
Di kediaman Bernard.
Beno mengetahui Kiara menghubungi Bram padahal nomornya sudah dibuang, walaupun Beno sudah menduga kemungkinan Kiara mengingat nomornya.
Makan siang Beno pulang bertemu kiara di ruang tengah.
"Kita akan berangkat tiga hari lagi Kiara, dua teman kamu juga sudah bersiap." ujarnya.
Kiara merasa nelangsa, belum rela berpisah dengan ibunya. Apalagi dengan Bram kekasihnya.
"Pak, kenapa buru-buru, masih ada waktu satu minggu." ujar Kiara takut-takut.
"Tunggu apa lagi, kamu mau lama-lama di sini, menunggu pembunuh menemukan kamu?" ujar Beno sinis.
"Saya masih berat berpisah dengan ibu." rengek Kiara hampir menangis.
Waktu kecil Beno paling suka bikin Kiara menangis, sampai besar masih suka nangis, ah! Beno semakin gemas.
Beno tau Kiara pasti berat berpisah dengan si Tuan muda Wijaya itu. Beno menarik napas dalam, membuangnya kasar.
Meminta Kiara ikut dengannya bukanlah hal yang mudah apalagi mengambil hatinya. Saat Beno menemukan pil KB Kiara di laci tasnya. Beno bisa menduga bahwa hubungan mereka sudah jauh dan sangat dalam.
Tapi Kiara dalam bahaya, Beno tidak yakin apakah si Tuan muda Wijaya itu bisa menjaganya. Beno masuk ke kamarnya malas melayani Kiara.
*****
Saat di mobil, Yudi terduduk lemas. Tangannya masih bergetar menahan perasaan amarah ingin membunuh si Bryen saat ini juga.
Bram menjadi gusar. "Ada apa denganmu Yudi?" tanya Bram.
"Maaf Bos, beri saya waktu sebentar."
"Dengan keadaan begitu aku tidak bisa membiarkan kamu menyetir, minggir!" ujar Bram menyuruh Yudi geser.
Bram mengambil tempat di bangku kemudi, Yudi bergeser di bangku penumpang.
"Yudi, ada apa?" tanya Bram lagi saat Mobil sudah berjalan.
"Bos, bodyguard Nona Evita adalah teman pria Nona Evita sendiri. Mereka sudah berhubungan lama sekali. Si bodyguard mencintai Nona Evita, akan tetapi Nona Evita hanya memanfaatkannya. Nona Evita sangat mencintai Anda."
jelas Yudi.
"Lalu di mana seramnya, kenapa kamu gemetaran?" tanya Bram heran.
"Si bodyguard mendapat perintah dari Raharja harus membunuh Bos jika Bos batal menikah dengan putrinya. Tapi si Bodyguard itu tetap akan membunuhmu Bos, walaupun Bos jadi menikahi Nona Evita sebagai balas dendam terhadap kekecewaan hatinya." lanjut Yudi lagi.
"Hah, jadi begitu ya? Menikah atau tidak aku tetap akan dibunuh."
"Hm." Yudi mengangguk.
"Berikan alamat Kiara yang jelas Yudi. Aku sudah tidak tahan ingin berjumpa dengan kesayanganku itu. Setelah rapat Dewan Direksi kita akan langsung menjemputnya." jelas Bram.
Bram sudah sampai di area perkantoran gedung WJ, membawa mobil masuk ke parkiran khusus dirinya. Tidak perduli dengan nyawanya yang terancam.
Kemudian Bram berkirim chat pada Evita,
Bram : "Evita jaga kesehatan, sampai jumpa di pernikahan sayangπ." tulis Bram di pesan chatnya dengan perasaan jijai.
__ADS_1
Hah, mau membunuhku ya, dalam hati Bram membuat rencana.
********
Di kediaman Bernard.
Di kamarnya Kiara berbaring memeluk di paha ibunya Dwi yang bersandar di tempat tidur sambil mengusap-usap
kepala Kiara sayang. Mereka habis makan siang.
"Kiara." panggil Dwi.
"Ya Bu." jawab Kiara nelangsa.
"Sebaiknya kamu jangan berhubungan lagi dengan nak Bram. Ibu gak kuat lihat kamu dalam bahaya Nak." ujar Dwi.
Ck. "Ara sangat mencintai Ka Bram Bu, bisa gila Kiara kalau putus dari Bram."
"Tapi dia akan menikah Kiara." ujar Dwi lagi.
Hm. Kiara tak berdaya memang itu kenyataannya.
"Sebentar Bu, Ara mau cari Beno."
Kiara bangun, ke luar dari kamarnya mengetuk pintu kamar sebelah.
