
Pertanyaan yang dilontarkan membuat mereka terdiam. Tidak hanya itu, mereka memikirkan jawaban agar tidak diketahui oleh Cherry yang mengakibatkan kegagalan.
"Untuk apa kalian menculik siswa itu di akademi?" Itu pertanyaan yang rumit.
Mereka harus menjawabnya namun tidak boleh membeberkan rahasia MSS. Namun, tidak dengan Li Yuan. Dia menjelaskan tujuannya secara terang-terangan.
"Jawabannya sudah jelas. Kami akan menggunakannya untuk membunuh Karma. Kami tidak punya Agen PBB Cina karena semuanya mati terbunuh. Jangan mengulangi perkataanku lagi!"
"Coba cari yang lain. Misalnya, Regen Rigelttia. Kalian boleh bekerja sama dengannya. Tidak hanya itu, kalian boleh meminta bantuan pada agen dari Kim Jong Un. Dia akan menerima kalian sepenuh hati."
"Tidak bisa. Kami tidak mau menjadi komunis hanya untuk membunuh Karma. Kita tidak mau para komunis itu ikut campur urusan kami."
"Bagaimana dengan Agen yang lainnya? Misalnya, di Jepang. Zaman sekarang, Jepang adalah negara yang maju."
"Tidak mau! Aku tidak suka Orang Jepang melakukan hal itu. Dia seenaknya menjajah negara kami dan menjadikan wanita Cina sebagai Jugun Lanfu."
[Jugun Lanfu adalah seorang wanita penghibur yang terlibat dalam pendudukan Jepang selama Perang Dunia 2. Istilah ini merujuk pada seorang wanita yang harus melayani tentara Jepang secara seksual]
"Kau tidak perlu membahas Perang Dunia 2. Itu melelahkan sekali." Cherry duduk tenang dan mengibaskan tangan kepada kepalanya.
Pertengkaran Cherry dengan Li Yuan masih berlangsung. Shao mulai mengambil cemilan dari tas yang ia bawa lalu makan dengan lahap. Sementara' itu, Yasuo mendengar para wanita rendahan saling berdebat.
"Pertengkaran wanita selalu panjang. Aku bosan sekali." Yasuo mengeluhkan perdebatan mulut itu.
Karena bosan, Yasuo mengambil tongkatnya dan memutar tingkat itu lalu menggunakan Jurus Angin Penenang agar kedua wanita itu terdiam. Mereka sudah terdiam. Hanya saja, Li Yuan kembali ngambek dan memalingkan muka.
"Hei! 妓女!Sudah cukup ocehan kalian! Terutama kau, Cherry!" Yasuo menunjuk Cherry dengan ancaman dan senyuman.
Cherry hanya diam, tidak melawan ataupun menyudutkan Yasuo. Diam adalah salah satu pilihan tebaik Cherry.
"Dengarkan aku! Kalau kau tidak memberikan nama padaku, aku akan memperkosamu." Yasuo memandang dua gunung kepala sekolah akademi dan berniat untuk meremas dada Cherry.
"Silahkan! Kau boleh masuk dan mengacaukan Turnamen Spyxtria. Tapi, kalau kau kalah, jangan pernah kembali ke sini lagi. Oke?" Cherry memberikan persetujuan yang tidak adil.
"Btw, lawan yang kalian hadapi bukan orang sembarangan. Bisa jadi, dia akan membunuh kalian. Kecuali wanita lugu sekaligus polos. Kau tidak bisa bertahan lama." Cherry menunjuk Li Yuan sebagai target selanjutnya.
"Kau tidak akan bisa melakukan seenakmu. Kami akan bersekutu dengan kenalan kami." Shao maju ke depan dan memberikan dorongan sambil makan keripik.
"Heh? Ada gendut yang ikut campur. Mei Dina dan Mei Lisa? Mereka tidak akan pernah bersekutu dengan mata-mata yang suka mencari keuntungan semata." Cherry menatap Shao santai.
"Sepakat. Aku akan mengacaukan Turnamen Spyxtria dan menjadi Ace Spyxtria. Kemudian, aku akan memperkosa mereka semua dan menjadikan mereka sebagai budak ****."
"Mata-mata seharusnya tidak melakukan hal sekeji itu. Kalian akan mendapatkan hukuman yang berat." Cherry mulai serius dengan persoalan budak ****.
"Sayang sekali. Aku berhasil kabur dan polisi tidak bisa melakukan apapun. Seorang pejabat membebaskan ku dari penjara karena aku memperkosa mereka. Jadi, aku hanya dipenjara selama 7 menit."
