Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
185


__ADS_3

Di rumah tamu 1 mobil Yudi berhenti, lalu ia keluar ingin membuka pintu belakang mobil buat bosnya namun keduluan Bram.


"Ayo sayang." ujar Bram nada sendu pada Kiara mengulurkan tangan.


Kiara meraih tangan suaminya melangkah keluar dari mobil menatap sedih pada Laras yang telah terlebih dahulu keluar berjalan lunglai menuju rumah tamu 2.


"Yudi kita perlu bicara." tegas Bram.


Gleg.


Yudi menelan ludah susah payah, ia tau jelas kedua majikannya ini mendengar pembicaraan nya dengan Laras, sudah bisa dipastikan topik apa yang akan dibahas.


"Siap, Bos."


Yudi menutup pintu mobil mengikuti Bram dan Kiara masuk ke rumah tamu 1.


Sampai di depan pintu, tiba-tiba Kiara menghempaskan tangan Bram. "Aku ingin ke tempat Laras."


Tidak menunggu persetujuan suaminya itu Kiara berlari kecil ke rumah tamu 2.


Hah! Bram hanya mendesah membiarkan Kiara menemui temannya.


*


Laras sudah terlebih dahulu sampai di kamarnya segera mengambil face cleanser nya ingin menghapus make up di kejutkan dengan suara Kiara.


"Laras, kita perlu ngomong." Kiara menghambur ke pelukan Laras.


"Aih." tubuh Laras terdorong.


"Hik, hiks." Kiara terisak di pelukan Laras.


Laras yang sudah tau kemungkinan Bram dan Kiara mendengar pembicaraan nya dengan Yudi, sudah menyiapkan mentalnya. Bahkan susah payah ia menahan air matanya jangan sampai keluar, nanti saja saat di Jakarta ia akan menangis sepuas-puasnya.


"Iya bentar, gue cuci muka dulu ea." ujar Laras tidak mau terpancing emosi jadi ikutan nangis seperti Kiara.


Kiara mengurai pelukan, menghenyakkan pantatnya di sofa. Laras mengikuti Kiara duduk, meletakkan milk cleanser di meja lalu mengambil kapas pura-pura sibuk mencuci make-up nya.


"Mau bicara apa Kiara?" tanya Laras pada Kiara yang menatap nya tajam.


"Gue dengar semuanya Ras, jadi lo jangan pura-pura santai, hiks." Kiara to the point wajahnya basah air mata.


"Iya gue tau lo berdua Bram pasti dengarlah. Tapi itu kenyataan nya, gue dan Yudi sudah memutuskan." jawab Laras sambil menggosok wajahnya dengan kapas yang sudah dibasahi cleanser.


"Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi?" tanya Kiara masih terisak.


"Itu gue mikirnya udah matang banget Kiara, dah hampir busuk malah. Sudah dari jauh hari."


Ck, si Laras. "Lo tega ninggalin Yudi padahal lo tau, otaknya masih belum pulih benar. Yakin lo, rela kalau Yudi balik ke mantannya?" Kiara suara ketus menatap marah, dadanya sesak.


"Tapi dia gak kenapa-napa kan, ada Tuan muda di sisinya. Mau balikan mau enggak itu urusan mereka, siap gak siap gue bisa apa selain rela." jelas Laras santai tersenyum hambar.


Udah dong Kiara, jangan pancing gue bisa nangis entar.


Dalam hati Laras sambil menahan sakit di ulu hatinya saat mengucapkan kalimat itu.


Ck, decak Kiara. "Ras, Yudi suami lo. Seharusnya sebagai istrinya harus bertahan di sisinya bukan malah ninggalin dia."


"Kiara, lo dengar sendiri kan Yudi bersedia cerai. Ya udah, apa yang mau dipertahankan lagi." jawab Laras pasrah.


Ish, sialan si Yudi.


"Kan Yudi nurut banget sama Bram, nanti gue ancam Bram agar melarang Yudi cerai. Kalau bercerai gue juga minta cerai, gitu Ras. Lo jangan khawatir." ujar Kiara semangat.


