
Di pintu gerbang rumah besar.
"Pak, saya mau berangkat kerja, tolong buka gerbangnya!" mohon Laras pada Satpam.
Satpam memandang Laras dari atas sampai bawah, entah apa yang dipikirkan nya. Karena Satpam baru bertugas pagi ini sehingga ia tidak mengetahui ada orang baru di rumah besar, segera ia melapor pada Samsir.
Samsir juga sudah mengetahui, siapa gadis yang menikah dengan Yudi. Barusan ia juga melihat Nyonya berbicara dengannya, jadi Samsir memberi perintah pada Satpam agar Nona Laras jangan dipersulit akses keluar masuk rumah besar.
Yang membuat Samsir heran, kenapa Yudi tidak mengantarnya. Apa Yudi tau Istrinya berangkat kerja naik ojek. Lalu Samsir menghubungi Yudi, mencari tahu.
"Maaf Nona, tunggu sebentar. Boleh minta tanda pengenal orang yang menjemput anda." ujar Satpam.
Laras melambai pada Zainal, Zainal turun dari motornya berjalan ke pos Satpam. "Ada apa?" tanya Zainal dari luar gerbang.
"Boleh lihat tanda pengenalnya Pak." ujar Satpam
Zainal menunjukkan name tag nya dan membuka jaketnya. Kelihatan seragam kerja, motifnya sama dengan motif yang dipakai Laras.
"Pak, saya teman satu kantor Nona ini. Ini kartu tanda pengenal saya kalau memang dibutuhkan." ujar Zainal mengambil KTP nya dari dompet menyerahkan nya pada Satpam.
"Baiklah, saya terima." Satpam mengambil photo Kartu tanda pengenal Zainal dan juga rekaman wajahnya.
"Maaf ya Zai, gue jadi ngerepotin lo." ucap Laras gak enak hati.
Zainal mengangguk tersenyum pahit. Semalam di perkampungan, beredar kabar bahwa Laras akan dinikahkan dengan Samsul, anak pemilik dealer motor terbesar di kampung Koneng.
Kenapa sekarang malah berada di rumah besar, Zainal penasaran. Sehingga ia bergegas menemui Laras, ingin mengetahui kebenaran ceritanya saat Laras tiba-tiba menghubunginya.
Setelah Zainal menerima KTP nya Laras di perbolehkan keluar, Satpam membuka gerbang. Bersamaan dengan itu masuk pesan di pesawat HT Satpam. Buru-buru Satpam menahan Laras saat hendak berjalan ke motor Zainal di parkir.
"Sebentar Nona, asisten Yudi sedang menuju kemari." ujar Satpam.
Berdua Laras dan Zainal pandang-pandangan.
Kenapa dia kemari, dalam hati Laras berjalan kembali ke pos.
*
Setelah Samsir menghubungi nya, Yudi langsung memindai memang benar Laras lagi di pos Satpam dijemput seorang pria bermotor. Ia bergegas ke pos Satpam sambil menghubungi Satpam lalu memberi perintah agar menahan Laras.
Sampai di gerbang, nafasnya ngos-ngosan karena berlari seperti di kejar setan. Lalu Yudi menarik tangan Laras paksa, seketika Zainal menahan Laras dengan menggenggam tangan Laras yang satunya.
Yudi melotot pada Zainal. "L-lepaskan t-tanganmu" hardik nya susah payah karna nafas yang belum stabil.
Tak mau kalah Zainal menantang tatapan Yudi. "Anda jangan kasar pada perempuan." ujar Zainal, belum mau melepaskan tangan Laras.
Yudi mempererat genggamannya. "Lepaskan!" bentak Yudi menarik Laras ke arahnya.
"Anda yang lepaskan, kita berdua mau berangkat kerja." jawab Zainal juga menarik Laras ke arahnya. Jadilah mereka tarik tarikan.
"Aaa!"
Laras yang di tengah kesakitan karena ditarik sana tarik sini lalu menghempas tangan Yudi. Yudi mendelik coba menangkap lagi tangan Laras, namun dengan cepat Laras menepis nya.
Yudi menatap Laras, wajahnya merah padam. "Jangan karena tidak ada perjanjian tertulis, kamu bisa bertingkah sesukamu. Di rumah besar ada peraturan, sejak lama motor di larang masuk. Saya juga terikat dengan peraturan itu." tegas Yudi.
__ADS_1
Barusan Nyonya juga mencegat Yudi dan menegurnya, setidaknya ia punya alasan yang masuk akal kenapa ia berlari ke gerbang menyusul Laras seperti orang gila dan tidak membuat Laras ke-geeran karena disusul oleh nya.
"Pak Danu, tolong infokan ke gardu pos depan. Peraturan Motor dilarang masuk kembali diberlakukan, kecuali jam makan siang, itupun hanya sampai lima hari ke depan. Selama open house nikahan Tuan muda. Setelah itu kembali ke pengaturan awal." tegas Yudi.
"Siap, Komandan." Satpam memberi hormat.
Yudi menoleh lagi pada Laras dan Zainal yang saling berpegangan tangan. Ada rasa sakit di hati Yudi sedikit.
"Saya yang akan mengantar kamu, tunggu saya bersiap." tegas Yudi.
"Tidak usah Om, terima kasih." jawab Laras cepat. "Saya tidak ingin merepotkan dan semakin terhutang, biarkan saya pergi dengannya." ujar Laras menarik tangannya dari genggaman Zainal.
"Saya bilang, saya yang akan mengantar kamu. Kalau merasa berhutang makanya patuh!" bentak Yudi, menggertakkan giginya.
"Hei..."
