
Jam 15:24, Saphine mendapatkan masalah yang membuatnya langkah terhenti. Wajahnya memucat melihat apa yang di depannya. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia ingin lari dari mereka. Namun, tidak bisa. Nafsunya membisikkan agar tidak lari.
Ada sekumpulan siswa yang mengajaknya bermain tadi sudah berhadapan dengannya. Mereka mendekati Saphine dan merangkul tubuhnya yang hina itu. Saphine berniat untuk melepaskan diri. Namun, dengan ajakan mereka yang menggoda itu membuatnya mengurungkan niatnya.
Mereka mengajaknya ke suatu tempat yang sepi dan gelap untuk melancarkan aksinya.
Pada saat aksinya berjalan lancar, Saphine hanya menerima itu dengan terpaksa. Namun, ia menikmatinya. Mereka melakukan aksi itu secara bersamaan dan secara gantian
Pada Ronde 3, permainan semakin memanas. Saphine sangat menikmatinya. Begitu pula dengan siswa yang menggerombolnya. Cairan demi cairan terus keluar. Saphine semakin menikmatinya dan cairan terus membanjirinya.
Ronde 4. Situasi semakin memanas. Mereka yang mengelilingi Saphine merasa puas dengan menjalankan aksi mereka. Saphine merasa kecanduan walaupun tidak mau melakukannya. Ronde pun berakhir dengan cepat.
“Waktunya Ronde 5. Kau harus meluapkan hasrat kami dengan baik. Kalau sudah, aku akan memberimu ₽ 10.000. Jadi, gigit uang ini dan beraksilah!” Pinta siswa itu dengan senyuman jahatnya.
“Baiklah!” Jawab Saphine dengan menjulurkan lidahnya.
Secara bergantian, mereka lakukan aksi mereka dan Saphine semakin berteriak keenakan. Dengan teriakan itu, mereka semakin sukacita dan segera meminta Saphine untuk meluapkan hasratnya.
Setelah permainan berakhir, mereka meninggalkan Saphine yang sedang berbaring lemas. Pakaian yang terlepas di jalanan dan Saphine yang sedang terangsang tidak mampu untuk berdiri. Ia tidur di gang untuk sementara dan akan bangun pada jam 19:12.
Jam 19:23, Saphine berjalan menuju ke apartemen miliknya dengan pincang. Ia segera bergegas menuju ke apartemennya. Namun, langkah kakinya yang berat menghambatnya. Ia tidak bisa berjalan lebih cepat di suasana malam yang cukup ramai.
Jam 19:43, ia sampai di apartemennya, berjalan dengan susah payah. Ia menaiki tangga sambil menyentuh tembok agar bisa menaiki tangganya. Setelah menaiki tangga, ia mencoba untuk ke apartemennya.
Ia berjalan dengan pelan dan segera mendekati pintu apartemennya. Tiba-tiba, dia terjatuh karena ia tidak bisa menahan kakinya yang lemas itu. Tidak ada pilihan lain. Ia segera merangkak seperti tentara untuk mencapai pintu apartemen.
Setelah sampai di apartemen, dia berhenti sejenak untuk mengambil nafasnya dengan sejenak untuk mencoba berdiri lagi. Setelah itu, ia merangkak ke pagar pembatas. Kemudian, menggenggam dengan kuat untuk bisa berdiri.
Setelah itu, ia berdiri dengan tegak dan mencoba untuk memberanikan diri untuk berdiri. Kemudian, ia melepaskan pagar pembatas dan bisa berdiri untu sementara waktu. Ia merasa lega dengan ini.
Setelah perasaan lega itu muncul pada pikirannya, ia berbalik badan dengan pelan. Lalu mengambil kunci apartemen dari tasnya. Setelah menemukan kuncinya, ia mengambil kunci itu dan segera memasukkan ke engsel kunci itu. Pintu pun terbuka. Saphine membuka pintu tanpa pikir panjang.
Namun, pada saat ia membuka pintu apartemen, ia terkejut bukan main. Ia melihat 4 siswa yang berada dalam apartemennya. Mereka sangat senang dengan kedatangan Saphine. Namun, Saphine malah ketakutan dengan keberadaan mereka.
“Apa yang kalian lakukan disini?” Tanya Saphine dengan panik.
“Hei. Hei. Hei. Kami datang kesini untuk menjengukmu,” jawab siswa berambut pirang yang sedang mengutak-atik barang Saphine.
“Kami cemas dengan keadaanmu,” jawab siswa bermata hitam dengan raut wajahnya yang menjijikkan.
