
22 September 2025, jam 07:23, gadis emerald berpakaian militer melakukan panggilan kepada anggota Klub Militer untuk merebut pangeran dari pertempuran. Ia menggunakan aplikasi Zoom mode Hologram untuk memanggil atasan Klub Militer dengan cara mengirimkan link ke Telegram Klub Militer.
[Zoom]
[Panggilan Diterima! 2 Orang Memasuki Ruang Zoom Anda!]
Lisa : “Lapor, Ketua! Saat ini, aku berada dalam situasi yang terpojok.”
Ketua : “Laporan yang bagus. ”
Lisa : “Ada tiga pengganggu yang sedang mencariku..”
Wakil Ketua : “Ada yang bisa kami bantu?”
Lisa : “Iya. Aku butuh sebuah batalyon untuk menjalankan operasi ini.”
Ketua : “Baiklah, kami akan mengirimkan batalyon untukmu.”
Wakil Ketua : “Usahakan kamu menjalankannya dengan baik.”
Lisa : “Baik, Ketua!”
Ketua : “Rapat selesai.”
Wakil Ketua : “Kami akan menjalankan aktivitas kami.”
[2 Orang Keluar dari Ruangan Zoom]
Lisa yang mematikan handphonenya segera beranjak dari tempatnya. Ia melihat pertarungan yang sengit dari koridor atas. Ia tersenyum tipis dalam bayangannya. Rencana yang akan menantinya.
“Waktunya pembantaian!”
[*^*]
Evelyn dan Aurora sedang bergerak untuk mencari titik kelemahan dari lawan. Akishima dan Sheeran sedang melakukan tembakan dari segala arah. Stephany, Aria, dan Millia melakukan pertahanan untuk melindungiku yang tidak sadarkan diri.
Namun, Mereka tidak dapat menembus pertahanan lawannya. Lawannya mengenakan perisai dan melakukan tembakan lagi. Aurora dengan mode Langit Malam Hitam mempercepat langkahnya dan menembus pertahanan.
Percuma, Millia melakukan tembakan yang tepat di dada Aurora, sehingga Aurora harus menjauh. Evelyn mendekati Aurora yang terluka di bagian dadanya. Ia mengambil perban dan cairan antiseptik untuk mengobati luka Aurora.
“Kita tidak bisa mendekat, desu,” pikir Evelyn merawat Aurora.
“Akishima. Bagaimana ini, desu?” Evelyn memanggil Akishima dengan mic headphone.
“Mana aku tahu. Mereka seperti Kaido dan Big Mom saja,” komentar Akishima saat melakukan tembakan.
“Mereka melakukan hal licik untuk menghancurkan kita. Para janda itu melakukan hal licik. Jika kami kalah, mereka akan merawatnya dan akan melakukan hal mesum lainnya,” lanjut Sheeran sambil menembak sasaran yang tepat.
Millia tertawa karena gadis yang akan merebutku tidak akan menembus pertahanan mereka. Ia beradu, “Kalian tidak bisa menembus pertahanan kami. Kalian akan dihancurkan dan kalian tidak akan mendapatkan pangeran kami,” dan melakukan tembakan beruntun.
Sheeran dan Akishima yang bergerak secara zig zag dan meloncat untuk melakukan tembakan jitunya merasa tertekan. Peluru yang mereka lancarkan mengenai tubuhku.
“Tch! Dasar licik! Dia seakan-akan ingin membunuh Rivandy ” umpat Akishima sambil mengisi peluru snipernya.
“Aku tidak bisa menyerang kalau seperti ini,” lanjut Sheeran mengisi pelurunya.
“Rasakan ini! Fortress Girl : Aim Shot!”
Peluru yang cepat itu membuat kepala Sheeran tertembak Aria tersenyum kecil dengan tembakan itu. Evelyn dan Akishima segera menghampiri Sheeran yang tertembak di bagian kepalanya.
“Sheeran!” Panggil Evelyn sambil membalut perban di kepala Sheeran
“Oi! Bangunlah! Pangeran Rivandy tidak akan memaafkanmu jika kamu mati,” lanjut Akishima sambil menyindir Sheeran.
