
Jam 06:23, di apartemen Akishima, ruang tamu, aku, Akishima, dan Sheeran sedang mengadakan pertemuan. Aku merasa kebingungan kepada kedua kakakku itu. Mereka menyuruhku untuk memanggil Neesan kemarin malam. Namun, Aku tidak tahu kenapa kedua Neesan itu menjadi para gadis sebelumnya.
“Rivandy. Apakah kamu sakit? Kau selalu memanggilku Neesan,” tanya Akishima merasakan keanehan yang terjadi padaku.
“Suamiku. Aku akan mengobatimu. Tidak peduli seberapa sakitnya dirimu. Aku akan mengajakmu ke hotel lagi,” cetus Sheeran sudah siap dengan P3K.
“Tch! Lebay,” ejek Akishima melihat Sheeran yang menjadi istriku.
“Aku yang anggota Klub Teater dibilang lebay? Kau saja yang sensitif. Janda sepertimu tidak akan bisa paham dengan pengobatan ranjang,” sindir berpaling dari Akishima.
“Coba saja bilang seperti itu lagi! Aku akan menghajarmu,” tantang Akishima berniat untuk melancarkan pukulannya.
Di tengah pertengkaran itu, aku ingin melerai pertengkaran mereka berdua.
“Neesan. Kalian memang aneh. Kenapa kalian bertengkar? Apakah aku harus melerai pertengkaran kalian?” Tanyaku merasa polos dengan pertengkaran itu.
“Jangan panggil aku Neesan! Itu menjijikkan!” Akishima merasa jijik dengan panggilan itu.
“Panggil aku istri! Jangan Neesan!” Sheeran memohon padaku dan memegang kakiku.
“Tidak apa-apa. Aku akan memeluk kalian. Habisnya kalian mengajakku ke ranjang dan memerintahkan kepadaku untuk memanggil Neesan. Lalu, kalian menguras semua cairanku kemarin malam dan kalian juga menyuruhku untuk memeluk kalian jika kalian bertengkar,” jelasku mengenai kejadian kemarin.
“Jangan khawatir! Aku akan melakukan apapun untukmu. Bahkan, .... kalian boleh mengajakku ke ranjang sesuka kalian. Kalian … boleh menciumku,”
“Jadi, aku tidak keberatan kalau kalian melakukan itu lagi,”
Akishima dan Sheeran panik karena aku sudah menggila. Dengan pelukanku kepada kedua kakakku, membuat mereka tidak bisa melakukan apapun. Pelukanku membuat Akishima ingin menangis. Sheeran sedih karena aku memanggilnya Neesan, bukan suaminya.
Di tengah kepanikan itu, seorang gadis twintail segera memasuki apartemen Akishima. Dia membawakan sesuatu agar bisa dimakan bersama. Ia sudah datang ke apartemen sekitar jam 5 pagi karena harus bertarung selama mungkin dengan gadis yang akan merebutku.
"Semuanya! Aku sudah datang nih. Aku membawakan sesuatu pada kalian. Aku harap kalian bisa ….” Aurora terkejut ketika membuka pintu.
“Neesan! Tenanglah! Aku akan menyembuhkan kalian,” tekadku berusaha menyembuhkan kedua kakakku.
“Aurora. Tolong aku! Aku tidak tahan lagi!” Teriak Akishima memberontak saat aku memeluknya.
“Aurora. Tolong urus suamiku! Dia sedang sakit,” sambung Sheeran tidak tahan dengan panggilan kakak.
“Apa yang kalian lakukan? Kalian apakan Papa?” Aurora menatap Akishima dan Sheeran dengan mata biru menyala.
“Jangan lakukan itu! Aku melihat Black Rock Shooter di depanku.” Akishima ketakutan melihat tatapan Aurora
“Kamu sangat mengerikan,” lanjut Sheeran yang dipeluk olehku.
“Mama. Hentikan! Mereka adalah Kakakku. Jangan marah pada mereka!" Aku memeluk Akishima dan Sheeran dan menganggap mereka sebagai kakakku.
“Huh?” Aurora terdiam kaku dengan keributan yang terjadi.
“Tidak ada pilihan lain. Aku akan mengurus Papaku,” pasrah Aurora melihatku berpelukan dengan kedua kakakku.
