
Masih di dalam jet pribadi.
Daniel membawa Icha ke ruang teater mini, berpelukan satu selimut seolah di panggung bioskop lengkap dengan popcorn, chicken nugget, dan cola mereka menonton rekaman saat-saat Daniel melakukan operasi terakhirnya.
Sudah kebiasaan Daniel melihat kembali hasil kerjanya, sambil melihat kekurangan nya dimana agar lain kali melakukan nya dengan lebih baik lagi.
Sebenarnya tadi Daniel ingin melihat lagi hasil rekaman operasi kepala Yudi, tapi karena ada Icha gak jadi, hm.
"Setelah melakukan operasi kamu bisa makan, babe?" tanya Icha rada jijik juga melihat nya.
"Kalau lapar ya makan, seperti ini." jawab Daniel melempar nugget ke mulutnya.
Cis, Icha berharap bisa nonton film romantis malah disuguhkan adegan sadis.
"Kamu juga tidak takut melihat nya." Daniel bertanya pada Icha melihat ekspresi nya juga biasa aja.
"Takut saat melihat sayatan pertama aja, ngilu. Setelah itu biasa aja." jawab Icha meraih wajah Daniel menghadap nya, dari tadi dia udah geram.
Masa udah nempel berdua gini gak ngapa-ngapain, padahal tadi di ruang sebelah minta cium kirain bawa kemari mau ngajak mesum, ck.
"Babe, I want you." Icha menatap sayu Daniel.
Gleg, Daniel menelan ludahnya susah payah. Bukannya dia gak mau, ini aja sudah setengah mati ia menahan diri. "Baby, kita di ketinggian puluhan ribu kaki, sebaiknya menjaga sikap." ujar Daniel mengusap wajah Icha lembut.
Cis, "Aku jadi ingin segera menikah kalau gini. Masa Kiara dapat, aku enggak." Marissa kesal.
Hehe, Daniel senyum dikulum. "Di Amrik kita nikah aja mau gak, nunggu tiga bulan lama. Kamu bilang Papi, udah kebelet gitu." saran Daniel, dia juga sudah mantap hatinya mentok pada Icha.
"Baiklah sayang, tapi aku menginginkan kamu sekarang." rengek Icha manyun.
Hm, Daniel mengusap wajah kekasihnya, menatap sayang lalu memeluk nya.
"Tidurlah, biar gak kepikiran." Daniel menepuk-nepuk belakang Icha.
Ck, dengan terpaksa Icha memejamkan matanya, wajahnya terbenam di ceruk leher Daniel lidahnya menjulur keluar menjilat-jilat.
"Icha." Daniel.
"Babe, i want you." Icha.
"Tidurlah."
Hah!
*
Di kamar Bram memeluk Kiara, geram mengusap pipinya yang terasa semakin tembam.
"Gimana, enak gak bercinta di atas awan?" tanya Bram.
"Selalu enak asal dengan mu." jawab Kiara.
Hm, "Meski begitu, mengetahui ada orang lain menyukai mu panas hatiku." Bram bergumam.
"Siapa yang menyukai ku?" tanya Kiara mendongak menatap Bram.
"Beno." jawab Bram bibirnya mengerucut.
Hm, "Dia kakakku, teman masa kecilku. Tapi aku suka kamu cemburu, lucu."
Kiara menjepit bibir Bram yang maju, Bram menepis tangan Kiara.
"Apa kamu tidak mengingat ku? Kita juga pernah bertemu di Panti saat kamu masih gempal dulu." ujar Bram.
"Kamu tidak menyukai ku bahkan kamu sangat jijik melihat ku."
Jawab Kiara jutek akhirnya ia ingat siapa Bram, anak kecil yang datang bersama Ayah Burhan saat menjemput nya dulu.
Hehe, "Sebentar lagi kamu juga buntal, ini sudah mulai gempal." Bram gemas meremas bokong.
"Apa kamu tidak jijik, Bram?"
