
Esok hari Kiara terbangun gak ada Bram. Bagian tempat suaminya tidur juga sudah dingin. Artinya Bram sudah lama bangun, dalam hati Kiara. Ia melihat jam di dinding angka 8.30 wib.
Hm, sudah siang.
Kiara bangun beranjak ke kamar mandi. Membuka pembalutnya bersih gak ada darahnya.
Apa aku mandi wajib saja, gak usah dulu lah. Baru semalam keramas, tunggu sampai sore kali ya, dalam hati Kiara.
Selesai mandi, Kiara mencari baju di lemari Bram yang kira-kira bisa dipakainya kalau mau keluar.
Kiara surprise. Di sebelah pinggir lemari pakaian sudah ada beberapa gaun wanita, semua baru dan ber merk mahal. Ia mengambil satu yang modelnya simpel.
Bram sungguh pintar, tau model baju kesukaanku.
Kiara memakai bajunya, berjalan Ke meja rias memoles wajahnya dengan bedak baby kepunyaan Bram dan menyisir rambutnya.
Gak lama pintu kamar dibuka.
"Sayang kamu sudah bangun." Bram tersenyum menyapanya, langsung memeluknya dari belakang, "wangi sekali, istri siapa ini."
"Ka, kapan kamu beli gaun-gaun ini?" tanya Kiara penasaran.
"Yudi yang tau." jawab Bram menghirup wangi tubuh istrinya.
"Ish, berarti yang pinter si Yudi." desis Kiara.
"Apa!" Bram melotot.
"Ah tidak, sayang jam berapa kita date?" Kiara tersenyum mesem.
"Kamu sarapan dulu, di ruang keluarga ada Paman Arjit dan putrinya yang baru datang dari London ingin berkenalan."
Bram mencubit pipi Kiara.
"Jangan bilang si Yudi pinter lagi, aku gak suka."
******
Hari ini adalah Sabtu, bertepatan dengan 40 hari mendiang Tuan besar Pramudya.
Di halaman luar sudah ramai kedatangan orang-orang yang ingin menyaksikan langsung keindahan rumah besar Wijaya. Apakah benar saperti yang di siarkan di televisi dan media sosial lainnya.
Berita tentang Rumah besar Wijaya lagi open house dalam rangka nikahan Tuan muda yang digelar selama seminggu , sudah tersebar kemana mana.
Sehingga mereka tertarik untuk menghabiskan weekend di rumah besar, ada juga yang ingin sekalian ikut pengajian.
Beberapa stand makanan juga sudah didirikan, berbagai menu masakan ala Nusantara dan juga kuliner populer negara lainnya.
******
Di kamar Bram
"Sayang, aku mandi dulu. Apa kamu sudah lapar mau turun duluan?" tanya Bram masih memeluk Kiara.
__ADS_1
"Aku nunggu Kamu, gak lamakan?" Kiara mentoel hidung Bram yang bertengger di bahunya.
"Enggak tunggu ya, cup." sebelum ke kamar mandi Bram mengecup pipi Kiara.
Kiara duduk-duduk, memandangi photo-photo Bram yang ada di beberapa bingkai di atas meja rias. Dari kecil suaminya itu sudah tampan, cute dan menggemaskan.
Lima belas menit Bram keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggangnya.
Tubuh six pack dan air yang menetes-netes dari rambutnya sungguh pemandangan yang sangat menggoda iman Kiara. Karena malu, ia memutar kursinya membelakangi suaminya.
"Lihat wajahmu memerah, apa aku begitu indah?" suara Bram di belakang Kiara memutar balik kursinya. Sehingga wajah Bram hanya hitungan inchi dari wajahnya.
"Sanalah, pakai baju." ujar Kiara mendorong dada Bram yang tersenyum menggodanya.
Bram memberi Kiara handuk kecil. "Kamu mau mengeringkan rambut suami tampanmu ini?"
Boleh tidak pakai baju dulu, dalam hati Kiara.
Namun begitu ia mengambil handuknya, bangun dari kursi sehingga Bram bisa duduk dan Kiara mulai mengeringkan rambut suaminya.
Gak lama Bram menarik Kiara. "Ah!" teriak Kiara, Ia terduduk di pangkuan Bram yang hanya memakai handuk. Posisinya miring kepalanya sedikit terjuntai.
"Ini kapan bisa dipake?" tanya Bram meremas segitiga Bermuda Kiara.