[*^*]
“Jadi, kalian yang membuatnya kecanduan?” Tanya Aurora menatap kedua gadis itu dengan sinis.
“Tidak sengaja. Bukan aku!” Akishima menjawab dengan sedikit tangisan.
“Ini semua salah anggota Klub Pangeran” Lanjut Sheeran menyalahkan Andela.
Aurora mempercayai mereka berdua. Bukan berarti mereka bisa melakukan apapun pada Aurora. Aurora bukan gadis bodoh lagi. Dia sudah belajar bagaimana cara berhubungan dengan lelaki dengan baik. Maka dari itu, ia memutuskan sesuatu untuk memperbaikiku.
“Aku akan memeriksa Rivandy di apartemenku. Kalian jaga apartemen! Banyak gadis yang akan mengincarnya,” pamit Aurora membawaku ke apartemennya.
"Aye. Aye. Captain!" Terima Akishima dengan senang hati.
"Aku akan menunggumu. Aku tidak akan membiarkan dia merebut hatiku," lanjut Sheeran menerima perintah Aurora
Aurora membawaku ke apartemennya. Dia memeriksa keadaanku dan mencari penyakit apa yang aku derita. Sebagai dokter, akan memeriksa keadaanku yang parah. Setelah itu, dia menyuapiku dengan penuh kasih sayang walaupun Aurora berubah menjadi Black Night Sky. Setelah itu, dia mengajakku keluar sebentar.
Setelah keluar dari apartemen, Aurora bertemu dengan kedua gadis yang berpatroli. Ia memegangku dan memborgolku agar tidak direbut oleh gadis lain. Ia juga sudah mempertimbangkan Medan Perang Cinta yang semakin meluas.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Aurora! Aku akan siap membalas dendamku," jawab Akishima dengan mengenakan kostum Ksatria Coklat.
"Dia yang membuat kami menjadi Oneesan mesum. Tapi, kalau untuk Sayangku tidak apa-apa," tekad Sheeran ingin membalas dendam.
"Semuanya. Dengarkan aku dulu! Setelah aku memeriksa tubuhnya, Rivandy sudah terkena penyakit Oneesan Ara-Ara," jawab Aurora menghela nafasnya.
"Oneesan Ara-Ara?" Tanya Akishima merasa penasaran yang tinggi.
"Apa itu?" Tanya Sheeran kebingungan dengan penjelasan Aurora.
"Penyakit itu adalah suatu penyakit yang diderita oleh anak remaja yang tergila-gila dengan Oneesan. Kalau penderita melihat ada Oneesan, dia akan menghampirinya dan menganggap sebagai seorang kakak. Jika itu terus berlanjut selama 7 hari, penderita kehilangan kendali dan menjadi alat untuk Oneesan. Aku tidak mau membiarkannya mati diperalat."
"Aku sudah mengobatinya. Dengan serum milikku, aku sudah menyembuhkannya. Tapi, itu belum berjalan dengan baik. Setidaknya, butuh beberapa saat untuk bekerja dengan baik. Kalau ada Oneesan Ara-Ara yang menghampirinya, serum itu tidak akan bekerja dan dia akan menjadi budak."
"Jadi, kalian harus menghindari kontak Oneesan darinya. Aku tidak mau kalian mengecewakanku," jelas Aurora serius dan tatapan mata biru menyala.
"Aurora," panggil Akishima.
"Iya?" Tanya Aurora menoleh ke Akishima dengan tatapan biru menyala.
"Kenapa kamu tahu dengan penyakit itu?" Tanya Akishima mengenai penyakit Oneesan Ara Ara.
"Serum itu dapat dari mana?" Tanya Sheeran mengenai serum yang Aurora jelaskan.
"Rahasia. Aku tidak mau memberikan petunjuk apapun. Ayo, Jalan! Kita ke cafe dulu. Evelyn sudah memesan kursi untuk kita," ajak Aurora sambil membawaku keluar apartemen.
"Tunggu! Bagaimana dengan sarapan tadi?" Tanya Akishima menyusul Aurora.
"Aku membuangnya karena aku tidak sengaja melepaskannya. Jadi, aku membuangnya di tempat sampah," balas Aurora tanpa menoleh.
"Sia-sia aku menjadi Oneesan Ara Ara," sesal Sheeran karena mengalami kejadian semalam.
