
Di ruang keluarga Wijaya.
Setelah di paksa Dwi, akhirnya Alisha mencoba juga makan pedas dari pada penasaran. Namun dalam hitungan tiga tusuk akhirnya ia menyerah, lidahnya terasa seperti terbakar.
"Dwi, apa kamu gak kepedasan?" tanya Alisha mengipas-ngipas mulutnya.
"Ya pedas Mbak, namanya juga makan pedas." jawab Dwi menyendok lagi satu tusuk bakso ke mulutnya.
"Kau ingin membunuh ku." ujar Alisha.
"Ha ha, ha." gak tahan Dwi tertawa.
"Ini juga cabainya sudah dikurangin Mbak, biasanya juga lebih pedas dari ini." jawab Dwi santai memasukkan lagi potongan tofu ke mulutnya.
Alisha mendelik. "Jangan lagi masak ginian kasi menantuku makan Dwi, ngerti." tegas Alisha.
"Cukup sekali ini."
Dwi tersenyum dikulum. "Siap Nyonya."
***
Di kamar Yudi di meja sofa, duduk di lantai beralas karpet.
Kiara, Laras dan sabit juga sedang menikmati makan pedas. Bibir mereka merah dan jontor.
Laras yang memaksa Sabit ikut makan, keringat bercucuran di wajahnya. Anak itu bolak-balik mengusap matanya yang berair seperti orang menangis.
"Hah!" pekik nya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Ayo Sabit kamu bisa, ha bi sin...ha bi sin!"
Kiara dan Laras menyemangati sambil tertawa-tawa melihat ekspresi Sabit. Dari telinganya sampai keluar asap. Di piring Sabit masih ada beberapa ketul bakso, sosis dan ceker.
"Mama! Aku gak sanggup lagi, ijinkan aku minum." mohon Sabit mengipas-ngipas mulutnya yang kepedasan.
"Eit, jangan panggil aku Mama kalau gak bisa habis." cegat Laras menjauhkan air.
"Ha ha ha." Kiara tertawa terbahak melihat dua orang mamak anak dadakan itu berinteraksi.
"Panggilan mama, baru boleh setelah Sabit ngabisin semua yang di mangkok." lanjut Laras pasang wajah kejam.
"Lo emang cucok Ras jadi ibu tiri, kejamnya pas. Paling bisa nyiksa anak, haha, ha." Kiara memegang perutnya keram menahan tawa, dari mulutnya keluar liur yang langsung disedot nya lagi.
Laras tersenyum jahil.
Biar enak si Yudi, tau rasa dia anaknya gue kerjain, dalam hati Laras.
"Ya udah minum, tapi lo gak boleh panggil gue Mama." tegas Laras.
"Wah, sadis." Kiara memandang Sabit kasihan.
Akhirnya Sabit menahan dirinya untuk tidak minum, ia ingin sekali memanggil Mama pada istri Ayah Yudi. Ia sudah putuskan akan memanggil Yudi Ayah dan Laras dengan panggilan Mama. Mamanya masih muda dan cantik seperti photo ibunya Lastri yang telah meninggal.
Nama mereka juga hampir sama, Laras dan Sulastri,
Dalam hati Sabit merasa senang, mengagumi Laras gak jemu-jemu. Ia juga melihat ke Kiara, kecil mungil dan baik hati. Dalam hati Sabit, nanti mau cari istri seperti Kak Kiara.
*
__ADS_1
Setelah menurunkan Bram di depan pintu utama, Yudi membawa mobil ke garasi.
Semoga malam ini tidak ada gangguan yang bisa menghambat jalan nya proses bercocok tanam dengan Laras, dalam hati Yudi.
Masa belum tau rasa gimana bikin nya, tiba-tiba sudah punya anak. Gak adil itu namanya.
Batin Yudi memberikan kuncinya pada pelayan pengurus mobil lalu berjalan ke ruang utama.
Di ruang keluarga Bram melihat wajah Alisha yang aneh.
"Mama kenapa?" tanya Bram.
Alisha menoleh.
"Oh, sudah pulang. Apa sudah beres?" tanya nya.
"Hm." angguk Bram duduk di sofa di samping Alisha.
"Data aman, namun si pencuri tidak terlacak." jawab Bram menarik napas dalam, masih belum mengerti apa yang terjadi.
"Hm, setidaknya." gumam Alisha.
"Bibi, makan apa itu?"
Tanya Bram saat melihat Dwi menggerogoti sesuatu seperti jari-jari bayi merah menyala. Dengan tatapan seram melihat ke mangkok Dwi isinya cabai semua.
