
Akhir pekan, lewat maghrib sedikit.
Warga pasar induk yang punya hutang pada Suganda membuat pesta malam mingguan di perumahan pasar. Syukuran atas tertangkapnya Tuan Suga dan semua anak buahnya sehingga mereka terbebas dari membayar hutang.
Pak Toyo gak habis-habis menyesali dirinya yang sial, kalau tidak kan ia juga akan ikut berpesta.
Bisa merenovasi rumah sehingga lebih layak huni, menambah kost-kostan dan membesarkan warung. Tapi karena uangnya hilang semua angan-angannya jadi buyar, dan karena memikirkan itu makanya kesehatan Pak Toyo kembali drop.
Ibu Ainun juga sakit, menyesal teramat kesal karena percaya hasutan kakaknya si Thamrin yang preman pasar itu, mau aja disuruh mencuri uang dari suaminya.
Tadi saat Zainal menelponnya bahwa ia sudah berada di depan gerbang utama rumah besar untuk menjemputnya, Laras buru-buru keluar menitipkan Sora pada Sabit yang tertidur di Sofa.
Sekarang di sinilah ia, di kamar ayah dan ibunya, mengurus kedua orang tuanya yang sakit karena stress.
Laras memandang kasihan pada ayahnya, karena agak demam Laras mengompres nya.
"Laras, kalau uangnya tidak hilangkan...uhuk uhuk!"
Suara Pak Toyo terputus, terbatuk-batuk, tubuhnya terbaring lemas kepikiran uangnya terus.
"Ayah jangan pikirkan lagi uang itu, biar cepat sehat." ujar Laras menenangkan orang tuanya.
"Kamu, kalau ayah tidak sakit juga tidak ada kepikiran mau pulang!" bentak Pak Toyo menumpahkan kekesalannya.
Laras mengernyit, kenapa jadi marah ke gue.
"Maaf Ayah, Laras kan sudah berumah tangga. Kalau gak ijin suami seharusnya gak boleh keluar, asal Ayah tau sudah tiga kali ini Laras pulang tidak permisi pada Yudi, itu karena Laras masih perduli pada Ayah dan Ibu." jelas Laras suara lembut.
Mendengar itu Pak Toyo semakin eneg dan mau muntah.
"Kamu!" Pak Toyo melotot tambah kesal, sejak belakangan ini Laras semakin berani membantah nya.
"Ayah akan sembuh kalau uang itu ketemu!" sentak Pak Toyo lagi membuang mukanya, matanya merah menahan marah.
"Ayah jangan marah-marah, nanti naik darah tinggi ayah bisa kena stroke lagi, mau masuk rumah sakit?"
Ucapan Laras semakin membuat Pak Toyo panas.
"Diamlah! Kamu senang kan kalau ayah mati. Sudah tau orang kesal dijawab-jawab lagi, memancing emosi aja. Kamu satu yang bikin ayah naik darah tinggi!" Pak Toyo semakin marah membentak-bentak menghempas tangan Laras yang lagi mengompres nya.
Ainun diam saja mendengarkan ayah dan anak itu berantam, kepalanya pusing bukan karena apa.
Ia yakin anak kost yang babak belur kena hajar si Zainal itu sudah buka mulut dan memberitahu Zainal bahwa yang menyembunyikan uang di keranjang adalah dirinya bersekongkol dengan Thamrin.
Bisa jadi Zainal memberitahu Laras, kalau tidak bagaimana uangnya bisa hilang, kata tetangga juga Laras ada pulang bersama Zainal saat Pak Toyo di rumah sakit.
Dalam hati Ainun, sehingga ia takut mau ikut campur, silap-silap anak perempuannya itu buka suara tamatlah riwayatnya, bisa-bisa suaminya akan menceraikan nya.
Laras memandang gak senang pada ayahnya yang menumpahkan kekesalan padanya.
"Ayah kenapa marah pada Laras, yang menghilangkan uang siapa? Bukankah ayah!" gak tahan Laras menengking ayahnya.
Habis sudah kesabarannya, Pak Toyo bangun satu tamparan mendarat di pipi Laras.
Plak!
Ah! Laras membesarkan matanya memandang tak percaya pada ayahnya, bukankah itu berlebihan hanya karena uang hilang ayahnya sanggup menamparnya, dan yang membuat hilang juga dirinya sendiri.
Tak cukupkah ayahnya bersyukur saja bahwa tidak perlu lagi mengembalikan uang kerena toh Suganda sudah masuk penjara.
