
Pagi-pagi masih di rumah Kiara.
"Sekali-kali dengar cakap aku Ka atau aku tidak mau lagi bercinta denganmu." sergah Kiara.
Bram membulatkan matanya, apa! no way!
"Baiklah bawel, berikan aku handuk!"
Setelah menyiapkan handuk Bram, Kiara ke kamar mandi dapur.
"Astaga, bagaimana aku bisa kerja badanku penuh lebam begini."
Kiara memandangi tubuhnya di cermin yang penuh dengan kissmark. Baru ini Bram memberinya kissmark, mana penuh lagi, gilak!
Setelah mereka bersiap Kiara melajukan mobilnya ke pasar raya, janji dengan Yudi yang akan menjemput Bram di sana.
"Sayang, kenapa kamu pakai baju menutup leher seperti orang sakit. Baju itu sungguh gak nyambung dengan jas kamu." ujar Bram menatap heran dressing Kiara hari ini benar-benar aneh.
"Hah, kenapa heran, tentu saja mau menutupi bekas bibirmu. Ka Bram sengaja mau buat aku malu kan?" ujar Kiara, pandangannya ke depan terus konsen mengemudi.
Ahh, gara-gara si omes ini bisa telat neh aku kerja.
"Kalau malu duduklah di rumah atau di Apart." ujar Bram dengan senyum liciknya.
"Jadi itu maksudnya! Ka Bram sudah janji jadi harus ditepati, izinkan aku ke kantor cabang." ujar Kiara mendengus kesal.
"Sayang aku gak bisa berjauhan denganmu." rengek Bram seperti bayi kolot.
"Ka Bram, nanti aku pulang dua minggu sekali jadi tolong ya please!" tegas Kiara, matanya mencari-cari sepanjang pasar di mana Yudi menunggunya.
"Tidak kuat sayang, aku maunya setiap hari seperti tadi malam, lain kali kita tambah gaya dan durasi ya sayang." Bram tersenyum mesum.
glek! dasar!
Wajah Kiara merah padam, mengingat tadi ide itu dia sendiri yang mulai.
Karena tidak ada kata sepakat tentang kepergian Kiara ke cabang, akhirnya Kiara negosiasi. Akan bertanding dengan Bram dengan sepuluh gaya gaya. Siapa yang gempor dia yang kalah, Kiara menggigit bibir bawahnya merasa telah tertular dengan kemesuman si Bram.
Setelah mengantar Bram bertemu Yudi di pasar raya, Kiara memutar mobilnya ke Jaguk store siap-siap mau kerja.
*****
Yudi bersama Bram, mengemudi menuju Apartnya siap-siap mau ke kantor juga. Yudi bolak-balik melirik bos kecilnya yang manyun itu dari spion.
__ADS_1
Ada masalah apa lagi kok manyun, baru bertemu Nona harusnya heppy ceria..
Dalam hati Yudi menggeleng heran, ck ck ck.
Bram tau Yudi meliriknya dari tadi tapi ia malas bicara, hatinya hanya pada Kiara. Bagaimana membuat Kiara jangan pergi ke kota kembang.
"Bos, malam ini kalau mau nikah dengan Nona semua sudah standby. Karena Nona gak punya wali kandung maka hakim nikah yang akan bertindak sebagai wali." lapor Yudi pada bos kecilnya yang merengut itu.
"Yudi bagaimana agar Kiara dipecat dari kerja, berikan idemu." ujar Bram pelan menarik napas dalam.
Hm, kenapa aku gak bisa mendeteksi tentang ini. Apa alat pindai ku ada masalah. Di otaknya sembilan puluh sembilan persen tubuh polos Nona, ternyata ini satu persennya, gumam dalam hati Yudi.
"Bos mau Nona dipecat bagaimana, tinggal suruh Nona berhenti kerja. Beri dia uang, fasilitasi dengan Kartu tanpa batas bereskan!" jelas Yudi heran.
"Itu sudah kulakukan, dia bilang dia banyak uang dan dia tidak suka shoping.
Dia malah menantangku bercinta. Kalau dalam sepuluh gaya dia belum gempor juga maka aku harus mengizinkannya ke cabang kota Kembang." suara Bram gusar membaringkan dirinya di jok belakang.
glek! Yudi menelan salivanya, mak! aci gitu!