Cis, "Udah jangan ngelawak Ra, jijik tau."


"Siapa yang ngelawak. Gue juga tertekan tau, si Bram nempel mulu. Lo tau gak istilah, bagai burung di sangkar emas, gak bebas ke mana-mana makanya gue butuh lo di sisi gue, ada teman senasib sepenanggungan. Please Laras, jangan cerai ya."

__ADS_1


Mohon Kiara mewek menggenggam tangan Laras, cis desis Laras.


"Kalau cerai, gue gak mau lagi jadi teman lo." ancam Kiara melepaskan genggaman nya, melipat tangan di dada.


Hm! Kiara buang muka.


Sudah pasti itu, laki lo mana mungkin biarin lo gaul sama orang kelas bawah kalau bukan karena gue istri Yudi.


"Sudahlah, Ra. Kita masih bisa berteman kok." ujar Laras berdiri ke wastafel ingin membasuh mukanya.


Kapan si Bram nganggap aku teman Kiara, bicara aja gak pernah lembut padaku.


Dalam hati Laras, menarik ujung bibirnya sinis.


Ck, Kiara menatap punggung Laras sedih.


Sudah pasti itu, aku akan susah bertemu Laras lagi setelah ini, ah. Aku harus cari akal agar Laras gak jadi cerai dengan Yudi.


*


Di rumah tamu 1.


Yudi di hadapan bosnya, Bram menatap nya tajam. "Apa maksud kamu, Yudi 20-an Yudi 35-an?" tanya Bram.


Gleg.


Mati aku kalau ketahuan bisa-bisa otakku dibongkar lagi sama si Daniel, dalam hati Yudi.


"Kenapa tanya saya Bos, itu Laras yang memberi kode begituan saya cuma ikut-ikutan. Sepertinya, Laras cemburu pada Olivia karena saya menolong nya tempo hari, dia mengira saya masih cinta." jawab Yudi.


Herannya, aku memang ingat Olivia namun rasa cinta sudah tidak ada..


kemaren hanya ingin tau apa dia baik-baik saja, ya sebatas itu.


Jadi kalau ada rasa lain apa itu, kalau di tanya ya gak tau. Mungkin ini yang membuat Yudian galau dan Laras jadi salah paham.


Hais, pusing banget sih jadi Yudian dewasa. Ngapa ribet amat ya, padahal masalah sepele.


"Apa Bos juga sama seperti Laras, merasa saya ini berbeda?" Yudi balik Nanya.


Hm, ada sih. Sikap dan cara bicara seperti bukan Yudi yang ku kenal. Yang ini agak slengek-an.


"Benar kamu akan menceraikan istrimu?" tanya Bram menyimpan perasaannya maklum, mungkin saja itu efek hilang ingatan.


"Saya sudah punya cara mengulur waktu, memberi Laras kesempatan berpikir. Semoga dengan berjauhan masing-masing kita ada rindu, menyesal lalu balikan." jelas Yudi cengengesan.


Istri minta cerai santai aja, hm.


Dalam hati Bram mendesah bingung dengan orang yang dihadapan nya ini.


"Begitu, walaupun aku kurang setuju kamu menikah dengannya namun aku benci perceraian Yudi. Baiklah, aku percaya padamu tadi sudah sangat khawatir, pasti Kiara juga begitu. Jangan kecewa kan aku Yudi." ujar Bram akhirnya mencoba memahami Yudi.


"Siap Bos, terima kasih atas kepercayaan nya." ucap Yudi juga lega.


"Tapi memang ada perubahan pada dirimu Yudi." Bram tatapan curiga.


Aih, matilah aku.


Dalam hati Yudi menatap Bram, menanti dengan berdebar menunggu jawaban.


"Kamu kelihatan lebih muda dan segar dengan gundul mu itu." jawab Bram.


Kirain apa, udah takut ketahuan.


