
Tapi sekarang Kiara lagi malas, trading juga malas. Perdagangan terakhir ditutup secara otomatis dengan profit tiga puluh persen, Kiara tidak membuka lagi perdagangannya. Gara-gara si Bram jadi gak konsen.
Sebenarnya Bram mau ngajak aku kemana sih, paling juga mau wik wik, ih dasar omes! Semakin diberi semakin melunjak tapi memang enak sih, ahh.
Kiara menggoyang-goyangkan kepalanya, berharap pikiran joroknya rontok dari otaknya. Ia teringat dengan pil yang dibelinya kemudian merogoh tasnya.
Kalau minum pil KB sudah gak guna kayaknya, coba aku minum pil pelancar datang bulan. Semoga langsung haid, kata apoteker ini paten.
Kiara meminum pilnya sesuai dosis tapi kemudian dimuntahkan lagi sebelum tertelan. Ia teringat janjinya pada tante Alisha.
Kiara mengusap perut ratanya.
Apakah benih Bram bakal tumbuh di rahimku, hm.
*********
Sementara itu di Sibolon tower.
Selesai berdandan Evita keluar dari privat roomnya turun ke lobby, tak lama Bryen datang membawa mobilnya.
"Bryen, sebaiknya cepat kau singkirkan gadis itu. Apa sekarang kamu sudah berani membantahku, hah!" ujar Evita setelah ia duduk di mobil dan Bryen melajukan mobilnya.
"Kenapa kamu report-report mengotori tanganmu, calon mertuamu juga sedang berusaha menyingkirkannya Evi. Tuan Raharja juga mengawasinya." jawab Bryen.
Papa! Evita terperangah.
"Panggil aku Nona Bryen!" sentak Evita menarik rambut belakang Bryen .
"Aduh, baiklah Nona." jawab Bryen menahan sakit, ia Menggenggam erat kemudinya.
"Jadi si Alisha juga mengetahui Bram berhubungan dengan gadis itu, baiklah kita tunggu progresnya kalau terlalu lama, kamu percepat Bryen. Dan papa oh, semoga dia tidak melukai Bram ku."
Mendengar itu darah Bryen mendidih.
Cih! Aku yang akan membunuh si brengsek itu, geram Bryen dalam hati.
"Ternyata selera si Bram jelek sekali." ujar Evita lagi memandangi photo Kiara.
"Bram berhasil menandatangani kontrak dengan Jaguk dan Mossen sekaligus, hanya ingin kau tau." ujar Bryen membuat mata Evita membelalak.
"Bagaimana bisa?" teriak Evita kaget.
Bryen mengangkat bahu.
"Katakan! Bagaimana si Bram bisa melobi mereka lagi, kamu bilang tidak ada kesepakatan perjanjian." sentak Evita di bahu Bryen yang lagi mengemudi sehingga bajunya ketarik-tarik.
"Lepaskan Evi, apa kamu mau kita berdua mati." bentak Bryen.
Plak Plak Plak!
Evita memukuli kepala Bryen dengan tas elvinya geram.
"Awas tasmu lecet."
Bryen menggunakan lengannya menghalangi pukulan Evita di kepalanya sambil mengemudi.
__ADS_1
"Katakan!" bentak Evita lagi.
"Tidak ada yang dilakukannya, hanya mengundang mereka makan, itu saja."
"Antar aku jumpa si Bram sekarang!" perintah Evita.
"Dia sudah di Apartemennya, gak ada yang bisa masuk kesana selain Yudi dan satu lagi gadis itu tentunya."jawab Bryen.
Evita semakin berang padahal setalah menikah dengan Bram, ia ingin Group WJ bangkrut. Kemudian ia akan meminta Bram bekerja di perusahaan keluarganya sehingga Bram selalu terikat terus dengannya.
Apa yang harus kulakukan, ah!
Andai aku belum operasi selaput bisa juga main dengan si Bryen untuk menghilangkan kekesalanku.
Evita menggoyang-goyangkan kepalanya sehingga rambutnya menjadi kusut.
Dasar gilak.
Dalam hati Bryen memutar mobil masuk area pekarangan Mansion Sibolon. Mengawal Evita masuk bertemu Raharja di ruang keluarga. Bertemu Raharja Bryen langsung menunduk memberi hormat.
"Kenapa dengan wajahmu Evita?" tanya Raharja pada putrinya yang manyun.
"Gak kok Pa, mau datang bulan."
Jawab Evita berlalu dari hadapan papanya. Ia tidak ingin papanya tau masalahnya karena akan berakibat fatal. Bisa-bisa nyawa Bramnya melayang sehingga Evita memutuskan akan mengatasinya sendiri.
********
Masih di Apart Bram.
Sepertinya memang pernikahan si bos akan terancam batal kali ini.