"Tapi malah aku yang gempor, juniorku babak belur ini juga masih kaku dan kebas, Ahh."
Bram meringis mengeluh seperti anak kecil membelai Junior dibalik celananya. "Dan kamu lihat dia tadi segar bugar, tidak kelihatan lelahnya. Saking segarnya jadi pengen kuterkam lagi." lanjut Bram mengusap wajah kesalnya.
"Bos tenang dulu, kapan Nona berangkat? "
"Dua minggu lagi." jawab Bram menerawang.
"Hm, baiklah bos kita kerjakan yang prioritas dulu ya. Bos nikahi Nona artinya sebagai suami Bos berhak melarangnya pergi."
Bram duduk dari baringnya berpikir-pikir.
Benar juga, waktu itu dia pernah bilang hanya setelah menjadi suaminya baru aku bisa mengatur hidupnya, ha ha ha tunggulah kau Kiara.
Seketika wajah Bram jadi ceria.
"Bagaimana cara membawa Kiara ke lokasi nikah Yudi?"
Yudi berpikir sejenak kemudian berkata.
"Bos ganti baju dulu setelah itu kita ke kantor."
******
__ADS_1
Yudi membawa mobil masuk di sudut parkiran Apartemen agak jauh dari pantauan para intel. Ia memindai intel Alisha lagi makan di mobilnya di pojok taman. Dan juga dua orang anak buah Raharja di atas gedung juga lagi makan.
Sepertinya semua lagi sarapan, gumam nya.
"Bos tunggu di sini biar saya menyelinap ke Apart mengambil baju ganti dan perlengkapan bos." ujar Yudi.
Ia berlari kecil ke Apart. Tadi waktu keluar dari Apart menjemput Bram Yudi seolah-olah mau berolah raga. Dengan santai ia masuk ke lift ia memindai lagi intel Alisha dan dua anak buah Raharja .
Melihat kehadiran Yudi di Apart seketika mereka menjadi siaga dan mengambil kamera membidik ke arahnya.
Dari apart Yudi mengambil satu set pakaian kantor Bram lengkap dengan pakaian dalam. Ia juga sudah berganti pakaian resmi ala kantoran, berjalan ke Mobil yang biasa dipakai Bram ke kantornya di gedung WJ.
Yudi tau kalau di mobil ini juga dipasang pelacak, namun ia membiarkannya. Karena itu hanya tersambung ke ponsel Alisha jadi tidak terlalu bermasalah karena ia tau Alisha tidak akan mencelakakan putranya sendiri. Ia hanya ingin tau keberadaan Bram itu saja.
Melihat mobil Yudi dari jauh, Bram keluar dari mobil bututnya dan berpindah ke mobilnya mengambil duduk di bangku belakang sesaat Yudi sudah berhenti di depannya.
Tak jauh dari situ. "Set, Aku tertipu lagi." teriak Intel Alisha membanting stir di depannya. Saat ia mau mengeluarkan kamera, mobil Yudi sudah melesat jauh membawa Bram keluar dari area parkiran gedung.
Begitu juga anak buah Raharja, mereka berdua mengusap wajah kasar. Membayangkan hukuman yang sudah menanti mereka saat membuat laporan.
"Ha..ha haa.." Bram tertawa riang.
"Cepat ganti bajumu! " sergah Yudi.
Bram melotot pada Yudi. "Kamu, berani teriak padaku!"
glek. "Hehe, maaf Bos silahkan berganti baju Tuan Muda."
Hm dasar bocah, gumam Yudi.
"Aku mendengarmu Yudi!"
Yudi hanya cengengesan melirik Bram dari spion. Walau begitu bos kecilnya itu dengan patuh berganti pakaian. Kemudian Yudi membawa mobil menuju area perkantoran gedung WJ.
*****
Kiara dipanggil ke ruang Manager Hendra, ia sudah tau untuk apa ia dipanggil. Di sana juga ada Bernard, Kiara menyapa keduanya kemudian dengan canggung mengambil duduk di sofa.
"Ada apa dengan pakaianmu hari ini Kiara?" tanya Hendra dingin dan datar. Sepasang mata elangnya terpaku pada leher Kiara.
*******tbc
Enjoy reading, like dan votenya ya guys. thanks 🙏
__ADS_1