"Terima kasih Bos, tapi masih belum sampai mengalahkan ketampanan mu Bos." ujar Yudi mencairkan suasana hatinya yang tegang.


Bram menarik ujung bibirnya, menyeringai. "Ada satu lagi yang harus kamu ketahui Yudi, paman Arjit akan menikahi Olivia." ujar Bram menatap Yudi, mau melihat ekspresinya apa masih ada rasa tau tidak.

__ADS_1


Aduh!


Desah Yudi reflek memegang dada kirinya, Bram menarik ujung bibirnya.


"Jadi benar kamu masih ada hati, gak salah istrimu cemburu. Sepertinya kamu memang pantas diceraikan, Yudi." sinis Bram melotot pada Yudi.


"B-bukan begitu, Bos."


Hais, Ini Yudi mana yang cemburu, 20-an kah atau 35-an sih, bikin kesal aja.


"Buanglah mantan pada tempatnya Yudi, apa di pikiranmu tidak ada tong sampahnya. Sebaiknya kamu unduh bisa bahaya gak kelar-kelar nanti urusan masa lalu kamu." Bram suara tegas.


"Siap, Bos!"


Jawab Yudi berbarengan dengan suara Kiara lemas.


"Bram..."


Bram dan Yudi, menoleh bersamaan.


"Iya, sayang." Bram bangun, menghampiri istrinya yang berjalan lunglai, membawa nya duduk di sofa.


Kiara menghenyakkan pantatnya bengong seperti ayam mau dipotong, tatapan lurus ke depan bola mata membulat besar.


"Kalau Laras cerai, aku juga mau cerai lah. Aku malas menikah kalau begini." ujar Kiara masih terbengong.


"Ap-apa!" Bram terperangah, menatap tak percaya. "Sayang jangan bicara sembarangan!"


Hais, anakku.


Bram menangkup perut Kiara dengan kedua tangannya, seolah-olah takut kedengaran jabang bayi.


"Dengar itu Yudi kamu jangan cerai, aku akan memecat mu dan mengambil semua kekayaanmu! Kamu juga aku boikot tidak akan mendapatkan kerja di perusahaan manapun di dunia ini!" sentak Bram pada Yudi suara keras sambil memegangi perut Kiara.


"Sayang, Yudi tidak akan bercerai, percayalah aku sudah mengancam nya!"


Bram memujuk istrinya, Kiara menoleh pada Bram lalu ke arah Yudi dengan tatapan sayu mengintimidasi.


Gleg, Yudi menelan ludah. "Baiklah Bos, kalau sudah tidak ada lagi yang mau dibicarakan saya permisi, mau buat dede bayi." ujar Yudi bercanda.


"Nah, kamu dengar sayang hubungan mereka masih romantis, harmonis." Bram nada ceria menatap gemas pada istrinya.


"Yudi kalau kamu ceraikan Laras, aku juga akan menceraikan bos kamu ini, ngerti." Kiara suara pelan namun tegas menunjuk dada suaminya.


Hais, Bram menggenggam tangan Kiara, membawa ke bibirnya lalu mengecup nya.


"Siap Nyonya, saya permisi." pamit Yudi cepat berlalu pergi.


Bisa ketahuan aku masih hilang ingatan kalau lama-lama di sini.


"Sayang, jangan bicara sembarangan." Bram menjepit bibir istrinya kuat.


"Aaa!" jerit Kiara kesakitan.


"Jangan ucapkan kata itu lagi, ngerti Kiara!"


Bram nada marah melepaskan jepitan nya. Hm, Kiara mengangguk manyun.


"Sayang, apa kamu gak ngerasa mual-mula?"


Lanjut Bram bertanya, Kiara menggeleng.


"Ya udah, aku akan buat kamu mula-mual biar minggu depan gak jadi datang bulan." ajak Bram membawa istrinya masuk kamar.


Hah!


Kenapa suamiku ini, pikirannya gak jauh-jauh dari mesum.

__ADS_1


****


Jumpa lagi episode selanjutnya. ♥️


__ADS_2