"Hm, jijik kalau Beno menaruh perhatian padamu."
Cis, "Kamu juga banyak yang suka, cuma kamu sombong jadi mereka gak berani mendekat. Bram, kalau bicara pada Laras jangan marah-marah, lembut sedikit dia itu temanku. Dia juga ngefans lho sama kamu."
__ADS_1
Ujar Kiara teringat Bram tidak pernah bicara lembut pada Laras, selalu ribut.
"Karena dia ngefans jadi aku harus bersikap manis atau aku bawa saja sekalian jumpa fans, kencan candle light dinner gitu." jawab Bram.
"Eit, tidak boleh!"
Sentak Kiara melotot, Bram tersenyum lebar.
Cis, "Kalau Yudi belum sadar kita akan lama di Amrik, kamu tidak apa-apa?" Bram mengalihkan pembicaraan.
"Sayang, asalkan bersama mu di mana saja aku betah. Sekalian aku bisa nerusin kuliah di Amrik, keren gak." jawab Kiara.
"Keren banget, sayang aku mau ngintip dulu apa sudah ada dedek bayinya di dalam."
Bram melorotkan tubuhnya, wajahnya terbenam di antara sela kaki Kiara yang terbuka.
Aish, dasar!
Kiara mendesah, menggelinjang saat Bram melu mat bagian tengah dirinya.
*
Laras tidak bisa tidur, melihat Icha belum kembali ia mengendap keluar menuju kamar Yudi. Asisten Daniel berjaga duduk di pojok ruangan.
Hm, dia juga tidur baiklah.
Dalam hati Laras perlahan manjat ke kasur baring di samping Yudi, di sebelah tangan yang tidak di infus.
Berbantal dada suaminya Laras memeluk Yudi memejamkan matanya, membaca doa tidur berharap mereka bertemu di alam mimpi.
~
Di sebuah padang yang luas Laras berdiri kebingungan, melihat dirinya memakai gaun yang indah warna putih bunga-bunga biru.
Dimana ini, kenapa aku seperti anak kecil.
Sejauh mata memandang hanya ada rumput. Matahari terik tapi tidak menyengat, sangat terang tapi tidak menyilaukan.
Tatapannya terkunci pada satu batang pohon beringin, satu-satunya pohon yang ada di tempat itu. Duduk berteduh seorang lelaki melamun menatap ke depan.
Dalam hati Laras menghampiri nya namun langkahnya bukannya semakin dekat malah sepertinya jalan di tempat. Ia berlari kencang ingin segera sampai ke pohon beringin.
Gubrak, Laras terjatuh telungkup.
Melihat uluran tangan yang putih terang Laras mendongak, Yudi berjongkok di depannya. Wajahnya lebih muda dengan kulit yang lebih halus.
"Bang Yudi."
Laras meraih tangan Yudi sampai ia berdiri, tangisnya pecah menghambur ke pelukan Yudi.
"Laras, bangunlah."
Terdengar suara menggema memanggil namanya, Laras mengurai pelukan menatap Yudi.
Bayangan Yudi menjauh memudar lalu lenyap, tinggallah ia di tengah padang rumput yang luas celingukan menangis sendirian.
"Laras, bangunlah." suara datang dari pintu cahaya menyilaukan.
"Laras, bangunlah." suara memanggil lagi, tubuhnya seperti ditarik ke arah pintu cahaya.
Ada yang menepuk punggung nya, Laras tersentak membuka matanya masih di kasur ruangan pesawat, matanya mengerjab tak percaya Yudi duduk memandang nya.
"Laras." suara Yudi menarik tangannya dari punggung Laras.
"Bang Yudi, hiks hiks"
Teriak Laras terisak bangun dari baringnya menghambur ke pelukan Yudi, Yudi kebingungan.
"Tuan, anda sudah bangun."
Asisten Daniel menghampiri mereka, dia juga terbangun mendengar jeritan Laras lalu menekan bel tidak berapa lama Daniel bergegas masuk ke dalam ruangan.
