
"Bram, awaslah ah!" Kiara melepas pelukan Bram.
"Ehem." suara deheman Hendra di belakang Laras.
Laras berbalik. "Eh Pak, ini Kiara." ujarnya.
"Memang kenapa kalau Kiara, apa kamu diperkenankan meninggalkan customer begitu saja. Saya potong gaji kamu mau!" sergah Hendra.
"Maaf Pak sekali ini, jangan potong gaji saya ya Pak." mohon Laras ingin kembali ke customernya.
Customer yang mendengar nama Kiara datang menghampiri.
"Mbak Kiara Rosalinda boleh minta photo bareng. Ini saya lagi hamil dua bulan pingin, boleh ya mbak." customernya memohon.
Kiara menoleh pada Bram, Bram mengangguk pada Kiara.
Customer kesenangan. "Bersama Tuan muda juga ya." pintanya.
Bram kembali mengangguk.
"Sebentar ya Pak Manager , nanti saya borong deh jualan nya mbak Laras." lanjut customer memohon pada Hendra.
"Makasih Bu, sini saya yang photo in." ujar Laras. Customer memberikan ponselnya pada Laras.
"Ra buka masker dong, Tuan muda juga."
Dan Laras mengambil beberapa photo mereka.
"Makasih ya mbak Kiara." ucap customer setelah mendapatkan beberapa gambar. Ia kesenangan memperlihatkan pada suaminya.
Laras kembali melayani customernya, hari ini dia pecah telor mendapatkan target penjualannya. Ternyata Laras telah diangkat jadi leader menggantikan Kiara.
Kiara benar-benar membawa berkah, dalam hati Laras bersyukur menjadi teman Kiara
Hendra menatap kiara dan Bram bergantian. Bram dan Kiara memakai maskernya lagi.
"Tuan Muda, selamat datang di store kami."ucap Hendra menunduk hormat pada Bram.
"Hm." Bram mengangguk dari balik maskernya. "Hanya mampir mau ambil barang di loker Kiara yang ketinggalan." ujarnya.
"Begitu, Kiara apakah kamu bisa ke ruangan saya. Tanda tangan slip gaji kamu bulan terakhir." tanya Hendra.
Kiara menoleh ke suaminya. "Tidak perlu, cukup ambil barang di loker saja." tegas Bram.
"Tuan muda boleh ikut menemani." ajak Hendra menatap Bram.
Kiara menoleh pada Bram lagi. Karena ia di ijinkan ikut, Bram merasa gak keberatan.
"Yudi, aku akan menemani Kiara ke ruangan Manager, kamu tunggu di sini." titah Bram.
"Apa bos yakin, di dalam ruangan Manager ada Tuan Bernard." bisik Yudi di telinga Bram.
__ADS_1
Bram memandang Yudi, matanya melotot. "Bagaimana kamu tau? Bukannya semalam sudah berangkat ke NYC?"
Yudi gelagapan, mau bagaimana menjawabnya. Mau bilang kalau matanya bukan mata biasa, ah.
"Kebetulan saya lihat baru saja lewat bos." bisik Yudi lagi berharap bosnya akan percaya.
Kiara di peluk Bram dari belakang. mendengar pembicaraan keduanya, ia merasa geli di dalam hati.
"Apa dia melihat Kiara ada di sini?" tanya Bram mengecup pucuk kepala Kiara yang berada di pelukannya.
"Sepertinya begitu bos." jawab Yudi mengangguk.
Tentu saja, monitor CCTV ada di ruang Manager, dalam hati Yudi.
"Bram, biar aku pergi sendiri atau tidak usah sama sekali." Kiara menimpali.
Bram merasa gerah dan juga dilema. Memberi kepercayaan pada Kiara sendirian atau ikut masuk ke ruangan Manager.
"Aku pergi sendiri saja biar cepat ya, sekalian aku mau balikin ini kartu tanpa batas miliknya. Kamu percaya padaku kan?" lanjut Kiara lagi.
Bram meraih wajah Kiara sehingga mendongak padanya. "Sayang, seribu persen aku percaya padamu."
Tapi cara si kunyuk itu memandang kamu, aku gak suka. Sebagai pria dewasa, pasti otaknya mesum juga seperti aku ah, lanjut Bram dalam hati.
"Kita semua akan ikut masuk menemani kamu." tegas Bram pada Kiara.
'Kita.' Yudi mengernyitkan dahi melirik Hendra.
