Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
127


__ADS_3

Masih di resto hotel WJ.


Sepeninggal Yudi, Laras menarik napas lega melirik ke meja tak jauh di mana duduk wanita tadi yang menyapa Yudi, bersama seorang remaja kira-kira sebaya sabit.


"Ras, lo gak papa?" tanya Icha prihatin dengan kondisi Laras.


"Kita pulang ya Cha." ajak Laras.


"Ehm, ayok." angguk Icha cepat.


"Zai, kita pulang dulu ya." pamit Laras.


"Ini makanan sudah dibayar jadi lanjutkan saja berdua makan nya ya."


Jelas Icha tersenyum ramah semanis madu namun seperti racun yang mematikan bagi Ridho, putik cinta pertamanya harus layu sebelum berkembang.


Laras dan Icha berjalan ke parkiran. Icha membawa mobil kembali pulang ke rumah besar, mereka diam sepanjang perjalanan.


Icha parkir tepat di depan pintu halaman utama, beberapa pelayan datang membawa masuk barang belanjaan nya.


Sedangkan Laras membawa sendiri belanjaan nya, juga tidak terlalu banyak hanya ada lima paper bag.


Di ruang utama sudah ada Daniel dan beberapa orang asistennya dengan beberapa berkas dan alat-alat medis di meja di depan mereka duduk.


"Babe." panggil Marissa menghampiri dan duduk di samping Daniel.


"Yes baby, puas bersenang-senang?"


Daniel menoleh, mencium pelipis Icha lalu kembali fokus pada urusannya.


"Hm." gumam Icha menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


"Gue masuk duluan Cha." pamit Laras, Icha mengangguk membiarkan nya.


Mungkin ia butuh sendiri untuk menenangkan diri, apa si Yudi sudah pulang ke rumah besar, atau sudah di kamarnya, tapi gak mungkinlah kayaknya belum.


Dalam hati Icha prihatin dan gak habis pikir dengan sikap Yudi.


Laras berjalan sepanjang lorong, jantungnya berdebar.


Apakah Om Yudi sudah ada di kamar atau belum ya.


Dalam hati Laras membuka pintu kamar, kosong.


Tidak ada siapa-siapa, syukurlah.


Laras masuk ke ruang tidur menghempaskan tubuhnya di kasur, memejamkan matanya.


Cklekk.


Selang beberapa lama pintu dibuka, perlahan Yudi masuk ke kamar setelah terlebih dahulu membaca keadaan.


Yudi sudah tau Laras tertidur separoh badan di kasur, kakinya menjuntai ke bawah. Kepingin membetulkan letak tidur Laras, tapi Yudi takut Laras terbangun sehingga dia membiarkan saja. Yudi ke kamar mandi ingin membersihkan dirinya.


Malam ini Tuan muda akan tidur di Krisant, besok pagi ia baru akan menjemputnya. Sekalian mengatur kepindahan Dwi ke rumah besar.


Tadi juga Yudi sudah di beritahu Bram, bahwa ada anak kecil yang akan ikut ke rumah besar.


Hm, baiklah tambah satu lagi anggota, dalam hati Yudi.


Selesai mandi Yudi berpakaian lalu ke dapurnya ingin makan masakannya sendiri, setelah tadi di resto ia kehilangan selera makannya.


Lima belas tahun gak ada kabar tiba-tiba muncul, jadi selama ini dia di mana, siapa remaja yang bersamanya itu, dalam hati Yudi.


Sengaja Yudi tidak mengganti nomornya, itu nomor adalah dari pertama kali Yudi punya hape, saat belum android masih telpon selular. Walaupun ia sudah punya nomor lain, namun Yudi tetap mengaktifkan nomornya yang ini, siapa tau dia dihubungi.


Terlalu lama berharap akhirnya Yudi menyerah saat kehadiran Icha menarik perhatian nya.


Ternyata jodoh berkata lain dia menikah dengan gadis yang bukan tipenya, namun begitu kemolekan tubuhnya menggiurkan jiwa kejantanan Yudi.


Hm, Yudi menarik nafas berat.


Sebelum ke kamarnya, tadi Yudi singgah ke dapur utama mengambil beberapa bahan masakan sekalian memberi tahu Samsir untuk menyiapkan kamar untuk Dwi dan seorang anak kecil.

