
Dengan kemampuan matematika tingkat sulit dan kompleks yang hanya diajarkan pada murid magister, aku bisa memprediksi dan arah yang tepat. Garis-garis yang memungkinkan untuk masuk ke lubang.
Aku melakukan hal yang sama pada bola nomor 3, 7, dan 11. Eleva terkesima dengan kemampuan biliar. Tidak menyangka aku bisa melakukan hal itu Permainan pun berakhir. Eleva kalah telak. Eleva sangat senang dengan kekalahan itu.
[Eleva vs Rivandy]
[6 vs 9]
“Aku menang. Dengan kecepatan bola dan garis yang tepat, aku bisa menang dengan mudah,” jelasku.
“Aku tidak berpikir kau memang bisa melakukannya. Pangeran payah sepertimu bisa melakukan lebih baik daripadaku,” puji Eleva sekaligus menghinaku.
“Aku harap begitu,” balasku dengan anggukan.
“Aku harap kau bisa bermain basket. Ayo!” Ajak Eleva mengajakku ke Mesin Basket.
Aku menerima ajakan dan segera bermain bersama Eleva. Kam melemparkan bola dengan cepat. Aku berusaha keras untuk mendapatkan skor yang sama dengan Eleva. Aku tidak mau membuat Eleva marah karena aku payah dalam olahraga. Tapi, aku bertekad untuk membuat permainan ini seri.
Sementara itu, Spinx dan Zera sedang bertarung dengan musuh yang kuat. Mereka menghindari serangan musuh yang cukup tangguh bagi mereka. Mereka cukup terbebani dengan arah serangan musuh yang acak-acakan itu. Soalnya, mereka melawan Paladin Integrity.
“Pistol Laser : Twin Electro!”
Jurus yang mereka lancarkan membuat Paladin itu terkalahkan dengan HP 0%. Ia tersungkur dengan teknik yang dilatih mereka berdua. Mereka keluar dari permainan dan merasa bahagia karena bisa mengalahkan musuh yang sangat sulit.
“Kamu memang bisa diandalkan, Zera-kun. Lawan tingkat Insane berhasil kita kalahkan,” puji Spinx melihat skor yang terpampang di hadapannya.
“Ini berkat Rivandy,” balas Zera menembak musuhnya.
“Wah! apa yang Rivandy-dono lakukan padamu?” Respon Spinx dengan cepat mengenai tentangku.
“Rahasia,” jawab Zera pergi meninggalkan ruangan itu.
“Eh?! Jangan rahasia, Zera-kun,” sanggah Spinx menoleh pada Zera.
“Aku ingin tahu apa yang Rivandy-dono lakukan,” lanjut Spinx mendekati Zera.
“Tanya saja pada Rivandy,” lanjut Zera.
“Umu.” Spinx hanya mengangguk pelan.
[*^*]
Jam 19:15, kami sudah bermain dengan banyak permainan zaman modern. Ini sungguh menyenangkan karena permainan yang kami mainkan berdasarkan asas senang-senang, bukan kompetisi.
Mulai permainan Golf Online, Tournament Simulator 4 Group, Apex Legend Online Squad, Call of Duty : Advanced Warfare, dan lainnya. Kami puas dengan momen ini. Ini cukup berbeda dengan sekumpulan gadis yang berada di sampingku. Ini seperti persahabatan bagai kepompong.
Kami bersantai di sebuah sofa berbentuk lingkaran. Eleva sedang mengambil makanan dan segera menampilkan TV agar bisa menonton Liga Champions. Aku, Zera dan Spinx berbaring di sofa berbentuk lingkaran.
“Spinx. Zera. Aku ingin bertanya.” Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan.
“Apapun untuk Rivandy-dono saya lakukan,”tekad Spinx.
“Silahkan!” Lanjut Zera.
__ADS_1
“Kenapa kalian datang menjengukku? Bukankah seharusnya gadis lain yang menjengukku,” tanyaku dengan kejanggalan itu.
“Soal itu, Nona Claveriska bertingkah aneh. Dia selalu melindungi diri dariku dan kedua kakakku. Dia selalu memegang roknya dan menutupinya,” jelasnya mengenai tingkah laku Nona Claveriska yang aneh.
“Mereka tidak becus,” jawab Zera singkat membahas ketiga gadis itu.
“Mereka menjadi gadis cabul,‘ jelas Zera mengingat tingkah mesum ketiga gadis itu.
“Aku membenci itu,” lanjutnya menatap langit dengan jijik.
