
Kiara belum sempat mandi. Mendengar suara Laras ia segera mengusap wajahnya merapikan dirinya kemudian keluar menemui tamunya.
"Apa yang terjadi dengan ibu saya?" tanya Kiara pada pria yang mengetuk pintu.
"Ibu Nona tiba-tiba pingsan di rumah besar, silahkan ikut kami Nona!" ujar pria di depan pintu.
Kiara menatap Laras dan Zainal bergantian. "Ibu, pingsan di rumah besar." gumam Kiara air matanya kembali mengalir.
"Ya udah sono pergi liat, kita jagain rumah lo." ujar Zainal.
Kiara bergegas mengambil tas kecilnya.
"Ras, Zai, gue pergi dulu ya." pamit Kiara, kemudian ikut dengan pria di depan pintu masuk ke mobil Van yang menunggu di luar.
Di dalam mobil Van, Kiara berpikir-pikir karena apa ibunya bisa pingsan.
Apa tante Alisha telah mengatakan rahasia penghianatan Ayah Burhan dan ibu kandungnya, tapi untuk apa?
Setelah mobil berjalan agak jauh keluar dari komplek, Kiara merasa ada yang salah ini bukan arah menuju ke rumah besar. "Pak ini mau ke mana? Bukankah ibu saya ada di rumah besar." tanya Kiara gusar.
"Tenang saja Nona, kita akan membawa Nona bertemu ibu Nona jika Tuan Muda sudah menikahi tunangannya Nona Evita." jawab Pria yang duduk dengan Kiara di bangku belakang.
"Kalian menculik saya? Kalian mau bawa saya ke mana?" teriak Kiara panik.
Kiara berdiri menjambak rambut pengemudi dengan histeris. "Berhenti, saya tidak mau ikut kalian!" teriaknya menggebuk sopir dengan tasnya bertubi-tubi sehingga si Supir sempat hilang kendali.
"hei diamkan gadis ini, kenapa kau biarkan dia menggebukin aku." teriak pengemudi pada teman satunya.
Pria di samping Kiara menarik tubuh Kiara dengan tenaga prianya.
Dan menempelkan sapu tangan ke wajah Kiara, seketika Kiara lemas.
"Cantik sekali gadis ini, gak heran Tuan muda Bram sampai tergila-gila." ujar pria di samping Kiara memandang wajah lemas Kiara sampai mengences.
"Huh, tapi sangat ganas, aku hampir geger otak digebukin nya." ujar pria pengemudi.
"Cepatlah, sebelum si Yudi sampai kita harus sudah di Mansion Nyonya." bentak pria yang duduk samping Kiara.
Gubrakk!!
Sebuah mobil menabrak mereka di pertigaan yang sunyi sebelum Kiara benar-benar pingsan.
*****
Gak lama setelah itu Yudi sampai di perumahan Kiara. Mendapati kedua anak buahnya tertidur di mobil seketika ia naik marah.
Yudi membangunkan anak buahnya dengan menyiram air ke wajah mereka dengan air botol bekas minuman sisa.
"Bangun bodoh!" bentak Yudi.
__ADS_1
Kedua anak buahnya gelagapan dengan separuh sadar dalam keadaan linglung.
"Apa yang terjadi?" tanya Yudi berang, sesaat setelah sampai Yudi memindai lokasi tidak melihat bayangan Kiara.
"Gak tau bang, terakhir ada satpam minta identitas seterusnya..." jawaban anak buah Yudi terputus, kedua mereka berpandangan sama-sama tidak mengerti.
Kemudian Yudi memindai otak anak buahnya. Mereka telah menghirup asap penghilang kesadaran saat seorang berbaju dinas Satpam datang melakukan pengecekan.
"Sial! Kalian tetap jaga disini, jangan lupa makan. Kalau ada yang mencurigakan cepat beri laporan!" tegas Yudi.
"Siap Bang!" jawab anak buah Yudi serempak.
Yudi bergegas masuk ke mobilnya, kembali ke rumah besar dan membuat panggilan pada Bram.
****
Di rumah besar Bram mencari keberadaan Dwi. Bertanya pada Samsir, katanya tadi masuk ke kamar tamu yang biasa Dwi tidur. Bram pun kejar kesana.
"Bi, Bibi." panggil Bram hati-hati.
Gak lama pintu terbuka, Bram mendorong Dwi ke dalam dan menutup pintunya. Kemudian Bram berlutut kembali pada Dwi. Kalau tadi Dwi kaget, sekarang Dwi penasaran.
"Bangunlah Nak Bram, bibi gak enak." ujar Dwi.
"Maafin Bram Bi." ucap Bram menunduk.
