
Pertarungan 7 gadis dengan Aurora masih berlanjut. Mereka sudah siap untuk menggilas Aurora. Masalahnya, Aurora sulit dilukai karena memiliki kelincahan yang di atas rata-rata. Akibatnya, mereka mengalami kesulitan untuk menargetkan Aurora.
“Ara-Ara. Black Rock Shooter itu susah ditembak,” komentar Akishima dengan wajah Oneesan Ara-Ara.
“Padahal, aku ingin menikmati tubuhnya lagi,” lanjut Sheeran dengan wajah mesum.
“Jangan pasang wajah itu di hadapanku! Itu menjijikkan!” Tegur Diana dengan tatapan sinis.
“Ara Ara. Padahal, kamu juga seperti itu,” komentar Nona Claveriska tidak akan kalah.
“Kamu sama saja,” lontar Diana mengejek Nona Claveriska.
“Tapi, kalau untuk tunanganku, tidak apa-apa,” lanjutnya dengan hati yang berbunga.
“Coba saja! Aku akan merebut Pangeran darimu dan kamu menjadi janda selamanya,” ejek Nona Claveriska dengan ejekan seorang Tuan Putri.
“Aku akan menebasmu,” lontar Diana mengarahkan senapannya ke Diana.
“Aku akan menembakmu,” tekad Nona Claveriska mengarahkan senapan ke Diana yang ingin menebas Nona Claveriska.
“Ara-Ara. Kalian tidak usah khawatir! Aku akan hamil untuk suamiku yang tercinta,” oceh Sheeran seakan-akan meremehkan.
“Kenapa kamu tidak menjanda sana?!” Kedua Ojou-sama menoleh ke Sheeran dan mencemoohnya.
“Ara-Ara. Dia pantas jadi janda,” lontar Akishima melanjutkan ejekan itu.
“Ara-Ara. Kenapa kamu membuka pakaianmu dan menjadi sampah?” Saran Sheeran membuat Akishima tersinggung.
“Ara-Ara. Aku akan menjualmu di pasar malam,” balas Akishima dengan tatapan mengerikan.
“Akulah yang akan membuatnya kecanduan dan menjadi milikku,” cetus Sheeran tidak membiarkan lawannya untuk merebut suaminya.
“Ara-Ara. Kalau begitu, dia akan menghisap cairanku dan menjadi milikku,” belas Akishima dengan memegang dadanya.
“Tidak secepat itu! Kalian akan dicampakkan oleh Pangeran dan dia menjadi milikku,” respon Nona Claveriska mengejek gadis lain.
“Kalian harus menjauh dari Suamiku sekarang juga,” ancam Diana dengan aura Oneesan Ara Ara yang menjadi-jadi.
Pertengkaran antara keempat Oneesan Ara Ara menjadi-jadi. Tidak ada yang bisa menghentikan mereka karena mereka sangat kuat. Di tengah pertengkaran itu, membuat Sinta semakin teralihkan dan mencoba untuk menarik perhatiannya.
“Kalian berdua. Jangan bertengkar! Aku punya ide. Kenapa Kita tidak menjadi Harem untuk Pangeran saja?” Saran Sinta yang membuat perkelahian semakin meredup.
“Ide yang bagus. Kita bisa menjadi Harem untuknya,” terima Akishima memegang wajahnya dengan gestur Oneesan Ara Ara.
“Oh. Asalkan dia sudah menjadi suamiku saja sudah cukup,” lanjut Sheeran menerima usulan dari Sinta.
“Tidak buruk. Aku akan membuatnya tunduk di hadapanku,” tegas Diana dengan semangat Oneesan Ara Ara bercampur dengan Ojou-sama.
“Aku akan membuatnya bahagia,” cetus Nona Claveriska dengan cinta yang semakin melebar.
“Sudah cukup komentarnya! Kita berhadapan dengan monster yang cukup menyulitkan disini,“ oceh Zaza menghentikan banyolan.
“Kalau kalian mati, sainganku berkurang. Kalian akan membuat Zera-kun menangis,” lanjut Furumi dengan senyuman jahatnya.
“Kumohon. Jangan lagi,” gumam Zaza ingin menangis.