Laras menahan Zainal saat ia ingin berbicara. "Lo, tunggu di motor Zai!" titahnya.
Ck, Zainal berdecak lalu berjalan mengambil jarak dari Laras dan Yudi berdiri.
Laras menoleh pada Yudi. "Saya lebih nyaman naik motor atau naik angkutan umum. Tidak enak dilihat teman sekantor, seolah orang kaya naik mobil mewah. Saya harap Om mengerti." jelas Laras.
"Mengenai hutang, saya terima tawaran Om. Temui saya di rumah Ayah, karena pulang kerja nanti saya tidak akan kemari. Saya tidak cocok tinggal di rumah besar jadi susah mau pergi kerja. Sekarang biarkan saya pergi dengannya." lanjut Laras.
"Begini cara kamu berterima kasih setelah saya menolong kamu. Bukan saya yang mau dengan kamu, tapi kamu yang memohon pada saya menikahi kamu. Kalau kamu kembali ke rumah Ayahmu, beritahu ayahmu untuk membatalkan pernikahan dan mengembalikan biayanya dua kali lipat." selesai berkata Yudi meninggalkan pos berjalan ke ruang utama.
"Hah!"
Laras mendesah, dadanya sesak mendengar perkataan Yudi.
"Maaf Zai, gue gak bisa ikut lo." ujarnya berbalik badan.
"Ras." Zainal menahan Laras, Laras menoleh.
"Cerita ke gue apa sebenarnya yang terjadi. Utang apa, lo berutang apa sama si asisten Wijaya itu?" tanya Zainal.
"Maaf udah ngerepotin lo, gue masuk dulu." suara Laras pelan, ia berjalan nelangsa menuju ruang tengah utama, meninggalkan Zainal yang terbengong.
Kenapa Laras jadi menikah dengan asisten Wijaya, dalam hati Zainal.
Di pintu utama, Laras kaget melihat Yudi menungggu nya dengan tatapan membunuh.
"Jalan lebih cepat!" bentak Yudi menarik tangan Laras, gak perduli dengan tatapan beberapa pelayan yang memandang mereka.
****
Di kamar Bram, Kiara masih tertidur pulas.
Bram kembali ke kamarnya setelah selesai berolah raga. Yudi meninggalkan nya begitu saja setelah mendapat panggilan dari Samsir
'Ck merepotkan saja itu perempuan.' Bram menggerutu. Tangan jahilnya mentoel hidung istrinya, namun tidak ada reaksi. Mulutnya yang terbuka, membuat Bram gemas.
Semalam setelah makan, kembali Bram menyatukan tubuh mereka. Sampai Kiara tertidur, gak lagi membalas serangan nya.
Hehehe, rasain kau! Siapa suruh bikin aku cemburu pada si Beno sialan itu.
__ADS_1
Bram menyeringai, ia masuk ke kamar mandi mau membersihkan dirinya. Sepuluh menit, ia keluar dari kamar mandi Kiara belum juga bangun. Hanya mengenakan cangcut, Bram naik ke kasur.
"Sayang, ayo bangun! Apa kamu tidak lapar." ujarnya mencubit pipi Kiara gemas.
Kecantikan Kiara yang alami lebih kelihatan semakin cantik saat sedang tidur. Wajah innocent seperti bayi dengan bulu mata yang lentik dan bibir merah alami. Pipi yang halus nyaris tanpa pori di tumbuhi bulu halus keemasan.
"Hei." toel Bram di pipi Kiara.
Dengan mata terpejam Kiara berbalik badan membelakangi nya, Bram semakin gemas. Gak tahan Bram menguyel-uyel Kiara.
Merasa tubuhnya ada yang mengguncang-guncang seperti gempa bumi, Kiara membuka matanya berbalik telentang. Wajah Bram yang begitu dekat, Kiara buru-buru menarik selimut menutup wajahnya.
"Bangun sayang waktunya sarapan, nanti bisa tidur lagi." ujar Bram, tangannya merayap ke segitiga bermuda.
"Ahh."
Kiara teriak, wajahnya tersembul dari balik selimut. "Jam berapa?" suara Kiara serak khas bangun tidur. Jantung Kiara berdenyut merasakan sensasi tangan Bram.
Ah, suami ku ini paling bisa mancing, dalam hati Kiara
"Delapan tiga puluh." suara Bram bersamaan dengan teriakan di luar kamar.
"Lepas, gue bisa jalan sendiri!"
'Laras.' Kiara terlonjak, saat ingin melompat dari tempat tidur,
"Hei, mau kemana." Bram menahannya, mengempit tubuhnya.
"Itu suara Laras." ujar Kiara.
"Memang kenapa kalau iya."
"Ka, aku mau jumpa Laras, boleh ya." rengek Kiara.
"Sayang, lihat pakaianmu."
Tubuhnya hanya pakai kaos berbayang, no underwear in side, Kiara merengut. "Kenapa Laras berteriak, apa Yudi menyiksanya?" tanya Kiara.
"Kamu pikir Yudi tega menyiksa perempuan." Bram menatap sayu.
"Enggak, kamu aja yang tega menyiksaku." mulut Kiara maju satu senti.
"Hehe sayang, itu gemas bukan menyiksa." Bram membuka paha Kiara menenggelamkan wajahnya ke segitiga Bermuda.
"Oh." Kiara menegang. Ia sangat malu, gak ada jijiknya orang ini.
"Ka, aku mau pipis." erang Kiara menjambak rambut suaminya.
"Keluarin aja sayang." Bram growls.
*****
Hai, tetap ikutin Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi pada episode berikutnya 🙏
__ADS_1