
Di ruang kerja Wijaya.
Bram dan Yudi selesai memeriksa keamanan data cadangan yang ada di rumah besar, semua aman.
"Jadi yang diretas hanya data base yang di kantor. Ayo Yudi kita bergegas." ajak Bram.
Barusan juga Yudi dihubungi Arjit, bahwa ia sudah berada di kantor. Tenaga IT sedang berusaha menggagalkan sistem peretas yang coba mencuri data, namun lokasi peretas sulit di lacak. IP adressnya berada di gedung sebelah kantor, setelah di cek ternyata ruangannya kosong. Setelah di cek lagi, hanya ada pesan request time out artinya alamat tidak dikenali.
Tak lupa Yudi mengingatkan Bram agar memakai baju anti peluru super tipis di balik baju hitam-hitamnya. Untuk pemanis Bram menambahkan topi WB favoritnya.
Sementara Yudi siaga dengan pakaian body guardnya, untuk mengintimidasi musuh yang ingin mencelakai Bosnya.
Pengawalan di rumah besar juga diperketat. Yudi mengawal Bram, mereka menuruni tangga melewati ruang keluarga.
"Bram, hati-hati sayang." Alisha suara gelisah.
"Oke Mama." Bram memeluk Mamanya untuk menenangkan.
Kiara berdiri mematung, tidak mengerti ada masalah apa. Bram memeluk istri kesayangannya itu, mengusap punggungnya.
"Kiara, kamu di rumah sama Mama dan Ibu Dwi. Aku keluar hanya sebentar sayang, kita masih harus melanjutkan yang tadi." bisik Bram di telinga Kiara. Kiara mengangguk semakin memeluk Bram, seolah tidak ingin suaminya itu pergi.
"Hehe, ayo Yudi." Bram terkekeh menggendong Kiara sampai ke ruang tengah Utama di ikuti Samsir. Sampai di ruang tengah Bram menurunkan Kiara, di pintu Utama mereka berpisah setelah Bram mencuri nyedot bibir istrinya.
Yudi mengawal Bram ke mobil, tak lupa ia memindai sekeliling, terutama kamarnya yang kini dihuni seorang bidadari cantik.
Sabarlah sayang, aku akan membuatmu menjerit sampai ke langit ketujuh.
Dalam hati Yudi menarik nafas membuangnya perlahan, membawa mobil keluar dari area rumah besar sambil membaca situasi.
Lumayan shock juga Yudi melihat Lucita jarak 50 meter dari gerbang depan. Jarak kira-kira 600 meter dari rumah besar.
Ada urusan apa dia disitu,
Dalam hati Yudi mempertajam penglihatannya dengan menghentikan mobil.
"Ada apa Yudi, kenapa berhenti? Bukankah kita sedang mengejar waktu?" tanya Bram.
"Sebentar Bos."jawab Yudi.
Bilang tidak ya, dalam hati Yudi.
Tapi dia percaya pada Lucita pasti diperintahkan Beno. Kepentingan Beno apalagi kalau bukan Kiara, hais!
Masalah cinta yang membingungkan, dalam hati Yudi.
Kemudian menghubungi anak buahnya melalui earpiecenya agar mengawasi mobil Lucita. Lalu melajukan mobilnya menuju perkantoran gedung WJ.
Bram mendapat panggilan dari Daniel.
"Dani, kamu di mana?" tanya Bram gak sabar
"Apa masalahnya berat? Aku ke pulau sebentar dengan Icha, besok siang juga sudah di sini lagi." jawab Daniel di ujung panggilan.
"Jadi sekarang lagi di pulau."
"Belum, menuju Bandara. Apa masalahnya Bram beritahu aku, siapa tau aku bisa bantu. Hei, aku harus berterimakasih padamu, aku bahagia bersama Icha karena dirimu."
"Hm, hanya pencuri data proyek terbaru belum bisa di lacak."
"Oh, begitu. Aku akan mengirim tenaga IT profesional, lihat apakah bisa membantu."
"Terima kasih Dani, selamat bersenang-senang." Bram.
__ADS_1
"I will." Daniel.
Panggilan diputus.
"Baby, i want you." Marissa bergelayut manja.
Daniel mencubit pipi Marissa yang agresif merogoh dirinya.
"Hehe, apa Icha mau coba di mobil?"
***
Kiara masuk ke ruang keluarga dengan perasaan cemas, Alisha menenangkan nya.
"Kiara jangan manyun. Hanya masalah pencuri data, suamimu akan baik-baik saja."
"Iya, Ma." jawab Kiara lalu ia berlari ke pelukan Dwi. Dwi memeluk Kiara, merasa bahagia putrinya ternyata dicintai keluarga barunya.
"Bu, Ara ingin makan pedas." ujar Kiara.
"Baiklah ibu masak pedas untuk kamu sekarang." ujar Dwi.
"Kalau gitu Ara ke kamar Yudi, manggil Laras biar makan pedas bareng."
"Makan pedas apa, mama boleh ikut gak?" Alisha menimpali.
"Apa Mama biasa makan pedas, kuahnya merah. Makannya sampai keluar biji mata." tanya Kiara sambil mencontohkan dengan membesar kan matanya .
"Ih." Alisha menatap ngeri.
