Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
168


__ADS_3

Di ruang VIP hotel WJ, masih dengan sambungan telepon.


"Sayang, bagaimana keadaan Yudi. Aku dan Laras ingin menjenguk nya, sekarang!" tegas Kiara di ujung panggilan.


"Sayang, nanti aku atur sabar ya. Lagian Yudi butuh istirahat." jawab Bram.


"Bram, istri mana yang bisa tenang tau suaminya terluka, begitu juga dengan Laras di sini." Kiara suara lembut namun penuh tekanan.


"Iya sebentar sayang, kita sedang atur." Bram memujuk istrinya, walau sebenarnya ia keberatan istrinya ke hotel.


"Sayang, sebelum menikah dengan mu aku biasa nyetir tengah malam pulang kerja lembur tidak ada masalah. Kamu jemput atau aku nyetir ke sana bersama Laras sekarang."


"Baiklah, sudah dulu sayang nanti aku kabari."


"Cepat Bram, malam ini juga Laras harus bertemu suaminya."


"Iya, iya."


Ck, Bram memutus sambungan memandang Barus si pengawal.


Barus berdiri mematung merasa dilema bagaimana harus bersikap, satu sisi Big bos satu sisi atasan nya langsung.


Bos Yudi maafkan aku jadi penghianat.


"Cepat ceritakan apa yang kamu ketahui!" Bram menatap Barus, Barus tertunduk tidak berani menatap Bram.


"Baiklah keluar, kamu dipecat!" tegas Bram mengancam satuan pengaman, malas berlama-lama menunggu.


"Maaf Tuan, saya akan cerita. Tapi tolong jangan pecat saya." mohon Barus si satuan pengaman menatap Bram.


Hm, "Katakan." tegas Bram.


"Nyonya Olivia memiliki putra bernama Junior, ia menyangka Junior adalah anak hasil dari hubungannya dengan bos Yudi di masa lalu." jawab Barus suara pelan.


Hah! "Oliva itu mantan si Yudi?"


Tanya Bram nada tak percaya, Barus mengangguk.


"Jadi kali ini benar anak Yudi." gumam Bram teringat Sabit dan Sora.


"Bukan Bos, Junior juga anak Suganda seperti yang lainnya." Barus menyela.


Ha! "Suganda lagi, apa jangan-jangan masih banyak lagi anak-anak Suganda lainnya di luar sana." gerutu Bram menahan kesal.


"Ya begitulah bos."


Jawaban Barus sontak membuat Bram membelalak. "Apa! Jadi benar masih ada lagi!"


Teriak Bram, berharap Yudi bangun mendengar teriakan nya. Bram menatap Yudi geram, ternyata banyak rahasia yang disembunyikan orang kepercayaan nya ini.


"Ribet banget idup lo Yudi, Suganda yang berulah kenapa juga lo yang repot." gerutu Bram bergumam masih kesal.


"Lalu bagaimana Sabit mendapatkan video?" tanya Daniel pada satuan pengaman.


Benar juga bagaimana?


Bram menoleh pada Barus, jawab! Itulah maksudnya.


Barus menelan ludahnya susah payah sebelum menjawab.


"Putra Nyonya Olivia menggunakan smart softlens untuk memata-matai bos Yudi maupun Suganda. Sepertinya dia ingin menghancurkan keduanya baik itu Bos Yudi maupun Suganda."


"Apa itu smart softlens?" tanya Bram.


"Kaca pembesar yang bisa melihat dari jarak jauh dan dari tempat yang tersembunyi walaupun terhalang tembok." jawab Barus menatap Bram lalu menunduk.


"Kenapa dia ingin menghancurkan Yudi dan Suganda?" tanya Bram.


"Sepertinya Junior kecewa kenapa ayahnya bukan bos Yudi tapi malah si penjahat Suganda lalu mengadu domba anak buah Suganda dan Bryen untuk mengganggu ketenangan bos Yudi."


Hais, dasar gila. "Dani, apa kamu percaya ada smart softlens?" tanya Bram pada Daniel nada mengejek.

__ADS_1


Tentu saja.


Dalam hati Daniel karena dia juga punya kacamata operasi yang bisa melihat dengan jelas layaknya CT scan bahkan MRI, itu sebabnya dia jadi dokter bedah lulusan termuda dengan hasil yang gemilang.


Dani menggeleng pada Bram. "Kamu bisa keluar." Daniel memerintah Barus.


"Hei, aku belum selesai dengan nya." Bram keberatan.


"Memangnya siapa bosnya di sini?!" sergah nya.


"Pergilah." tegas Daniel tak perduli dengan keberatan Bram.


Ah! Bram mendesah frustasi, serasa harga dirinya diinjak di depan anak buahnya.


"Bram, tenanglah." ujar Daniel menenangkan Bram.


Setelah Barus keluar, "Kalau Yudi saja punya alat aneh di kepalanya, bisa jadi memang benar apa yang dikatakan pengawal mu itu. Apa kamu pernah dengar rumor bahwa presiden pertama kita punya kaca mata tembus pandang. Dari jaman Indonesia merdeka sudah banyak diciptakan alat-alat untuk keperluan agen mata-mata." jelas Daniel tetap merahasiakan bahwa dia juga punya.


"Apa kita hidup di dalam dunia film fantasi." sergah Bram masih belum bisa terima.


"Kalau besok Yudi belum bangun kita harus membawa nya ke Amrik Bram. Aku akan mengoperasi nya lagi, di sana alatku lebih komplit." lanjut Daniel.


"Bukankah memang besok kita akan ke Amrik Daniel." jawab Bram.


Hais, sampai lupa dalam hati Daniel.