Melihat Yudi duduk di kasur, Daniel bernapas lega. "Thanks God." ucap nya.
"Yudi kamu sudah bangun."
__ADS_1
Lanjut Daniel, dengan suara girang wajahnya sangat bahagia seketika khawatir melihat infus tangannya sudah dilepas.
"Di mana saya, siapa kalian? Benarkan kamu Laras!"
Yudi menyentak Laras dari pelukannya, Laras mengangguk wajahnya basah air mata.
Kenapa hanya Laras yang diingat nya.
Dalam hati Daniel bersyukur, setidaknya. "Laras kamu turun dulu, aku akan memeriksa Yudi."
Titah Daniel pada Laras yang terisak di atas kasur di samping Yudi.
"Tidak, jangan tinggalkan aku!" Yudi memeluk Laras.
"Kamu mau apa?" tanya yudi pada Daniel menatap nanar melihat sekeliling nya.
Di mana ini, perasaan seperti melayang-layang di udara. Apa aku sudah mati. Apa ini surga, tapi aku mengenal gadis ini. Bidadari tidak mungkin sejelek ini, yeakh! Tidak apalah, setidaknya ada yang ku kenal
Tersenyum dalam hati Yudi, setidaknya bangun di pelukan perempuan dari pada di neraka
"Yudi, saya dokter Daniel yang mengoperasi kamu." ujar Daniel nada seorang dokter, menunjuk kepala Yudi.
Yudi meraba kepalanya, ada perban tapi tidak sakit kok diperban.
Hm, artinya aku masih hidup. Padahal sudah dihajar babak belur oleh preman-preman penagih hutang sialan itu.
Dalam hati Yudi, menatap Daniel. "Terima kasih dokter telah menyelamatkan saya, tapi di mana ini kenapa perasaan saya seperti melayang di udara?" tanya Yudi.
"Kita di pesawat dalam perjalanan ke Amrik. Rencana nya kalau kamu tidak bangun saya lanjut operasi tahap berikutnya." jelas Daniel.
Operasi! Ke Amrik, siapa yang bayar ongkosnya. Mana pesawat seperti di film-film lagi, jangan-jangan ini mimpi.
"Aduh." Yudi menepuk pipinya.
"Aduh!" pekik Laras kaget Yudi juga menampar wajahnya, ck Laras mengusap-usap pipinya.
"Apa kamu ingat, kenapa kamu sampai tidak sadarkan diri?" tanya Daniel.
Aku bertengkar dengan Olivia, lalu dikejar preman penagih utang ayah mereka menghajar ku, lalu kenapa bayangan perempuan ini ada di otakku
Dalam hati Yudi menatap Laras lekat-lekat.
"Tidak ingat dokter." jawab nya berbohong.
"Siapa nama anda?" tanya Daniel lagi.
"Saya? Wahyudi usia 20 tahun kemarin hari ulang tahun saya dokter." jawab Yudi nada bicara seperti anak remaja.
"Apa dokter melihat dompet saya, di situ ada kartu identitas saya."
Lanjut Yudi lagi menyadari, ia memakai seragam sebuah rumah sakit pasti dirinya sudah dipreteli.
Hm, Daniel menarik nafas dalam lalu menoleh pada Laras bergantian menatap asistennya.
"Siapa yang mencabut infusnya?" tanya Daniel.
Asisten Daniel kebingungan, bukan aku dalam hatinya.
"Maaf dokter, saya yang cabut. Dari pada infus boleh beri saya makan, saya lapar." mohon Yudi menjilat bibirnya.
"Baiklah tunggu sebentar."
Daniel meminta asistennya agar memberi Yudi makan, asisten keluar menuju dapur.
"Boleh saya bicara dengan Laras sebentar."
Mohon Daniel pada Yudi.
"Tidak, jangan bawa dia." Yudi memeluk Laras.
*
Hai pembaca yang setia.
Ikutin terus Tuan muda romantis ya, jangan lupa tekan jempolnya vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