
Keluar dari kamar Yudi di ruang keluarga, Sabit melewati Dwi dan Alisha yang lagi nonton drama di televisi.
Dwi dan Alisha sama tinggi dengan Kiara, cuma Dwi rajin ngemil sehingga tubuh nya lebih berdaging. Ditambah lagi profesi Dwi yang sebagai tukang masak, cicip sana cicip sini, apa gak bengkak badan.
Namun begitu Alisha gak jaga makan banget, ia rajin juga wisata kuliner. Memang tubuhnya aja yang susah gemuk.
"Sabit, kamu kenapa menangis?" tanya Alisha melihat wajah Sabit yang merah padam. Matanya berair, pipi dan bibirnya juga merah.
Sabit menoleh. "Bukan, Bu. Saya kepedasan." jawab Sabit.
Alisha tersenyum. "Kamu juga makan pedas."
Sabit mengangguk.
"Duduk di sini sabit, Saya mau nanya sesuatu." lanjut Alisha.
"Sabit mau sekolah, nanti Saya daftarkan. Kamu SD nya sudah tamat kan?" tanya Alisha.
"Tamat, Bu. SMP sampai lima bulan saja." jawab Sabit duduk di samping Dwi jadi bisa melihat jelas ke Alisha yang duduk di sofa tunggal.
"Kenapa cuma lima bulan, apa kamu dikeluarkan karena bandel?" selidik Alisha.
Sabit menggeleng spontan. "Bukan, Bu. Sabit dapat sekolah gratis, tapi sekolahnya bubar. Muridnya sepi cuma tujuh orang. Mau pindah sekolah yang lebih ramai, ini lagi ngumpulin duit buat sekolah agar tahun ini bisa masuk." jelas sabit.
Hm begitu, dalam hati Alisha.
"Dwi, di dekat Krisant ada sekolahan Swasta, mungkin bisa didaftarkan di sana." ujar Alisha pada Dwi.
"Nanti saya coba nanya Mbak, mungkin bisa." jawab Dwi sambil mengunyah camilan untir-untir.
"Berikan saja saya kerjaan Bu, tukang rumput kebun saya bisa tidak usah bersekolah."
Ujar Sabit segan. Kenapa jadi Nyonya cantik ini yang mikirin sekolahnya bukan ayah Yudi, Sabit menarik napas pelan.
"Hm." Alisha berpikir-pikir.
"Sabit, kerja kebun bunga di sini juga lulusan sarjana pertanian. Dengan lulusan kamu yang cuma SD tidak bisa diterima."
"Jadi, kalau kamu mau kerja di sini maka kamu harus sekolah?" lanjut Alisha.
Sabit menatap Alisha kebingungan, kemudian Alisha melanjutkan.
"Sabit sekolahnya siang, jadi pagi hari bisa kerja dulu di kebun bunga bantuin Pak Danu, dia yang ngurusin bagian taman halaman rumah besar. Tentu saja Sabit belum bisa pegang bunga, cuma pegang rumput atau belajar tekhnik menyiram tanaman." jelas Alisha.
"Samsir." lalu Alisha memanggil Samsir.
"Nyonya." jawab Samsir menghadap Alisha.
__ADS_1
"Kamu infokan pada Danu, mulai besok Sabit bantuin dia di kebun bunga sebagai tukang rumput dulu sambil belajar, bagaimana tekhnik merawat tanaman."
"Siap Nyonya." jawab Samsir.
"Sabit kamu boleh istirahat, kalau lapar jangan segan mau makan, ngerti Sabit."
Sabit mengangguk, tiba-tiba hatinya sendu lalu bangun mengikuti Samsir ke ruang belakang.
*
Di kamar mandi Yudi.
Laras menyandarkan tubuhnya di balik pintu.
Ya Tuhan, kenapa jantung gue dag dig dug banget ea, dalam hati Laras meremas jemarinya yang terasa sedingin es.
Jangan bilang gue jatuh cinta ke si Yudi, hais gimana ini...
Laras lakukan ini demi bayar utang, jadi please jangan baper, santui Laras..
lihat dia sangat kasar dan sombong. Cukup jalani dalam setahun cus, langsung kabur. Dia kan sudah punya anak, jadi gue gak perlu hamil juga kali.. Ntar nanti gue coba negosiasi.
Hm baiklah, Laras menuju wastafel kamar mandi, mengambil odol dan sikat giginya. Menggosok gigi hanya alasan agar bisa lari dari ketakutannya, apakah ia siap!
Padahal kemaren-kemaren ia mempunyai prinsip tidak akan menikah muda. Sekarang di sinilah ia, di kamar bersama seorang pria yang bergelar suami.
Gak nyangka banget si Om perhitungan, ah! Ayah juga sih, matre.
Hais, selamat tinggal masa perawan ku,
Dalam hati Laras dilema sepertinya tanggulnya akan bobol malam ini, tapi setidaknya dengan orang yang sesuai dengan tipenya.
Om Yudi memang menggoda tampan kemana-mana dan wangi pula, cuma beda tipis dengan Tuan muda Bram.
Hais, kenapa juga aku bandingin ke si Bram, ah!
