
4 September 2025, jam 07:12, Rin berjalan di tengah hiruk pikuk penduduk Moskow. Seragam yang ia kenakan menjadi rapi dan menarik. Gaya rambutnya yang sanggul tingginya itu menandakan kecantikan dan kemanisannya.
Rin tidak khawatir dengan keamanannya. Ia sudah menyiapkan semprotan merica untuk berjaga-jaga. Tapi, itu belum mengubah bekas luka yang dialaminya. Selain itu, ia pernah muntah beberapa kali sehari. Ia khawatir ia akan hamil oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Tapi, tidak dengan Rivandy.
Ia cukup nyaman berada disisinya. Tapi, ia tidak bisa melupakan apa yang ia terjadi padanya pada masa lampau. Ia tidak bisa melawannya dan memutuskan untuk lari darinya.
Pada saat ia berjalan menuju ke akademi. ia melihat Rivandy yang sedang terkapar di trotoar. Ia berjalan menghampiri Rivandy dengan perasaan cemasnya. Setelah menghampirinya, ia berusaha keras untuk membangunkanku.
Namun, Rivandy tidak kunjung bangun. Rin sudah berbagai cara untuk membangunkannya. Mulai dari mencubit tangannya, membisik di telinganya, dan menampar pipinya. Cara itu tidak akan berhasil.
“Tidak ada pilihan lain,” tekadnya sambil melancarkan rencana terakhirnya.
Rin melakukan sesuatu yang sangat aneh. Ia bersembunyi di pohon dan melancarkan aksinya. Aksi yang ia lancarkan itu berlangsung selama 20 menit lamanya. Akhirnya, usahanya membuahkan hasil. Rivandy mulai membuka matanya secara perlahan dan memperjelas pandangannya yang kabur itu.
“Rin .. ?!” Rivandy melihat RIn di hadapannya.
“Rivandy! Aku pikir kamu tidak akan sadar,” resah Rin sambil mendekatiku.
“Iya. Kamu benar. Tapi, sedang apa kamu disini?” Rivandy kembali mengalihkan pembicaraannya.
“Aku berusaha membangunkanmu. Tapi, kamu tidak kunjung bangun,” jawabnya dengan datar.
“Oh, begitu,” jawabnya sambil memikirkan kejadiannya.
“Gawat! ini sudah jam 07:49! Kita harus cepat,” resah Rivandy karena takut terlambat.
Rin mengikuti Rivandy dari belakang dengan tergesa-gesa. Di tengah kegelisahan itu, Rivandy bertanya, “Oh. Iya, Rin. Kamu membangunkanmu dengan cara apa?” Sambil fokus berlari.
“Rahasia,” jawab Rin dengan kode rahasianya..
“Aku tidak akan memberitahumu,” lanjutnya sambil melewatiku.
“Ayolah! Aku ingin tahu saja,” gerutu Rivandy dengan kode rahasia itu.
“Tidak bisa, kejar aku! Kalau tidak, kita akan terlambat,” tolak Rin sambil mempercepat kecepatan larinya.
Rivandy hanya terdiam dengan jawaban itu. Ia mencoba mengejar Rin dengan kecepatan larinya. Akhirnya, Rivandy melintasi Rin dan menghalanginya. Rivandy mendesak, “Aku lebih cepat darimu,” dengan tatapan sinisnya.
“Baiklah! Aku akan memberitahumu,” desis Rin dengan berpaling dari Rivandy.
“Aku … memelukmu seperti bantal dan … memperlakukanmu seperti beruang kecil yang imut,” bebernya dengan menahan malunya.
“Oh, begitu ya? Yah sudah! Aku paham sekarang,” jawab Rivandy kecewa dengan jawaban itu.
Rivandy dan Rin berjalan dengan normal sambil melupakan jawaban itu. Mereka tidak berbicara sekalipun karena mereka sibuk dengan pikiran mereka.
Jam 08:02, Rivandy dan Rin telah tiba di akademi, Mereka tidak diperbolehkan masuk karena mereka terlambat ke akademi.
Hanya Rivandy dan Rin yang terlambat ke akademi. Tidak ada yang lain. Mereka dipersilahkan masuk oleh Komite Disiplin setelah menunggu selama 20 menit.
Mereka diarahkan ke ruangan disiplin yang akan ditemani oleh petugas disiplin. Petugas itu menatap mereka dengan tajam karena terlambat ke kelas. Sesampainya di ruangan disiplin, mereka dipersilahkan masuk oleh petugas itu.
Setelah masuk, mereka dipersilahkan duduk oleh petugas itu. Petugas itu mulai bertanya kepada mereka mengenai keterlambatan ini.
