
D ruang keluarga.
Beno terkulai lemas di sofa memegangi dadanya. Setelah minum obat yang diberikan Lucita berangsur-angsur badannya mulai pulih.
Gimana aku bisa maksa dia menikahi teman Kiara. Ah, jangan sampai Yudi dipaksa keluarga perempuan itu menikah. Si Icha kemana lagi?
Dalam hati Bram mengusap rambutnya kasar. Ia ke ruang tengah utama menyelip-nyelip di barisan menuju Daniel duduk, lalu berbisik pada nya.
Darah di tubuh Daniel berdesir dengan kehangatan nafas Bram di telinganya. Terasa menyapu kulit lehernya, Daniel meremang jakunnya menggulung saat ia menelan salivanya.
Arjit di sebelahnya mengerutkan dahi.
Apa ini si Bram, bukannya mengaji malah mondar-mandir grasak-grusuk, bisik-bisik apa lagi, sampai-sampai dokter meremang gitu.
Sambil nyengir Daniel menunduk pada Arjit, lalu ia berdiri mengikuti Bram. Kalau tadi Bram merangkak, sekarang ia berdiri berjalan santai, yang langsung mengundang perhatian jamaah.
Begitu juga gadis-gadis dan emak-emak muda di barisan perempuan jadi gak konsen, mereka serentak menoleh kepada Bram yang tampan. Pria yang bersamanya juga tak kalah tampan, cuma Tuan muda Bram lebih tampan dan bersinar.
Kelihatan wajah gadis dan emak-emak jadi cerah tiba-tiba, seperti bunga-bunga bermekaran.
Situasi itu juga mengundang perhatian Pak Ustad. Ia hanya bisa geleng kepala, merasa miris dengan keadaan dirinya. Sebenarnya dia juga banyak digilai gadis-gadis dan emak-emak, tapi dibandingkan Tuan muda sekarang ia merasa jauh ke banting.
Kemudian ia berdehem, karena menggunakan microphone jadi bisa kedengaran semua yang hadir. Sontak barisan perempuan tersipu malu, kembali fokus mengaji.
Ck, Alisha berdecak melihat kelakuan putranya, ia kembali fokus mengaji.
Bram dan Daniel tiba di ruang keluarga. Melihat Beno lemas di sofa, sebagai dokter Daniel maju ingin memeriksa nya namun Bram menahan tangannya.
"Sebentar Bram, aku akan memeriksanya. Sepertinya dia gak sehat, wajahnya kelihatan pucat." ujar Daniel heran, mengapa Bram menahan tangannya.
"Asistennya lebih dari pada dokter, biar dia yang mengurusnya. Ada hal yang lebih penting." ucap Bram.
Daniel mengerutkan dahi. "Ha, apa?" tanya Daniel.
"Karyawannya memaksa Yudi menikah, jadi tolong kamu aja yang gantikan." jawab Bram.
"What! A-pa, me-nikah! a-ku, dengan siapa?" tanya Daniel sampai berteriak karena panik tiba-tiba disuruh nikah.
"Karyawannya." ujar Bram santai menunjuk Beno dengan memajukan mulutnya pada Beno yang lemas di sofa.
"Jangan khawatir, orangnya tidak terlalu jelek lagian ini hanya pura-pura. Ayo ikut aku sebelum terlambat." ujar Bram menyeret Daniel ke lorong menuju kamarnya.
Sebelum jauh, "tunggu, a-pa maksudnya Laras menikah dengan si Yudi?" suara Beno lemah mendengar perkataan Bram.
"Hm, kamu istirahat saja biar aku yang urus." jawab Bram. "Ayo Dani, kita gak punya banyak waktu."
Apa!
Marissa dari atas balkon dalam di lantai dua, terperangah, "Si Yudi nikah sama siapa Yam, teman Kiara?" teriak nya
__ADS_1
Bram tidak mendengar lagi, terus menyeret Daniel. Daniel tersenyum simpul dengan adegan romantis ini.
Bram menggenggam ku, berjalan bergandengan tangan. Sungguh peristiwa yang langka, selama ini hanya ada dalam khayalan ku saja, dalam hati Daniel sumringah
Sementara Marissa mengejar mereka, padahal dia cuma pakai short pants dan tank top no bra in side. Wajahnya penuh tepung masker setengah kering, jadi retak-retak karena telah bersuara memanggil Bram.
"Yam, tunggu." teriaknya mengejar dua sejoli bergandengan tangan itu.
*****
Di kamar Bram Kiara sudah siap dengan jaketnya menunggu suaminya. Bayangan pikirannya pada Laras. Siapa yang bakal menikahinya, Samsul, Yudi apa Beno. Gak lama pintu di buka, Bram dan Daniel berdiri di pintu masuk.
"Ayo Dani, buruan." Bram mendorong Daniel masuk kamarnya. Hal yang gak pernah dia toleran sebelumnya, sekarang sepertinya sudah di langgar. Pertama Beno, sekarang Daniel juga sudah masuk area privasinya.
Saat Bram mau menutup pintu kamar, ia kaget tiba-tiba Marissa mendorongnya.
"Yam, gue ikut." ujarnya dengan nafas ngos-ngosan karena harus berlari turun tangga melewati lorong lagi, mengejar langkah panjang-panjang Bram dan Daniel.
Kalau Bram kesal, Daniel malah melotot melihat tampilan Marissa, hot and sexi. Rambut di kuncir ke atas sembarangan, wajahnya cemong penuh tepung. Dunia permaskeran sudah jauh berkembang, dia masih pakai masker jadul itu.