Terasa perih di pipi dan juga hatinya, Laras melempar kompres ayahnya ke baskom air. Berdiri Keluar dari kamar Laras melirik ibunya sinis, di kening perempuan yang telah melahirkan nya itu ada ditempeli koyo samping kiri dan Kanannya, cih.
Laras menunggu ibunya melerai ayahnya, mengakui kesalahannya namun sia-sia saja ia mengharap ternyata ibunya juga hanyalah seorang pecundang. Bahkan setelah ia di tampar pun, ibunya itu diam saja.
Sebenarnya Laras juga sudah niat mau memberitahu orang tuanya dan membaginya dengan mereka, hanya saja kesempatan nya pulang yang belum ada. Namun karena ayahnya telah menamparnya, hati Laras jadi hambar.
Laras di dapur, duduk menangis di bangku meja makan.
Zainal yang duduk dengan Ridho di ruang tamu mendengar pertengkaran Laras dan ayahnya datang menghampiri Laras ke dapur memandang prihatin dan rasa bersalah karena ia yang kepandaian menjemput Laras pulang.
"Lo gak papa, Ras?" tanya nya sendu.
Laras menggeleng, mengusap air matanya.
Pulang dengan niat baik malah apes kena tampar.
Dalam hati Laras berpikir-pikir, hatinya bolak balik. sepertinya hanya uang yang lebih penting bagi ayahnya sekarang dan yang bisa menyembuhkan penyakitnya.
Baiklah dalam hati Laras masuk lagi ke kamar dengan linangan air mata, memandang kedua orang tuanya bergantian.
Sementara Pak Toyo membuang mukanya, Ainun deg degan menelan ludahnya susah payah, memandang sayu Laras.
Apa si Laras akan memberitahu uangnya tidak hilang tapi disembunyikan di keranjang dan memberitahu siapa yang telah mengambil uang dari lemari, matilah aku.
Dalam hati Ainun, wajahnya tiba-tiba pucat dan keluar keringat dingin.
"Laras akan memberi Ayah uang, berapa Ayah mau?" suara Laras bertanya lalu mengeluarkan ponselnya.
Pak Toyo terperangah, ia sudah terlanjur menampar Laras. Apa ia masih punya harga diri menerima uang dari putrinya itu.
Di mata Pak Toyo Yudi kelihatan seperti orang kaya, saat nikahan saja dia tidak segan-segan mengeluarkan uang banyak. Bukan tidak mungkin si Yudi juga memberi Laras banyak uang.
Terakhir di rumah sakit Pak Toyo ingat Laras ada memberi istrinya segepok uang sebanyak 10 juta artinya memang Laras banyak uang.
"Ehm." Pak Toyo berdehem memutus urat malunya.
__ADS_1
"Maksudnya kalau uang Suga tidak hilang, ayah mau renovasi rumah dan kostan serta mau membesarkan warung. Kalau boleh ibumu punya satu lapak di pasar buat jualan." ujar Pak Toyo memberi sinyal karena segan menyebutkan angka.
Laras memandang ayahnya, miris. Udah kondisi sakit begini masih sempat lagi dia memeras anaknya. Bukannya tobat minta ampunan Tuhan, siapa tau bukannya mendoakan. Bukankah sakit lebih dekat pada kematian, walaupun orang sehat juga bisa mati.
"Baiklah, Laras akan beri Ayah sejumlah uang dari Suganda." ujar Laras mengetik di ponselnya.
Tidak ada jalan keluar lain, hanya uang yang dibutuhkan ayahnya sekarang berharap setelah ini ia tidak ada urusan lagi dengan ayah dan ibunya.
Pak Toyo mendelik menatap tak percaya, saking senangnya mendengar ucapan Laras, hampir saja jantungnya melompat keluar.
"Ambilkan buku rekening." titah Pak Toyo pada istrinya, Ibu Ainun segera berdiri mengambil buku tabungan suaminya.
"Tidak perlu! Laras masih menyimpan nomornya, apa ayah tidak ingat tiap bulan gaji Laras disetor ke rekening Ayah." ujar Laras sarkas.
"Ehm." Pak Toyo tersenyum canggung.
"Transfer lah, sebentar lagi juga ayah baikan ke ATM pergi cek." ujar Pak Toyo seketika wajahnya berbinar cerah.
"Hm." Laras menarik napas berat, dadanya terasa sesak.
"Ini ya, sudah terkirim." ujar Laras menunjukkan Layar ponselnya.