"Kamu jangan lagi makan yang begitu Kiara! Sekarang memang lambung kamu tahan, nanti usia tiga puluhan baru kamu rasakan keluhannya." ujar Alisha.
"Baiklah Ma, sekali ini saja ya, please."
"Dwi, kamu kurangi rasa pedasnya." titah Alisha.
Dwi tersenyum, karena ia juga doyan pedas, bahkan Kiara ikut pola makannya.
"Baik Mbak." jawab Dwi.
*
Laras keluar dari kamar mandi membawa pakaian Yudi yang teronggok di lantai kamar mandi. Di depan cermin lemari pakaian Laras memandangi bagian leher dan dadanya yang penuh dengan bekas bibir Yudi. Di bibirnya tersungging sebuah senyuman, membayangkan keganasan Yudi yang memabukkan.
Orangnya entah kemana setelah mendapat telepon langsung kabur.
Dalam hati Laras terbayang saat Bram mencium Kiara di JK Market tadi.
Ternyata begini rasanya, Laras menjilat bibir bawahnya terasa sedikit tebal dari biasanya.
Mungkin perasaanku saja, dalam hati Laras.
Hanya berbalut handuk Laras ke dapur, ingin mencuci baju kotornya sekalian baju Yudi.
Tok tok tok.
"Laras." suara Kiara.
Laras mendelik, buru-buru melempar pakaian kotornya di atas mesin cuci yang berada di samping kulkas berlari ke kamar ingin menutupi tubuhnya. Malu banget kalau Kiara sampai melihat kiss marknya.
Tok tok tok. "Laras!" panggil Kiara lagi.
Laras semakin gugup, sialnya tidak ada baju yang bisa menutup sampai ke bagian lehernya. Ia ingat Kiara pernah pakai baju aneh ke store.
__ADS_1
Apa waktu itu, si Kiara juga mau menutupi kiss mark, hais, matilah aku ketangkap basah, dalam hati Laras.
Karena tidak mendapat jawaban Kiara mendorong pintu, ternyata tidak dikunci. Kiara masuk melongo ke dalam.
"Laras, lo di mana sih!" gerutu Kiara karena Laras tak kunjung bersuara.
Laras semakin gugup, cepat-cepat ia lompat bersembunyi di bawah selimut.
Kiara melongo ke kamar yang tertutup. Lalu membuka pintu juga tidak terkunci. "Apa dia sakit." Kiara khawatir, tapi tadi Yudi biasa saja. Kalau sakit pasti pesan ke Mama agar memperhatikan Laras.
"Ras, halloo." tatapan Kiara terkunci pada gundukan besar di kasur.
"Masha Allah, lo ngapain selimutan gitu!" sergah Kiara menarik selimut. Laras menahan selimutnya.
"Gila benar, apa lo sakit?" tanya Kiara manjat ke kasur menarik selimut Laras.
Akhirnya Laras ngalah, selimut terbuka sampai wajahnya sedangkan leher ke bawah masih tertutup.
"Apa yang lo mau tutupin! Gue juga ngerti kali, kalau lo sekarang udah nikah. Lo berdua Yudi barusan,..."
Kiara menggantung ucapan nya memainkan matanya. "Apa masih sakit?" tanya Kiara.
Gleg. Laras menelan ludah. "Sumpah Kiara kita belum ngelakuin itu." jawab Laras malu.
"Ah, yang benar." Kiara iseng menggoda.
"Coba lihat sprei ada bercak darah gak." ujar Kiara mendorong tubuh Laras ingin melihat bagian pantatnya, sambil tersenyum jail.
Laras jengah akhirnya membuka selimut, kelihatan bagian leher Laras keliling tanda merah.
"Oh my gosh, aow!" Kiara terpekik lucu.
"Ini lo bilang belum, ck ck ck dasar pembohong." ujar Kiara.
"Iya belum, suer! Baru mukadimah sudah di telpon, gagal deh." Laras manyun.
"Ha haha ha." Kiara tertawa ngakak.
"Cian deh. Ayo pake baju, ibu masak pedas kita makan bareng." ajak Kiara.
"Tapi gue malu mau keluar dengan leher begini."
"Hm." Kiara berpikir mencari solusi.
"Ya sudah, entar kalau dah masak gue bawa kemari deh, kita makan di sini." usul Kiara.
"Ma acih Kiara, lo emang sohib gue yang baik dan pengertian, hehe." Laras melempar selimutnya, sesungguhnya ia juga gerah.
*
Bram bersama Yudi lagi di kantor, di ruangan data bersama pegawai IT. Tenaga IT Daniel juga ada, ternyata tenaga IT Daniel lebih pro dari pegawai IT kantor Wijaya.
Walupun belum tau siapa yang meretas karena buru-buru lost conektion. Hampir seperempat data, untung ketahuan cepat karena ada pihak ketiga yang memberi sinyal sehingga mengacaukan rencana si pencuri.
"Yudi, siapa kira-kira. Keuntungan apa dia menyelamatkan data kita?" tanya Bram.
Yudi belum bisa memberitahu Bram, karena dia juga belum dapat motif si penolong.
Hm Beno, apa yang kau rencanakan, dalam hati Yudi.
****
Hi, readers yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like , vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.
__ADS_1
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