Mendengar itu Manager Hendra tersungging dan mengangguk.
"Silahkan Tuan muda, mau bawa semua tetangga juga boleh asal belanja dulu di Jaguk store paling sedikit 10jt, hehe." ujar Hendra bercanda berjalan mendahului mereka.
Bagaimana asistennya tau Beno ada di ruanganku, lanjut dalam hati Hendra.
Sebelum beranjak Kiara melirik sohibnya si Laras yang sudah melayani customer baru. Kiara jadi rindu saat-saat dia bekerja.
Merasa diperhatikan Kiara, Laras memberi kode agar menelponnya dengan melebarkan jari kelingking dan jempol di telinganya.
Kiara terkesiap mengangguk, 'sip' dengan mengacungkan jempolnya.
Sambil berjalan Bram memeluk Kiara, menutupi pandangan antara Kiara dan temannya.
Ck, Kiara menepuk dada suaminya.
"Kenapa sayang, kamu kepingin kerja lagi?" tanya Bram.
"Hm." Kiara mengangguk.
"Jangan mimpi, tenang saja aku akan membuatmu sibuk biar gak bosan di rumah." bisik Bram di telinga Kiara.
"Sibuk apa?"
__ADS_1
"Cepat selesaikan datang bulan mu , nanti kamu tau." Bram menghirup daun telinga istrinya.
"Ish." Kiara merah padam, menelan salivanya. Mereka berempat mengikuti Manager Hendra ke ruangannya.
Sambil berjalan Marissa membuka website di ponselnya. Pernikahan Bram dan Kiara jadi tranding topiknya.
Juga rumah besar Wijaya yang sekarang sudah dipenuhi massa. Sementara pengantinnya ada di sini berkeliaran.
Ada-ada saja.
Marissa jadi iri pada Kiara. Melihat si Bram sangat posesif pada Kiara, menempel se milimeter pun gak bisa jauh darinya, cih.
Apalagi tadi ada yang minta berphoto dengannya.
Baiklah karena si Kiara populer, aku akan baik-baik padanya. kalau bisa numpang populer kenapa enggak, dalam hati Marissa.
Marissa bercita-cita mau jadi artis. Berharap bisa jadi model dengan mengandalkan posturnya yang kutilang.
Marissa sudah banyak mengikuti lomba pencarian bakat saat di London namun belum ada kemajuan. Bahkan masih babak penyisihan dia sudah tersisih.
Mudah-mudahan di Jkt aku bisa mengembangkan bakat ku dengan mendekati Kiara memanfaatkan kepopulerannya. Jelas-jelas aku lebih modis darinya, dalam hati Marissa.
Karena berangan-angan jalan sambil menunduk melihat ponselnya, Marissa jadi nyasar entah kemana. Mengikuti bayangan di depannya yang dikira nya Yudi juga.
******
Di dalam ruangan Hendra.
Beno serba salah melihat ke monitor. Dia meminta Hendra membawa Kiara ternyata ia tidak datang sendirian.
Ish, kenapa si Wijaya itu malah ikutan. Bawa rombongan lagi, dalam hati Bernard.
Gak lama pintu dibuka Bernard berdiri menyambut mereka. "Hallo Kiara." Bernard mengulurkan tangannya pada Kiara.
Tapi Bram menahan tangan Kiara. "Apa saya salah dengar, ada orang mengatakan bahwa semalam akan segera berangkat ke NYC?" ujar Bram menyindir Bernard.
Merasa ucapan Bram untuk dirinya , Beno membalas. "Apa anda berharap, saya menerima tawaran Nyonya Alisha untuk datang ke pengajian malam ini." jawab Beno santai.
"Ish." hati Bram menjadi panas.
"Saya akui Nyonya Alisha masih cantik di usianya yang sudah tidak muda. Kalau anda tidak keberatan, saya bisa pertimbangkan jika ia mau membuka hatinya pada saya." lanjut Beno.
Bram semakin panas mengepalkan tinjunya menerjang Bernard.
"Aaah." Kiara kaget dan berteriak.
Namun Bernard sempat mengelak sehingga Bram jatuh ke sofa di belakangnya. Bernard segera menjauh dari Bram.
Yudi ingin menolong bosnya namun segera mengurungkan niatnya, karena Kiara sudah lebih dahulu menghampirinya.
******
__ADS_1
enjoy reading and see you next part.