Laki orang itu Laras, lagian dia juga gak bakalan mau sama lo...
Laras menggosok giginya kuat-kuat sampai kesakitan, biar tau kalau ini nyata bukan mimpi. Ia olah raga dikit, membuka tutup lututnya guna mengendorkan ototnya yang tegang.
*
Di kasur Yudi duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya dibalut selimut sepinggang sedangkan bagian atas tubuhnya dibiarkan terekspos.
Ia duduk sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk Laras. Ada rasa berbeda saat ia menggunakan handuk bekas Laras, hm. Yudi menarik nafas dalam, ia melirik ke pintu kamar mandi. Kepikiran ingin membaca namun Yudi menahan dirinya. Biarlah berjalan apa adanya selayaknya manusia normal.
Ketenangan hidup Yudi selama lima belas tahun ini sedikit banyak terusik setelah ia jadi asisten Tuan mudanya. Keseringan membaca pikiran Bram, mau gak mau terlihat juga adegan mesum bosnya.
__ADS_1
Sebagai pria normal, tentu saja ia kepingin kebutuhan biologisnya terpenuhi. Dan sekarang ada gadis yang mau menjadi korbannya ya dimanfaatin saja, dalam hati Yudi.
Gak lama pintu dibuka, Laras keluar dari kamar mandi kelihatan sangat indah dan segar. Seperti bunga yang sedang mekar di taman, rasa ingin mencium baunya dan memetiknya segera kubawa pulang, apa sih Yudi gaje.
Yudi mengulurkan tangannya, Laras menerima uluran tangan Yudi. Yudi menarik tubuh Laras ke arahnya.
"Apa kamu sudah siap?" tanya Yudi mendongak pada Laras yang berdiri di antara dua kakinya yang terbuka.
Laras menatap Yudi intens. Ketampanan Yudi mengintimidasi pertanyaan yang sudah di ujung lidahnya, sesaat ragu.
"Om, bagaimana kalau dalam setahun saya belum hamil juga, apakah utang saya bisa dianggap lunas."
Tanya Laras akhirnya, bagaimanapun ia ingin kejelasan agar mudah menentukan arah hidupnya pasca utang lunas. Bercerai dan jadi janda muda, lebih baik jangan punya anak dulu begitulah rencana Laras.
Kelihatan Yudi berpikir, menarik nafas lalu membuka kancing depan piyama Laras satu persatu. Laras menahan tangan Yudi, menunggu jawaban.
Yudi menarik napas sebelum membuka mulutnya. "Kalau kamu anggap lunas, ya lunas saja." desis Yudi menatap bagian dada Laras yang sedikit sudah terbuka.
"Oke, om sudah janji harus ditepati."
Ucap Laras lirih melepaskan tangan Yudi. "Aku bisa buka sendiri." ujar nya mau membuka sisa kancingnya yang belum lepas.
Yudi menepis tangan Laras. "Di sini aku yang atur, kamu nurut saja." tegas Yudi lalu melanjutkan membuka pakaian Laras satu persatu, sehingga tidak ada yang tersisa di tubuh gadis itu. Sejenak Yudi menikmati pemandangan indah di depannya dari atas sampai bawah, sempurna dalam hati Yudi.
Laras diam membeku, saat Yudi menatap dua asetnya bergantian.
"Kamu sangat indah Laras "
Desis Yudi gak sabar menyesap ujung bukit yang berwarna coklat muda itu dalam dan penuh perasaan. Lengan kokohnya memeluk di pinggang Laras satu, satu lagi di bawah pinggang belakang dengan jari tengah menyelip di belahan.
Darah di tubuh Laras mengalir deras seiring dorongan dari dalam tubuhnya yang membuncah meng-anak sungai dari belahan tengah bawahnya. Seperti bayi lapar Yudi menikmati dirinya.
Beberapa saat setelah melepaskan dahaganya, Yudi berdiri. Kelihatan tubuhnya yang membuat jantung Laras berdebar semakin kencang. Bagaimana tidak, tubuh Yudi sangat bagus. Apalagi tonjolan yang selama ini selalu terbungkus, kini terpampang nyata dalam keadaan siaga. Berdiri tegap sangat gagah seperti inspektur upacara 17an di istana negara lengkap dengan topi bajanya.
Aku yang beruntung mendapatkan pria matang ini, dalam hati Laras. Namun segera sadar diri, untuk apa dia melayani lelaki ini.
Yudi menatap gadis di depannya yang juga menatapnya. Hasrat yang sama agar segera melakukan ritual membuat anak secara tradisional.
Yudi mengusap bibir Laras sebelum menempelkan bibirnya, perlahan mulai mengeksplor di kedalaman mulut Laras.
Laras mencoba adegan yang pernah di lihatnya di drama korea lalu mengalungkan lengannya di leher Yudi. Membalas dengan agresif ciuman Yudi yang lembut menyesap bibirnya.
Sebuah erangan lolos dari mulut Yudi. Pelukan di pinggang Laras pun terasa semakin erat, menempel di tubuh Yudi yang liat seiring ciuman yang semakin cepat dan saling melu mat.
*****
Hai, readers yang Budiman. Dukung terus Tuan muda romantis ya, Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih banyak. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