"Meno, apakah aku boleh masuk?" panggil Kiara.
"Masuklah Kiara." Beno duduk bersandar di ranjangnya dengan laptopnya.
Kiara masuk duduk di sofa.
"Bicaralah." ujar Beno tanpa memandang Kiara.
"Kamu sudah tau aku punya pacar." Kiara to the point.
"Hm." Beno hanya bergumam masih sibuk dengan laptopnya.
"Aku dan pacarku sangat serius. Dia ingin menikahi ku." jelas kiara.
Mendengar itu Beno menggeram.
"Putuskan saja Kiara, dia tidak berguna. Dia akan menikah, ibunya menculikmu dan kamu hampir jadi korban pembunuhan." jelas Beno sarkas.
"Iya aku tahu, aku hanya ingin bertemu dengannya sebelum ke kota Kembang. Aku ingin berpisah dengannya secara baik-baik." mohon Kiara.
Benarkah, semudah itu mengucapkan kata putus, dalam hati Beno.
Beno menyipitkan matanya. Mencari keseriusan di wajah Kiara. Mengerutkan dahi, apakah sudah benar memberi ijin pada Kiara bertemu Tuan muda Wijaya.
"Baiklah Kiara, suruh dia datang kemari. Kalian jumpa di sini, di rumah ini." ujar Beno akhirnya.
Kiara tersenyum merekah.
"Makasih Beno, aku akan bekerja dengan sungguh-sungguh nanti saat di kota Kembang." ucap Kiara mengepal tangannya ' yes!' , kemudian keluar dari kamar Beno.
Beno menatap kepergian Kiara betapa polosnya. Dengan sifat kekanakannya Kiara sangat mempesona, timbul rasa semakin ingin memilikinya, melindunginya.
__ADS_1
Benarkah Kiara akan memutuskan hubungan. Apa semudah itu dia melupakan junior si Wijaya itu? kita lihat sajalah, dalam hati Beno.
*****
Masih di resto WJ.
Evita makan sendirian, memesan tempat di privat room.
Evita sangat marah karena makan siangnya dengan Bram dibatalkan si asisten entah apa sebabnya.
Sepertinya dia yang lebih berkuasa daripada si Bram, dalam hati Evita.
Di tambah lagi keisengan anak remaja yang mengunggah vidionya, semakin Evita murka.
"Vidio sudah dihapus dari website, yang mengunggah juga sudah dibereskan." Bryen masuk memberi laporan, senyumnya menyeringai.
Akhirnya Evita sadar juga bagaimana sebenarnya si Bram Wijaya itu.
Dalam hati Bryen, tekadnya semakin kuat ingin membunuh si Bram Wijaya.
Evita kembali memutar vidio singkat dirinya. Bram mempermalukannya sedemikian rupa, seolah ia adalah najis sampai harus membuang jasnya ke dalam tong sampah setelah ia menyentuhnya.
"Cepat bunuh kedua manusia itu Bryen. Si Bram dan si gadis kampungan!" perintah Evita sangat Emosi bertepatan dengan itu, masuk pesan chat di ponselnya. Bram!
Mata Evita membulat, dengan cepat membuka pesan.
Bram : "Evita jaga kesehatan, sampai jumpa di pernikahan, sayang. π."
"Tunggu, tunggu, Bryen!" panggil Evita saat Bryen mau keluar dari ruangannya.
Bryen mengerutkan dahi, ada apa lagi?
"Jangan dulu bunuh si Bram! Biarkan sampai tanggal menikah. Kalau gadis kampungan itu terserah." ujar Evita menahan Bryen.
Bram masih mau menikah denganku, dalam hati Evita.
"Bryen, aku peringatkan kamu, jangan menyentuh Bram sebelum aku perintahkan!" tegas Evita lagi.
"Evi, sadarlah, dia tidak mencintaimu." sergah Bryen marah, kenapa tiba-tiba Evita berubah pikiran.
"Aku tidak butuh cintanya bryen, aku butuh status dan tubuhnya." jelas Evita.
Status!
Apa begitu rendah aku di matamu Evi, sehingga tidak pantas mendampingimu, dalam hati Bryen sedih.
"Apa kau mendengarkan aku Bryen?" lanjut Evita lagi melihat ketidaksenangan di wajah Bryen.
"Iya, aku dengar." jawab Bryen kesal.
"Kamu sudah selesai Evi, aku akan antar kamu pulang." lanjut Bryen lagi memandang wajah Evita sudah kembali ceria.
Begitu cintanya dia pada si Tuan muda Wijaya.
*****tbc
hi readers, thanks ya. Dukung author dengan Like dan vote ya , agar author semangat nulis nya. π
__ADS_1
π tbc...