"Terima kasih Laras." Pak Toyo tersenyum senang memandang istrinya, Ainun bernafas lega karena Laras tidak mengungkit-ungkit namanya.
"Mama Laras!"
Jeritan suara anak kecil mengejutkan Laras.
Sora! Bagaimana dia bisa kemari.
Dalam hati Laras keluar ingin melihat apa benar itu Sora.
Pak Toyo dan Istrinya pandang-panganan. "Bang, jadi si Yudi juga sudah punya anak." bisik Ainun pada suaminya takut kedengaran Laras.
"Hm." Pak Toyo bergumam.
"Biar saja, masih lebih baik daripada si Laras jadi istri si Samsul atau si Suga yang sudah kena ciduk Polisi itu." ujar nya tersenyum lebar, seketika ia lupa dengan sakitnya.
"Tapi tetap saja, si Yudi juga orangnya sombong. Ayah mertua di rumah sakit bukannya ngerti mau datang. Makanya jangan buru-buru menikahkan anak Bang, beginilah jadinya kita yang makan hati."
Ainun mengomeli suaminya, sakit kepalanya sudah hilang dia mencabut koyo nya melemparnya ke lantai.
"Diamlah kau jangan banyak cakap." Pak Toyo membentak istrinya.
Cih, Ainun mengintip dari pintu tidak berani keluar karena ada Zainal yang belakangan ini bersikap datar padanya.
Di ruang tamu Laras terperangah, memang benar ada si tambun Sora masuk ke dalam rumah begitu saja.
Zainal dan Ridho juga ikut terkejut, melihat ada anak yang memanggil Laras, Mama.
Jadi si Yudi duda ada anak, hm.
"Sora." panggil Laras menghampiri Sora.
"Mama Laras." jerit Sora menghambur memeluk kaki Laras yang jenjang.
"Sora dengan siapa datang?"
Tanya Laras menunduk mengusap kepala Sora, walaupun ia sudah menduga siapa lagi kalau bukan Yudi.
"Ayah Yudi." jawab Sora mendongak.
Hm, sudah pulang ziarah nya.
Dalam hati Laras, tadi ia mencuri waktu sebentar saat Zainal telpon mengatakan bahwa ia bawa mobil ke rumah besar mau menjemput nya dengan alasan ayah dan ibunya sakit.
Dengan bergegas dan perasaan khawatir Laras ikut mobil Zainal, sampai di sini apa yang didapat nya hanya tamparan.
"Ayah Yudi di mana?" tanya Laras heran, kenapa Yudi tidak kelihatan.
"Di mobil, ayo pulang Mama Laras." ajak Sora menarik-narik tangan Laras.
Laras memikirkan Yudi kenapa tidak turun dan mampir ke rumah, basa-basi pada orang tuanya.
Adzan Isya berkumandang ternyata hari sudah malam.
Ya sudahlah pulang saja dalam hati Laras di sini juga ngapain.
"Bentar Sora, Mama Laras mau ambil tas di kamar." ujar Laras.
Sora mengikuti Laras ke kamarnya, melihat itu Ainun buru-buru masuk duduk kembali di sisi tempat tidur pura-pura mengompres suaminya.
Setelah packing beberapa barangnya, Laras meraih tasnya keluar dari kamar diikuti Sora. Anak kecil itu melirik ke Kamar orang tua Laras yang sedikit terbuka.
"Mama." Sora menggoyang lengan Laras.
Hm, gumam Laras mengangguk memandang Sora.
"Itu, di kamar siapa?" tanya nya.
"Bukan siapa-siapa."
Jawab Laras terus berjalan ke ruang tamu bertemu Zainal dan Ridho. "Gue balik Zai, Dho." pamit Laras.
Hm. "Maaf ya Ras." ucap Zainal gak enak hati.
__ADS_1
Laras tersenyum kecut, sudah pasti Zainal dan Ridho mendengar semuanya.
"Gue yang terima kasih Zai, lo udah perduli pada keluarga gue. Tapi lain kali gak usah lagi, fokus aja ke hidup lo sendiri."
Ujar Laras keluar dari rumahnya tanpa permisi pada orang tuanya, menyeret Sora menuju mobil yang dikenalnya baik sedang parkir di depan gang rumahnya. Di depan kemudi ada bayangan Yudi yang menatap padanya.
Mendekati mobil Sora melepaskan tangan Laras berlari masuk duluan mengambil duduk di bangku depan di samping Yudi, akhirnya Laras masuk di bangku belakang tanpa sepatah kata basa-basi.