“Kalian jangan menyentuh barangku!” Saphine segera bergerak dan menghampiri 4 siswa itu.
"Hah?! Kenapa kau ini?" Bentak siswa wajah jelek menatap Saphine dengan penuh amarah.
"Kau menolakku, huh?" Lanjutnya menghadap Saphine.
Saphine dengan ketakutan menjawab, "Ti-Tidak. Aku hanya …."
"Whoa! Apa ini?!" Seru siswa bertubuh kurus mengambil sebuah benda yang ada di genggamannya
"Itu …."
"Naltrexone?!" Tanya siswa berambut pirang itu mengambil obat itu.
Saphine hanya terdiam dengan hal itu. Dia tidak bisa berkata apapun karena mereka mengetahui bahwa ia mengidap penyakit kecanduan ****. Jika mereka mengetahui itu, nyawanya akan terancam.
Oleh karena itu, Saphine selalu membawa Naltrexone kemanapun ia pergi.
Keempat siswa itu langsung mendesak Saphine dan mendorongnya ke ranjangnya. Mereka bersiap untuk melancarkan alisnya dan segera meluapkan nafsu mereka ke Saphine.
__ADS_1
"A-Apa yang kalian lakukan? Aku mohon hentikan!" Mohon Saphine sambil menahan tangisannya.
"Tidak mau. Kau sudah membohongi kami. Kau menggunakan Naltrexone agar berhenti kecanduan. Setelah berhenti, kau akan meninggalkan kami dan segera mencari perlindungan." Duga siswa berambut pirang dengan tatapan sadisnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu untuk lari dariku."
"Kau menjadi milikku selamanya," ucapnya.
"Tidak! Aku tidak berniat apapun," cekal Saphine dengan wajah kecemasannya.
"Joe Hyeon. Aku sudah mengunci pintu agar polisi tidak masuk," panggil siswa bermata hitam menghampiri siswa berambut pirang itu.
"Kerja bagus, Romano," puji Joe kepada Romano.
"Mereka tidak bisa menghalangi kami sekarang," ucap siswa berwajah jelek memegang tangan Saphine.
"Tugas akademi membuatku stres," keluh siswa bertubuh kurus.
"Iya, kau benar, Ray," respon siswa yang berwajah jelek itu.
"Tapi, kita dapat yang kita inginkan, Parrel," terima Ray dengan keluhan Parrel.
Saphine hanya menyimak dengan perasaan cemasnya.
“Hei. Kamu suka yang ini, bukan?” Tanya Joe memperlihatkan video ke Saphine.
Saphine merasa terkejut bahwa video itu berisi tentang perilaku Saphine yang nakal. Saphine tidak percaya bahwa ia direkam oleh seseorang. Ia ingin sekali menahan tangisannya, namun, air matanya membasahi pipinya.
“Apa ini?” Wajah Saphine memucat melihat video itu.
“Tolong! Jangan perlihatkan padaku! Kalau kamu mengirimnya, kehidupan akademiku akan hancur,” mohon Saphine.
“Um,” jawab Saphine dengan terpaksa.
“Yosh! Waktunya permainan! Dan sekarang kita akan bersenang-senang,” tekad Joe dengan senyuman jahatnya itu.
Setelah sorakan itu, permainan dimulai di apartemen Saphine.
Aktivitas yang memaksa itu membuat Saphine harus menerima itu. Ia mendesah dengan liar sehingga membuat mereka menyukainya. Namun, ia merasa menyukainya. Ia ingin minta tambah lagi dengan mereka.
Ronde demi ronde, Saphine tidak peduli dengan rasa lelah itu. Ia menjulurkan lidahnya karena tubuhnya merasa enak. Joe, Parrel, Ray, dan Romano meraba tubuh Saphine yang hina itu dan memainkannya.
Jam 23:12, permainan berakhir, mereka memutuskan untuk menginap di apartemen Saphine setelah memainkan permainan mereka. Namun, Saphine yang sudah dalam batas kecanduan itu memutuskan untuk membiarkan mereka tinggal selama mungkin untuk memuaskan hasratnya.
Hal itu yang akan menjadi masalah yang cukup rumit untuk diselesaikan.
[*^*]
20 Oktober, jam 07:07, kota Bandung, ada sebuah perusahaan besar dari Indonesia yang sedang beroperasi. Di tempat yang luas, ada seorang direktur yang sedang mengangkat telepon dari seseorang. Dia mengangkat telepon dan segera membalas telepon itu.
“Iya,” sapa direktur itu.
“Presdir. Aku ingin berbicara denganmu sekarang juga,” tegas penelpon itu dengan santai.
