
Sebenarnya di counter, Marissa mendengar pembicaraan Bram dan Yudi tapi tadi ia belum nangkap.
Sekarang sedikit lebih jelas antara Bram dan Beno, mereka saling berebut Kiara. Marissa semakin tidak menyukai Kiara. Ia cemburu karena Kiara digilai oleh pria-pria keren.
Sepertinya di tubuhnya ditanam susuk deh. Kalau tidak, bagaimana dua pria keren ini bisa menyukainya, cantik juga tidak, dalam hati Marissa.
"Bram please?" mohon Marissa lagi.
Melihat usaha Marissa Beno inisiatif.
"Hendra panggilkan gadis counter 7 biar aku berpasangan dengannya. Icha tetap sama Yudi." usul Beno lagi, ia geli di dalam hati.
Aku Ludwig, pemilik gadis-gadis super model seksi. Kenapa aku jadi ngotot pada gadis asia ini, di mana letak daya tariknya. Mungkinkah ini hanya obsesi, dalam hati Bernard memandang Kiara.
Semua tak luput dari perhatian Yudi tapi dia bisa apa. Ia hanya manusia biasa yang tidak bisa membuat ataupun merubah takdir, kemana cinta akan berlabuh?
Jalani saja dulu. Yudi malu pada dirinya karena di sini dia yang paling tua. Harus bersikap lebih bijaksana. Membiarkan sesuatunya mengalir apa adanya.
Hendra menghubungi ext.7 , yaitu counter Laras. Di counter 7 Laras sedang bersama customernya.
"Mbak Laras, diminta ke ruang Manager." ujar Muthia asistennya setelah ia mengangkat panggilan dari Hendra.
"Nanti saja, katakan aku lagi ada customer." ujar Laras.
"Di suruh segera mbak." ujar Muthia lagi.
Ck. "Ya udah sini lo ganti in." Laras memanggil Muthia.
Ada apa sih? Bukankah di ruang Manager ada Kiara, dalam hati Laras penasaran juga.
"Permisi Nyonya nanti teman saya akan membantu anda." ucap Laras pada customernya. Kemudian pergi ke ruang Manager, ia jumpa Zainal di area gudang.
"Ayang mbeb mau kemana?" sapa Zainal.
"Udah ya Zai, gue ogah jadi ayang lo." Laras mendelik pada Zainal, ia berjalan kesal ke ruangan Hendra.
Tok tok tok
"Masuk." suara Hendra.
Laras membuka pintu, kepalanya melongok ke dalam.
"Omegot! Si bule ganteng ngapain di sini?"
Laras merasa heran kenapa semua pada berdiri dengan raut wajah yang tegang. Dan si Kiara kenapa wajahnya sembab?
"Masuk Laras!" perintah Hendra.
Tapi Laras malah takut-takut mau masuk.
"Masuk! Ngapain ganjel di situ." sergah Beno melihat Laras diam di pintu.
Idih! Apaan si bule marah-marah kayak ini perusahaan dia aja, Laras ngedumel tapi dalam hati.
Meski bingung kenapa ia di panggil, Laras masuk melewati Bram dan Kiara bibirnya mengerucut.
Ck! ini dua orang pelukan mulu, mentang-mentang penganten baru, gak gerah apa?
__ADS_1
"Ada apa bapak memanggil saya?" tanya Laras di depan Hendra.
"Laras, kamu ikut Tuan muda dan Kiara hangout." titah Hendra.
"Sekarang?" tanya Laras menoleh ke Kiara di pelukan Bram.
"Tahun depan, ya sekarang!" sergah Hendra.
"Tapi saya gak bawa baju ganti Pak, masa pergi dengan seragam kerja."
"Ikut saja dulu, gak usah masalahkan pakaian." jelas Hendra.
Laras memandang Kiara. "Emang mau kemana sih, Ra?" tanya Laras pada Kiara.
"Cuma ke Mall ini, dekat" Hendra yang jawab.
"Ya ela, kirain mau kemana. Malas ah Pak, saya sudah bosan ke Mall ini. Pulang kerja juga sering ke sana bareng Kiara." tolak Laras ingin keluar.
"Ini perintah, kamu mau dipecat." ujar Hendra dengan suara keras, seketika langkah Laras terhenti berbalik badan.
"Jangan dong Pak, iya saya ikut." Laras gak jadi keluar, ck.
"Kamu jangan jauh-jauh dari saya, kamu dan saya date hari ini." tegas Beno pada Laras.