Yudi melajukan mobil keluar dari pasar induk, ia sudah tau apa yang terjadi.
Agak lama juga mereka di gang rumah Laras tadi sambil memindai sampai pada saat Laras ditampar, Yudi menunjuk ke rumah Laras dan meminta Sora turun agar mengajak Laras pulang ke rumah besar.
*
Di kamarnya Bram bersandar di headboard tempat tidur, membuka pelajaran di tabletnya.
Kiara di sampingnya browsing-browsing berita gak jelas, mana yang benar mana yang hoax. Sambil mencari-cari akal bagaimana ia bisa keluar menemui ibunya di kediaman Beno.
"Sayang, aku ambil kursus boleh ya." tiba-tiba Kiara bersuara.
Bram menoleh, "Kiara, katanya mau program hamil dulu." jawab Bram keberatan.
"Tidak ada larangan bagi orang hamil ambil kursus kan!" Kiara memberi alasan.
"Masalahnya kamu nanti capek sayang."
"Tidak Bram, kalau ada kegiatan waktu tidak terasa, tiba-tiba sudah sembilan bulan, lahir deh." jelas Kiara lagi.
Ck, "Aku panggil guru ke rumah besar aja, kamu mau belajar apa?" tanya Bram masih keberatan.
Cis, malas lah sama aja gak bisa ke mana-mana.
Dalam hati Kiara kesal lalu bangun duduk di pangkuan Bram mengalung lengan di leher suaminya itu, bermanja-manja menyandarkan tubuhnya di dada.
"Boleh ya sayang, aku ambil kursus di luar." rayu Kiara suara mendayu-dayu.
Cis, Bram tersenyum lucu dengan cara Kiara menggoda nya.
"Saiyang, boleh yaaa." rayu Kiara lagi menatap sayu suara dimanja-manja.
"Jangan bandel Kiara, belajar dari rumah saja." Bram memandang sayang pada istrinya, meletakkan tabletnya.
"Aaaa." rengek Kiara mencium di leher Bram dan juga telinganya seperti yang sering dilakukan Bram padanya yang selalu sukses menaikkan gairahnya.
Walau Bram merasa terpancing namun ditahan nya. "Kiara, panggil guru ke rumah baru boleh."
Tegas Bram mengusap punggung istrinya menikmati hisapan Kiara di lehernya. Satu tangannya menangkup belakang kepala Kiara menuntut agar mencium nya lebih dalam, tiba-tiba terasa ada yang tegang.
"Aaa, aa." Kiara menghentak-hentakkan tubuhnya di pangkuan Bram, sengaja menggesek junior di bawah bokongnya.
Cklekk.
Alisha nongol di depan pintu.
Kenapa bisa? Apa pintu lupa dikunci, ha!
Kiara turun dari pangkuan Bram beruntung mereka masih berpakaian lengkap.
Bram menutup pahanya dengan bantal takut kelihatan kutilang nya yang sedang bangun.
"Hallo sayang-sayang Mama." sapa Alisha pada anak dan menantunya.
"Ada apa Ma." jawab Bram jutek.
"Kamu! Beritahu Mama di mana Dwi biar mama pergi membujuknya, intel mama belum bisa menemukan nya." Alisha to the point.
"Yudi juga belum ketemu, Ma." jawab Bram santai.
Kemana ya dia?
Dalam hati Alisha penasaran memandang Kiara menyelidik.
"Kiara, apa Dwi tidak menghubungi kamu?" tanya Alisha pada menantunya, Kiara menggeleng wajahnya disedih-sedihkan.
Hais, "Bram, kamu kan mau ke Amrik kenapa tidak naik jet?" tanya alisha beralih pada Bram, sepertinya memang Kiara tidak tau keberadaan ibunya.
"Bram memang naik jet Mama." jawab Bram membuat Alisha tersenyum lebar.
"Jadi kamu sudah beli jet sayang?" Alisha tersenyum senang, akhirnya.
"Numpang jet Daniel, Mama." suara Bram meledek mamanya.
Ck, kirain.
"Beli ya sayang satu untuk kita, bukankah naik jet pribadi lebih bebas." mohon Alisha lagi.
"Ma, cari Bibi sampai ketemu nanti baru beli jet." tegas Bram pada Mamanya.
Hm, "Ya udah nanti mama coba tekan lagi intel-intel bodoh itu, agar lebih ligat kerjanya."
Hah!
Alisha pasrah, beranjak dari kamar putranya itu sambil mengingat-ingat lagi kemana kemungkinan Dwi akan pergi.
*****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