Kami pergi ke cafe untuk sarapan. Aurora memberi perhatian padaku. Ia tidak mau membiarkan penyakit Oneesan Ara Ara yang menjangkitiku. Ia mengobatiku dengan baik. Aku hanya menurutinya dan berjalan bersamanya.
Akishima dan Sheeran bingung dengan tindakan Aurora yang semakin serius. Mereka beranggapan kalau Aurora sedang menstruasi. Sifatnya sedikit berubah dan lebih profesional. Dia bukan gadis pada umumnya, dia adalah manusia otak cerdas berhati monster.
Setelah sampai di cafe, Evelyn menyambut kami dengan baik. Kami menyapanya dan duduk di kursi yang sudah dipesan oleh Evelyn. Kami duduk bersama Aurora dan Sheeran. Akishima dan Evelyn duduk bersamaan dan berdampingan.
Tak alam kemudian, Kotori menghampiri kami. Dengan santai, berjalan sendirian di tengah musim dingin yang terus berlangsung di Moskow. Entah kenapa Kotori bisa bertahan dengan jaket tipisnya di tengah musim dingin itu Aku akan mati jika dikenakan jaket seperti itu.
“Yo! Aurora. Evelyn,” panggil Kotori yang menghampiri kami.
“Kotori-chan! Aku sudah memesan kursi untukmu, desu,” sahut Evelyn sudah memesankan makanan untuk Kotori.
“Thanks, Evelyn. Aku menghargai itu,” terima Kotori mengangguk kepalanya dan duduk di sebelah Evelyn.
“Kotori. Kau datang juga,” sahut Aurora menoleh ke Kotori sekejap.
“Akishima. Sheeran. Kalian berusaha keras juga."
“Chotto matte! Dari mana kamu tahu namaku?!” Tanya Akishima mencurigai Kotori.
(Chotto Matte = Tunggu sebentar)
“Sederhana. Aku mengecek administrasi setiap nama angkatan ini. Jadi, aku tidak khawatir lagi dengan ketidaktahuan nama itu,“ jelas Kotori menarik nafasnya.
“Bukannya itu tidak boleh?” Protes Akishima.
“Memang tidak boleh. Soal tadi, lupakan saja,” respon Kotori meminum sesuatu.
“Tidak mengerti lagi,” gumam Akishima segera berpaling dari Kotori.
“Oh iya. Kotori. Aku butuh bantuanmu,” cetus Aurora dengan mata yang menyala.
“Silahkan. Aku akan membantumu. Aku akan menghentikan Shiori kalau bisa,” tekad Kotori membantu Aurora.
“Nice. Sekarang begini rencana kita.” Aurora memulai rencananya.
Kelima gadis itu membahas sesuatu yang penting. aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan. Dengan serius, mengatakan sesuatu yang penting. Aku hanya menerima itu dan mendengarkan rencana yang baik meskipun aku masih menderita penyakit Oneesan Ara Ara.
__ADS_1
Setelah pesanan tiba, kami makan dengan penuh kehangatan. Aurora dan Evelyn berlomba untuk menyuapiku. Akishima dan Sheeran bertengkar karena ingin menyuapiku. Kotori hanya terdiam dengan tingkah yang ramai itu dan merasa ingin disuapi olehku. Aku menerima dengan senang hati dan memberikan suapan kepada Kotori.
Setelah keluar dari cafe dengan Kotori membayar semua hidangan itu, kami keluar ke cafe dan melanjutkan rencana kami. Namun, ada seorang gadis yang sedang memegang senjata dan menghalangi kami. Dia dengan ambisinya segera mendapatkanku dan cairanku.
“Ara-Ara. Disitu rupanya kalian,” sapa Diana dengan mata cintanya.
Kami berhadapan dengan Oneesan Ara Ara yang bercampur pada Ojou-sama. Dia berasal dari Kelas I Soshum A mencariku dan membawaku ke ranjang. Entah apa yang merasukinya sampai ia ingin mendapatkanku.
“Kalian semua! Lari! Aku akan menghadapi pelakor ini!” Aurora memulai pertempuran dengan mata biru menyala.
“Kotori, aku serahkan ini semua padamu,” pamit Aurora yang bersedia menjadi Black Night Sky.
