
28 Oktober 2025, jam 05:53, di sebuah rumah yang berdiri tegak. Matahari terbit di sebelah Timur. Sebuah rumah yang memiliki 2 tingkat yang dihuni hanya dua orang saja. Karangan bunga yang beragam, teras yang cukup luas dan rumah yang bersih.
Sebuah kamar yang cukup luas dengan ranjang, meja belajar dan furniture lainnya yang mengisi ruangan itu. Pergantian langit menghiasi pemandangan jendela. Seketika itu, ada sebuah alarm berbunyi dengan cukup keras.
Denis membuka matanya dengan pelan sambil melihat furniturenya yang berada dalam 90 derajat rotasi ke kiri. Tak lama kemudian, sebuah panggilan yang menggema sampai ke telinga Denis.
“Denis! Bangunlah! Alarmnya berbunyi,” panggil seorang wanita dari luar ruangan.
Denis tidak menjawab, namun ia mendengar panggilan itu. Ia terbangun dengan kaos putih dan celana pendek warna hitam segera keluar dari kamarnya dan bergegas menuju ke kamar mandi.
Setelah mandi di kamar mandi, ia pergi ke kamarnya dengan tubuhnya yang bersih. Ia mengenakan seragam akademinya dan segera menuju ke ruang makan bersama wanita yang ada di sampingnya.
Wanita itu menyiapkan sarapan berupa potongan daging ikan dan sup sayur untuk sarana hari ini.
“Denis. Setelah makan, tolong kirimkan ini ke saudarkmu di akademi! Aku sudah menyimpan kiriman itu di tasmu,” suruh wanita itu sedang makan bersama Denis.
“Iya,” jawabnya dengan murung.
“Eh? Kamu kenapa? Tidak biasanya kamu murung begini,” tanya wanita itu cemas dengan kondisi Denis yang sedang murung.
“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit … Hm … tidak mood,” jawabnya sambil memakan makanannya.
Pembicaraan itu terhenti oleh sebuah kata dan fokus dengan menghabiskan makanannya. Setelah makan, wanita itu menerima piring yang kotor itu dan segera mencucinya. Denis bergerak menuju ruang tamunya untuk mengambil tas. Setelah itu, ia bergerak menuju ke depan pintu untuk memakai sepatunya.
Ketika itu, wanita itu segera menghampiri Denis yang sedang mengikat tali sepatunya. Dengan rasa kasih sayang, ia menghampirinya tanpa perlu meladeni rasa khawatirnya dan segera menghampiri Denis.
“Kamu tidak mengucapkan selamat tinggal padaku?” Tanya wanita itu pada Denis.
“Tidak. Soalnya aku sedang terburu-buru sekarang. Aku pergi dulu,” pamit Denis membuka pintu dan keluar dari rumahnya.
“Kalau begitu, … Bye!” Balas wanita itu dengan pasrah.
Denis berjalan meninggalkan rumahnya dan segera berjalan menuju ke akademinya. Lalu, ia memandang cuaca mendung yang menyeramkan.
[*^*]
Jam 07:43, siswa dan siswi akademi dari 36 negara memasuki gebang akademi Jumlah siswa siswi angkatan 2023 semakin lama semakin berkurang. Bahkan, persentasenya hanya sekitar 40% saja. Sungguh ironis sekali.
Denis sampai di akademi dan tidak bertemu dengan siapapun. Ia berjalan sendirian dan segera menuju ke kelasnya. Ia memasuki lingkungan akademi dan segera berjalan di lorong untuk mencari kelasnya.
Tak lama kemudian, hujan gerimis mulai turun. Untung saja ia sampai di akademi terlebih dahulu. Ia tidak terlalu memperdulikan hujan turun. Ia menemukan kelasnya dan segera menghampiri kelas itu.
“Denis, apa kabar?” Sapa Hammer yang sudah di depan Denis.
Denis hanya terdiam dan menghiraukan Hammer yang sedang bergembira. Ia berjalan menuju ke kursi miliknya. Ia duduk dan meletakkan tasnya di kursi sambil menatap sekitar dengan murung. Hammer menghampiri Denis yang sudah tidak biasanya itu.
“Denis, kamu tidak apa-apa?” Tanya Hammer menghampiri Denis.
“Tidak. Aku ingin sendiri. Jangan ganggu aku!” Pinta Denis meletakkan kepalanya di meja dengan murung.
“Coba ceritakan sesuatu padaku”
“Tidak ada yang kuceritakan padamu. Pelajaran akan segera dimulai,” jawabnya tidak menoleh ke Hammer dan tetap murung di mejanya.
Hammer terdiam dengan tingkah Denis yang tidak biasa itu. Ia tidak bisa mengatakan apapun dengan Denis yang murung itu. Hammer memilih untuk pergi ke tempat duduknya dan pelajaran pun dimulai.
__ADS_1
Pelajaran Soshum dimulai dengan pengumpulan tugas dan penjelasan “Hubungan Sosial“ yang akan dipelajari pada minggu ini.
