Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
Bonus bab 2.


__ADS_3

Laras geli melihat ketiga bayinya berbaris tengkurap, menangis kompak.


Apalagi cara ampuh untuk membujuk bayi yang menangis, ya mimik cucu. Laras mengangkat si galak Sebi, mengeluarkan susunya yang langsung dilahap mulut kecil Sebi.


Hm, Laras makin kasihan melihat bayi lainnya harus antri. Laras mengusap kepala Sevi dan Duta bergantian, gemas melihat bibir mereka menjilat jilat.


"Abang, gendong dulu Duta dan Sevi," seru Laras tersungging melihat wajah lemas Yudi.


Walaupun sudah ada susu formula yang rasanya menyerupai ASI namun ketiga bayinya lebih menyukai nyusu langsung ke dada Laras dimana rasanya kenyal kenyal empuk gimana gitu.


Hm, Yudi juga kasihan pada bayinya tapi mau bagaimana lagi selera mereka sama. Sama sama suka susu Mama Laras.


Tidak Seperti Tuan muda Bram gak perlu ngantri, karena bayi Kiara justru gak mau nyusu langsung badan. Mereka maunya pake dodot, mau itu formula ataupun ASI tinggal peras, beres.


Huh, dengan berat Yudi bangun duduk tepat di samping Laras, bahkan Laras dengan nyaman bisa bersandar di sisi sebelah kiri otot seksi suaminya itu, kan Yudi nya sudah keburu topless.


Yudi mengangkat Sevi dan Duta baring di perut kotak kotaknya. Usia tiga bulan lebih sedang enak enaknya digendong, Yudi memeluk gemas kedua bayinya. Memberikan wajahnya digumul Sevi dan Duta.


"Tuh, masih enggak mau KB? Mau nambah anak lagi? Tiga saja abang udah gak kebagian, bagaimana kalau tahun depan lahir tiga lagi waktuku untuk abang tersita oleh bayi bayi," Laras mengingatkan Yudi


"Jangan salahkan aku ya, bilang mengabaikan suami." lanjut nya.


"Untuk bayiku, aku akan mengalah," jawab Yudi meletakkan Duta di dada sebelah kanan Laras membuka susu, Duta langsung menyedot rakus.


Dua saudaranya bertengger di dada Mama Laras, Sevi melongo jelouse.


Sevi mengulur tangannya meraih baju Duta. "Eummm mammmaah (ini enggak adil, hei aku mau juga)," gitulah maksudnya kira kira.


Hehe, Yudi terkekeh menarik tangan Sevi. "Sevi, sini sama ayah."


Yudi mengusap wajah kecil Sevi melihat hasil karyanya itu sangat cute lalu Yudi mendekatkan wajah Sevi ke dadanya.


Sevi mengira otot dada ayah yang menonjol sama aja kali dengan susu Mama Laras, Sevi menangkap pintil Yudi dengan mulutnya.


"Aa a a, Auw," desah Yudi mulutnya merat merot menahan sensasi hisapan Sevi di dadanya.


"Hahaha,"


Enggak tahan Laras tertawa melihat keisengan Yudi dan wajah frustasi Sevi. Bayi kecilnya itu kelihatan marah muka merah padam.


"Aaa!" Jerit Sevi akhirnya, capek nyedot gak ada airnya


"Eeummph!" Sevi coba menyedot lagi.


"Ah a a..a aow," Yudi meringis lagi.


Sebi dan Duta jadi gak fokus nyusu, melihat Sevi jadi cemburu kok enak banget dia dapat susu ayah, begitulah kira kira dalam hati mereka.


"Eummah ma,"


Geram Sevi menyedot nya kuat berharap air candunya akan keluar.


Arhhh, uwaaaa,"


Akhirnya Sevi nyerah malas menghisap lagi, menangis putus asa.

__ADS_1


"Oh, cup cup cup...sayang. Sini abang gantian sama Sebi udah dapat banyak dia." ujar Laras kasian Sevi.


"Sebi sama Ayah," Laras bicara pada Sebi.


Seolah mengerti Sebi berhenti nyusu, bibir kecilnya yang merah membulat, gak tahan Laras menyedot nya gemas.


Hm, Yudi mengambil Sebi lalu melangsir Sevi pada Laras yang langsung disumbat pintil oleh Mama Laras.


"Uawaaa...eumm, errg," Sevi nyusu sambil ngoceh ngadu pada Laras.


"Iya ayah nakal ya nak, ini minum," pujuk Laras mengusap wajah Sevi yang basah air mata.


"Aish, serunya lah punya anak," gumam Laras melihat Sebi di pangkuan Yudi mentoel toel pintil ayahnya.


"Mau?" tanya Yudi, ngisengin Sebi gantian.