"Makan pedas, apa kamu mau coba?" Alisha yang jawab memberi Bram sisa mangkoknya.
"Yeakh, ogah." Bram menggeleng.
"Bram ke kamar dulu, mau lihat Kiara." ujar Bram berdiri dari duduknya.
"Kiara di kamar Yudi lagi makan pedas bersama si Laras." jelas Alisha.
"Jangan bilang dia makan ini juga." tunjuk nya ke mangkok Alisha.
"Ha haha." gak tahan Alisha tertawa melihat ekspresi shock putranya.
Hais! Bram menggeram bergegas ke lorong.
"Ini juga permintaan Kiara, apa dia ngidam?" jerit Alisha menggoda Bram.
Ck, "Mana mungkin, baru kemaren tanam benih." gumam Bram pada diri sendiri.
Yudi yang baru masuk ruang keluarga bergegas mengejar bos nya, waduh gawat!
*
Di kamar Yudi.
"Sabit kalau kamu manggil Yudi ayah kamu manggil aku ibu saja baru sesuai, jangan manggil Mama, ngerti!" tegas Laras.
Laras juga sudah memberi Sabit minum.
"Tapi Abit sudah punya ibu." jawab Sabit.
"Iya, tapi kan ibu mu sudah meninggal." ketus Laras.
Cih, si Laras kalau ngomong ceplos banget, dalam hati Kiara sedih merasa senasib dengan Sabit.
__ADS_1
"Bagi Abit ibu belum meninggal, dia sering datang kok nengokin Abit." ujar Abit.
"Ha!" Kiara dan Laras pandang-pandangan.
"Maksud lo." sergah Laras dengan mata lebar.
"Iya, Abit masih sering jumpa ibu walau tak sesering dulu." jawab Abit.
"Sekarang juga ibu ada di sini, itu di pojok." lanjutnya menunjuk pojok kamar di belakang Laras duduk.
Aaaaaaaaaaaa!!!
Kiara dan Laras teriak bersamaan, langsung melompat ke belakang Sabit, masing-masih satu orang memeluk lengan Sabit.
Cklekk.
Bram berdiri di depan pintu wajahnya merah padam, di belakangnya tubuh Yudi menciut.
"Aaaaaaaaaaaa, sayang." melihat suaminya Kiara melompat ke tubuh Bram, Bram menangkap istrinya.
"Apa yang kau lakukan pada istriku!" Bram membentak Sabit.
Sabit terdiam, Kiara jadi kasihan. "Sayang jangan marah, hanya bercanda." pujuk Kiara.
"Bercanda apanya, kamu sampai teriak ketakutan gitu. Kalau aku gak datang, kamu akan terus memeluknya seperti istri si Yudi itu." unjuk Bram pada Laras memonyongkan bibirnya.
Aduh, Laras baru nyadar langsung melepas pelukannya di lengan Sabit, menggeser tubuhnya. Tidak berani lama melirik ke Yudi di belakang Bram yang melotot padanya.
Ck, his. Bram menarik napas kasar. "Yudi urus anak dan istrimu itu." Bram berbalik badan, Yudi memberi jalan bosnya dengan menggeser tubuhnya.
Anak dari mana, aku belum pernah bikin enak, dalam hati Yudi menutup pintu kamarnya.
Laras dan Sabit terdiam, tak berani menatap Yudi, Yudi menatap keduanya intens.
"Hei, kamu anak Yudian! Kalau sudah selesai makan bisa tolong keluar." ujar Yudi pada Sabit.
Sabit, mengangguk lalu membawa mangkoknya. Laras menahan tangannya.
"Mangkok biar saya yang beresin, kamu keluar saja." ujar Laras pada Sabit.
Sabit mengangguk. "Terima kasih Mama Laras." ucap Sabit.
Ck, Laras menekan gigi antara giginya kesal di panggil mama oleh Sabit.
Sabit menarik ujung bibirnya, ia tak berani menatap Yudi. Namun sebelum keluar ia menunduk hormat pada Yudi.
Setelah Sabit keluar. "Mama Laras." Yudi mengejek Laras.
Cis, Laras mendengus.
"Ternyata kamu sudah punya anak." ujar Yudi menatap sinis Laras.
Laras mendelik pada Yudi. "Bukannya itu anak Om." ketus Laras suara kesal, sambil ngumpulin mangkok-mangkok.
"Aku gak ngerasa tuh, cepat beresin! Aku tunggu di kamar, gak pake lama!" tegas Yudi masuk ke ruang tidur menuju kamar mandi.
******
Hi, readers yang Budiman. Selesai baca per bab jangan lupa like nya ya.
__ADS_1
Vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi episode berikutnya 🙏