Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
178


__ADS_3

Di Mansion Daniel, Bram menempati rumah tamu 1 sementara Yudi mendapat tempat di rumah tamu 2.


Dini hari waktu Amrik, menunggu hari terang ketiga pasang anak manusia mempergunakan waktu untuk beristirahat di kamar masing-masing.


Di rumah utama di lantai 2, Daniel memanjakan Icha dengan sentuhan-sentuhannya.


Sementara di rumah tamu 1.


Setelah satu jam istirahat Bram kesempatan melakukan panggilan video pada Arjit mumpung di Jakarta masih sore.


"Syukurlah, Yudi sudah sadar. Mengenai ingatan bisa nanti pelan-pelan Bram." suara Arjit nada prihatin.


"Paman, tolong kirim kumpulan rekaman CCTV kantor dalam kurun waktu satu tahun ini yang ada Yudi, kalau ada Olivia langsung delete saja." pinta Bram.


"Baiklah Bram, paman akan urus secepatnya beri paman waktu sampai besok pagi malam ini juga tenaga IT akan bekerja lembur." jawab Arjit.


"Bagaimana Ceo dan Olivia serta anaknya." tanya Bram.


"Ceo, membayar tuntutan kamu Bram dan juga jaminan perkara sehingga penahanan nya ditangguhkan. Hari ini siang tadi mereka sudah kembali ke Korsel. Ceo juga menjual kepemilikan sahamnya sementara ini masuk nama kamu sebagai pihak pembeli, paman bayarkan dari uang hasil tuntutan atas ijin dan ditanda tangani mbak Alisha, Mama kamu." jelas Arjit.


Hm, "Akhirnya mereka memutuskan hubungan kerja sama. Bagaimana dengan Mossen, bukankah aku merumahkan Olivia." tanya Bram lagi.


"Mossen meminta maaf, setalah Olivia mengakui ini adalah kesalahannya dan akan bertanggung jawab dengan mengirimkan surat pengunduran dirinya." jawab Arjit.


"Junior masih koma, Olivia menjaga nya seperti orang gila depresi tingkat berat, Bram. Suganda ingin membawa nya ke kediaman nya tapi miss Olivia tidak mau, sementara ini di rumah paman dalam pengawalan yang ketat. Dalam waktu dekat paman juga akan menikahi nya." ujar Arjit nada hati-hati.


"Apa!" Bram kaget sampai berteriak mendengar Arjit.


Ah, "Paman tau kan, putranya hampir saja membunuh kami di udara. Apa paman tidak tau, Olivia itu mantan si Yudi dan dia masih menyukai Yudi. Kita mau melempar nya jauh dari kehidupan Yudi lalu Kenapa paman mau menikahi nya, apa paman menyukai nya?"


Bram suara keras sehingga Kiara yang tidur di sampingnya jadi terbangun.


"Bukan begitu Bram, kamu tau bibi kamu akan datang dari india menghadiri pernikahan Icha dan Daniel, paman tidak mau terlihat menyedihkan di matanya. Olivia membutuhkan seseorang yang bisa menjauhkan nya dari Suganda dan Junior juga sudah mendapatkan balasannya. Olivia juga tidak keberatan jika kita ingin mempidanakan Junior sesuai dengan perbuatannya Bram. Miss Olivia tidak ingin Suganda mendapatkan Junior, yang ada nanti dia makin jahat begitu alasannya Bram. Kami hanya saling membutuhkan tidak ada urusan asmara."


Jelas Arjit panjang kali lebar masih kekeh dengan pendiriannya ingin menikahi Olivia.


Ah, "Ya Tuhan. Sudahlah paman lain kali kita ngobrol lagi saya bisa apa, itu masalah pribadi paman." Ujar Bram memutus sambungan kesal.


Hah! Bram menarik nafas kasar, tiba -tiba dadanya sesak.


"Kenapa sayang, kamu suka sekali marah-marah." Kiara memeluk Bram menenangkan suaminya, Bram membalas pelukan.


Untung ada Kiara yang bisa membuat hatiku adem.


Dalam hati Bram menciumi istrinya, mengobati rasa kesalnya.


*


Di rumah tamu 2.


Yudi yang baru ngerti enak seolah ketagihan, mendatangi Laras yang baru keluar dari kamar mandi duduk di cermin rias sedang ngaca memoles wajahnya dengan krim pelembab.


"Laras, abang mau masuk lagi." Yudi malu-malu mendatangi Laras seolah bocah meminta permen.


"Tapi barusan sudah Bang." senyum Laras gak enak hati sebenarnya mau menolak.


Dalam urusan bercinta Laras merasa Yudi tidak ada bedanya waktu sebelum atau sesudah hilang ingatan, hanya pada selain itu Yudi kembali ke sifatnya saat masih usia 20-an.


