Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
105


__ADS_3

Kiara keluar dari kamarnya menuju ujung lorong kira-kira sekitar 10 meter dari pintu kamar Bram. Sebenarnya kamar itu berdampingan, namun karena panjangnya kamar Bram jadi kelihatan jauh.


Kamar Yudi merupakan rumah awal dari asal muasal rumah besar. Tanah ini dibeli oleh kakek Bram. Dulunya di tanah ini ditanami pohon rambutan dan mangga yang rimbun.


Saat masih lajang Pramudya, papanya Bram itu membangun rumah besar di tanah ini namun masih tetap mempertahankan rumah lama. Dan meninggalkan beberapa pohon mangga lalu menanam pohon bambu di sekeliling pagar kecuali gerbang depan.


Sedangkan pohon rambutan ditebang semua karena Pramudya pernah mencret-mencret kebanyakan makan rambutan, jadi dia dendam. Ditebang lah olehnya semua pohon rambutan itu. Kebetulan memang posisi pohon rambutan tertutup denah rumah besar apabila memang mau dibangun.


Yudi menemukan kamar ini waktu memindai rumah besar lalu meminta pada Bram agar ia diperkenankan menempati kamar ini karena lebih dekat dengan kamar bosnya itu. Dari pada harus tidur di kamar tamu depan atau di lantai dua, sungguh ia segan mengingat posisinya sebagai pengawal pribadi merangkap asisten Bram.


Tok tok tok.


"Laras." Kiara mendorong pintu tidak dikunci.


"Laras." panggil Kiara lagi.


"Gue, di kamar mandi Ra." teriak Laras.


Mendengar suara Laras, Kiara masuk ke ruang tidur. Melihat pintu kamar mandi tidak ditutup Kiara melongok ke dalam.


"Astaghfirullah, lo kenapa Ras?" Kiara kaget melihat darah berceceran di lantai kamar mandi, Laras lagi mencuci pembalut.


"Gak tau gue, juga." jawab Laras seperti mau nangis.


"Lo haid Ras?"


"Itu dia gue juga gak ngerti, kan baru minggu lalu juga gue haidnya tapi gak pernah sebanyak ini."


Jawab Laras masih sambil memeras pembalutnya, padahal sudah double-double masih belum cukup saking derasnya darah yang keluar.


"Jadi kenapa ya? Kita ke dokter aja Ras, gue anterin lo." ajak Kiara.


"Emang lo gak kayak gini ya, Ra. Waktu pertama kali Tuan muda...." Laras menggantung ucapannya.


Akhirnya Kiara ngerti sepertinya semalam si Laras memang buka perawan. "Enggak Ras, gue gak berdarah sebanyak ini." terang Kiara.


"Udah deh, kita ke dokter ayuk!" lanjut Kiara memujuk Laras


"Gue malu Ra, masalah ginian sampe harus ke dokter."


"Lah, biar tau ada apa dan kenapa!"


Ck, "Anterin gue ke rumah aja Ra, dekat rumah ada Bidan. Nanti sekalian jumpa ibu, gue kangen." Laras tak sanggup lagi menahan air matanya...hiks hiks. Akhirnya ia menangis sesenggukan.


Kiara memeluk di bahu Laras. "Sudah jangan nangis, ia gue anterin lo ayo bersiap! Gue minjam mobil ke Mama."


"Tapi gak usah ngomong ke Tante Alisha ya, gue malu Ra hiks hiks." Laras masih terisak.


"Lihat nanti Ya, soalnya masalah gini sebaiknya kita jangan tutupi apalagi malu. Kan lo ngelakuin nya karena ingin berbakti pada suami." terang Kiara.

__ADS_1


"Udah, lo bersiap gue cari mobil. Oh ya, sebaiknya telepon Yudi Ras, biar dia yang nyampe-in ke laki gue."


Kiara alasan sebenarnya ia bosan di rumah, kalau ia yang permisi pada Bram mana mungkin suaminya itu ngasi ijin. Kiara mengepal tangannya, yes.


*


Bram di ruangan Kantornya besama Yudi.


"Yudi." panggil Bram.


"Iya Bos." jawab Yudi yang lagi menyusun laporan dari Branch Manager yang perlu ditanda tangani Bram.


"Aku merasa gak tenang." ujar Bram.


"Polisi rahasia Walikota masih terus melacak keberadaan Bryen dan Evita, jadi Bos tidak perlu khawatir." jelas Yudi mengetahui keresahan hati bosnya.


"Saya juga sudah mengirim beberapa anak buah dari pihak kita sendiri untuk mengikuti jejak mereka." lanjutnya.


"Bagaimana dengan pengawalan rumah besar?" tanya Bram masih saja khawatir, kepikiran pada istrinya yang tadi ia tinggalkan masih tertidur cantik, apakah sudah bangun.


Dalam hati Yudi dilema, apakah ia harus jujur mengenai Lucita. Saat tadi pagi Yudi memindai rumah besar, ia terlihat ada kamera pengintai kecil sebesar lalat yang terbang-terbang dari jarak 5 meter arah gerbang belakang sebelah kamar Bram, mengawasi rumah besar.


