
Masih di rumah Laras.
"Apa, si Samsul itu! Ayah apa bagusnya dia?"
Suara Laras meninggi mendengar ucapan ayahnya barusan. Dari dulu memang ayahnya dan ayah Samsul pengin besanan.
Pak Toyo tersenyum licik merasa ancamannya berhasil.
Pasti aku yang menang, gumamnya dalam hati menyeringai.
"Ya baguslah, dia mampu menjalankan bengkel ayahnya sekarang tambah maju gimana, masih mau pergi?" tanya Pak Toyo dengan senyum kemenangan.
Pak Toyo tau Putrinya ini tidak menyukai perjodohan dengan diancam begitu pasti ia akan menyerah pergi ke cabang.
Kiara memandang Laras lemas ini gak akan berhasil, ia pun tertunduk lemas juga.
"Ayah baiklah! Laras akan menikah dengan Samsul tapi tunggu sampai Laras usia dua puluh lima tahun." ujar Laras membuat penawaran.
Kiara terdongak mengerjab-erjabkan matanya memandang Laras tak percaya.
Ayah Laras membuang asapnya kasar memandang Laras dan Kiara bergantian. "Dua puluh tahun." ujar Pak Toyo menawar.
Ahh, Laras tau Ayahnya tidak akan begitu saja melepasnya. "Dua puluh empat tahun." tawar Laras lagi.
Ibu Laras dan Kiara terkekeh melihat ayah sama anak itu tawar menawar, yang mendapat tatapan horor dari Pak Toyo.
"Dua puluh dua tahun, sudah jangan ditawar lagi itu sudah final. Kita akan buat surat perjanjian di atas kertas bermaterai, titik." tegas Pak Toyo menatap Laras tajam.
"Oke deal!" ujar Laras mengulurkan tangannya disambut uluran tangan Pak Toyo. Zainal yang baru mau masuk rumah Laras seketika lemas.
Apa, ayang Laras menerima perjodohan.
Zainal menahan tubuhnya yang hampir jatuh bersandar di pintu masuk.
"Zai, ada apa denganmu?" tanya Pak Toyo tersenyum licik.
Pak Toyo tau Zainal menyukai Laras. Bukannya dia gak suka orangnya tapi karena usia Zainal yang sebaya Laras sembilan belas tahun. Sedangkan Samsul anak temannya sudah dewasa usianya dua puluh enam tahun.
"Sini! Kebetulan kamu datang, kamu juga ikut ke cabang tolong nanti kamu jagain Laras di sana." ujar Pak Toyo senang dengan kekecewaan di wajah Zainal.
"Cih jagain apa, Ayah gak takut pagar makan tanaman." ujar Laras mencibir Zainal.
Zainal mendelik pada Laras dan mengambil duduk di sampingnya.
"Baik Pak, nanti saya jaga seperti menjaga istri saya sendiri." ujarnya bercanda kemudian cengengesan sesaat Pak Toyo melotot padanya.
Kiara dan Ibu Laras hanya bisa senyum-senyum.
__ADS_1
Masalah satu beres. Dalam hati Kiara, saatnya ke rumah besar minta tanda tangan ibu.
******
Setelah dari Rumah Laras, Kiara ke rumah besar Wijaya waktu menunjukkan 18.30 wib.
Bagaimana ini Bram akan menjemput jam tujuh ah, sudahlah. Apa lagi maunya kalau gak mesum. Sekali-sekali tidak usah dilayani.
Gumam hati Kiara, sambil nyetir alarm di ponselnya berbunyi, tanda bulan kemarin haidnya tanggal hari ini.
"Ya Tuhan, apa aku telat? Baru juga beberapa hari mesumnya." dalam hati kiara mengira-ngira tidak mungkin dia hamil.
"Baiklah, untuk jaga-jaga." Kiara memutar mobilnya ke sebuah apotik yang dilewatinya, sampai di apotik ia jadi malu sendiri.
Apa kata apoteker nanti kalau anak seusia aku beli pil KB, ah.
Maju mundur maju mundur, akhirnya ia maju. "Mbak ada obat pelancar datang bulan?" tanya Kiara pada apoteker.
"Ada Mbak, mau yang biasa atau yang paten?" tanya apoteker.
"Yang terbagus Mbak langsung keluar haidnya." jawab Kiara.
