
Masih di kamar Bram.
"Bram untuk apa kursi roda?" tanya Alisha pada putranya heran.
"Ka Bram jangan berlebihan, aku masih bisa jalan." Kiara juga menegur suaminya.
Tok tok tok.
Mereka bertiga, Alisha, Bram dan Kiara menoleh ke pintu.
"Nyonya, dokter sudah datang."
Ternyata suara Samsir di luar kamar mengetuk pintu.
"Iya, tunggu sebentar Samsir." jawab Alisha.
"Mama manggil dokter?!" sergah Bram gak senang.
"Pelankan suaramu! Berikan baju Kiara Bram, dokter mau periksa. Kamu juga pakai baju yang sopan!" titah Alisha.
"Maksudnya apa Ma? Dokter mau lihat bokong istri Bram. No way, Mama." ujar Bram kali ini suaranya ditahan.
Plak.
Alisha menepuk bahu Bram geram. Kenapa putranya ini kalau menyangkut Kiara bodohnya kelihatan.
"Bukan, cuma cek up! Ada demam atau tidak. Sekalian nanti mau periksa si Yudi dan kalian masih utang penjelasan sama Mama." tegas Alisha mengarahkan telunjuknya pada putranya dan juga menantunya.
Mendengar itu Kiara bertanya pada suaminya, soalnya tadi dia yang lempar bajunya entah kemana.
"Ka, mana gaunku yang tadi?" tanya Kiara.
Bram melihat gaun dan bra teronggok di lantai, segera memasukkannya ke keranjang baju kotor.
"Biar aku ambil yang baru." ujarnya beranjak ke lemari mengambil gaun untuk Kiara dan untuk dirinya sendiri.
Alisha geleng kepala melihat dua anak menantunya. Jadi ingat waktu penganten baru dulu, ah. Hatinya nelangsa jadi teringat pada suaminya.
Setelah dua orang itu berpakaian, Alisha membuka pintu untuk dokter.
"Silahkan masuk dokter." ucap Alisha ramah dan sopan. Menunjukkan sikap segan dan hormatnya pada pria sepuh itu. Bram mengikuti pola Mamanya.
Dokter Koo adalah dokter keluarga Wijaya sejak Tuan Pramudya masih kecil. Selain dokter ia juga merupakan seorang Sinshe.
Usianya seharusnya sebaya dengan Kakek Bram, sudah lanjut dan sudah pensiun. Namun badannya masih sehat, bertenaga dan awet muda. Di rumahnya banyak orang yang berdatangan mau berobat ataupun yang mau berguru kepadanya.
Hanya pada keluarga Wijaya ia loyal dan akan segera datang jika di butuhkan.
Kiara menceritakan duduk persoalannya, serta kronology bagaimana ia bisa terjatuh. Tapi tidak termasuk dengan Marissa dan Laras yang berantam serta Yudi yang mencium Marissa.
Dokter melakukan pemeriksaan standar tanpa melihat luka memar di tubuh Kiara seperti yang dikhawatirkan Bram.
"Ini, saya resepkan obat melancarkan peredaran darah diminum untuk tiga hari." ujar dokter setelah selesai memeriksa Kiara.
__ADS_1
"Terima kasih dokter." jawab Kiara. Tak lupa ia menanyakan pada dokter tentang haidnya yang tidak lancar.
"Tidak apa apa, itu karena pikiran. Jangan stres, banyak minum air putih dan makan buah-buahan." jelas dokter.
Sebelum keluar tak lupa dokter mengucapkan selamat atas pernikahan Tuan muda dan istrinya. Kemudian dokter pergi diantar Alisha, di depan pintu kamar Bram Yudi sudah menunggu.
"Yudi kamu juga periksa, beri tahu dokter siapa yang mencakar wajahmu." ujar Alisha. Bertiga mereka pergi ke ruang keluarga.
Setelah dokter pergi, Bram mendekati Kiara dan memeluknya dari belakang manja. "Sayang, apa yang kamu pikirkan kenapa bisa stres?" tanya Bram pada istrinya.
"Kamu lah!" jawab Kiara spontan.
"Hehe maaf, kan semua sudah aman terkendali jadi jangan stres lagi ya. Aku bahagia kamu sudah jadi istriku. Jadi kamu juga harus bahagia aku yang tampan ini adalah suamimu."
Cih, "Bram aku lapar." ujar Kiara mengucek rambut suaminya yang bertengger di bahunya.
Bram menegakkan kepalanya. "Kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Daging sapi lada hitam." jawab Kiara.
"Baiklah sayang, tunggu ya. Aku akan keluar jumpa walikota sebentar dan akan kembali membawa makanan." ujar Bram.
Sebelum beranjak tak lupa ia mengulum bibir istrinya bahkan ciumannya dalam seolah enggan berpisah sampai Kiara sesak napas baru ia mendorong suaminya.