Saat Yudi membaca di dalam chip kamera tersebut ada terekam wajah Lucita saat mengaktifkan spy fly tersebut. Itu artinya, pasti Beno yang memerintahkan tidak ada maksud jahat namun privasi bosnya, apakah Beno mau melihatnya juga.


Yudi menarik nafas dalam, "Baiklah Bos, saya akan tambah lagi satuan pengaman di rumah besar. Apa Bos mau, seorang bodyguard untuk Nyonya muda?" tanya Yudi


"Hm, lakukan secara rahasia jangan tau Kiara." desis Bram yang masih bisa didengar Yudi.


Yudi mengerut dahi, meraih jas Bram yang tadi dilepas nya. "Tiket pesawat yang sama dengan penerbangan anda sudah full." jawab Yudi.


"Waktunya meeting, Bos." lanjut nya memberi kode agar Bram memakai jasnya.


"Booking penerbangan baru!" titah Bram memberikan tangannya ke belakang agar Yudi bisa memakaikan jasnya.


*


Di halaman utama rumah besar Kiara sudah siap dengan salah satu mobil keluarga Wijaya.


Ia memintanya langsung dari pengurus mobil dengan alasan mau ngantar Laras istri asisten Yudi ke dokter. Sang pelayan tentu saja tidak berani membantah mengingat siapa Kiara.


Alisha sedang keluar dengan Dwi diantar Samsir ke sekolahan Sabit. Sabit sendiri sedang asik dengan tanaman di kebun mawar rumah besar dan juga kebun anggrek.


Laras keluar dari ruang utama masuk ke mobil yang sudah menunggunya di halaman pintu utama, duduk di depan di samping Kiara.


"Masih banyak keluar?"


Tanya Kiara pada Laras sambil men-stater mobilnya. Kiara memilih BMW, salah satu koleksi mobil Alisha yang pas untuk wanita.


Laras mengangguk, wajah sembabnya kelihatan. "Lo bedak an dulu, entar ibu Ainun (Ibu laras) khawatir dikira lo disiksa Yudi, hehe." Kiara terkekeh.

__ADS_1


"Udah, baby powder " jawab Laras singkat.


"Yah! gak bisa nutupin itu, entar di market kita beli bedak 2 in 1 foundation." ujar Kiara melajukan mobilnya, petugas Satpam langsung memberi nya akses.


Kiara melajukan mobilnya kecepatan sedang, namun mobil meluncur lebih cepat dan lebih ringan dari biasa ia mengemudi dengan mobil bekas milik Ayah Burhan.


"Memang enak bawa mobil mewah." gumam Kiara sumringah.


"Gue pengen bisa bawa mobil Ra." jawab Laras.


"Hm, entar gue ajarin. Atau lo mau ke sekolah mengemudi aja, kan lo nya dah nganggur sekarang."


"Iya deh."


Jawab Laras pesimis gak bakalan lulus, gimana tidak naik sepeda aja dia gak bisa imbang badan.


"Nah itu ada market, ayo kita beli bedak dan cari oleh-oleh buat ibu Ainun dan Ayah Toyo." ajak Kiara pada Laras sambil memutar mobil masuk area parkir market.


"Iya, sekalian gue juga mau beli pembalut super tebal." angguk Laras melepas seatbeltnya sesaat Kiara memarkirkan mobilnya.


Mereka masuk ke Market tak lupa Kiara memakai maskernya. Kiara merasa lapar, ia melihat ada Onigiri di market langsung membeli nya juga beberapa botol mineral water.


Laras sudah selesai belanja langsung ke kasir. "Ras, pake ini sekalian bayar punya gue." Kiara memberikan card-nya dan meletakkan Onigiri bercampur belanjaan Laras.


"Sudah, biar gue yang bayar." Laras menunjukkan layar ponselnya tertera sejumlah lima puluh juta.


"Wow." Kiara terpekik.


"Shut." Laras meletakkan jari telunjuk di bibirnya, Kiara mengacungkan jempolnya kali ini membiarkan Laras yang membayar.


Ternyata Yudi romantis juga.


Dalam hati Kiara menduga, sudah pasti duit itu Yudi yang memberikan nya.


Saat keluar dari market.


"Kita duduk dulu Ras, gue mau makan." ajak Kiara pada Laras melihat ada bangku dan meja di luar Market.


"Ehm." Laras mengangguk ia juga mau bedak an.


Kiara membuka plastik Onigiri nya. "Ayo Ras, dimakan." ajak Kiara sambil makan, sementara Laras bedak an.


"Lo udah bilang ke Yudi kan, kalau kita pergi ke rumah lo?" tanya Kiara dengan mulut penuh makanan.


Laras melongo tangannya berhenti saat mau mengambil Onigiri Kiara satu. Melihat Kiara makan dengan lahap Laras jadi kepengen makan, ia sudah selesai bedak an.


"Hehe, lupa." ujar nya cengengesan lalu mengeluarkan ponselnya.


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2