Tapi tidak mungkin saat usia 20 tahun Yudi kayak orang bego, pasti ada yang salah di otaknya.


Dalam hati Laras merasa aneh juga, melihat wajah Yudi yang manyun. "Baiklah abang." angguk Laras menatap Yudi intens.


Yudi tersenyum lebar, senyuman yang tidak pernah dilihat nya sebelum Yudi hilang ingatan. Yudi memang pernah tersenyum namun hanya sekedar saja.


Laras ingat pernah melihat senyum ini satu kali, saat di rumah Suganda. Ya, Suganda pernah tersenyum padanya seperti senyuman Yudi sekarang.


Yudi meraih tangan Laras membawa nya naik ke kasur menghimpit tubuhnya, saat mendekatkan wajahnya ingin meraih bibir Laras Yudi terlihat gambaran melintas di depannya.


Yudi terkesiap. "Laras." panggil nya.


Laras dalam kungkungan Yudi menatap heran, "Hm." jawab nya mengusap sayang wajah Yudi, kenapa gak jadi mencium dalam hatinya.


"Kenapa waktu itu kamu memilih menikah dengan Yudian dari pada dengan pria pilihan ayahmu?"

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Yudi Laras membelalak. "A-abang sudah ingat?" tanya Laras terbata.


Yudi menggeleng. "Aku melihat gambaran di pikiranmu" jawab nya.


"Pikiranku?" tanya Laras berpikir apa maksudnya.


"Bagaimana abang bisa melihat pikiranku?" lanjut Laras bertanya penasaran.


"Dengan menyipitkan mataku, begini." Yudi mencontohkan matanya menyipit, mendekatkan wajahnya seolah ingin mencium Laras.


"Apa lagi yang abang lihat?"


Cecar Laras antusias semoga ada petunjuk mengembalikan ingatan Yudi.


"Ada gambaran sebuah lorong di sebuah rumah. Seseorang yang mirip dengan ku, kalian melakukan nya, sering."


Jawab Yudi malu-malu melihat gambaran wajahnya di pikiran Laras dan juga gambaran wajah Laras di pikirannya sendiri sedang gairah itu sangat vulgar memancing gairahnya.


Syukurlah perlahan-lahan ingatan Yudi akan pulih kembali, tapi kenapa di pikiranku bukan di pikirannya.


Dalam hati Laras bingung juga bagaimana melihat pikiran, macam betul aja.


"Apa kamu yakin itu aku, namaku Wahyudi dipanggil Wahyu bukan Yudian." jelas Yudi lagi.


"Aku sudah tau nama asli Abang Wahyudi, entah kapan abang berganti nama jadi Yudian tapi aku lebih suka memanggil abang Yudi bukan wahyu. Itu mengingatkan ku pada mantanmu si Olivia, aku tidak suka itu." ujar Laras to the point.


"Jadi di dunia ini Olivia itu mantanku dan kamu mengenal nya?' tanya Yudi menyipitkan matanya.


"Ehm." Laras mengangguk


"Kamu lihatlah apa ada gambaran nya di pikiranku, kami pernah bertemu."


Lanjut Laras mengikuti Yudi bersikap seolah memang benar ia bisa melihat pikiran.


Tidak ada yang perlu ditutupi lagi, kalau memang mau sakit hati lebih baik cepat dari pada lama-lama disembunyikan pada akhirnya sakit hati juga, lebih parah.


"Kamu tau bagaimana kami putus?" tanya Yudi lagi mencoba menyipitkan matanya, ada banyak gambaran berseliweran di pikiran Laras.


Hah, tiba-tiba Yudi menghempas tubuhnya di kasur di samping Laras, mengusap wajahnya kasar setelah melihat gambaran Olivia dewasa dengan satu anak remaja yang diakui nya sebagai anak mereka.


Gantian Laras manjat di atas Yudi. "Tadi katanya mau masuk lagi." tanya Laras.


Yudi meraih wajah Laras lalu mencium nya dalam, membalik tubuh mereka sehingga Laras posisi di bawah.


"Apakah aku mencintai mu?" tanya Yudi di wajah Laras sesaat menghentikan ciuman.


Laras mengangkat bahu. "Yang aku tau kamu sangat baik padaku, menyayangi ku sangat sempurna. Kita bercinta semalaman seperti orang gila, kamu membuatku lemas sampai tidak bisa bangun keesokan harinya." jelas Laras.


Yudi tersenyum buang muka, gambaran itu sangat jelas dapat dilihat nya pada pikiran Laras dan sesuai dengan yang ada di ingatannya.


Tapi kenapa dipikiran Laras banyak yang dapat ku lihat, sementara di ingatanku sendiri tidak ada apa-apa, hanya saat-saat bercinta itu saja lalu kemana yang lainnya.