Selesai mandi dan bersiap diri Bram menghampiri Yudi. "Gimana Yudi, kenapa kita masih di sini?" tanya Bram melihat Yudi yang gelisah.
"Beritahu aku apa masalahnya Yudi, atau aku akan menghajar mu." suara Bram meninggi, hatinya masih panas walaupun sudah berendam. Padahal baru mandi sudah berkeringat lagi.
"Nona di kepung empat mobil intel bos. Dua dari Nyonya, dua dari Raharja." jawab Yudi.
Bagaimanapun Nyonya besar adalah bosnya juga. Yudi tidak berani gegabah. Kalau bukan suruhan Nyonya, gampang saja bagi Yudi menghajar intel-intel sialan itu.
Sialan! Bram mengepalkan tinjunya memutar otaknya. Masa lawannya Mamanya sendiri, ah!
"Kita ke rumah besar sekarang!" perintah Bram pada Yudi.
"Baik bos."
Kemudian Yudi menghubungi anak buahnya yang mengawal Kiara melalui earpiece satu jalur.
"Pastikan Nona Aman." tegasnya.
"Baik bang!" jawab anak buahnya di ujung pangilan.
Dari Apart Yudi memindai sekeliling lewat jendela. Di bawah mereka juga dikepung intel dengan jumlah tak kalah banyak dari yang mengintai Kiara.
Kemudian Yudi mengawal Bram masuk ke lift. Di dalam lift Bram bertemu Daniel yang terkejut melihat Bram, lebih kepada terpana.
__ADS_1
"Little boy! Mau ke mana malam-malam pakai hitam-hitam?" tanya Daniel dengan raut wajah lebih kepada terpesona daripada heran.
"Mau ke rumah mama, kamu ada urusan apa di sini?" tanya Bram tak kalah heran.
Yudi menahan lift meminta Daniel keluar dari lift agar berbicara dengan Bram dibalik tembok. Sehingga terhalang dari CCTV yang ada di dalam lift dan terutama dari pantauan intel-intel.
"Aku ingin bicara dengan kamu Bram.
Ehm, tapi gimana ya?" ujar Daniel ragu-ragu.
Yudi membaca pikiran Daniel seketika mengerti. "Berikan buktinya pada saya Dokter, rahasia dijamin aman." ujar Yudi menatap Daniel intens.
"Bukti apa maksudmu?" tanya Daniel bingung memandang Yudi.
Belum bicara bagaimana dia tau, dalam hati Daniel.
"Bukti yang ada di kepala dokter, operasi selaput dara Nona Evita." jawab Yudi to the point.
Daniel kaget, Bram jauh lebih terkejut.
"Apa maksudnya Yudi." tanya Bram menatap Yudi.
"Dokter tau maksud saya." jawab Yudi.
"Jangan khawatir dokter, percaya pada saya! Kalau memang dokter menyayangi Tuan Muda, saya jauh lebih sayang." ujar Yudi.
Daniel jatuh cemburu mendengar perkataan Yudi. Apa maksudnya dia jauh lebih sayang, apa mereka ada hubungan. Apa si Bram Acdc, ah!
Yudi yang lagi memindai otak Daniel pun menjadi jengah, karena maksudnya di tangkap lain oleh Daniel. Dasar, rutuk dalam hati Yudi.
"Dokter! Ini tidak seperti yang anda pikirkan. Cepatlah dokter kita tidak ada waktu." sergah Yudi.
Kemudian Daniel memberikan rekaman operasi yang dilakukannya pada Evita. Karena Daniel memasang kamera kecil pada kaca mata operasinya dan semua terekam dengan baik tersimpan di USB nya.
Yudi menerima USB dari Daniel yang mendapat tatapan heran dari Bram. Kemudian Yudi berpikir bagaimana membuat keadaan jadi natural bahwa Bram tidak pernah bertemu dengan Daniel.
Daniel yang menyadari kariernya bisa terancam kemudian berkata.
"Bram pergilah! Aku akan urus diriku, Kamu hati-hati." ujar Daniel.
Yudi mengangguk pada Daniel bahwa mereka akan turun duluan, baru Daniel kemudian.
"Baiklah Dani, terima kasih. Jangan lupa jadwalku!" ucap Bram saat masuk ke lift bersama Yudi.
"Call me Bram." ujar Daniel setengah teriak.
Daniel melihat Bram mengangguk tersenyum sebelum pintu lift tertutup. Ia sangat cemburu pada Yudi yang dua puluh empat jam bisa dekat dengan Bram.
Daniel lebih cemburu apabila Bram dekat dengan pria dari pada dengan wanita. Daniel memegang dada sebelah kirinya, jantungnya berdenyut. Bram kelihatan lebih imut memakai hitam-hitam, ah!
*****tbc
hi..readers, hanks ya.
Dukung author dengan Like , koment , vote dan share ya.
__ADS_1
Semoga jadi berkah buat anda semua. 🙏😘