Aurora bergerak maju dan menembak dengan cepat. Mereka bersiap untuk melakukan serangan kepada Aurora. Aurora mundur beberapa langkah sambil salto beruntun. Ia juga bergerak memutar dan menembak lawan dengan cepat.
Namun, ….
“Xiaomi Smartphone : Time Stop!”
Waktu terhenti dengan cepat. Ada seorang gadis yang menonton pertarungan yang menarik. Ia membawa sebuah ponselnya dan mengubah arah tembakan yang akan terjadi. Dia melihat ada anggotanya yang menjadi Oneesan Ara Ara. Chelsea membencinya dan segera membuat para Oneesan tertembak.
“Sudah! Aku ingin melihat mereka tertembak,”
“Xiaomi Smartphone : Time Move!”
__ADS_1
Waktu berjalan. Aurora merasakan peluru bius yang mengenainya, sehingga ia pingsan di mal. Para Oneesan Ara Ara tertembak dan gadis yang menembaknya merasa terkejut. Sinta tidak sengaja mendapatkan luka yang cukup parah.
Alhasil, Aurora tidak sadarkan diri dan segera tergeletak di lantai. Akishima, Nona Claveriska, Sheeran, dan Diana tiba-tiba merasakan tubuhnya memanas karena ada peluru yang memasuki tubuhnya.
Mereka terluka sekaligus mendesah. Alhasil, mereka tersungkur dengan tubuh mereka terangsang. Chelsea sudah memasang vibrator pada selangkang mereka di tengah tebakan, Ia juga merekam kejadian itu di smartphone miliknya.
Zaza, dan Furumi merasa terkejut karena merasa seperti ditusuk. Mereka terjatuh dan tidak sadarkan diri karena ada tusukan yang membuat obat penidur itu memasuki ke tubuh mereka.
Dengan itu, Chelsea segera keluar dari sini dan meninggalkan bukti berupa sebuah petunjuk agar mereka disalahkan atas kejadian pertempuran di mal. Ia mengirimkan bukti otomatis pada polisi agar semua gadis yang terlibat pertempuran akan dihukum atas kehancuran fasilitas umum.
“Sekarang, aku akan mencari Pangeran,” tekad Chelsea dengan tingkah centilnya.
[*^*]
Rin segera bergerak mengikuti jejak itu. Ia segera menghampiri pelarian yang ia lakukan. Ia juga meminta pada mereka untuk fokus lari. Namun, itu belum cukup karena kebanyakan Klub PMR tidak memiliki kekuatan untuk bertempur. Mereka hanya medis dan pendukung. Jadi, mereka berada di garis belakang.
Tak lama kemudian, ia berjalan menuju lorong. Menemukan sesuatu yang janggal dan melihat ada 2 gadis yang terkapar lemas dengan perjuangan yang tidak sia-sia. Ia segera menghampiri dan memeriksa tubuh mereka yang ditebas.
“Saphine. Wulan. Apa yang terjadi pada kalian? Dimana Rivandy?” Tanya Rin mengecek tubuh mereka.
Tidak ada yang menjawab. Mereka diisi dengan tebasan yang cukup keras. Rin merasakan luka yang cukup dalam di tubuh mereka yang cukup dalam. Rin juga melihat ada tusukan dari pedang Spartan.
“Siapa yang melakukan ini?”
“Tidak bisa dimaafkan. Akan kuhajar dia!”
Sementara itu, Filia-senpai membuat guncangan yang hebat di tubuhku. Dengan darah perawannya, membuatku tidak bisa berbuat apapun. Dia dengan hebatnya membuatku lebih hangat, sehingga suhu hangat itu membangunkanku.
“Ngh! Sen-Senpai?!” Tanyaku pada Fillia-senpai.
“Jangan khawatir, Pangeranku! Kalau aku hamil, kita akan kawin lari!” Cetus Fillia-senpai dengan mesumnya.
“Senpai. Apa … yang … kau … lakukan? Sakit sekali,” jawabku merasakan tubuhku digoyang olehnya.
Fillia-senpai tidak menjawab. Dia sibuk dengan penetrasi yang ia lakukan. Ia membuatku ingin berteriak kencang. Namun, tidak bisa. Aku merasakan nikmat di tubuhku. Mencoba untuk memberontak. Namun, aku merasa lebih ingin diperkosa.