“Kalau Sayangku mati, aku harus mati … juga,” tolak Sheeran sambil tersenyum kecil.
“Tidak boleh, desu! Apa kamu ingin meluapkan hasratmu, desu? Apakah kau ingin Rivandy direbut oleh orang lain, desu? Atau Rivandy akan berselingkuh dengan wanita lain, desu?” Evelyn menahan tangisannya ketika mengobati Sheeran.
“Tidak akan! Aku akan merebutmu kembali!” Sheeran bangkit kembali dengan kekuatan Goku
“Eh?! Sejak kapan kamu mempunyai kekuatan Goku? Aku tidak mengerti,” komentar Akishima setelah melakukan salto.
“Aa. Dia langsung sembuh, desu,” batin Evelyn memegang perbannya.
“Hiya!” Sheeran menyerang Aria dengan pistolnya.
Aria yang tidak akan tertembak langsung menggunakan senapannya untuk menembak Sheeran secara beruntun. Sheeran tidak mundur dengan tembakan itu Ia maju secara perlahan dengan darah yang keluar dari tubuhnya.
“Sial! Kenapa dia tidak mundur saja?” Umpat Aria menembaki Sheeran terus-menerus.
__ADS_1
“Aku akan menghabisimu, Janda Jalanan. Lalu, aku akan …,” ucapan Sheeran terhenti dengan sebuah getaran yang bergelegar di telinga mereka.
Gemuruh itu menghentikan semua aktivitas pertarungan. Di tempat persembunyian, Zhukov mendengar sebuah gemuruh yang mengganggu. Klub Pangeran yang menonton pertarungan, Farah dan Dina segera mencari gemuruh itu.
“Apa ini?” Zhukov bertanya pada dirinya.
Di tengah sebuah gemuruh, ada sebuah speaker berukuran besar, dan seorang gadis yang menggunakan headphone dan menggunakan DJ Pack dan Launchpad bersatu. Gadis menggunakan masker hitam polos sedang menari untuk meremehkan orang lain.
Bukan berarti ia meremehkan kekuatan orang lain. Ini bertujuan untuk memancing emosi orang lain untuk bertarung dengannya.
{Sfx : Teminite - Rise and Shine}
“Hello, what’s up, guys?”
“I’m back and I'll take the prince from you all.”
“Prince Club, are you ready to lose?”
“Let’s check it out!”
Kotori mulai bergerak ke depan untuk merebutku. Stephany dan Millia yang terpancing mulai menembak Kotori dengan senjata mereka. Berbagai tembakan yang menuju ke arah Kotori. Kotori yang melihat senjata itu segera menghindar ke kiri atau ke kanan dan menangkis peluru dengan piring hitam.
Setelah sampai di 2 meter dari mereka, ia menari sambil menghindari serangan itu. Ia bergerak dari kanan ke kanan untuk mencari peluang untuk menembus pertahanan Tembakan demi tembakan. Kotori melakukan tarian salto untuk menghindari tembakan yang beruntun itu.
“Sial! Aku tidak bisa mendekat. Aku butuh celah untuk menembus pertahanan mereka,” umpat Kotori melihat pertahanan ketiga gadis yang kuat.
Stephany tertawa kecil dengan terpojoknya Kotori. Ia bertanya, “Ada apa, Gadis Masker? Apakah kau tidak bisa mendekat?” Sambil melakukan tembakan.
“Selamatkan dia kalau bisa!” Lanjut Millia sambil meraba tubuhku.
“Percuma saja! Kau tidak bisa mengertakku hanya dengan itu,” desis Kotori yang sedang menari.
“Hah? Jangan membual, kamu! Aku akan membunuhmu sekarang juga,” tekad Aria memperbaiki perisainya.
“Fortress Girl : Sub-Machine!”
“Electro Dubstep : Unstoppable!”