“Ready! Electro Dubstep : Unstoppable!”
Kotori menggunakan kekuatan supernaturalnya agar membawa kami kabur. Dia tidak membiarkan Aurora menahan itu. Harus mengalahkan Aurora sesingkat mungkin dan menangkapku.
“Wah! Kamu selalu menghalangi jalanku,”
“Jangan khawatir! Setelah aku bertunangan, aku akan mengundangmu di pesta pernikahanku. Aku akan memberikan video padamu agar kamu bisa menggunakan tanganmu untuk melampiaskan hasratmu dengan tanganmu. Bersiaplah!” Diana mengarahkan pedang miliknya pada Aurora.
Aurora hanya terdiam dengan ucapan itu. Ia tidak peduli dengan perkataan Diana. Ia ingin menghancurkan gadis yang akan merebutku.
Dengan itu, pertarungan Aurora dalam mode Langit Malam Hitam dan Diana dimulai Aurora dan Diana melancarkan tembakan dan tebasan pada lawan masing-masing. Diana tidak akan kalah karena ia akan mengalahkan Aurora dan mencariku.
Dia akan menghadapi sebuah monster.
[*^*]
Sementara itu, jam 07:23, kami tiba di suatu taman yang diisi oleh banyak orang. Kami sudah sampai di suatu taman dan segera berlindung dari sebuah kerumunan karena kami tidak boleh ketahuan oleh para gadis manapun.
“Kotori. Kita istirahat dulu, desu. Aku mau mengobati dulu, desu,” ucap Evelyn segera membawa P3Knya.
“Baiklah!” Terima Kotori mengangguk.
Ketika kami istirahat, ada seorang gadis yang memegang pisau dan senapannya. Dia menghampiri kami dengan perlahan dan segera melakukan eksekusi untuk menangkapku.
“Ara Ara. Aku melihatmu,” sapa Nona Claveriska memegang pisau.
“Chikuso! Aku sudah muak dengan Ara-Ara. Dia selalu datang kemari,” protes Akishima melihat gadis itu.
“Jangan khawatir, desu! Aku akan membuka bajunya dan mempermalukannya, desu,” tekad Evelyn membawa senapan miliknya.
“Ready! Electro Dubstep : Unstoppable!”
Kotori membawa kami ke tempat yang cukup jauh. Aku, Akishima, dan Sheeran merasa diteleportasi dan menuju ke mall untuk bersembunyi. Evelyn sudah siap untuk bertarung. Ia mengerahkan semua tenaganya untuk melawan Gadis Bangsawan itu.
Setelah sampai di mall, kami terjatuh di lantai 2 di lorong mall. Aku bangun dan mengangkat Kotori. Akishima dan Sheeran segera bangun dari jatuhnya.
“Kenapa kami dibawa terus?” Protes Sheeran berdiri di lantai mall.
“Kita harus bergerak atau ….”
“Are! Ada siapa ini?” Andela melihat Akishima dan Sheeran dari belakang.
Akishima dan Sheeran menoleh. Karena penyiksaan itu, membuat mereka ingin balas dendam. Mereka ingin menghajar dan membuka bajunya.
“Anak kecil! Bawa Rivandy! Kita akan mengejarnya dan membuka bajunya,” tekad Akishima ingin balas dendam.
“Dia sudah membuat kami menjadi Oneesan Ara Ara,” lanjut Sheeran ingin memukul Andela.
“Apa boleh buat! Ayo, Rivandy!” Ajak Kotori memegang tanganku dan pergi dari sini.
Kami bergerak menuju ke tempat sepi dan ke tempat yang tidak diketahui siapapun. Setelah tiba di tempat sepi, kami saling berhadapan satu sama lain. Kotori mendekatiku dan tidak membiarkanku lolos. Dia membuka maskernya dan merencanakan hal yang tidak di ketahui sebelumnya terjadi.
Baru kali ini, aku melihat mulut dan wajahnya. Sangat cantik. Tapi, ini membuatku terdiam dan tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Rasanya tidak buruk jika ada Lolita Amerika berada di sampingku. Ingin tahu siapa Kotori sebenarnya.
__ADS_1
Saat itu, Kotori akan melancarkan aksinya. Aksi yang menggemparkan akademi.
Aksi yang mesum. Yang membuatku menjerit kesakitan.