Lebih heran lagi, Daniel gak nyangka kalau jiwa laki-lakinya bisa bangun melihat Marissa saat berantakan seperti ini. Hal yang mustahil dalam dirinya sampai seumur ini belum pernah terjadi. Bahkan dia sudah melihat beribu tubuh wanita, tidak ada yang membuatnya bergejolak. Daniel menelan salivanya.
"Apa kamu tidak punya malu." bentak Bram.
"G-gue, ikut Yam. Lo bilang Yudi mau n-nikah. Mana bisa, dia harus nikah sama gue Yam." suara Marissa terbata masih mengatur napasnya.
"Mau ikut ke mana lo pakai baju seminim gitu, sana keluar!?" Bentak Bram mendorong Marissa dan menutup pintu kamarnya.
Pintu di banting di depan batang hidung Marissa.
Dor dor dor! "Yam, tunggu gue ikut!" suara Marissa menggedor pintu kamar Bram.
Bram bergeming gak mau perduli.
"Cih, Dani kamu berliur?" ujar Bram menatap Daniel.
"Ayo cepat lewat jendela." Bram mendorong Daniel ke jendela.
"Ayo sayang." lanjutnya meraih tangan Kiara.
"Bram, tunggu dulu. Tidak boleh begini. Menikah itu bukan perkara main-main." tahan Daniel.
"Justru itu, aku mau menyelamatkan Yudi. Dia tidak boleh menikahi perempuan itu. Karena dia mau aku nikahkan dengan Marissa." jelas Bram.
Ia menoleh ke istrinya yang terbengong. Sudah siap dengan jaketnya yang kebesaran. Kelihatan sangat lucu dan imut.
Apa! Marissa, no way! Dalam hati Daniel, baru saja jiwa kelaki-lakian nya bangun pada gadis itu.
Gak bisa, aku harus menyelidiki kenapa dia bisa bangun pada gadis jelek tadi.
__ADS_1
"Bram, aku gak bisa menikah dengan orang lain, aku mau dengan gadis yang barusan. Siapa itu namanya, Marissa?" tegas Daniel to the point.
"Apa! Astaga, kenapa tiba-tiba." Bram gusar.
Bagaimana ini? Kenapa berputar-putar.
"Bram sayang, biarkan saja Yudi sudah dewasa, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri." ujar Kiara menegur suaminya.
"Tapi si Marissa sudah mau sama Yudi." Bram memandang Kiara.
"Itu karena saham sayang, bukan karena suka." jelas Kiara.
Daniel menoleh pada Kiara. "Jadi gitu." Daniel mengigau sendiri. "Aku hanya perlu merayunya dengan harta, baiklah." Dani bermonolog sendiri.
Bram menatap curiga, "apa yang kamu rencanakan." tanya Bram.
"Tidak ada apa-apa. Aku pergi Bram, mau mencari hidayah." jawab Daniel berjalan ke arah pintu kamar Bram.
"Hei, kamu mau kemana!" Bram meneriaki Daniel.
"Kemana lagi, ya ke ruangan mengaji." jawab Daniel.
Ia membuka pintu kamar Bram, ternyata Marissa masih di situ dengan telinga menempel di daun pintu. Ia hampir jatuh karena pintu dibuka tiba-tiba, beruntung Daniel menahan tubuhnya.
Marissa mengurai dekapan Daniel, gak perduli. "Yam ayo cepat, jangan biarkan si Yudi menikah!" Marissa memberondong Bram.
"Ehem." Daniel berdehem. "Nona ayo ikut saya, katanya mau konsultasi."
Daniel menarik tangan Marissa, Marissa menghempas tangan Daniel pelan dan melotot pada Kiara. Ternyata dia mendengar perkataan Kiara dan dia sakit hati
"Kiara, aku gak nyangka kamu sebusuk itu. Kamu cemburu kan aku diberi saham." ujar Marissa sambil mencibir pada Kiara.
Kiara gelagapan gak tau mau jawab apa, ia menoleh pada Bram seketika matanya berembun seperti mau turun hujan air mata.
Bram menatap sayang pada Kiara lalu memeluk nya. "Diam kamu Icha, memang kenyataan nya begitu kan!" bentak Bram membela istrinya. Ia mengecup pucuk kepala Kiara menenangkan.
"Apa lo nyesal janji mau ngasi gue saham, Bram." sinis Marissa.
"Lo gak konsisten, omongan lo gak bisa dipegang." teriak Marissa berang, wajahnya merah padam.
"Sudah Icha, aku lebih kaya dari Bram apalagi si Yudi gak ada apa-apa nya. Kamu mau apa tinggal bilang, ayo kita pergi." Daniel menarik Marissa dari depan kamar Bram.
Ck, Marissa mengikut ditarik Daniel. Ia menatap punggung Daniel, sudah jadi rahasia dikalangan para model bahwa dokter Daniel adalah gay. Kabar itu juga sampai ke telinga Marissa
Banyak peragawati seksi dan model pria-pria macho belok mencoba merayunya tapi tidak ada yang berhasil, bagaimana bisa ia mau dengan ku, dalam hati Marissa.
******
Hai, terima kasih masih ngikutin ya. Like, vote dan dukungannya saya ucapkan terima kasih.
__ADS_1
Mohon maaf belum bisa tiap hari update. 🙏.