__ADS_1


Merasa ada pergerakan, Yudi memindai ruang tidurnya.


Kelihatan Laras membuka matanya, karena mendengar kesibukan di dapur dan bau makanan sedap menyeruak indra penciuman nya.


Siapa, apa Om Yudi sudah pulang?


Dalam hati Laras bangun dari baringnya mengintip ke dapur, kelihatan Yudi lagi sibuk di kompor, Laras merasa haus ingin minum.


Bagaimana ini,


Dalam hati Laras segan mau ke dapur ada Yudi, akhirnya ia masuk ke kamar mandi sekalian membersihkan diri. Berdiri di shower, dikit-dikit masuk juga air keran ke mulutnya yang kering.


Selesai mandi Laras keluar dari kamar mandi di depan pintu ia berhenti, ternyata Yudi ada di ruang tidur sedang berdiri membelakangi nya. Terpaksa Laras masuk lagi membawa tubuh polosnya, tadi ia lupa membawa handuk, di rak handuk juga tidak ada.


Laras ingin memakai baju bekasnya lagi, tiba-tiba Yudi masuk ke kamar mandi membawa handuk dan membalut tubuhnya.


"Apa tidak ada mulut untuk berteriak minta handuk." suara Yudi penuh tekanan.


Laras diam tak menjawab, di dekat Yudi selalu suasana menjadi canggung dan mencekam terutama yang membuat kesal adalah jantungnya yang tidak bisa di ajak kompromi.


Entah ngapa berdebar-debar, buat silap. Darimana juga dia tau aku butuh handuk,


Dalam hati Laras menarik nafas berat, tak terasa jatuh air mata. Yudi memeluknya, membawa wajah Laras terbenam di dadanya.


Sesaat hening.


"Cepatlah berpakaian temani aku makan."


Suara Yudi lembut di telinga Laras lalu ia keluar dari kamar mandi dan ruang tidur kembali ke dapur.


Hah, kok gue jadi cengeng sih, ayo Laras semangat lah,


Dalam hati Laras mengusap mata dengan punggung tangannya, mensugesti dirinya sendiri lalu keluar dari kamar mandi.


Ke lemari mengambil piyama tidurnya segera berpakaian. Mengoles wajahnya dengan krim malam, Laras meraih ponselnya jam 23.30wib.


Walaupun lapar tapi karena segan mau ke dapur, jadi lah Laras kembali berbaring sambil scroll2 ponselnya.


Yudi masuk ke ruang tidur berdiri di sisi tempat tidur. "Apa tidak dengar tadi aku bilang, temani aku makan."


"Duduklah, ayo kita makan."


Ujar Yudi lalu duduk di bangku sebelah Laras. Di meja makan sudah tersedia beberapa menu masakan, ada juga jus.


Yudi mengambil satu mangkok mengisinya dengan sup daging lalu meletakkan nya di depan Laras.


"Minumlah kuah selagi hangat, bagus untuk kamu mengganti darah yang banyak keluar." jelas Yudi.


Laras mengangguk meraih mangkok.


Memang segar, dalam hati Laras menghirup baunya lalu meminum sup nya, rasanya juga lezat pas dengan lidah Laras.


"Malam gak usah nasi lagi, makan lah sayur yang banyak, karbo sudah ada dari kentang dan jagung."


Yudi mendekatkan satu piring sedang isi capcay seafood ke depan Laras. "Kamu makan sendiri habisin atau aku menyuapi kamu."


Ujar Yudi, tau tadi di resto Laras belum banyak makan, keganggu dengan kehadiran nya yang ingin memberi kejutan pada Laras dan sialnya malah ia yang dibuat terkejut oleh kehadiran seorang wanita dari masa lalunya, hais!


"Aku bisa makan sendiri."


Ujar Laras meraih sendok dan mulai makan sayuran masakan Yudi, lembut dan krispi kok bisa, Laras mengerut dahi.


Pelan-pelan habis juga satu piring, takut dengan ancaman Yudi dari pada disuapi lebih baik makan sendiri.


Sambil makan Yudi terus membaca pikiran Laras. Ia ingin tau apa yang dipikirkan nya terutama tentang wanita yang menegur nya di resto hotel tadi.