“Tolong jelaskan keterlambatan kalian,” tegas petugas itu yang dihadapan mereka.
Rivandy mencoba memikirkan alasan ia terlambat ke akademi. Ia mencari sebuah alasan yang akan disampaikan kepada petugas tersebut. Rin hanya terdiam kaku di sampingnya.
“Ini semua salahku, aku membuatnya terlambat. Aku lupa membawa pakaian dalamku untuk ke akademi. Jadi, dia harus menungguku,” jelasnya dengan raut wajahnya yang datar.
Aku menepuk dahi mendengar jawaban itu Ini membuatku geli. Yah … setidaknya dia melindungi Rivandy. Dia rela terlambat hanya karena itu.
“Hanya itu alasan kalian?” Tanya petugas itu dengan ragu.
__ADS_1
“Iya,” jawab Rin dengan penuh keyakinan.
“Sebagai hukuman, kalian harus membersihkan toilet wanita. Dan kau harus menemaninya untuk membersihkan toilet,” pinta petugas itu sambil menunjuk Rivandy.
Setelah perintah itu dijalankan, mereka segera menuju ke kamar mandi wanita sambil membawa alat kebersihan., yakni alat pel, sikat, dan kain pel. Rivandy dan Rin segera menjalankan tugas mereka.
Setelah tugas dijalankan dengan baik, Rin dan Rivandy membereskan alat kebersihan mereka. Kemudian, mereka mengucapkan selamat tinggal sambil berpelukan. Setelah itu, Rin kembali ke kelasnya sambil membawa tasnya.
Kelas I Saintek F.
[*^*]
6 September 2025, jam 06:17, di apartemen dekat Toko Bunga Bibi Anita, Rin berkumpul dengan seorang gadis berambut violet.dengan pita yang ada di kepalanya. Setelah menunggu beberapa lama, Bibi Anita muncul di hadapan kami dan berakting seperti seorang pemimpin militer.
“Ok, para gadis yang manis. Sekarang, kalian sudah tahu untuk apa kalian datang kesini?” Tanya Bu Anita di hadapan mereka.
“Siap, Bi. Kami sudah siap apa yang anda perintahkan,” lapor Rin dan gadis itu.
“Bagus! Sekarang aku ingin bertanya."
“Sheeran, sekarang, ini jam berapa?” Tanya Bibi Anita.
“Jam 06:20,” jawab Sheeran sambil menghormati Bibi Anita.
“Rin, ini sekarang waktunya apa?” Tanya Bibi Anita di hadapan Rin.
“Bersih-bersih, Bi,” jawab Rin dengan penuh persiapan.
“Sekarang, kalian akan bersih-bersih sekarang juga."
“Sheeran, kamu mencuci baju, dan Rin menyapu dan mengepel. Lakukan perintah sekarang juga!” Seru Bibi Anita langsung mengeluarkan terompet Perang Dunia Kedua.
“Siap, Bi!”
Rin dan Sheeran segera menjalankan tugas mereka. Mereka harus melatih diri agar mereka menjadi istri idaman bagi setiap suami. Bibi Anita adalah seorang bibi yang sangat pekerja keras. Meskipun begitu, ia membagi waktu dengan aktivitas yang lainnya.
Beberapa orang yang tinggal di apartemen Bibi Anita sedang bekerja keras di kantoran, sehingga mereka jarang berkomunikasi dengan Bibi Anita.
Setelah menjalankan tugas mereka, Bibi Anita menyuruh Sheeran untuk membeli barang belanjaannya, Rin disuruh untuk membersihkan 20 ruang apartemen, termasuk apartemen milik Sheeran dan miliknya sendiri.
Pekerjaan demi pekerjaan yang mereka lalui. Sheeran sudah membeli barang belanjaan yang disuruh oleh Bibi Anita. Sementara, Rin masih membersihkan ruangan apartemen dengan kain pelnya.
Setelah pekerjaan mereka selesai, mereka dikumpulkan kembali dengan tenaga yang letih. Bibi Anita yang mengumpulkan mereka berusaha untuk menanyakan evaluasi dari pekerjaan mereka agar mereka menjadi calon istri yang baik dalam rumah tangga.
“Sheeran, bagaimana dengan pekerjaanmu?” Tanya Bibi Anita dengan keingintahuannya mengenai pekerjaan Sheeran.
“Aku sudah mencuci 10 paket yang setiap paket isinya 30 pakaian, lalu aku membeli barang belanjaan di supermarket dari 7 km dari sini dengan jalan kaki. Lalu, aku membantu Rin untuk menjaga tanaman agar tidak layu, begitu, Bi,” jawab Sheeran dengan penuh percaya diri dan akan menjadi calon istri idaman.
