Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
72


__ADS_3

Kiara mencubit pinggang Bram, Bram menangkap tangan istrinya.


"Idih, Tuan muda, keliaran kemana? Ini kan masih di dalam rumah." jawab Laras gak senang disalahkan.


Gak lama azan maghrib berkumandang.


"Ayo sayang, kita ke kamar." Bram langsung menggendong Kiara ala bridal. Sebelum beranjak ia berkata pada Laras.


"Kamu minta diantar Yudi pulang, bilang saya yang suruh."


"Saya mau maghriban dulu Tuan muda gak sholat, ayuk bareng Tuan muda jadi yang jadi imam." ajak Laras.


Sontak Bram melotot pada Laras. "Saya gak mau jadi imam kamu! Saya sudah ada ma`mum, ini istriku Kiara." tegasnya menatap kesal.


Laras mendengus, bibirnya mengerucut, cih.


Ck. "Selesai sholat, minta Yudi antar kamu pulang, gak pakai lama."  lanjutnya memandang Laras dengan muka masam, lalu berbalik badan.


"Pulang sama Beno, jangan sama Yudi." tiba tiba Suara Marissa.


"Terserah." Gumam Bram berlalu.


Kiara dalam gendongannya, Bram meninggalkan dua gadis menyebalkan yang telah membuat istrinya cedera.


Tuan muda, marah aja tampan gimana si Kiara gak betah di dekatnya, ahh.


Dalam hati Laras matanya love love.


*******


Dari lantai dua menuju kamar mereka.


Bram menggendong istrinya ala bride, Kiara memeluk di leher suaminya.


"Bram, aku bisa jalan gak usah selalu kamu gendong." ujar Kiara.


"Diamlah sayang, aku sekalian latihan angkat beban. Sudah seminggu aku gak nge-gym. Apa kamu gak percaya suamimu ini kuat?"


Cih. Sepanjang jalan Kiara menatap intens suaminya.


Di tatap Kiara, Bram merasa jengah manatap balik istrinya. "Kenapa sayang, sepertinya kamu sangat terpesona dengan ketampananku." ucap Bram mendekatkan wajah mereka.


Cis. Kiara mendorong wajah suaminya sebelum menyentuh bibirnya.


"Eek, kamu gak mau lagi aku cium." Bram mendelik.


"Kenapa tadi kamu galak sama si Laras? Kamu kurangin itu marah-marah ya!" Kiara menjepit bibir suaminya pelan.


"Jadi kamu ingin aku bersikap manis pada wanita lain, gitu!"


"Bukan! Biasa aja, bisa gak jangan terlalu kasar?"


"Gak mau! Gara-gara mereka kamu cedera sayang. Sebelum memar kamu sembuh, aku masih belum memaafkan mereka."


"Ih, dasar." Kiara menjepit hidung mancung Bram dan menggoyang-goyangnya.


"Aaaa~aa." Bram suara sengau.


"Sayang, dari pada cubit lebih baik cium aku."

__ADS_1


Bram mendekatkan lagi bibirnya, Kiara mengelak menahan wajah suaminya.


"Nantilah di kamar Bram, ini di lorong Yudi bisa lewat sewaktu waktu." Ujar Kiara mengusap bibir suaminya yang juga sangat menggoda imannya


"Cium satu kali sekarang."


Bram berhenti berjalan memonyongkan lagi bibirnya, berusaha meraih bibir istrinya.


"Ah sana, gak mau!" Kiara masih tegas menolak.


Cih, Sesaat mereka sudah di depan kamar.


"Bram, sudah sampai kamu bisa turunkan aku sekarang."


"Gak! Kamu buka pintunya, aku gendong kamu sampai ke dalam."


Hm, dasar. Kiara mendengus membuka pintu.


Setelah di dalam, Bram menurunkan Kiara di sisi tempat tidur lalu berlutut di depan Kiara.


"Nah sekarang, cium." Bram memonyongkan bibirnya memeluk di pinggang istrinya.


Kiara menjilat bibirnya, menangkup wajah suaminya. Baru saja ia menempelkan bibirnya, sudah ditarik lagi.


"Makanannya bos." suara Yudi muncul di depan pintu mengejutkan meraka.


Bram menoleh ke pintu melotot, Kiara membuang muka.


"Kamu! Lain kali ketuk pintu, jangan main masuk aja!" sergah Bram.


"Pintunya sudah terbuka, gimana mau ketuk." Jawab Yudi kalem.


Yudi terkikik dalam hati terus nyelonong membawa trolley makanan masuk. Padahal tadi sebelumnya dia sudah memindai ke dalam kamar, ia sengaja ingin mengganggu bos mesumnya.


"Yudi, aku bilang kamu suruh pelayan, kenapa kamu yang bawa." ujar Bram berdiri mendekat ke Yudi bantu menyusun makanan di meja.


