
Yudi melajukan mobil kecepatan kencang maksimal seperti saat Bram tadi ngebut. Di jok belakang tertutup sekat, Kiara ketakutan di pelukan suaminya.
Hais ada apa si Yudi, mau kiss pun gak bisa.
Dalam hati Bram menggerutu tapi membiarkan saja setidaknya Kiara gak nangis lagi dan bisa segera sampai ke kantor.
"Sayang, tadi makan apa?" tanya Bram menatap sayang istri di pelukannya.
Hm, Kiara mengangkat wajahnya yang bersandar di dada Bram, menatap kesal pada suaminya itu. Masih terdengar isak nya sesekali.
"Makan apa tadi?" tanya Bram lagi mengusap mata sembab istrinya.
"Onigiri eskrim." jawab Kiara pelan membuang muka.
"Apa ada Onigiri rasa es krim?" tanya Bram lagi.
Ck, "Apa sih! Onigiri ya Onigiri, es krim ya es krim." jawab kiara nada kesal.
"Kenapa juga si Yudi ngebut." keluh Kiara pelan masih bisa di dengar Bram.
"Ngejar meeting penting." ketus Bram juga akhirnya ikut nada bicara Kiara.
"Kalau penting, ngapain nyusul ke rumah Laras. Bawa aku pulang untuk apa, aku mau temani Laras ke Bidan, tau gak." ujar Kiara membalas ketus.
"Ngapain mau ke Bidan diam-diam!?" sentak Bram mengerut dahi.
Ck, Kiara melotot kesal pada Bram gak berkedip. Begitu juga Bram menatap Kiara gak berkedip, cuma bedanya pandangannya sayu penuh gairah.
"Tadi kan sudah kirim pesan ke Yudi!" ketus Kiara lagi, membuang muka gak tahan di tatap Bram.
"Apa kamu ada permisi pada suamimu? Kiara, bisa tidak jangan membuatku khawatir?!" Bram suara semakin keras, Kiara menciut.
"Kenapa harus khawatir, Bram jangan over acting deh!?" sergah Kiara kembali menantang Bram.
"Kiara sayang, bisa tidak lain kali suamimu ini diberi tahu dulu kalau mau keluar rumah." ujar Bram kali ini suara lembut namun penuh tekanan.
Ck, Kiara mengerucut.
"Bram, kalau gitu biarkan Yudi bertemu laras, Laras sakit karena Yudi." jelas Kiara memohon pada Bram.
Bram mengerutkan dahi, makin gak ngerti. "Sakit apa dia dan kenapa karena Yudi?" tanya Bram menatap heran.
Hm, apa harus bilang juga.
Dalam hati Kiara bimbang. "Pendarahan saat buka perawan." jawab Kiara malu.
Hahaha! Bram tertawa.
Ck, tuh kan, Kiara berdecak.
"Bukankah biasanya begitu, apalagi orang asia sangat mementingkan darah perawan saat pertama suami istri melakukan hubungan." lanjut Bram gak ngerti di mana salahnya.
__ADS_1
"Tapi Laras berlebihan, darahnya keluar lebih banyak dari pada aku pertama." jelas Kiara suara pelan, malu membahas masalah gini dengan Bram.
Hah! "Wah, si Yudi bikin aku iri. Kenapa, apa pedangnya lebih tajam dari pedangku?" sinis Bram.
Hais, dasar orang sinting, dalam hati Kiara.
"Bram, biarkan Yudi membawa Laras ke dokter ya please, aku aja yang nyetir kalau kamu malas. Biarkan Yudi pergi pada Laras, Laras butuh dukungan Yudi." mohon Kiara.
Hais dasar, bilang aku malas lagi, gak liat tadi aku nyetir seperti di kejar setan, dalam hati Bram gemas.
"Sayang, aku meninggalkan meeting penting demi menjemput kamu. Nanti saja habis satu meeting, lagian ada keluarganya yang mengurusnya." tegas Bram keberatan.
"Bram, kenapa kamu sangat kejam, apa aku minta dijemput!"
"Sayang, lain kali kamu kalau ada masalah dengan kesehatan langsung lapor padaku atau kalau kamu tau ada anggota keluarga rumah Wijaya yang sakit, baik itu pelayan cuci WC sekalipun, bicara padaku atau pada Mama! Kita ada dokter keluarga, itu dokter dibayar mahal tiap bulan dapat tunjangan!" tegas Bram.
"Tadi urgent, gak ada Mama." jawab Kiara menciut mendengar suara keras Bram.
"Apa si Laras ada bilang ke Yudi kalau dia perlu ke dokter! Sebagai suami Yudi yang berhak pertama tau, tulis pesannya cuma bilang mau ke rumah ayahnya, bawa kamu lagi istri kesayanganku. Sudah syukur aku tidak membentak temanmu itu." kesal Bram melotot pada Kiara.
Cih, Kiara mendengus. "Aku yang mau menolongnya, Laras tidak bisa mengemudi."
"Kamu istriku dengarkan suamimu ini. Sekali lagi kamu keluar rumah gak permisi padaku, aku akan kurung kamu di kamar dan tempatkan bodyguard di depan pintu 24 jam." tegas Bram.
"Ish, jangan lebai." Kiara merengut memajukan bibirnya.
Apalagi, Bram langsung menyedot bibir istrinya geram dari tadi udah gak tahan.