"Bagaimana si Icha bisa ikut kan?" tanya Daniel.


"Bisa Dani, aku sudah meminta ijin paman. Cuma dia masih di kantor polisi mengurus dua orang pengacau sialan itu."


Cklekk. Pintu dibuka.


"Babe." suara Icha dengan kepala melongok di depan pintu.


Daniel matanya membulat menatap tak percaya, baru juga disebut sudah muncul di depan mata.


"Baby, apa kamu jinny."


Tertawa renyah Icha melompat ke tubuh Daniel, Daniel menangkap Icha.


Hah! Bram mendesah cemburu melihat Daniel dan Icha berciuman di depan matanya.


"Hei, paman memintaku mengawasi kalian agar menjaga jarak aman!"


Bram suara keras, namun kedua insan yang sedang dilanda rindu itu tidak perduli terus saja berciuman, saling melu mat menautkan lidah.


"I miss you, baby." Daniel.


"I miss you, too babe." Icha.


"Hah!" Bram mendesah. "I miss you, Kiara."


*


Di rumah besar.


"Ras, Bram mengirim supir bersiaplah kita akan ke hotel WJ." suara Kiara pada Laras yang terduduk diam melamun.


Mendengar itu, "Ka Kiara, Sabit ikut ya." mohon Sabit pada Kiara, ia juga ingin melihat keadaan ayah Yudi.


"Baiklah Sabit, kamu bersiaplah kalau memang mau ikut." ujar Kiara, Sabit mengangguk segera pergi ke kamarnya mau mengambil jaketnya.


"Ayo Ras." ajak Kiara pada Laras, ia juga mau bersiap.


Laras dilema mau pergi atau tidak namun begitu ia mengangguk.


Aku tidak akan meninggalkan Yudi dalam keadaan sakit, nanti saja kalau dia sudah baikan.


Dalam hati Laras, mengikuti Kiara berjalan ke lorong menuju kamarnya bersiap juga mengambil tas kecilnya.


*

__ADS_1


Di ruang VIP hotel WJ, di sofa Icha bergelayut manja di pangkuan Daniel, yang mendapat tatapan kesal dari Bram.


"Baby, kenapa tidak bilang mau kemari aku bisa menjemput mu." Daniel tak bosan-bosan mencium Marissa.


"Aku bisa nyetir, kenapa harus menunggu dijemput." jawab Icha juga mencium Daniel, melu mat bibirnya seolah permen manis.


"Seharusnya kalian berterima kasih padaku." suara Bram ketus melotot pada dua anak manusia yang gak tau malu.


"Terim kasih Bram, apa kamu mau aku peluk?" goda Icha melebarkan tangannya ingin turun dari pangkuan Daniel.


"Tidak perlu!"


Sentak Bram ketakutan, Daniel menahan Icha semakin memeluk nya.


"Yam, mana Laras kenapa tidak kemari menemani Yudi."


Tanya Icha pada Bram, timbul rasa kasian di hatinya melihat Yudi tidak ada istri yang mendampingi.


Rasa bencinya seketika hilang melihat Yudi yang malang, orang yang mencuri ciuman pertamanya itu kini terbaring dengan kepala diperban wajahnya pucat seolah tak bernyawa.


"Lagi dalam perjalanan dijemput satuan pengaman." jawab Bram juga sedih menatap Yudi yang terbaring lemah.


"Gak bilang tadi, kan aku bisa sekalian ke rumah besar menjemput nya." suara Icha sendu mengalung lengan di leher Daniel, Daniel memeluk kekasihnya.


"Aku lebih percaya pada bodyguard."


Jawab Bram jutek, cis masih kesal melihat kemesraan di depannya.


Dalam pada itu, di depan pintu ada keributan. "Biarkan saya masuk, saya ingin melihat Tuan Yudi!" terdengar suara wanita.


Bram dan Daniel pandang-pandangan. "Olivia, bagaimana dia bisa kemari?" Bram bergumam sendiri.


"Maaf Nyonya, anda tidak diijinkan masuk." terdengar suara pengawal.


"Tolong buka pintunya pak, saya ingin melihat Tuan Yudi." suara Olivia lagi memohon.


Daniel meminta Icha turun dari pangkuannya ingin melihat keributan di luar kamar, Icha mengikuti Daniel.


*


Laras dan Kiara serta Sabit juga baru sampai di hotel WJ.


Satuan pengaman memandu mereka menuju kamar Yudi. Di depan pintu bertemu Olivia yang gaduh dengan satuan pengaman.


Melihat kehadiran Laras, Olivia menatap sendu lalu meraih tangannya.


"Maaf, aku yang menyebabkan Yudi terluka tapi aku tidak sengaja. Tolong ijinkan aku ingin bertemu Yudi kalau boleh aku ingin merawat nya dengan tanganku sendiri."


Mohon Olivia memelas penuh belas kasihan pada Laras, bahkan air matanya jatuh berlinang.


Cklekk.


Pintu dibuka, Daniel dan Icha berdiri di depan pintu.


"Laras."


Pekik Icha menepis tangan Olivia lalu membawa Laras masuk, Daniel segera mempersilahkan Kiara dan Sabit masuk.


"Dokter, ijinkan saya masuk please." mohon Olivia lagi keluar air mata.


"Maaf Nyonya, hanya keluarganya saja yang diperbolehkan masuk." tegas Daniel.


"Mom sudahlah." suara Junior memanggil Olivia.


Daniel melirik Junior sekilas lalu segera menutup pintu dan mengunci nya.


***


Hi, pembaca yang Budiman, ikutin terus Tuan muda romantis ya. Dukung dengan like vote dan juga hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2