"Mereka takut padamu bos. Ada rumor bahwa bos membanting pintu dengan kasar waktu diantar jahe gula merah." jawab Yudi.


"Cih, berani sekali mereka menggosip, sudah bosan hidup." kesal Bram.


Setelah makanan tertata. "Yudi, kamu ikut makan bareng kita?" lanjut Bram mengajak Yudi.


"Terima kasih bos, tapi saya masih belum lapar." jawab Yudi alasan, dia mau cepat jumpa Marissa meluruskan persoalan mereka.


"Ya sudah terserah, terima kasih." ucap Bram.


Setelah Yudi keluar Bram menutup pintu. Kiara berjalan ke sofa duduk di depan makanan, bibirnya mengences.


"Bram, banyak sekali kamu pesan." ujarnya.


"Bram memeluk Kiara dari belakang, menghirup di telinganya.


"Makanlah sayang, habis makan kita berendam." Bram menyeringai.


Gleg. Dasar omes.


Kiara mengambil sumpit, lalu mulai makan.


"Sayang, kamu gak makan?" tanya Kiara saat Bram beranjak dari sofa.

__ADS_1


"Sayang Kamu makan dulu, aku mau tobat." jawab Bram masuk ke kamar mandi.


Dari kamar mandi Bram ke wardrobe, mengganti kemejanya dengan baju Koko dan memakai kopiah.


Walaupun sudah biasa bersama, Kiara masih selalu terpesona pada suaminya itu. Ketampanannya gak berkurang bahkan makin bertambah.


Bram mengambil sajadah, berdiri menghadap kiblat kemudian takbiratul ihram. Suaranya sangat merdu di telinga Kiara saat melantunkan ayat Al-fatihah, tak terasa air matanya menetes.


*****


Di ruang tengah, dokter dan cucunya sudah pulang. Alisha ke kamarnya mau maghriban  juga.


Rombongan Walikota melakukan shalat maghrib berjamaah di ruang ibadah luar. Pengunjung antusias ikut shalat dengan Pak Walikota. Banyak yang berharap pemilihan berikutnya, walikota bisa terpilih jadi Gubernur mereka.


Beno juga ikut-ikutan shalat di sebelah Arjit, dia mengikuti setiap gerakan. Saat remaja dia ingat pernah ikut sholat saat di panti, setelah ke Amrik gak pernah lagi.


Selesai shalat rombongan walikota pulang, Arjit dan Beno kembali ke ruang keluarga.


"Kita belum berkenalan." ujar Beno sembari mereka jalan.


"Ah iya, saya Arjit pamannya Bram." Arjit mengulurkan tangan.


"Saya Bernard dari Jaguk group. Saya mengenal Kiara." jawab Beno


"Ah Jaguk, WJ juga ada kerja sama dengan Jaguk Korsel." ujar Arjit.


"Itu kakak saya." jawab Beno.


"Bos Beno, antar saya pulang." suara Laras tiba tiba ia sudah selesai sholat dan duduk di ruang keluarga.


Arjit menatap Beno.


"Ah, dia karyawan saya teman Kiara juga." Beno menjelaskan. Arjit menanggapi dengan tersenyum.


"Tunggu ya Laras, asisten saya sedang dalam perjalanan kemari, oke." ucap Bernard.


"Oke." jawab Laras.


Laras sudah menelpon Ayahnya bahwa dia di rumah besar. Ibunya juga pingin ke rumah besar dan Pak Toyo berjanji akan membawa ibu Laras besok saja. Karena malam ini dia ada acara yang mendadak.


Kalau tidak, kan bisa pulang bareng numpang mobil butut Ayah. Apa minta jemput si Zai aja, tapi si Zai mengharap hubungan lebih dari sekedar teman, ha!gak usahlah daripada PHP.


Dalam hati Laras kembali menonton tv.


Arjit dan Beno terlibat pembicaraan bisnis yang seru. Mereka berdua kelihatan sangat nyambung.


Alisha turun dari lantai dua bergabung di ruang keluarga, mengangguk-angguk kayak ngerti aja. Padahal dia alasan mau mandangin Beno.


Gak lama Lucita datang, mengatakan bahwa pesawat sudah bisa berangkat. Sebelum pamit Beno mengajak Alisha ikut ke Amrik selama dua minggu, ia akan menjamu dan membawanya jalan-jalan lalu akan balik lagi ke jakarta bareng. Bisnis Eropa sudah berjalan optimal, Beno ingin mengembangkan bisnisnya di bagian sinema perfilman di ibu kota.


Alisha sangat senang, wajahnya berbinar. "Kalau begitu, boleh tunggu sebentar saya akan tanya pada Bram." jawab Alisha.


"Silahkan Nyonya, take your time."


Yes. Alisha berjalan ke lorong mau ke kamar Bram.


*******


Enjoy reading and see you next part.

__ADS_1


Dukungan like dan votenya saya ucapkan terimakasih. 🙏


__ADS_2