"Bram mencintai Kiara Bi." Jawab Bram Mengangkat kepalanya menatap Dwi.
Dwi menarik nafasnya dalam, ia tidak terkejut karena sudah menduganya.
"Mencintai bukan kesalahan Nak Bram." ujar Dwi.
"Maka dari itu Bram ingin menikahi Kiara sekarang juga, berikan restu Bibi."
Mendengar itu Dwi tersentak, tubuhnya gemetar. "Nak Bram, pernikahan kamu dengan Nona Evita sudah diatur." teriaknya berang.
"Bram tidak akan menikah dengan Evita, Bi. Sekarang berikan restu Bibi dulu, Yudi sudah pergi menjemput Kiara dan Wali nikah akan sampai sebentar lagi." ujar Bram memohon.
"Ya Tuhan Nak Bram! Sebagai ibu Kiara, bibi gak akan memberi restu, selesaikan dulu urusan Nak Bram dengan Nona Evita." Dwi dengan suara tegang.
"Bi, Bram tetap akan menikahi Kiara walau tanpa restu Bibi, permisi." tegas Bram kemudian bangun dari berlututnya dan keluar dari kamar Dwi.
Dwi tercengang, wajahnya pias. Membayangkan kemarahan Alisha, kalau sampai Bram membatalkan pernikahan dengan Evita hanya demi Kiara, ah! Dwi tidak mau itu terjadi.
Pasti si Alisha naik pitam dan akan menyalahkan aku sebagai orang tua tidak bisa menjaga anak gadisnya.
Kenapa jadi begini...
Gak lama ponsel Bram berbunyi, pangilan masuk dari Yudi.
__ADS_1
"Hallo Yudi, Kamu sudah bawa Kiara?" tanya Bram buru-buru mengangkat telepon Yudi.
"Bos, Nona Kiara tidak ada di rumahnya. Tadi ada orang yang menjemput Nona pergi ke rumah besar menemui Ibunya yang pingsan." jawab Yudi.
"Siapa yang pingsan, Ibunya disini sehat-sehat saja Yudi!" teriak Bram.
"Sepertinya Nona diculik Bos."
"Apa! Kiara diculik!"
Suara teriakan Bram yang sampai ke telinga Dwi, seketika langsung Shock.
"Apa! Nak Bram apa yang terjadi dengan Kiara?" teriak Dwi mengguncang di pinggang belakang Bram.
Bram kaget melihat Dwi menangis histeris di belakangnya.
"Bi tenang dulu, Kiara gak apa-apa." ujar Bram berbalik menggenggam jemari Dwi, menenangkan wanita paruh baya itu..
Sepertinya ini ulah si mama.
Geram dalam hati Bram. "Bi, sebentar ya Bram mau cari mama." ujar Bram melepaskan Dwi.
Kemudian Bram berlari pergi mencari mamanya di ruang kerja sambil menelpon Kiara. Dwi mengekor Bram dari belakang.
"Shit, gak aktif lagi!" Bram menatap geram pada ponselnya.
Saat membuka pintu ruang kerja, Bram melihat mamanya masih ada, duduk di Sofa dengan mata memerah.
"Mama, mana Kiara?" tanya Bram mendekat pada Alisha.
Alisha melihat ada Dwi di belakang Bram, berbicara sambil membuang muka. "Tenang saja Bram, setelah kamu menikahi Evita baru mama akan beritahu. Kiara aman di suatu tempat." jawab Alisha lemah.
Mendengar itu Dwi terkejut. "Mbak, apa maksudnya aman di suatu tempat?" tanya Dwi histeris, menangkup wajahnya yang basah air mata.
"Maafkan aku Dwi. Setelah Bram menikahi Evita baru Kiara boleh keluar dari tempatnya sembunyi." jawab Alisa memandang Dwi dengan wajah seperti hilang nyawa. Pucat, sangat seram dan menakutkan.
"Mbak, tolong beritahu di mana Kiara. Saya pastikan Kiara tidak akan mengganggu pernikahan Nak Bram." ujar Dwi memohon.
"Saya percaya padamu Dwi, tapi saya tidak percaya pada Bram. Jadi salahkan saja si Bram jangan salahkan saya." ujar Alisha pelan.
"Mama!" teriak Bram mengepal tangannya menahan marah.
Bram Ingin menerjang gak bisa, bagaimanapun wanita ini adalah orang yang melahirkannya.
Dalam pada itu Yudi sudah sampai di rumah besar, langsung ke ruang Kerja mencari bosnya.
******tbc.
hi , readers. Dukung terus Bram dan Kiara ya dengan Like dan Vote. Klik ❤️ biar terus terupdate ya guys. 🙏
__ADS_1