Para siswa siswi kelas itu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang meninggalkan akademi. Guru akademi tidak mau membicarakan mengapa seseorang itu meninggalkan akademi. Semuanya tampak tidak jelas. Tidak tahu siapa yang meninggalkan akademi. Yang pasti ada sebuah alasan yang kuat untuk meninggalkan akademi itu.
Suasana kelas menjadi sepi, membosankan, dan tenang dengan obrolan guru Sosiologi.
[*^*]
Jam 08;23, ada sebuah ruangan kepala sekolah yang rapi dengan jendela yang dapat dilihat dari belakang. Sebuah rak yang diisi oleh buku, penghargaan dan sertifikat resmi dari UNESCO dan PBB sebagai akademi bawahan dari PBB.
Dr. Cherry yang seperti biasanya sedang menatap layar komputer untuk membuat data rahasia mengenai sesuatu yang tidak boleh dilihat oleh orang lain. Ia menatap dengan kosong sambil mengetik dengan cepat.
Namun, ada sebuah panggilan yang berdering dari laptopnya membuatnya merespon panggilan itu. Terdapat ada seorang rekan yang menemaninya saat menjalankan misi bersamanya setelah lulus Angkatan Corona.
“Cherry, aku mendapatkan laporan bahwa ada seseorang yang menghilang dan meninggalkan akademi. Kami sedang mencarinya, namun kami tidak bisa mencari jejak itu dan dia meninggalkan pesan untuk kami,” jelas rekannya dengan panjang lebar.
“Oh. begitu. Silahkan dicari lebih lanjut! Aku akan mencoret dokumen tentangnya.” pinta Dr. Cherry dengan tatapan serius.
“Baiklah, kalau begitu kami permisi dulu untuk mencari informasi tentangnya. Kami akan mengirim alasan nantinya,” rekannya mematikan teleponnya dan segera melakukan pencarian.
Setelah mematikan telepon, Dr. Cherry segera menyelesaikan tugasnya. Ia mengetik dengan cepat, sehingga data yang ia buat selesai dengan cepat. Tidak lupa ia menghitung kemungkinan yang akan terjadi pada beberapa bulan kedepan.
Jam 09:56, tidak terasa tugas Dr. Cherry lelah selesai. Ia merenggangkan tubuhnya sambil olahraga sedikit. kemudian, ia mengingat sesuatu yang harus dilakukan. Ia mengambil lipstik miliknya dan segera mengenakannya di mulutnya. Lalu, keluar dari ruangan untuk mencari sesuatu.
“Ini sudah waktunya. Aku akan pergi sekarang juga."
[Jumlah siswa dan siswi Akademi Militer Spyxtria dari 286 orang menjadi 285 orang]
[*^*]
Denis keluar dari kelasnya tanpa menghiraukan Hammer. Ia ingin menyendiri sejak saat itu. Ia tidak ingin orang lain yang mencampuri urusannya
“Denis,” panggil Zhukov yang sedang menyantap roti melonnya.
“Denis kemarilah!” Tambah Saphine sambil memegang buku biologinya.
Denis tidak bisa menolak mereka. Ia ingin menghindari mereka. Namun, dengan senyuman itu, Denis tidak bisa menolaknya. Ia hanya ingin mereka tidak ada di hadapannya. Ia ingin di sekitarnya menjadi putih dan tidak terlihat apapun.
Dengan terpaksa, Denis menghampiri mereka dan segera menghampiri Zhukov yang sedang santai.
“Denis aku punya foto Rivandy yang sedang sial. Kamu mau melihatnya?” Bujuk Zhukov sambil memperlihatkan fotonya ke Denis.
Denis melihatku yang sedang berada di kamar ganti wanita secara tidak sengaja. Lalu, ia melihatku yang sedang dirantai oleh mereka berempat. Setelah itu, berbagai macam foto yang ia perlihatkan.
“Tidak. Nanti saja. Aku sedang tidak enak sekarang,” tolak Denis melihat itu.
“Eh?! Kenapa? Biasanya kamu antusias dengan itu. Namun, sekarang kamu tidak sedang semangat,” tanya Zhukov yang kebingungan dengan tingkah laku Denis saat ini.
“Denis. Kamu kenapa? Kenapa kamu diam saja?” Tanya Saphine yang merasa khawatir dengan kondisi Denis yang sedang memburuk itu.
“Tolong ceritakan pada kami agar kamu merasa lega!” Usul Zhukov sambil mematikan laptopnya.
“Tidak ada. Aku tidak bisa bercerita sekarang ini,” tolak Denis untuk tawaran itu.
Suasana tongkrongan menjadi sepi karena Denis yang biasanya ekstrovert itu sedang murung di atas meja. Mereka tidak terlalu bisa mengajak Denis untuk menjadi lebih baik lagi
__ADS_1
“Rivandy,” panggil Saphine saat ia melihatku.
“Saphine,” sahutku yang menoleh padanya.