Aria mengubah senapannya menjadi senapan sub machine dan menyerang Kotori. Kotori bergerak ke hadapan Aria. Lalu, Kotori menembus pertahanan dengan piring hitamnya dan tidak menyerang Aria, melainkan mengambil tubuhku.
Aria tidak percaya dengan kondisi ini.
“Apa? Tidak mungkin?!”
“Mina! Aku mendapatkan Rivandy. Sekarang!” Seru Kotori sambil menggendongku keluar
Namun, Kotori harus berhadapan dengan musuh barunya. Ia harus berhadapan dengan seorang gadis berambut violet yang sedang memegang pistol. Ia berada di depan Kotori dan mengarahkan pistolnya di belakangnya.
Saat peluru Sheeran diluncurkan, pelurunya melesat dengan cepat menuju leher Kotori. Namun, ada sebuah peluru yang menghantam keras peluru yang akan membunuh Kotori. Peluru itu berasal dari seorang gadis yang sedang bersembunyi.
Sheeran mencoba untuk menembak sebanyak 3 kali secara beruntun. Namun, Peluru itu ditangkis oleh peluru yang menghalang. Tidak sampai disitu, peluru dari senapan Lee-Enfield mengenai dada Sheeran dari samping, sehingga Sheeran tumbang. Saat Kotori menoleh ke belakang, ia melihat ada gadis yang berusaha menembaknya tergeletak di jalanan.
“Thanks, Shiori,” gumam Kotori sambil tersenyum dari dalam maskernya.
“Electro Dubstep : Shockwave : Play!”
Kotori menyalakan musik melalui headphone miliknya dengan judul “Teminite - Shockwave” agar bisa melarikan diri. Aurora yang melihatku yang dibawa kabur segera bangkit dan mulai mengejar Kotori.
“Aurora! Tunggu dulu, desu! Kamu mau kemana, desu?” Tanya Evelyn melihat Aurora bangkit dan segera mengejar Kotori.
Aurora tidak menjawab, hanya fokus untuk mengejar gadis yang membawaku. Ia khawatir aku akan mati.
[*^]
Zhukov yang sedang melihat Kotori sedang membawaku. Ia merasa cemas aku akan dibawa oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab.
“Denis. Cepatlah ” pikirnya sambil mengharapkan Denis dan Hammer untuk datang kemari.
“Aku harus melakukan sesuatu. Kalau tidak, ini akan gawat.”
“Tapi, apa yang harus kulakukan?”
“Sepertinya tidak ada. Aku hanya perlu melihatnya."
Zhukov terus berpikir sambil melihat pertarungan yang akan sengit itu. Ia tidak bisa melakukan apapun. Menghampiri Akishima dan Sheeran akan membuatnya ketahuan oleh seseorang yang sangat mengerikan. Zhukov tidak ingin bertemu dengannya, mendengarkan namanya saja membuatnya tidak enak.
Tak lama kemudian, ada sebuah kendaraan yang tidak memiliki roda menghampiri ketiga gadis itu. Kendaraan itu segera mengeluarkan senjata melakukan tembakan dengan kecepatan tinggi. Kondisi tersebut membuat Stephany, Aria, dan Millia terpojok dan segera mundur ke belakang..
“Sial! Darimana kendaraan ini berasal?” Umpat Milia sambil memasukkan perisainya.
__ADS_1
“Aku tidak tahu. Sebaiknya kita lari saja,” usul Aria sambil menahan nafasnya.
“Baiklah!” Mereka mundur dan segera mencari titik pertemuan dengan anggota yang lainnya agar mereka bisa melakukan rencana cadangan mereka.
Beberapa saat kemudian, Denis dan Hammer muncul, Saphine turun dari kendaraan itu dan segera menghampiri Sheeran. Saphine mengeluarkan kotak P3K dan mengambil beberapa peralatan untuk mengobati Sheeran.
“Sheeran. Apakah kamu baik-baik saja?” Tanya Saphine sambil membalut dengan cemas.
“Um. Aku … tidak apa-apa. Hanya … ingin istirahat saja,” jawab Sheeran sambil melihat langit.
