Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
50


__ADS_3

Di mansion Sibolon.


Raharja kalang kabut, polisi mendatangi rumahnya bersama tim audit. Semua berkas penting dan rahasia yang belum sempat disembunyikan disita.


Raharja tak berdaya, dalam hatinya mengutuki si Bryen yang hilang entah kemana membawa putrinya Evita.


Tidak sampai disitu, ruang rahasia juga ditemukan. Sesuai dengan denah yang digambarkan Yudi, semua anak buah Raharja yang ada di dalamnya merasa lega karena telah mendapatkan kebebasannya.


Sejumlah orang tua juga melapor, mereka telah kehilangan anaknya setelah diterima bekerja di Sibolon Company.


Karen menangis memeluk suaminya. Raharja diborgol atas kesalahan berlipat. Pasal penipuan, penyiksaan dan pembunuhan berencana untuk menumpuk hartanya. Bryen dan Evita jadi buronan.


Media lokal maupun luar tidak mau ketinggalan meliputnya. Berdesak-desakan di depan kantor polisi meminta klarifikasinya.


Setelah makan siang mereka semua menyaksikan beritanya di televisi yang ada di ruang tengah kediaman Beno.


Bram dan Kiara bernapas lega, sudah tidak ada lagi Evita di antara mereka.


Waktunya membawa Kiara ke rumah besar. Lucita membantu Kiara dan Dwi berkemas, tidak terlalu banyak barang yang dibawa. Hanya beberapa lembar pakaian mereka selama beberapa hari di rumah Beno.


Kiara berpamitan pada Beno kali ini hanya bersalaman, tidak berani memeluknya.


Beno menyambut uluran tangan Kiara dan memberinya kartu tanpa batas.


Namun Bram mengembalikannya.


"Mr. Bernard, Kiara tidak memerlukan kartu ini. Saya yang akan memenuhi semua kebutuhannya lahir dan batin. Anda tidak perlu ikut menafkahinya." tegas Bram mendorong tangan Beno.


Beno memandang sinis pada Bram, kemudian berkata pada Kiara.


"Kiara, kalau kamu tidak mengambil card ini jangan berharap bisa keluar dari sini. Pacar songong mu ini akan aku lempar keluar sekarang juga ke kandang macan di halaman belakang."


Ancaman Beno cukup membuat Bram gemetar, jakunnya menggulung, glek.


Kiara memandang Bram, Bram mengangguk pasrah.


"Ambillah, nanti kita shoping buat dia bangkrut sekalian." ujar Bram lemas.


Kiara mengambil kartu Beno.


"Terima kasih, Beno." ucap Kiara tersenyum pada Beno.


Beno membalas senyuman Kiara. Menatap sayu berusaha ikhlas melepas Kiwawanya.


"Cukup terima kasih saja sayang tidak perlu pakai senyum segala." ujar Bram membawa Kiara ke pelukannya.


"Dasar bocah." desis Beno.


"Apa!" Bram mendengus kesal, Kiara melerai ke duanya. "Ka Bram, sudahlah."


"Beno, kamu datang ya besok malam di rumah besar ada pengajian." mohon Kiara pada Beno.


"Nanti aku pikirkan." jawab Beno singkat, masih kesal sama si Tuan muda Wijaya.


Lucita memeluk Dwi dengan air mata, semoga masih ada kesempatan untuk berjumpa. Sudah lama ia tidak merasakan kasih sayang orang tua, bertemu Dwi seolah-olah telah membayar kerinduannya.


Di dalam mobil, Kiara bersama Dwi di bangku belakang, Bram di depan bersama Yudi.


Dalam perjalanan menuju rumah besar, Dwi minta diturunkan di rumahnya di Krisan cluster. Sudah lama meninggalkan rumah entah sudah bagaimana keadaannya.

__ADS_1


"Besok pagi saja Ibu ke rumah besar Kiara." ujar Dwi.


Belum sempat Kiara menjawab, Dwi turun tanpa basa-basi pada Bram. Hatinya masih kesal pada anak itu, yang telah berani menodai anak gadisnya.


Setelah Dwi turun Bram pindah duduk di bangku belakang.


"Yudi, putar-putar dulu selama dua jam." perintahnya kemudian menekan tombol di atas kepalanya sehingga bagian depan dan belakang mobil terhalang sekat.


******


Setelah dua jam, dengan wajah sumringah Bram membenahi rambut dan pakaian mereka yang kusut berantakan.


"Kiara ku sayang." ujarnya mengecup kening gadisnya yang memucat.


Sekat antara bangku belakang dan depan pun telah terbuka. Yudi membawa mobil masuk ke halaman luas Rumah Besar.


Penderitaanku berakhir juga, dalam hati Yudi bernapas lega.


Turun dari mobil Bram menggendong Kiara ala bridal, Alisha menyambutnya di pintu utama.


"Kiara kenapa Bram?" tanya Alisha heran, matanya tertuju pada lutut Kiara yang perbannya sudah mau lepas.