Setelahnya. "Ayo turun." ujarnya.
Bram turun setelah Yudi membuka pintu mobil dan menggandeng Kiara kali ini lewat pintu utama gedung WJ. Ini adalah pemandangan langka, sehingga banyak dari karyawan yang menghentikan aktifitasnya melihat dua sejoli.
Si lelaki tampan tinggi menjulang, si perempuan kecil imut dan sederhana jauh dari kesan glamor namun bagi mereka yang mengerti fashion tau bahwa outfit yang di pakai Kiara tidaklah murah.
Di office, Kiara menunggu Bram dan Yudi melanjutkan meeting, akhirnya ia tertidur di sofa padahal tadi Bram sudah menawarinya agar tidur di kamar. Tapi karena parno Kiara menolaknya, ia tidak biasa tidur di tempat asing apalagi sendirian.
Selesai meeting Bram memanggil Yudi. "Yudi, meeting berikutnya tunda saja, pergilah lihat istrimu." titahnya.
"Terima kasih Bos." jawab Yudi pergi ke parkiran sedangkan Bram kembali ke ruangannya.
Melihat Kiara tertidur di sofa, Bram mengendong istrinya itu ke kamar yang ada di balik rak buku. Masih ada waktu kalau mau pulang.
Lagian Bram dilema, ia kepingin bawa pulang Kiara ke Apart tapi entar Kiara gak ada temannya, apalagi Bryen dan Evita masih berkeliaran di luar. Bram memandangi wajah polos istrinya yang tertidur, tiba-tiba hasratnya memanggil.
*
Setelah mendapat ijin dari Bram, Yudi segera bergegas ke pasar induk, mengebut seperti orang gila.
Tidak sampai sepuluh menit sampai di gang rumah Laras, Yudi memarkirkan mobilnya bergegas turun. Tak lupa Yudi membaca keadaan rumah Laras, kelihatan Laras lagi di kamarnya berbaring melamun.
To tok tok
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." ucap Yudi mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam."
Jawab beberapa orang dari dalam dan pintu dibuka, kelihatan wajah Pak Toyo berdiri menyambutnya. Namun Yudi menangkap kesan tidak bersahabat.
Tadi mendengar Laras pingsan buru-buru Pak Toyo kembali ke rumah bahkan mengurungkan niatnya tidak jadi membeli material.
"Masuklah." ujar Pak Toyo datar.
Di dalam rumah ada ibu Laras, Zainal dan satu orang sepertinya paman Laras, kakak dari ibunya Laras.
"Makasih Pak, saya mau jumpa istri saya." ujar Yudi.
Namun Pak Toyo melempar satu tas gemuk ke hadapan Yudi. "Ini uang nikah saya kembalikan dua kali lipat, jangan lagi pernah temui putriku." tegas Pak Toyo.
Yudi sangat kaget lalu memindai pikiran Pak Toyo, ternyata Zainal memberitahu Pak Toyo perjanjian antara dirinya dan Laras.
Di kamarnya juga Laras terkejut, namun ia menahan dirinya untuk tidak keluar kamar.
"Pak ijinkan saya bertemu Laras, katanya dia sakit." mohon Yudi lagi mengabaikan kata-kata Pak Toyo.
"Bukan katanya lagi, tapi memang sakit." ketus Pak Toyo.
"Pak saya minta maaf kalau saya salah, tapi ijinkan saya bertemu istri saya." mohon Yudi memelas.
"Silahkan bawa uang anda Tuan Yudi dan segera pergi dari sini kalau tidak..." Pak Toyo menggantung ucapannya membuka jendela lebar.
"Lihatlah di luar, kalau anda tidak segera pergi maka jangan salahkan saya kalau preman-preman itu merusak mobil mewah anda." sinis Pak Toyo.
"Bapak jangan salah paham, biar saya jelaskan. Saya mencintai putri anda, tidak ada niat saya untuk menyakitinya, Ijinkan saya bertanya pada Laras, apa dia juga menginginkan perpisahan."
Mohon Yudi lagi, tak lupa ia memindai pikiran Laras dan merasa senang ternyata Laras juga menyukai dirinya dan tidak menginginkan perpisahan.
"Silahkan Tuan." ujar Pak Toyo berdiri di depan pintu mempersilahkan Yudi ke luar.
"Pak saya mohon, apakah istri saya juga ingin berpisah saya ingin dengar dari Laras sendiri."
Tiba-tiba Laras keluar dari kamarnya, memandang Yudi tajam.
"Iya, karena uang nikah sudah dikembalikan ayah dua kali lipat, sebaiknya kita berpisah."
"Laras."
Suara Yudi lirih, Zainal menahan nya saat ingin menghampiri Laras. "Jaga jarak anda!" kecam Zainal.
"Jangan ikut campur kamu, minggir!" geram Yudi menggertakkan giginya.
"Silahkan Tuan, sebelum preman-preman itu menghancurkan mobil anda! Saya juga tidak bisa jamin keselamatan anda jarak 10 meter dari rumah ini." tegas Pak Toyo.
Ck, Yudi menatap sayu Laras, padahal jelas-jelas Yudi membaca pikiran laras masih menginginkan dirinya, tapi kenapa lain yang diucap bibirnya.
__ADS_1
*****
Hi, pembaca yang Budiman. Enjoy reading and see you to the next episode. 🙏