Laras mengerjab-erjabkan matanya memandang Beno.
"Saya gak salah dengarkan Om bule ganteng? Lo and gue date." tanya Laras.
"Hm." angguk Bernard.
Mendengar itu Marissa jadi kesal. Memandang sinis Laras kemudian pergi begitu saja. Karena ini tidak sesuai dengan keinginannya.
Saat hendak keluar kebetulan melewati Beno, Marissa menabrakkan badannya sengaja sehingga Beno terdorong.
Ck."Kenapa dia?" tanya Beno pada Yudi sambil mengibas bekas Marissa di tubuhnya.
"Ngambek, dia maunya jalan sama Tuan Bernard." jawab Yudi.
"Yudi, kamu saja yang jalan dengan Icha." titah Bram langsung pada Yudi.
Karena ia memang gak suka Beno dekat dengan keluarganya, takutnya modus biar bisa dekat dengan Kiara.
"Baik bos!" Yudi menyusul Marissa.
"Ayo sayang." Bram menggandeng Kiara keluar dari ruangan Hendra.
Tinggal Laras menunggu ajakan Beno.
"Hendra aku pergi dulu." pamit Beno pada Hendra.
"Beno, apa yang kau lakukan? Ini bukan seperti dirimu yang kukenal."
Beno tersungging. "Iseng, kalau Lucita datang suruh jumpai aku di Mall atau kamu inform dia."
"Baiklah Beno jangan bermain api." Hendra.
"Hm, ayo." ajak Beno pada Laras.
__ADS_1
"Emang Lucita kemana Om?" tanya Laras mengikuti langkah Beno keluar dari ruangan Hendra.
"Lagi ngurus jet." jawab Beno.
"Maksudnya pesawat Om?"
"Iya, harusnya dini hari tadi berangkat NYC. Tapi tuas pesawatnya patah saat mau take off." jawab Beno.
"Buset, untung ketahuannya masih di bawah saat mau terbang. Kalau sudah di atas, ih menyeramkan." Laras bergidik membayangkan.
Jalannya susah payah menjejeri langkah panjang Beno. "Om, bagaimana bisa kenal sama Pak Hendra?" tanya Laras penasaran.
"Kamu ini banyak tanya ya, bisa tidak kamu jangan manggil saya Om."
"Terus manggil apa Om?"
Ck."Apa aja asal jangan Om." Beno melotot pada Laras.
Laras cengengesan. "Kita kan mau date, gimana kalau manggil mbeb?" usul Laras bercanda.
"Baiklah mbeb" ujar Beno.
Cih. "Malah serius, bercanda Om." Laras tersipu malu.
"Panggil mbeb, kayak itu si staf gudang." titah Beno.
"Kok Om, eh mbeb tau sih si Zai staf gudang?"
"Kamu pacaran sama dia?" tanya Beno melirik Laras.
"Enggaklah. Saya masih kecil mbeb belum mau pacaran."
"Cih, itu teman kamu nikah lagi, apa kamu gak pingin?"
"Gak lah mbeb, saya mau berkarir dulu."
Cih mbeb, makin lancar aja aku, dalam hati Laras.
Tanpa disadari Laras, sepasang mata Zainal memandangnya dengan raut wajah sedih.
Beno dan Laras telah sampai di parkiran gedung.
"Ini weekend kenapa pengunjung sepi?" desis Beno melihat di parkiran hanya ada beberapa mobil yang diparkir.
Laras masih bisa dengar. "Mbeb gak liat medsos? Di rumah besar lagi rame makan gratis, kan open house nikahan Tuan muda dan Kiara." jawabnya.
"Hm, begitu. Itu mereka, ayo ke sana." ajak Beno melihat Yudi berdiri di luar mobil nunggu di pintu bagian kemudi.
Marissa juga masih berada di luar mobil. Setelah mereka dekat Yudi. "Perintah Tuan muda, Tuan Bernard akan bertindak sebagai supir." ujarnya.
Ck. Beno melirik ke Bram yang lagi menguyel-uyel Kiara dengan cueknya di bangku belakang. Namun begitu dia mengambil duduk masuk di bangku kemudi.
Melihat itu Marissa dengan cepat masuk mengambil duduk di samping Beno.
Laras bingung mau duduk dimana. "Icha, kamu duduk di belakang sini." suara Bram.
Marissa bergeming. "Aku mau di depan Yam. Hanya di mobil, entar di Mall aku jalan sama Asisten kamu deh." ujarnya.
__ADS_1
******
Enjoy reading and see you to the next part.