"Kau bisa jadi budak seksku ke 500. Itu pun kalau kau mau."
"Yasuo!" Teriakan Li Yuan membuat Yasuo bergeming.
"Iya, Iya, Nona Manis. Aku akan diam." Yasuo menjauhi Cherry dan membelakangi Li Yuan.
Mata-mata Cina memilih untuk memusuhi Cherry. Tidak seperti KGB dan BND yang bisa diajak kerja sama. Ia memiliki musuh yang tak terhindarkan.
Nafas Li Yuan terhembuskan. Keputusan MSS telah mutlak. Kali ini, mereka akan memusuhi Cherry dan mengacaukan Turnamen Spyxtria untuk mendapat nama lalu membunuh Karma.
"Kami akan pergi. Kami tidak pantas berada disini dengan para ****** disini."
__ADS_1
"Silahkan. Kalian boleh pergi. Kalian mengganggu pekerjaanku."
"Cukup sampai disini. Kami akan pergi dan mencarinya sendiri." Shao menghabiskan keripik dengan rakus dan membuang sampah ke lantai sebagai penghinaan.
Mereka bertiga meninggalkan ruangan Cherry dan mencari informasi itu sendiri. Sebelum itu, ucapan Cherry menghentikan mereka bertiga. Dia malah memberikan nama yang lain.
"Oh iya. Satu lagi, kalian akan berhadapan dengan Eleva, atau Zhukov."
MSS menghilangkan pandangan. Kecewa karena Cherry tidak memberikan nama kepada mereka. Meretas data akademi sudah tidak mungkin. Hanya satu cara yang tersisa, yaitu tanya kepada siswi Cina.
Kini, Cherry duduk santai sambil menunggu pekerjaan yang lain datang menghampirinya. Namun, ia berpikiran sesuatu. Sepertinya kurang, tapi penting sekali.
"Sekarang, aku harus bekerja. Mereka semuanya sudah. Tinggal CIA, Near."
[*^*]
Setelah pelajaran selesai pada kelas I Saintek D, Mei Dina dan Mei Lisa ingin ke kantin. Mereka membahas sesuatu mengenai suasana akademi di tengah perjalanan mereka.
"Dina. Bagaimana dengan Klub Pangeran? Sepertinya tidak ada."
"Yah, karena kebijakan ketua Klub Pangeran, banyak yang keluar. Tapi, tidak boleh masuk lagi."
"Serius? Aku merasakan ada yang aneh. Aku belum pernah bertemu dengan Pangeran Rivandy setelah ini."
"Ah! Aku tidak tahu lagi! Kenapa dia membunuh bangsawan itu? Apakah ia punya dendam pada Bangsawan Inggris lainnya?"
Mei Dina mengeluhkan sesuatu. Karena insiden itu, dia harus kena getahnya.
"Untung aku masih mengikuti klub itu. Ini masih bisa bertahan lebih lama."
"Ingin sekali aku mendekatinya Pangeran Rivandy. Biar bisa mengajariku matematika."
Dina membuka handphone miliknya dan membalas pesan Telegram.yang cukup merepotkan.
Namun, ...
"Rivandy, yah?" Suara itu mengagetkan kami.
Kami menghentikan langkah kami. Terkejut karena seseorang itu memanggil nama Rivandy. Lisa hanya terdiam dengan sosok pendekar itu. Namun, tidak dengan Dina. Wajahnya pucat dan gemetaran. Mungkin karena masa lalu yang kelam itu.
"Wah. Ternyata alat kesayanganku sedang kesini dan memberikan nama yang bagus. Aku bangga padamu."
Wajah Dina menjadi dingin. Dia tidak menyapa Yasuo dengan hangat. Berbeda dengan Lisa yang menghormati Yasuo seperti seorang atasan prajurit.
"Kenapa? Kenapa kamu disini?"
Yasuo mendekati Dina dengan sombong. Tatapannya tertuju pada payudara Dina yang sedang berkembang. Di dalam rok, dia memikirkan isi ****** ***** Dina yang baik.
"Aku sedang mencari seseorang untuk membawanya ke Cina. Tidak disangka aku bertemu denganmu. Kau bisa melayaniku sepulang sekolah."
"Anu. Apakah anda adalah agen MSS?" Lisa memotong pembicaraan kedua orang itu.
"Temu saja iya. Aku adalah Yasuo. Mata-mata yang terhebat sepanjang masa. Aku yang tampan dan keren ini mendapatkan misi yang payah itu."