"Ini Mbak yang paten harganya 160rb rupiah, ada lagi Mbak?"
"Ya ini saja terimakasih." ucap Kiara.
"Bang, esnya satu ya." ujarnya.
"Siap Neng, ditunggu ya." Kiara mengangguk nongkrong sebentar.
Setelah menerima es serutnya dengan semangat Kiara langsung menyedotnya sambil berjalan ke mobil. Tiba-tiba ponselnya berdering.
💞suamiku memanggil..
Kiara mengangkat panggilan dengan menggeser tanda hijau. Baru letak hp di telinga sudah dijauhkan lagi.
"Apa yang kamu lakukan di apotik?" teriakan Bram di ujung panggilan membuat Kiara merinding.
glek. bagaimana dia tau aku lagi di apotik.
Kiara langsung berphoto selfi dengan es serutnya dan mengirim photo tersebut ke chat room kontak 💞suamiku.
"Lagi menikmati es serut sayang." ujar Kiara setelah mengirim file photonya.
"Hehe, baiklah sayang hati-hati di jalan. Kamu siap-siap ya! Yudi akan menjemputmu datang padaku, aku sudah kangen sayang." ujar Bram dengan suara lembut dan tawanya yang riang.
Kiara menjadi lega. "Baiklah Bram, aku tutup dulu ya sayang bye, muach." Kiara langsung memutus panggilan.
__ADS_1
Kemudian Kiara masuk lagi ke apotik dengan es serutnya. "Mbak, Ibu saya barusan telepon minta dibeliin pil KB untuk tiga bulan." ujar Kiara sambil menunjukkan ponselnya pada apoteker sambil menggoyang-goyang ponsel itu di depan wajah apoteker.
Setelah mendapatkan pilnya Kiara bernapas lega kembali menyedot habis esnya kemudian tancap gas menuju rumah besar.
*****
*Bram POV*
Di ruangan kantornya, Bram menunggu Yudi yang lagi meeting masih berbaring di sofa main game di ponselnya. Melihat GPS di ponselnya wajahnya merengut, Kiara lagi berhenti di sebuah Apotik. Buru-buru Bram segera membuat panggilan.
"Apa yang kamu lakukan di apotik!?" teriaknya berang sesaat Kiara mengangkat panggilannya.
Kemudian masuk sebuah chat yang memperlihatkan Kiara lagi minum es warna-warni, bibir Bram tersenyum melihat wajah imut Kiara lagi menyedot esnya.
"Lagi menikmati es serut sayang." terdengar suara manja Kiara di telinganya meresap sampai ke dalam jantungnya.
Seketika Bram menjadi gairah.
"Hehe, baiklah sayang hati-hati di jalan. Kamu siap-siap ya! Yudi akan menjemputmu datang padaku. Aku sudah kangen sayang." ujar Bram senyum-senyum.
"Baiklah Bram aku tutup dulu sayang bye, muach."
Tut tut tut, panggilan terputus Bram belum selesai bicara. "Say-ang hais, dasar tidak sopan main tutup saja."
Bram kesal ingin menelpon lagi tapi Yudi sudah berdiri di depan pintu, ia pun mengurungkan niatnya.
"Apa berita?" tanya Bram dengan nada kesal, Yudi yang baru datang mengerutkan dahi.
Hm, kenapa lagi si bos ini.
"Pihak Jaguk antusias diundang makan olehmu Bos, saat mereka tau Bos sendiri yang akan memasak." jawab Yudi mengambil duduk di sofa di depan Bram.
"Meeting barusan juga belum deal, mereka terpengaruh Jaguk sepertinya bos."
Lanjut Yudi terduduk dengan lemas, membayangkan bagaimana nasib perusahaan kedepannya.
Baiklah Yudi.undang juga mereka, kamu sudah siapkan bahan-bahannya?" tanya Bram menarik napas dalam.
"Sudah Bos, semua bahan-bahan fresh dan peralatan masak dan makan model terbaru." jawab Yudi.
"Ayo kita duluan sampai di sana, jangan biarkan mereka menunggu." Bram bangun dari malasnya kemudian Yudi bantu memakaikan jas bos kecilnya.
*****tbc
Hi, readers yang masih setia. Dukung Bram Kiara dengan Like dan vote ya.
Koment pasti dibaca. rate juga lima bintangnya ya. Love You All. 😘🙏.
__ADS_1