"Bram. Aku lapar."
"Baik sayang aku pergi dulu." sebelum menutup pintu ia mengedipkan matanya.
"Sayang jangan lupa janji kamu di bathtub."
******
Di ruang keluarga Yudi diperiksa dokter.
Ia diminta menceritakan kenapa wajahnya penuh dengan cakaran.
Laras yang sudah selesai makan gak sabar bicara karena Yudi ditanya diam saja.
"Dicakar Marissa." katanya nyambar.
Beberapa pasang mata menatap Laras. Alisha, dokter dan Beno. Yudi menunduk saja, Samsir berdiri di belakang Alisha menunggu standby menunggu perintah.
Beberapa saat Laras melanjutkan, "Marissa yang labrak aku duluan karena dia cemburu pada Om Beno dekat denganku. Kami berantam jambak-jambakan.Om Yudi dan Om Beno meleraikan, Marissa gak senang. Malah mencakar Om Yudi, syukurin dia! Om Yudi sudah balas menc...aah." pekik Laras terhenti.
Belum selesai bicara Beno membungkam mulut Laras dengan tangannya. Yudi bernapas lega adegan ciumannya tidak jadi di ekspos.
"Menjewer telinganya." lanjut Beno tersenyum aneh.
"Kenapa si Icha cemburu?" tanya Alisha terdiam.
Kenapa? Pasti dia menyukai Beno dan, apa benar Beno sudah jadian sama teman Kiara, barusan si Laras manggil Beno dan Yudi dengan sebutan Om, hm.
Suara hati Alisha.
__ADS_1
"Ehem." dokter berdehem, ia mau meneruskan pemeriksaan. Urusan anak muda dia gak mau masuk campur.
"Ah, silahkan dokter." ujar Alisha tersadar dari lamunannya.
Yudi sudah selesai diperiksa dan mendapatkan resep obatnya.
"Terima kasih dokter, silahkan makan dulu sebelum pulang." ajak Alisha.
Dokter mengangguk, gak enak mau nolak. Karena memang lagi ada pesta. Dokter datang bersama anak didiknya, yaitu cucunya yang baru lulus dari sekolah dokter di salah satu universitas di Amrik.
Karena tadi cucunya tidak diperkenankan masuk ke kamar Bram, jadilah ia menunggu di ruang tengah saja. Dalam hatinya sangat kesal karena merasa tidak dianggap.
Di ruang tengah utama di mana cucunya menunggu, Dokter Koo memperkenalkan nya.
"Nyonya, ini cucu saya Suzane. Kedepannya ia yang akan menggantikan saya melayani keluarga anda. Tentu saja saya masih akan mengawasinya." ujar dokter.
"Ayo salam hormat pada Nyonya." titah Kakeknya.
Kelihatan Suzane makin gak senang dengan ucapan kakeknya. Seolah-olah derajat mereka lebih rendah. Sementara ia merasa hebat, kan lulusan dari Amrik. Cucu dokter menyalam Alisha dengan senyum yang dipaksakan.
"Saya Zane, Nyonya." ucapnya mengulurkan tangannya.
Hm. "Mari silahkan dokter Koo dan dokter Suzane."
Alisha membawa dokter dan cucunya ke sebuah meja khusus untuk tamu VIP. Di sebelah meja Walikota. Walikota juga sepertinya masih betah kongkow dengan Arjit, belum ingat mau pulang.
Gak lama Bram sampai di ruang tengah utama, setelah sebelumnya dari ruang keluarga jumpa Yudi dan Beno. Berdua mereka mengikuti Bram menghampiri meja rombongan Walikota.
"Apa kabar Om." sapa Bram pada walikota.
Bapak Walikota adalah teman baik Papa jadi sudah biasa Bram memanggilnya Om.
Melihat Bram Alisha memanggil putranya. "Bram, sini sayang." panggil Alisha.
Bram menoleh ke Mamanya di meja sebelah, ia pun berpindah meja.
"Ini kenalin cucu dokter namanya Suzane, nanti dia yang akan menggantikan dokter."
Melihat Bram, Suzane gak berkedip. Ada manusia setampan ini, dalam hatinya.
"Hai, saya Zane." ucapnya mengenalkan diri mengulurkan tangannya.
Tapi Bram tidak menyambut uluran tangan Zane. Ia hanya mengatupkan dua tapak tangannya di dada.
"Salam." ucapnya tersenyum datar.
Alisha mencubit paha putranya di bawah meja. Bram menoleh, Alisha melotot.
Salam aja gak mau, kelewatan! Dalam hati Alisha merutuki sikap putranya. Bram tersenyum kecut.
Suzane menarik tangannya dengan perasaan malu dan kecewa, lengkaplah sudah kebenciannya pada keluarga Wijaya.
******
__ADS_1
Enjoy reading and well comeback.