“Ok, kerja bagus Sheeran. Aku akan melabelimu calon isteri idaman setelah ini,” puji Bibi Anita dengan prestasi yang dilancarkan oleh Sheeran.
“Selanjutnya, Rin! Apa yang kamu lakukan saat ini?” Tanya Bibi Anita menoleh kepada Rin.
“Aku menyapu halaman yang seluas 1 km persegi. Lalu, aku membersihkan 20 apartemen dengan menyapu dan mengepel lantai. Lalu, aku membersihkan kamar mandi dan merawat tanaman bersama Sheeran.” jawab Rin dengan aktivitasnya yang ia lakukan tadi.
“Bagus, Rin! Aku suka pekerjaanmu,” puji Bibi Anita dengan usaha Rin.
“Sekarang, kalian boleh istirahat karena jam menunjukkan pukul 11:43.” jelas Bibi Anita memperbolehkan
“Dan .. bubar jalan!”
Rin dan Sheeran melakukan bubar jalan. Mereka bisa melakukan aktivitas mereka masing-masing. Sheean pergi ke taman untuk mencari pangeran, Rin istirahat di apartemennya.
Namun, saat Rin pergi menuju ke apartemennya, langkahnya terhenti dan menahan perutnya. Ia terjatuh di pintu ruangan Bibi Anita. Bibi Anita yang melihat itu segera membawanya ke apartemen
__ADS_1
“Kamu kenapa, Rin?”
“Ada apa yang ada di perutmu itu?”
“Jangan cemas!”
“Kamu akan aman bersamaku,”
[*^*]
Jam 18:46, Rin terbangun di ranjangnya yang empuk di langit malam yang menyinari Kota Moskow. Ia sedang dirawat oleh seorang dokter yang kenal dengan Bibi Anita. Dia memeriksa tubuhnya. Dokter itu membuka pakaiannya untuk memeriksa keadaannya. Tidak lupa ia mengeceknya dengan test pack untuk mendeteksi apakah Rin hamil atau tidak.
Pikiran Rin terus menghantuinya. Ia cemas bahwa ia akan hamil karena kejadian yang ia tidak bisa lupakan. Kejadian yang membuatnya ketakutan.
“Apakah aku hamil?”
“Kalau aku hamil, apa yang harus ku lakukan?”
“Aku tidak bisa ke akademi terus jika aku hamil.
“Walaupun hamil, aku ingin memohon."
“Aku ingin satu permintaan."
“Aku ingin kawin lari dengan Rivandy,”
Setelah menjalankan test pack, dokter itu menghela nafasnya. Rin masih selamat. Dokter itu mengenakan kembali pakaian Rin yang masih terbuka itu. Dokter itu tersenyum padanya sambil mengeluskan kepala Rin yang imut itu.
Dokter itu membereskan alat kesehatannya sambil memanggil, “Bibi Anita."
“Ada apa, Dok?” Bibi Anita menghampiri dokter itu.
“Sepertinya, hasil test packnya masih negatif. Mungkin dia mengalami muntah karena kedinginan di luar. Padahal, Kota Moskow sangat dingin pada malam hari. Disarankan dia istirahat dulu dan makan yang banyak,” jelas dokter itu mengenai kondisi Rin.
“Baik, Dok! Terima kasih banyak! Aku akan membayar apapun padamu,” ucap Bibi Anita berjalan bersama dokter itu.
Dokter itu tertawa dengan ucapan itu. Ia bercanda, “Sudahlah! Aku sudah banyak makan kue disini,” sambil meninggalkan Rin yang sedang berbaring.
Rin yang melihat itu bersyukur bahwa ia tidak hamil. Test packnya masih negatif. Ia tidak terlalu mengharapkan itu. Semakin ia berpikir, semakin ia ingin menangis.
“Suatu saat, aku akan hamil,” pikirnya sambil termenung murung.
“Aku sudah kehilangan keperawanan sejak umur 10 tahun. Lalu, aku harus mengalami hal ini."
“Bagaimana ini?”
“Aku akan hamil dalam 3 tahun.”
“Kalau begini, mereka pasti datang untuk memulangkan ku ke China."
“Tidak! Aku tidak mau ke China."
“Aku sudah bersusah payah untuk bisa ke sini,”
“Aku bekerja keras untuk mengumpulkan ¥ 100.000 untuk ke Moskow.”
“Aku tidak mau dijual ke China,”
“China itu mengerikan."
“Tidak!”
“Jangan sakiti aku!”
__ADS_1
“Aku tidak melakukan apa-apa,”
“Tolong aku!”