"Uuu," jawab Sebi, mulutnya bulat sempurna. Kembali Yudi memberikan pintil nya disedot Sebi.


"Arrrgg, aa a aa, aduh!" Pekik Yudi tiba tiba, Sebi menggigit nya.


"Hais, beruntung belum ada gigi kalau gak putus pintil." keluh Yudi menahan rasa perih di pintil nya sampai keluar air mata, ah! Yudi menjauhkan wajah Sebi dari dadanya.


"Nakal," Yudi mentoel hidung Sebi.


Laras senyum, gak tega mau ketawa walaupun itu tadi sangat lucu. "Enak Bang, gimana rasanya nyusuin bayi." Laras menggoda Yudi.


*


Acara ena2 batal karena si kembar tiga.


Habis nyusu Yudi bantuin Laras mandiin ke tiga bayi. Selesai mandi ke tiga bayi tertidur setelah disumpal lagi dengan dodot susu.


Yudi tersenyum sumringah, menatap Laras yang menonjol di bagian depan pada dua gunung kembar.


Oh no. Laras menelan ludah.


"Me time," ujar Yudi menarik Laras ke pelukannya, mencium bibirnya gak sabar.


"Bang, ah." desah Laras di sela ciuman.


Yudi membaca Tuan muda juga sedang tempur dengan Nyonya muda, ya udah nunggu apalagi. Yudi tersenyum devil melepaskan pakaian Laras dengan semangat mengangkat istrinya itu ke kasur dan menindih nya.


Arghh. Pekik Laras tertahan, kaget.


"Aku gak tahan lagi, kamu juga sudah panas kan, arghh," Ceracau Yudi mengerang, dirinya sudah ada di dalam Laras.


Seluruh kasih sayangnya dicurahkan Laras melayani suaminya hingga terpuaskan.


Yudi memeluk Laras erat memperdalam penyatuan, air menyembur di kedalaman Laras.


Yudi terkapar di atas Laras, ngos ngosan ah ah ah.


Selang lima menit. "Satu kali lagi," ujar Yudi bersamaan dengan bunyi panggilan di ponselnya. Tanpa meraih pun ia tau itu dari si Bos


Hm, ternyata dia sudah selesai.

__ADS_1


"Tuan muda,"


Yudi menjawab tatapan Laras, Laras cemberut. "Ah," pekik nya, tiba tiba Yudi di dalam dirinya lagi.


"Kamu mau bayi bayi bangun," desis Yudi sambil menyesap leher.


"Bukankah Tuan muda memanggil abang, hah!" tanya Laras mendesah.


"Kan gak harus pergi sekarang,"


*


Setelah satu jam, Yudi di hadapan Bram di ruangan kerja sementara.


"Sekarang kamu sudah berani mengabaikan panggilan ku, Yudi." kecam Bram menatap sinis Yudi, tangan terlipat di depan dada.


"Maaf Tuan muda, kan lama terpisah jadi rindunya double double." jawab Yudi senyum dikulum.


"Hum," desah Bram.


"Kamu jangan alasan. Mulai besok bayi bayi akan diurus sitter, aku gak mau kita jadi terlambat ngantor!" tegas Bram.


"Apalagi istrimu akan bekerja di bengkel," lanjut nya lagi.


"Baik Bos, siap laksanakan." jawab Yudi.


Mendengar itu. "Bram," panggil Kiara mendatangi suaminya.


"Iya, sayang." jawab Bram.


"Aku juga ikut kerja di bengkel ya," mohon Kiara duduk di pangkuan suaminya.


"Sayang, untuk apa?"


Bram keberatan antara membiarkan Kiara kerja dan merasa keberatan dengan berat badan Kiara yang bertambah.


"Bantuin Laras biar cepat capai target, cepat pensiun. Kita bisa segera pulang ke Jkt, memangnya mau selamanya di Amrik?" tanya Kiara, mulut maju satu inci.


Bram berpikir pikir, "Dasar, si Beno. Tapi setengah hari ya kamu kerja nya," ujar nya pada Kiara.


"Sayang, kalau mau bantu jangan tanggung. Nanti aku kasi imbalan yang tidak mungkin kamu tolak," Kiara mengedip mata, ia juga ingin bebas gak melulu bersama bayi dan Bram.


Ais, Bram lemah. "Baiklah sayang, sana dulu aku mau kerja." Bram gak tahan pahanya pegal.


"Oke, terima kasih sayang," Kiara mengecup pipi Bram sebelum berdiri.


Bram mengurut dadanya melihat Kiara yang tambah montok.


"Yudi," tegur nya menyadarkan tatapan Yudi.


"Oh, maaf Bos. Hehe,"


"Atur waktu kita olah raga angkat beban tubuhku sepertinya tambah lemah,"


****♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


Slow up date ya guys, terima kasih.


__ADS_2