Fillia-senpai mengeluarkan cairan padaku. Aku seperti remaja yang murahan. Merasa menyesal kepada Aurora. Dia akan menghajarku dengan kapaknya. Aku ingin seperti ini selamanya.
“Senpai. Aku tidak tahan lagi,” rintihku merasakan gunung Fillia-senpai.
“Mau lagi? Ok. Aku akan membawamu ke rumahku. Setelah itu, kita lakukan ini bersama,” terima Fillia-senpai dengan senyuman nakalnya.
Aku menerima itu dan berencana untuk membawaku ke rumahnya dan main ronde lagi. Aku merasakan aku ingin tambah karena aku merasa murahan. Aku ingin sekali mengakhiri hidupku dengan budak Fillia-aenpai.
“Manisnya. Kamu sama seperti Rival-kun. Dai memang dingin. Tapi, imut seperti beruang,” gumam Fillia-senpai mengingatkanku pada seseorang.
Fillia-senpai membawaku dan menggendongku agar bisa menguras cairanku lebih lanjut Aku sudah tidak tahan lagi. Apakah aku sudah gila? Aku ingin sekali meninggalkan dunia yang rapuh ini karena aku akan menjadi remaja yang murahan.
Kehidupanku akan berakhir sebagai budak untuk para gadis yang penuh cinta.
Pangeran Budak. Nama yang buruk bagiku
Maafkan aku, Aurora. Aku akan menjadi milik Filia-senpai.
[*^*]
Karena kekacauan yang terjadi pada mal, Neesan pergi menuju ke mal dan mengganti rugi kerusakan. Ia juga mencari siswi yang membuat kekacauan di mal. Jadi, dia harus menunda tugas dokumen PBB untuk sementara waktu.
Ia membawa semua siswa dan ditangkap selama 3 hari karena mereka membuat masyarakat semakin ketakutan akan perang yang terjadi. Ia meminta maaf sebesar-besarnya dan menjalankan pembersihan pada siswa akademi.
Ia akan beraksi sendiri.
“Alan. Tolong hukum mereka. Aku mengijinkan kamu memberi mereka hukuman. Aku akan melakukan pembersihan,” pamit Neesan sebelum pergi.
“Siap, Nona Cherry."
Neesan melakukan eksplorasi kepada lorong mal yang belum diperiksa. Merasakan hal yang buruk terjadi padaku. Ia juga pergi bersama Nina untuk mencari temannya. Nina akan membawa DIana dan Sinta kembali ke apartemen mereka.
__ADS_1
“Rivandy. Sepertinya, kamu harus berada di sampingku untuk sementara. Kamu membuat mereka tergila-gila,” gumam Neesan berjalan seperti artis model.
Saat Neesan berjalan mengitari mal, ia bertemu dengan Rin yang sedang melacak keberadaanku. Rin melihat Neesan segera berlari menuju Neesan dan memeluknya sambil menangis.
“Kouchou-Sensei!” Panggil Rin menangis sambil memeluk Neesan.
“Ara-Ara. Kamu kenapa, Menantuku?” Tanya Neesan membalas pelukan Rin dengan hangat.
Nina tertawa karena mendengar kata Mertua yang didengar dari telinganya. Ia tidak sadar bahwa Rin sudah mendapatkan restu dari Neesan sejak di mansion. Neesan melepaskan pelukan dan memberi ruang pada Rin untuk menceritakan sesuatu.
“Aduh! Ada yang merestui hubungan Rivandy nih,” batin Nina tertawa dalam hatinya.
“Oh. Begitu. Kalau begitu, kita harus mengejarnya,” usul Neesan untuk segera mencariku.
“Baik. Aku akan mencari dengan penciumanku. Ini akan menuju ke Rivandy,”
“Yosh! Waktunya pencarian Rivandy dimulai!” Nina bersemangat dengan pencarian itu.
Mereka pergi secara bersamaan. Mereka berlari dan mencariku di lorong yang berbeda. Mereka mengelilingi lorong mal yang sudah dibuka. Mereka juga menyapa dengan baik sambil melakukan pencarian pada masyarakat Moskow. Ini jauh lebih baik dan bijak daripada sebelumnya.