Dina tidak mengucapkan sepatah kata apapun. Masih menjauh dari Yasuo karena diperlakukan dengan buruk, hampir setara dengan seorang budak ****.
"Anda sendirian? Mana yang lain?" Lisa menanyakan sesuatu pada Yasuo.
__ADS_1
"Li Yuan mencari informasi di Kelas II, Shao kelas III. Jadi, aku mendapatkan kelas I. Tubuhmu semakin terlatih. Kapan-kapan kita ke hotel untuk bercinta."
"Jangan sentuh aku! Aku jijik kepada orang sepertimu." Dina melarang Yasuo untuk menyentuh tubuhnya.
Yasuo kembali melirik Lisa. Ia melirik tubuh Lisa sejenak. Tubuh yang perawan dan berpakaian rapi ala pasukan Cina membuat Yasuo tertarik untuk mencicipi tubuh Lisa.
"Hei! Kau terlihat patuh. Apakah kau ingin makan malam di restoran mewah? Aku mengajakmu secara percuma. Dina boleh datang kepadaku kalau mau." Yasuo menunjuk Dina dengan jari jempol dan santai.
Lisa berpikir sejenak. Kalau ia ikut, dia bisa membahas sesuatu yang penting. Dina mencegah Lisa untuk terpengaruh oleh Yasuo dan menyesal terjatuh di jurang yang dalam.
"Lisa. Jangan terima ajakanmya! Kau terlalu polos untuk menangani situasi seperti ini." Dina bergerak dan menyentuh tangan Lisa lalu meninggalkan Yasuo.
"Memangnya dia kenapa? Dia tidak buruk, kok." Lisa menanyakan sesuatu pada Dina.
"Kau akan menyesal jika tidak mematuhi perintahku." Bisikan Dina agar Lisa tidak terkena hipnotis Yasuo.
"Ba-Baiklah." Tidak ada pilihan lain, Lisa hanya diam saja.
"Hei! Kalian pergi kemana? Tidak baik mengabaikan orang sepertiku." Yasuo menghalangi jalan kedua gadis itu.
"Biarkan kami lewat! Kami mau ke kantin dulu." Dina memerintahkan Yasuo agar tidak menghalangi jalan.
"Tidak mau! Kau harus mematuhi perintahku. Ada kontrak yang aku pegang."
Dina tersudut. Isi kontrak itu merupakan mimpi buruknya. "Bagaimana? Kamu tidak bisa egois di depan kontrak yang kau tulis ini. Karena hutang orang tuamu, kau harus menandatangani kontrak ini. Kau tidak akan bisa lolos dariku."
Yasuo tertawa di atas kemenangan. Amarah Dina membesar. Tidak bisa melawan orang yang lebih kuat dan berkuasa.
Namun, ada sebuah panggilan yang menghentikan dominasi Yasuo. Yasuo tidak sadar panggilan itu cukup penting baginya.
"Yasuo!" Li Yuan muncul di dalam hologram Yasuo.
"Apa?! Kau berisik sekali!" Yasuo membalas dengan bentakan.
"Ada masalah besar. Aku malah menghadapi siswa Inggris yang ikut Klub Militer. Aku terlalu lemah darinya," jawab Li Yuan dengan serius.
"Hah? Kenapa kau tidak lawan sendiri saja?" Keluh Yasuo.
"Dia terlalu kuat. Shao tidak bisa dihubungi lagi. Hanya kau yang satu-satunya. Cepat kemari!" Panggilan Li Yuan terputus.
"Argh! Mengganggu saja!" Amarah Yasuo tidak tertahankan, ingin sekali menghancurkan barang.
Dina melindungi Lisa dan tidak membiarkan disakiti oleh orang busuk sepertinya.tidak ada pilihan lain. Yasuo harus meninggalkan Lisa dan Dina.
"Ingat! Turnamen Spyxtria nanti, aku akan datang untukmu dan Lisa akan menjadi asistenku. Ingat itu!"
Yasuo menghilang dengan jurus kungfu. Wajah Dina berubah setiap detik. Lisa tidak mengerti situasi yang dihadapi Dina.
"Selamat. Kita tidak akan berurusan dengannya sementara waktu." Dina menghela nafas dengan panjang.
"Dina. Ada apa dengannya? Kau ..." Ucapan Lisa terpotong dengan senyuman palsu Dina.
"Tidak apa. Kita ke kantin, yuk! Lain kali, kita ajak Rivandy ke sana."
"Baiklah."
Akhirnya, mereka pergi ke kantin dan melupakan semuanya. Tentang Yasuo dan mimpi buruk.
__ADS_1