“Ada apa kau menelponku?” Tanya direkrut itu dengan nada serius.
“Aku punya sesuatu untukmu,” jawab penelpon itu.
“Apa itu?” Tanya direktur dengan rasa penasaran.
__ADS_1
“Aku sudah mengirimkan foto dan video untukmu di Gmail. Kau pasti suka dengan itu,” respon penelpon itu.
“Sebentar,” lirik direktur itu segera menyalakan laptopnya dan segera mengecek akun Gmail-nya. Ia melihat berbagai macam foto dan video mengenai gadis berambut perak itu.
Ia melihat foto dan video yang nakal itu. Direktur itu memulai video itu dan melihat Saphine sedang berpose nakal. Setelah video itu berakhir, muncul niat jahatnya untuk melakukan sesuatu.
“Bagaimana, Presdir Andy?” Tanya penelpon itu.
“Cukup mengesankan. Aku ingin gadis itu dibawa ke Bandung dan menjadi budakku,” jawab direktur itu dengan tersenyum jahatnya.
“Kapan kau akan mengirimkannya, Joe?” Tanya direktur itu dengan antusias.
“Sederhana saja. Kau tinggal memasukkan kartu Visa-mu ke rekening ini. Tapi, aku menawarkanmu untuk membelinya tiga atau empat gadis dengan harga $ 400 dan kau bisa menikmatinya sepuasmu. Aku juga berencana untuk memberimu gadis berambut orange di Kelas I Soshum A,” jawabnya dengan santai.
“Oo. Anivesta Bella. Aku ingin melihat kemampuan dalam mengendalikan saham,” respon Presdir Andy melihat kemampuan Bella.
“Lalu, apakah kau bisa mempercayaimu?” Tanya Presdir Andy ragu.
“Tenang saja. Aku memiliki banyak koneksi di seluruh dunia. Jika mereka ingin wanita itu, aku akan menjualnya dengan harga tinggi,” rayu Joe dengan nada santai.
“Kalau begitu, aku akan menunggumu sekitar sebulan lagi. Pastikan dia menjadi gadis yang nakal, ya!” Pesan Presdir itu.
“Aku paham itu. Aku tidak pernah gagal dalam penjualan wanita ini. JIka ada yang menghalangi, aku akan membunuh mereka,” tekad Joe.
“Baiklah, kalau begitu, aku permisi dulu. Banyak yang harus kulakukan di akademi yang membosankan ini,” pamit Joe.
“Baiklah sampai jumpa,” pamit Presdir Andy segera menutup telepon dan kembali melihat video yang dikirim oleh Joe.
Andy melihat video yang dikirimkan oleh Joe secara berulang kali. Terdapat 13 video Saphine sedang meluapkan hasratnya. Saphine semakin lama semakin menikmati dalam video itu.
Presdir Andy tersenyum melihat itu. Ia menuju ke kamar mandi dan meluapkan hasratnya meskipun ia memiliki istri dan anak.
Setelah beres, ia kembali ke ruangannya dan menunggu pengiriman para gadis yang dikirimkan ke Bandung. Lalu, ia mengerjakan tugasnya dengan semangat dan menyelesaikan dokumen yang sangat panjang itu.
Setelah menyelesaikan tugas itu, ia berdiri dari kursinya dan menuju ke jendela sambil melihat Kota Bandung yang sedang pagi hari itu. Kota Besar di Indonesia, dengan banyak bangunan mewah dan kumuh itu sedang mengalami masalah politik.
Andy menatap banyak orang miskin yang bertahan hidup yang keras ini. Ia juga melihat orang kaya yang menghamburkan uang mereka dan banyak aktivitas yang cukup ramai itu.
"Sebentar lagi, dia akan menjadi budakku!"
[*^*]
“Lapor, ini Weiss.”
“Bos! Quartet! Aku sudah menjalankan misi ini. Namun, pengacau itu selalu menghalangi rencana kita.”
“Aku meminta bantuan kalian untuk mengirimkan bantuan lagi.”
“Kira-kira 6-8 bulan untuk menjalankan aksinya. Pengacau itu sudah membuat korban yang berjatuhan. Ditambah lagi, korban yang berjatuhan sudah berada di tangan Detektif Alan.”
“Aku cukup cemas untuk investigasi itu.”
“Semoga saja tidak ada identitas tidak merambat menuju ke Python.”
"Aku sudah membuat rencana khusus untuk membuat kekacauan di akademi."
“Selain itu, aku sudah membuat rencana untuk membuat musuh di sekitarnya. Dia akan menjadi milikku.”
"Salam hormat kepada Sang Revolusi."
__ADS_1