“Makanya, aku datang kesini,” tambahnya dengan alasan yang jelas.
“Seperti itu. Aku pikir mereka datang kemari untuk membunuhku. Mereka mengirimkan buket bunga dalam jumlah genap. Jadi, aku merasa cemas sampai saat ini,” curhatku pada mereka.
“Jangan khawatir! Dia bukan seperti itu. Dia hanya tidak belajar mengenai Rusia,” nasehat Spinx.
“Aku disini untukmu,” lanjut Zera menyemangatiku.
Aku merasa lega dengan mereka. Meskipun mereka remaja yang jarang tersenyum membuatku merasa tenang dan tentram. ini pertama kalinya aku berteman dengan laki-laki. Padahal, aku selalu didekati oleh semua perempuan. Dua sahabat saja sudah cukup.
Saat momen itu terjadi, Eleva membawa banyak camilan. Ia membawa keripik dan soda agar bisa menonton Liga Champions. Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan untuk bersenang-senang. Yang pasti, ini akan menyenangkan.
“Oi! Aku membawa Coca-Cola dan Pringles, nih,” panggil Eleva.
“Coca-Cola!” Seru Spinx segera menghampiri Eleva dan mengambil Coca-Cola.
“Aku mau,” lanjut Zera.
“Rivandy!” Panggil Zera melemparkan Coca-Cola padaku.
Aku mengambilnya dengan baik dan segera bangun dari sofa. Kami berkumpul di sofa sambil membawa makanan. Aku sudah mengubahnya menjadi Rectangle, jadi kami bisa berbaring saat lelah.
“Kita nonton apa?” Tanya Zera.
“Kita nonton liga Champion.Babak 16 besar, Manchester United vs Inter Milan,” jawab Eleva memperlihatkan jadwal hari ini.
“Bukannya itu sudah lewat? Hari ini PSG vs Ajax,” tanya Spinx melihat jadwal liga Champions.
“Jangan khawatir! Aku sudah merekamnya,” jelas Eleva memegang bendanya.
“Aku ingin melihat permainan yang dimainkan oleh Meka,” tekad Eleva mengagumi Meka.
“Uwo! Bukankah itu Meka Kuder? Pemain bintang Manchester United?” Tanya Spinx dengan mata berbinar-binar.
“Aku sangat menyukainya,” tambah Zera.
“Meka? Aku baru tahu nama itu,” tanyaku mengenai topik sepak bola.
“Tch! Lebih baik kita segera menonton saja. Kau akan menyukainya.” Eleva memasukkan file ke TV dan segera menyalakan TV dengan sistem AI.
Eleva pun membuka channel Liga Champions dan memutar jadwal 16 Besar. Setelah itu, ia menekan pertandingan yang sudah selesai semenjak hari Rabu lalu.
“Ayo! Kita nonton saja,” ajak Eleva
Kami menonton bola di tempat yang luas. Eleva sudah mengatur barang ruangan sedemikian rupa agar kami menikmati tontonan itu. Kami menikmati tontonan bola dengan cemilan. Aku tidak terlalu ingin memasak karena ini musim dingin. Oleh karena itu, Eleva mengambil cemilan.
Kami mendukung Meka sebagai bintang pemain Manchester United. Meka mencetak gol dengan kesempatan yang cukup bagus untuk menyerang pertahanan Inter Milan.
Babak Kedua. Kami mendukung Meka dengan senang hati. Eleva dan Zera menyalakan terompet. Aku hanya menyimak diantara keributan itu.
Pada saat Meka mencetak gol lagi, mereka berteriak kencang karena kegembiraan. Aku hanya melihat mereka dengan mata kosong. Ingin sekali aku bahagia tapi tidak bisa. Aku tidak bisa tersenyum dengan mudah.
Pertandingan pun berakhir. Para pemain segera mengakhiri aktivitasnya setelah wasit meniup peluit. Mereka meninggalkan lapangan dan segera istirahat lagi.
[Liga Champion Babak 16 Besar]
[Man United vs Inter Milan]
[3 vs 0]
[Meka Kuder > 34, 67,81]
“Kita tidur dulu. Besok kita ke akademi,” usul Spinx berbaring di sofa dan tidur.
“Aku akan mengantarmu ke apartemen,” lanjut Eleva padaku.
__ADS_1
Aku, Zera, Spinx, dan Eleva membaringkan tubuh kami ke sofa bentuk Rectangle. Hari yang cukup menyenangkan setelah menjalani kehidupan stres dan melelahkan.
Hari indah bersama keempat sahabat yang baru.