Dalam hati Yudi mematahkan pikirannya sendiri bahwa dia bukan pindah dimensi atau melintas waktu melainkan amnesia.


Oh Tuhan.


Kenapa kadang Yudi normal kadang korslet, dalam hati Laras.


"Abang, aku mencintai mu." ucap Laras menatap Yudi dengan wajah serius.


Yudi menatap wajah Laras, matanya menyipit. "Aku tau."


Jawab Yudi sendu, karena ia melihat jelas di pikiran Laras sebuah rasa yang tulus bagaimana Laras mengurus nya dengan cinta kasih.


"Harapanku juga begitu pada diriku, tapi maukah kamu menunggu ku."


Lanjut Yudi dengan wajah bersungguh-sungguh seolah menyesal karena belum bisa menerima perasaan Laras.


Hm, artinya memang Yudi sebelum hilang ingatan juga belum mencintai ku, sabarlah Laras.


Desah dalam hati Laras.


Namun begitu setelah itu mereka bercinta dengan penuh gairah, masing-masing ingin memuaskan pasangannya. Bahkan setelah pelepasan nya Yudi belum mau berpisah, ia ingin menyatu dengan Laras dalam-dalam rapat tidak berjarak.

__ADS_1


Masih dalam penyatuan Yudi mencium Laras tak puas-puas, seolah balas dendam karena telah banyak kehilangan waktu berduaan, bermanja-manja.


*


Setelah hari terang, Daniel meminta pelayannya memanggil Bram dan Yudi ke rumah utama untuk sarapan bersama sekalian mau membahas masalah Yudi.


Kenapa setelah sadar Yudi masih hilang ingatan bahkan seperti orang kehilangan akal sehat, yang ada hanya pikiran licik yang dangkal, di mana silapnya.


Dalam hati Daniel sangat besar dihantui rasa penasaran.


~


Sebelum ke rumah utama Laras mencoba membenahi rambut Yudi, kasihan juga jadi bahan tertawaan si Bram.


Tidak ada rasa prihatin banget, dasar bocah tengil.


Dalam hati Laras, kebetulan ia menemukan gunting di laci cermin rias namun tangannya gemetar saat memegang gunting, hihi.


"Aku pakaikan tutup kepala aja ya Bang, nanti biar kita ke salon memperbaiki rambut abang." ujar Laras suara lembut.


"Pelan-pelan saja Laras, aku maunya hanya kamu yang menyentuh kepalaku."


Suara Yudi tegas memeluk Laras di pinggang, Laras berdiri diantara sela kakinya yang terbuka.


Kenapa pada Laras aku merasa bebas aja gak ada canggung, berbeda dengan saat bersama Olivia masih menjaga jarak. Di dunia ini Olivia mantanku, dan kami punya anak kapan buatnya, kenapa aku gak ingat, hm.


Desah dalam hati Yudi.


Huh!


Laras menarik nafas dalam lalu menghembus perlahan. "Bismillah." ucap nya mulai menggunting rambut Yudi.


*


Bram berada di rumah utama duduk di ruang baca bersama Daniel, mereka menunggu Yudi.


Icha dan Kiara di rak buku melihat-lihat koleksi Daniel banyak sekali bahan bacaan seolah perpustakaan umum kota dan juga barang-barang antik.


"Apa si Yudi masih sibuk buat bayi." suara Bram menggerutu.


Daniel menarik ujung bibirnya tersungging, pikirannya juga pada Yudi. Bagaimana mengembalikan ingatannya menjadi tantangan besar bagi Daniel ingin memecahkan nya.


Tok tok tok. Suara pintu di ketuk.


"Come in." jawab Daniel.


Cekklekk.


Pintu dibuka, Laras dan Yudi muncul di depan pintu bergandengan tangan.


"Laras!"


Pekik Icha menghampiri Laras tatapannya terkunci pada Yudi.


Wow, walaupun kepalanya plontos tetap tampan, hm.


Dalam hati Icha cepat menoleh tersenyum pada Laras, menepis tangan Yudi membawa nya bergabung dengan Kiara.


Yudi menyipitkan matanya mencoba, apakah ia juga bisa melihat pikiran gadis barusan, terlihat ada banyak gambaran.


Yudi tersenyum di otaknya melihat Icha juga tidak kalah hotnya saat bercinta.


Ah!


Seketika Yudi membuang muka, saat melihat seseorang mirip dirinya pernah mencium Icha di toilet wanita bahkan belum lama berselang sebelum ia menikahi Laras.


Ya Tuhan apa saja yang ku lakukan selama ini.


****


Hi, pembaca setia ikutin terus Tuan muda romantis ya, jangan lupa tekan jempolnya, vote dan juga hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2