*


Selesai makan Laras ke wastafel mencuci piring dan mangkok. Sementara Yudi beranjak ke ruang tidur duduk di depan komputernya sembari menunggu Laras selesai mencuci.


Tidak berapa lama Laras masuk ke ruang tidur, menatap punggung Yudi yang khusuk di depan komputer.


Baru selesai makan nanti sajalah tidurnya,

__ADS_1


Dalam hati Laras mengambil ponselnya lalu ke luar dari ruang tidur duduk di sofa luar, membuka ponselnya ada pesan chat masuk dari Zainal.


"Ras, lo gak papa kan?" tulis Zainal di chatnya.


Memangnya gue kenapa,


Laras tidak menjawab, ia berbaring di sofa browsing-browsing masalah hubungan suami istri. Niatnya semula tidak ingin punya anak dari Yudi sekarang berubah, ia kepingin hamil anak Yudi.


Selagi Yudi masih selera padaku, maka aku akan terus melayaninya, untuk itu dibutuhkan pisik yang kuat. Darah juga sudah berhenti, apa gue USG aja.


Hm, gak usah lah. Lihat nanti saja, kalau masih berdarah baru aku konsultasi,


Dalam hati Laras, terkejut melihat Yudi menjulang di depannya. Buru-buru Laras menutup ponselnya lalu duduk dari baringnya.


Yudi duduk di samping Laras merangkul bahunya, deg!


Kan, berdebar lagi, dalam hati Laras kesal.


"Om belum tidur?"


Laras basa-basi sambil berusaha meredakan debaran di dadanya.


Yudi menatap sayu, jemarinya terulur merapikan anak rambut Laras menyelipkan di telinga.


"Aku ingin mencium mu Laras." ujar Yudi pelan dan lembut.


Ya dah cium ajalah, ngapa mesti dibilang-bilang sih, makin gue nervous tua.


Sedikit ujung bibir Yudi ketarik membaca pikiran Laras.


Yudi meraih pinggang Laras, mendekatkan wajah mereka. Perlahan Yudi menempelkan bibirnya, Laras membuka mulutnya.


Sebuah erangan lolos dari mulut Yudi, dengan napas memburu mencium bibir Laras lembut gerakan cepat-cepat. Laras memejamkan matanya, balas melu mat dan menghisap Yudi menyamakan hentakan.


Sebuah tangan menangkup dadanya, Laras mengerang semakin menyedot di ke dalaman mulut Yudi.


Tangan Laras mengalung di leher Yudi, seketika tubuhnya terangkat di pangkuan pria dewasa nan kaku itu.


Dua anak manusia saling menaut lidah dengan pikiran, yang sama-sama ingin memanjakan pasangannya. Laras terhempas, baring di sofa dengan Yudi di atas tubuhnya.


Suara erangan dan desahan serta bunyi mulut yang mengecap-ecap, diiringi deru napas yang memburu memenuhi langit-langit kamar Yudi.


Merasa ngap mereka rehat sejenak mengatur napas yang ngos-ngosan.


"Aku ingin masuk Laras."


Yudi suara berat menatap sayu memohon belas kasihan.


Apakah aku sudah siap, kata Icha relaks aja jangan tegang maka semua akan baik-baik saja.


Dalam hati Laras menatap Yudi lekat lalu mengangguk. Seketika Yudi bangun dari atas tubuh Laras membawanya masuk ke ruang tidur. Yudi berbaring duluan di kasur meraih Laras naik ke atas tubuhnya.


"Nikmati aku Laras, aku milikmu."


Desis Yudi di wajah Laras, mengikuti kata-kata Bram dulu saat merayu Kiara modus, padahal dia yang kepingin.


"Aku gak ngerti Om, belum berpengalaman masih ting ting." jawab Laras.


"Sama, aku juga masih tong tong saat pertama kemaren." balas Yudi.


"Terus gimana, jadi masuk gak nih." balas Laras setengah tensi.


Hah, gara-gara berdebat tidur lagi si otong, mesti kudu di bangunkan lagi nih.


Dalam hati Yudi duduk dari baringnya, Laras pun ikut, mereka hadapan-hadapan.


"Ayo buka baju!"


Yudi mengangkat kaosnya naik lepas dari tubuhnya, Laras menelan liurnya menatap perut kotak-kotak Yudi.


**


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiah author ucapkan banyak terima kasih.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏


__ADS_2