Kiara sangat malu tadi di mobil dia sudah dikerjai Bram habis-habisan sehingga lututnya lemas, saat turun dari mobil kakinya gemetar.


"Sebentar Ma, Bram mau antar Kiara ke kamar Bram dulu." ujar Bram sambil terus jalan.


"Bram kalian belum sah, mana bisa satu kamar." sergah Alisha.


"Mama tinggal panggil wali nikah, bereskan. Kiara jadi korban penculikan Mama, hampir jadi korban penembakan juga. Ini lututnya juga terluka waktu mengejar Bram. Bram maunya Kiara tidur di kamar Bram, Ma." ucapnya cuek terus membopong Kiara ke kamarnya di belakang dekat kolam.


Plak! Plak! Plak.


Alisha tak kuasa menahan kesal memukul pundak Bram.


"Kalau Kiara di kamar kamu, kamu yang tidur di kamar tamu. Mama yang akan menemani Kiara tidur di sini." tegas Alisha.


"What!" sergah Bram. "Please Mama, kasihan Kiara. Bram cuma mau kelon gak ngapa-Ngapain. I promise." ujarnya mendudukkan Kiara di sisi ranjang.


Saat bersamaan ponsel di tangan Alisha berbunyi. "Mama angkat telepon dulu sana." usir Bram mendorong Mamanya keluar dan mengunci pintu kamarnya.


dor dor dor


"Bram, jangan macam-macam kamu di dalam." teriak Alisha menggedor pintu kamar Bram, otaknya jadi stres.


Kemudian mengangkat ponselnya.


"Hallo." ketus Alisha sedikit keras.


"Maaf Nyonya mengganggu anda." suara di ujung panggilan ketakutan.


"Ha, ada apa!" Alisha masih ketus.


"Ini dari WO, Nona Evita tidak bisa dihubungi Mansion Sibolon di garis polisi. Panjar sudah dibayar, pelamin gak jadi dipasang. Kami ingin mengkompirmasi pembatalan." jelas WO.


"Oh gitu, bisa tidak dipasang di rumah besar hari ini, saya akan membayar sisa pelunasannya." ujar Alisha.


"Baiklah Nyonya kami akan segera meluncur." sambungan di putus.


"Kurang ajar si Bram budaya Barat di bawanya ke asia, astaghfirullah." Alisha mengurut dada.

__ADS_1


Gak bisa, malam ini juga harus menikah, dalam hati Alisha.


"Yudi, hubungi wali nikah! Sekarang!" teriakan Alisha bagai petir sampai di ruang santai dapur di mana Yudi dan Samsir berada.


"Baik Nyonya, laksanakan!" teriak Yudi membalas kemudian membuat panggilan.


'Ini rumah apa hutan, sudah kayak tarzan teriak-teriak.' desis Samsir.


"Samsir!"


"Eh copot, iya Nyonya." jawab Samsir kaget ternyata Alisha sudah di depannya.


"Nanti WO akan datang membuat pelaminan di ruang tengah utama, Kamu atur ya." titah Alisha.


"Baik Nyonya." jawab Samsir.


"Undang Pak RT dan RW sekalian untuk jadi saksi, malam ini juga si Bram harus dinikahkan." lanjut Alisha lagi.


Samsir mengangguk. "Baik Nyonya."


Alisha kembali ke ruang tengah. "Aduh pusing, punya anak satu reportnya kayak ngurus anak sepuluh. Mana Arjit? Aku juga harus menelponnya agar ia datang kemari sekarang juga." Alisha mengomel sendiri sambil berjalan ke ruang tengah seperti orang gila.


Pelayan rumah tangga yang berpapasan dengannya geleng kepala.


******


Di kamar.


Bram lagi berlutut di depan Kiara yang duduk di tepi ranjangnya, mengoles obat pengering luka pada lutut Kiara.


"Sayang, ini luka sudah mau kering, masih mau dibalut?" tanya Bram mengembus-embus luka Kiara.


Kiara menatap Bram.


"Balut ya ka, aku mau ke kamar mandi nanti basah." jawab Kiara.


"Baiklah sayang, untuk kamu apa aja." ujar Bram kemudian membalut luka dengan telaten.


"Sudah mau ke kamar mandi?" tanya Bram mau menggendong Kiara.


"Ka, aku sendiri saja." tolak Kiara.


"Sayang diamlah, biarkan aku membantu kamu."


"Ka Bram, aku mau buang air kecil." tolak Kiara malu.


"Memangnya kenapa kalau buang air kecil?"


"Ah Ka Bram, aku sendiri saja ya."


"Ya sudah, cuma mengantar nanti aku langsung keluar."


Mau gak mau Kiara nurut digendong Bram ke kamar mandi. Setelah Bram keluar, Kiara mengunci pintunya.


Bram terkesiap melihat spreinya yang berwarna putih cerah, nge-cap merah seperti darah.


Ini darah dari mana, gak mungkin dari lututnya. Ini kan bekas duduk Kiara tadi.


Dalam hati Bram.

__ADS_1


****** tbc


enjoy reading and see you to the next part


__ADS_2