Di tengah perjalanan, mereka menemukan anak kecil yang menangis karena tersesat. Jadi, Nina menghampiri anak kecil yang sedang menangis itu dan segera memberikan perhatian yang baik padanya.
“Kamu kenapa anak kecil?” tanya Nina mengenai kondisi Evelyn yang tersesat.
“Aku tersesat, desu,” jawab Evelyn tidak bisa menemukanku dan Aurora.
“Kalau begitu, kami akan menemukan jalan keluar untukmu," cetus Nina dengan ramah tamah.
“Aku ingin mencari Papa. Tapi, tidak ada, desu,” jawab Evelyn menahan tangisannya.
“Ini fotonya, desu." Evelyn memperlihatlan foto kepada Nina.
Nina melihat foto yang disodorkan dari Evelyn. Sudah mengetahui sejak awal karena Evelyn sekelas denganku. Ia melihat fotoku yang membaca buku kecil. Nina memahami karena tujuan Evelyn sebenarnya adalah mencariku, bukan keluar dari mal. Dengan itu, Nina sudah siap dengan ide liciknya.
"Sudah kuduga," duga Nina dengan ide liciknya.
"Nak. Aku akan menemukan Papamu. Tapi, aku harus jadi Mamamu. Ok?" Bujuk Nina memperlakukan Evelyn sebagai anaknya.
"Tapi, Mamaku sedang hilang entah kemana, desu." Evelyn khawatir dengan Aurora yang sedang bertarung.
"Jangan khawatir! Aku akan menemukan Papamu. Nanti kita bisa hidup bahagia bersama Papa," bujuk Nina memeluk Evelyn.
"Mama. Maafkan aku. Aku punya Mama baru, desu," sesal Evelyn memeluk Nina sambil menangis.
Neesan dan Rin tertawa sedikit karena Nina memperlakukan Evelyn sebagai anaknya. Drama ibu anak membuat sedih sekaligus tertawa. Nina sudah menunjuk Evelyn untuk bergabung untuk mencariku. Rin melakukan pencarian dengan penciumannya dan mengajak para pencari lainnya untuk bergerak
Akhirnya, Evelyn bergabung dari pencarian itu dan melakukan pemburuan untuk membawaku pada Neesan. Mereka juga berlari di lorong agar mereka tidak terlambat untuk menemukanku. Mereka akan cemas kalau aku akan diperkosa lebih lanjut sampai aku kecanduan dan diperlakukan dengan murah. Ini sama seperti human trafficking tingkat orange.
[*^*]
Di tengah kumpulan gadis terkulai lemah, ada sekelompok polisi yang menghampiri mereka. Mereka mengambil para gadis itu satu persatu untuk mengikuti hukuman yang sesuai dengan prosedur Neesan. Mereka memborgol dan membawa mereka ke tahanan karena sudah merusak fasilitas mal meskipun tidak banyak.
Namun, mereka tidak melihat ada sosok yang melarikan diri. Sosok itu lari dari polisi karena ia memilih untuk menjaga perasaannya padaku. Ia sudah berjanji akan melindungiku dari ancaman yang akan datang untuk menghantuiku. Dia juga tidak membiarkanku untuk diperkosa oleh Oneesan Ara Ara.
Ia dengan kegelapan segera mencariku di luar penglihatan polisi untuk menjaga keamanan mal. Ia dengan cepat mengejar pemburu itu dan segera menghabisinya. Ia tidak bisa membiarkan musuh membawaku ke tempat sepi untuk diperkosa. Ia akan menghabisi mereka.
Karena ia adalah calon suamiku masa depan, Aurora Sentinel.
[*^*]
Fillia-senpai sudah berhadapan dengan 3 gadis yang menghalanginya. Mereka kesal dengan apa yang terjadi pada mereka yang menghalangi
"Tolong minggir sebentar! Aku ingin merasakan tubuh Pangeran ini," mohon Filia-Senpai pada tiga gadis yang menghalangi.
"Tidak boleh. Kamu harus menyerahkan nya pada kami," tolak Stephany.
"Aku akan mengobati luka hatinya," lanjut Aria.
__ADS_1
"Aku akan mengajakmu ke klub malam dan menikmati sebagai janda," sambung Millia.
"Kalau begitu, aku akan ladeni kalian. Kalah kalah, jangan menangis, yah!"