“Baiklah. Aku akan mengobatimu. Tenang saja,” respon Saphine sambil tersenyum kecil.
“Apa?! Aurora kabur?!” Terdengar sebuah teriakan dari seorang gadis.
“Iya, desu. Dia mengejar pelakor itu, desu.” jawab Evelyn dengan blak-blakkan.
“Argh! Percuma aku memberikan kepercayaan kepadanya. Dia membawa seragamku, sehingga aku tidak bisa memakainya lagi,” geram Akishima sambil menendang batu
“Hoi! Akishima! Penampilanmu menggoda sekali,” goda Denis sambil tertawa .
“Argh! Denis Kancil! Bukannya menolong, kamu malah mengejekku, Denis Kancil!” Akishima memarahi Denis sambil berteriak.
Hammer tertawa dengan guyonan itu. Ia menyahut, “Sudahlah! Kamu tidak perlu marah begitu. Aku punya pakaian yang bagus untukmu. Kamu mau?” Sambil menawarkan pakaian bagus kepada Akishima.
“Tidak, terima kasih. Aku harus menemukan seragamku segera,” tolak Akishima sambil menaiki kendaraan.
“Hei! Evelyn, kenapa kamu diam saja? Naiklah!” Ajak Denis.
“Iya, desu.” Evelyn berjalan dan memasuki kendaraan itu.
Tak lama kemudian, Zhukov bergerak cepat dan menghampiri kendaraan itu. Ia berjalan cukup pelan dan santai sambil melihat situasi yang akan dihadapinya.
“Kalian terlambat. Kalian membiarkan Rivandy pergi. Kita harus merebutnya kembali. Lalu, Aurora mengejar gadis itu. Jangan khawatir! aku tahu jalannya,” cetus Zhukov untuk menyelamatkanku.
“Saphine, kamu harus membawa Sheeran ke unit kesehatan. Sisanya, selamatkan Rivandy!” Pinta Zhukov sambil menaiki kendaraan itu.
“Roger!” Terima Saphine sambil membawa Sheeran menuju ke unit kesehatan.
“Akishima. Kamu jangan marah! Aku akan merebut seragam milikmu kembali,” desah Zhukov dengan tenang dan santai.
“Aku percayakan ini padamu,” balas Akishima sambil duduk pada kendaraan itu.
Akhirnya, kendaraan satu meter berjalan cepat meninggalkan gerbang dan menuju ke koridor akademi.
[*^*]
[Zoom]
[Anda Mendapatkan Panggilan dari Chelsea Arslan (Indonesia). Anda Otomatis Masuk Ruangan Zoom]
Chelsea : ”Gimana? Kalian ketemu Pangeran Rivandy, gak?”
Farah : “Nggak, sih. Pangerannya dibawa lagi.”
Chelsea : “Heh? Apa yang dilakukan oleh Anggrek 1 itu? Lelet banget sih.”
Dina : “Tenang Chelsea-chan. Aku sudah membuat titik pertemuan darurat. Kamu bisa datang kapan saja.”
Chelsea : “Gak bisa! Aku mau kerjakan tugas. Soalnya, Cherry selalu memberikan tugas yang berat padaku yang cantik dan manis ini.”
Farah : “Cie. Kapan lulusnya?”
Chelsea : “Bukan urusan elu.”
Farah : “Tch! Padahal aku ingin tahu saja.”
Dina : “Sudahlah! Nanti, ada 70 cewek yang akan bergabung. Jadi, Chelsea-chan harus hadir untuk mendapatkan Pangeran Rivandy.”
Farah : “Mereka hanya awal saja.”
Chelsea :”Laporan yang bagus."
Chelsea : “Tapi, kalian harus mencari nama target untuk mendapatkan Pangeran Rivandy.:”
Farah : ”Ashiiap!”
Dina : “Aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan.”
Chelsea : “Rapat selesai. Aku mo mengerjakan tugas buat mempertahankan kedudukanku.”
__ADS_1
Farah : “Baiklah!”
Dina : “Baiklah”