Aku menghampiri Saphine sambil membereskan bukunya, lalu pergi bersamaku untuk belajar bersama. Aku hanya terdiam dengan situasi itu dan segera menuju ke taman bersama Saphine. Namun, sebelum itu, kami mendengarkan nama Denis di setiap lorong akademi.
Dengan panggilan itu, membuat Denis semakin murung mendengar pemanggilan itu. Perasaan murung dan percikan api muncul pada perasaannya ini membuat keadaan semakin memburuk. Kami juga merasakan apa yang membuat tatapan Denis menjadi tajam.
Aku melihat seorang wanita berambut ikat Cepol pirang dengan perpaduan warna mata merah ungu, lebih tinggi dariku, dan bibirnya yang menggoda itu. Da menjadi idaman bagi pria dan wanita yang melihatnya.
Cherry-neesan. Wanita yang sudah menjadi kepala sekolah akademi.pafa tahun 2025 dan menjalankan misi dengan kode "Rose Alert" meraih prestasi yang sangat baik. Dengan prestasi itu, dia ditunjuk oleh PBB untuk menjadi kepala sekolah Akademi Militer Spyxtria.
Belum aku menyapa Neesan (姉さん), Neesan mulai mengeluarkan suaranya dengan dinginnya. Tatapannya yang tidak mengenakkan itu membuat orang melihatnya muntah. Tidak biasanya dia dingin pada seseorang, hanya saja ini pertama kali aku melihat Neesan seperti ini.
"Aku memintamu untuk segera ke ruanganku sekarang juga. Jangan sampai terlambat, Denis!" Pamitnya sambil berbalik badan dan pergi dari hadapanku dengan perasaan dinginnya. Aku, Zhukov, dan Saphine tidak tahu apa yang terjadi pada Neesan.
Kenapa Neesan melakukan hal itu?
Denis dan Neesan memiliki nama belakang yang sama, yakni Spyxtria. Aku tidak terlalu mengetahui hal itu. Aku juga tidak tahu bahwa Neesan dan Denis bersaudara.
Apakah mereka adalah kakak beradik yang sedang bermasalah?
Aku tidak ingin berpikir dulu untuk sementara. Aku harus belajar biologi bersama Saphine.
Aku memutuskan untuk belajar bersama Saphine si tongkrongan bersama Zhukov di lorong akademi. Entah kenapa banyak tongkrongan kursi dan meja di koridor. Peta yang aneh.
Zhukov memilih untuk mengganti monitornya dengan banyak data dan mencari sesuatu yang ada dalam data yang tersimpan banyak di suatu server. Ia juga meretas sebuah data dan memperbaikinya mengingat ia adalah anggota Klub Programmer yang cukup aktif yang dilaksanakan pada sepulang sekolah hari Kamis.
Aku mengajak Saphine untuk belajar biologi. Dia adalah murid yang dibutuhkan untuk masa depan yang cemerlang. Aku percaya, dia akan menjadi dokter yang baik.
Aku mengajarinya tentang bagaimana cara mengenai suatu unsur yang ada pada sel manusia. Aku juga mengajarkan beberapa tips untuknya agar ia semakin mahir dalam pembelajaran ini. Aku jiga menyarankan Saphine untuk menggunakan Teknik Pomodoro. Itu bisa membantunya.
Kalau aku bandingkan dia dengan Aurora, sepertinya Aurora lebih profesional daripada Saphine. Namun, Saphine tidak menyerah. Dia akan melampaui Aurora walaupun presentasenya kecil.
Kami melakukan aktivitas kami untuk menunggu seseorang yang dipanggil oleh Neesan ke ruangannya. Aku ingin tahu apa yang Neesan katakan pada Denis sampai sedingin itu.
[*^*]
Jam 10:13, Denis dan Dr. Cherry sudah sampai di ruang kepala sekolah. Mereka tiba ruangan itu tanpa menoleh ke arah manapun.
Setelah pintu terbuka, Denis dan Dr Cherry masuk secara bersamaan dan situasi semakin mencekam. Setelah memasuki ruangan tiu, Dr. Cherry segera menuju ke kursinya dan langsung duduk. Denis hanya terdiam dengan sebuah kursi yang ada di depannya.
Denis tidak ingin kursi yang ada di hadapannya. ia hanya ingin berdiri di depan orang yang membuatnya dingin.
Ia menendang kursi itu ke samping dan berdiri di hadapan Dr. Cherry yang sedang terduduk.
Tatapan mereka diutarakan dengan perasaan saling tidak menyukai satu sama lain. Meskipun dengan nama marga yang sama, bukan berarti mereka saudara. Mereka menatap mereka seperti musuh abadi.
Mereka saling menatap satu sama lain dengan tajam dan dingin sebagai hubungan mereka yang rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi. Tidak ada persaudaraan diantara mereka.
Mereka tidak akur. Entah apa yang membuat mereka saling membenci itu. Semuanya tampak menjadi misteri.
*Aku mengatakan sesuatu padamu dengan bijaksana." Dr. Cherry mulai mengeluarkan suaranya.
"Aku harap kau mendengar ini, Denis."
__ADS_1