"Haa! Rambut masih lembab biar aku keringkan pake dryer lagi." Kiara beralasan. Menegakkan duduknya, berusaha bangun dari pangkuan suaminya.
"Sayang, apa darah masih keluar?" Bram menahan Kiara agar tetap duduk di pangkuannya.
"Ka , kita tunggu sampai sore ini ya." jawab Kiara lirih menatap suaminya.
"Bukannya di ruang keluarga ada Om Arjit lagi menunggu kita?" tanya Kiara mengingatkan.
"Sebentar saja." suara Bram serak dan berat. Menahan tengkuk Kiara menyedot bibir Kiara.
Kiara tak kuasa menolak, membalas ciuman suaminya. Tubuh Bram yang seksi menambah gairahnya.
Bram menyentak cd Kiara, melihat pembalut gak ada darahnya bibirnya menyeringai. Dengan semangat Bram membuka kaki Kiara di pangkuannya, lalu kembali mencium Kiara.
Selama berciuman Kiara merasa keenakan bawahnya basah seketika.
Merasa gak enak hati airnya mengaliri handuk yang dipakai Bram, Kiara melepaskan ciuman.
"Sayang , ada apa?" tanya Bram menatap heran.
Kiara melihat ke bawah duduknya. Alangkah terkejutnya mereka, handuk Bram yang putih cerah telah berbercak warna merah.
"Oh , Shit!"
Bram menggendong Kiara terburu ke kamar mandi, menurunkan Kiara kemudian melepas handuknya. Ia membersihkan diri, menyiram area bawah tubuhnya.
Bram merengut, harapannya mau menyatu masih belum bisa terlaksana.
Kiara juga menanggalkan pakaiannya. Menatap iba pada raut wajah kecewa suaminya.
__ADS_1
"Ka, maap." ucap Kiara nada sedih.
Bram memeluk Kiara.
"Kenapa minta maap." ujar Bram mengecup pucuk kepala istrinya.
*******
Setelah berpakaian rapi Kiara dan Bram bergandengan tangan ke ruang keluarga. Saat di lorong Bram memandang wajah Kiara yang terpantul di cermin sangat cantik, selalu menggoda imannya. Ia menarik Kiara ke dalam pelukannya, menundukkan wajahnya menggapai bibir istrinya.
"Ehem, permisi bos." suara Yudi yang kebetulan lewat mengejutkan mereka.
Bram menoleh. "Ah, kamu ini! Lain kali kalau mau lewat bilang dulu satu jam sebelumnya." ia mengomeli Yudi.
Yudi tersenyum mesem. "Baik bos, ini mau ngasi ponsel Nona." ujar Yudi.
Bram menerima paper bag, memberikannya pada Kiara. "Yudi siapkan mobil! Kita ke Mall, saya mau date dengan Kiara." Bram memberi perintah.
"Siap bos." jawab Yudi meninggalkan Tuan mudanya yang mesumnya sudah tahap akut itu.
"Ka Bram, lain kali kalau mau cium liat-liat tempat." Kiara menahan malu.
"Sayang, kamu istriku. Ini daerah kekuasaanku, jadi tidak perlu malu." Bram kembali mencium Kiara.
Setelah dikira cukup, barulah ia kembali menggandeng Kiara ke ruang keluarga.
Di sana sudah ada Alisha, Arjit dan seorang gadis belia.
Jadi ini anak Omnya si Bram, cantik sekali ya seperti artis India, dalam hati Kiara.
"Wah, pengantin baru bangunnya siang, bukannya kamu lagi datang bulan Kiara?" sindir Alisha melirik putranya.
"Mama." sergah Bram membela istrinya yang jadi malu karena tersindir.
"Mama gak bicara sama kamu!" ketus Alisha melotot pada putranya.
"Sini sayang kenalan sama Om Arjit dan Marissa." panggil Alisha pada Kiara.
Kiara mendatangi Alisha, mengulurkan tangan menyalami Arjit mencium punggung tangannya.
"Kiara, maaf semalam Om belum sempat mengenalkan diri." ujar Arjit.
"Kiara juga minta maaf Om." ucap Kiara tersenyum segan.
"Ayo Cha, salam Kiara! Kalian sebaya, Marissa lebih tua satu bulan dari kamu Kiara!" ujar Arjit memandang putrinya dan Kiara bergantian.
Kiara menerima uluran tangan Marissa.
"Kiara."
"Icha."
********
__ADS_1
enjoy reading and see you next episode. 🙏.