
Di lantai dua di balkon di depan ruang sholat.
Salma telah selesai menanda tangani kontrak, Samsir mempersilahkan nya pulang agar besok bersiap-siap untuk ditraining di ruang Spa Alisha selama seminggu sebelum dioper ke Mansion reklamasi kota mandiri.
Saat Salma menuruni tangga, alangkah terkejutnya dia melihat seorang pria membopong anak perempuan mirip putrinya melewati ruang keluarga.
Kalaupun Sora, bagaimana dia bisa ada di sini,
Dalam hati Salma bergegas mengikuti pria yang menggendong anak perempuan mirip putrinya itu. Pikiran buruk sempat menghantui nya jantungnya berdebar sangat kencang.
Mau ke mana mereka, apa yang akan mereka lakukan terhadap anak itu,
Dalam hati Salma berdiri di depan pintu memperhatikan ke arah Yudi yang berjalan cepat-cepat.
"Nona Salma, menunggu jemputan nya di pos satpam juga boleh ada tempat duduk menunggu dari pada berdiri di pintu.
Suara Samsir dari belakang mengejutkan Salma lalu menoleh.
"Maaf, siapa nama anak kecil itu Tuan?" tanya Salma menunjuk Yudi yang sedang menggendong Sora berjalan di halaman utama.
"Apa anda mengenalnya?" Samsir balik nanya.
*
Di halaman utama Yudi bergegas dengan menggendong Sora ke mobil box Daniel.
"Hais, yudi tolong hargai waktuku yang mahal ini kalau bukan karena Bram mana ku perduli padamu." gerutu Daniel.
"Maaf dokter, kebelet." jawab Yudi senyum dikulum.
Daniel mempersilahkan masuk, Yudi duduk dengan menggendong Sora di samping Sabit yang baru selesai diambil sampelnya. Petugas keamanan bantu menutup pintu mobil box dari luar.
"Bagaimana bicara ke anak ini agar mau diambil sampelnya." tanya Yudi pada Daniel mengerling Sora.
Ck, "Sebaiknya aku mengambil sampel kamu duluan Yudi sudah tidak ada waktu. Tau aku sibuk, sempat-sempatnya lagi kamu buat dedek bayi."
Daniel mengomel sambil mempersiapkan jarum, kapas dan alkoholnya. Yudi menelan ludahnya.
"Tolong dokter, ada anak-anak."
Ujar Yudi jengah, Sora bergidik melihat jarum suntik mulai gelisah.
"Sabit, tolong kamu pangku Sora sebentar." pinta Yudi menyerahkan Sora.
"Tidak mau."
Sora suara merengek, menggeleng gak mau beranjak dari pangkuan Yudi mendorong tangan Sabit yang mau meraih nya.
"Sora sama bang Sabit sebentar aja, ayah mau diambil sampel." pujuk Yudi.
"Tidak mau!" pekik Sora semakin memeluk di leher Yudi.
"Wah, kamu semakin menjiwai peranmu sebagai ayah Yudi, kedua anak ini nempel sekali padamu. Kemarikan tanganmu biar cepat!" sergah Daniel.
Yudi pun diambil sampel sambil memangku Sora, Sora mendelik sampai keluar ngences melihat lengan Yudi ditusuk jarum. Yudi menampung ngences Sora dengan tangan satunya.
"Yudi tenanglah, tolong." sergah Daniel yang lagi mengambil darah Yudi.
Yudi kembali fokus, Daniel mengambil dua tabung ukuran jarum suntik untuk Yudi. Selesai mengambil sampel Yudi, merasa masih ada waktu Daniel ingin coba membujuk Sora gaya khas anak-anak.
__ADS_1
"Ayah Yudi mana hadiah buat Sora." Daniel berakting memainkan matanya pada Yudi.
Jantung Yudi mau copot tiba-tiba Daniel mengedip mata genit padanya namun begitu dia mengerti lalu ikut berakting bersama Daniel.
"Ada Om Dani, tablet serupa Sabit iyakan Sora." balas Yudi genit, geli dalam hati.
Sabit ikut bekerja sama memainkan tabletnya di depan Sora, Sora melihat ke tablet Sabit.
"Mau tablet." rengek nya.
"Baiklah Sora, ayah akan memberi Sora tablet."
Yudi lalu mengeluarkan ponselnya menghubungi anak buahnya yang ternyata sudah di luar mobil box membawa satu tablet ukuran 10 inchi. Yudi menerima tablet lalu menutup lagi pintu mobil box.
"Ini untuk Sora, tapi kita ambil sampel sedikit ya gak sakit, liat ayah gak kenapa-napa." pujuk Yudi memperlihatkan lengannya yang terbungkus kapas di selotip memegang tablet.
"Iya Sora, Sabit juga diambil sampel lihat tidak apa-apa kan." Sabit bantu membujuk Sora.
"Tidak mau, aaaa!" jerit Sora mendorong tablet, mulai keluar air mata, "uwaaaa." akhirnya ia menangis.
Hais, gimana ini? Tidak ada Laras yang menolong membantu memujuk Sora karana sudah ku buat tak berdaya tadi, ah!
Keluh dalam hati Yudi mengingat kelakuan mesumnya.
"Yudi, Sora lain kali saja."
Ujar Daniel nyerah melihat Sora memang tidak dalam kondisi yang mau diambil sampel.
Hah! Yudi mendesah. "Baiklah Dani terima kasih." ucap Yudi juga nyerah.
Tiba-tiba pintu mobil diketuk, pintu dibuka ada Samsir dan seorang wanita.
"Ibu, uwaaaa." teriak Sora memanggil wanita di samping Samsir.
Jadi ini ibu Sora, tiba-tiba ada di sini kebetulan apa ini.
Dalam hati Yudi, membaca wanita di depannya.
"Ini Salma, dia mengaku ibu Sora." jelas Samsir.
Sora melebarkan tangannya pada Salma, Salma meraih Sora ke pelukannya.
"Ibu, hiks hiks."
"Hm, udah diam." Salma mengusap air mata anak perempuan yang dirindukan nya itu.
Yudi turun dari mobil box Daniel diikuti Sabit melihat ke Salma yang lagi membujuk Sora.
Salma, tadi sudah diberitahu Samsir secara singkat bagaimana Sora bisa ada sini.
*
Bram dan Kiara di kamar mereka lagi berkubang di bathtub.
"Sayang, habis mandi kita ke Apart ya." ujar Bram sambil menggosok punggung Kiara yang duduk di antara sela kakinya yang terbuka.
"Hm, baiklah." jawab Kiara. "Apa Yudi dan Laras ikut?" lanjut Kiara bertanya.
"Tidak perlu, aku mau masak makan malam romantis kita." jelas Bram
__ADS_1
"Besok ke kantor gimana?" tanya Kiara lagi.
"Sayang, kita ada mobil aku bisa nyetir." jawab Bram.
"Besok, kalau kamu ke kantor aku mau ajak Laras daftar Kursus ya Bram kamu sudah janji."
"Iya, tapi diantar supir kantor ya sayang. Kalau gitu minta Yudi besok jemput aku di Apart saja sekalian bawa istrinya tapi terpaksa bawa Sora, kamu gak apa-apa sayang anak itu belum ada pengasuh." ujar Bram.
"Iya, gak masalah." jawab Kiara.
Yang dipikirkan nya adalah bagaimana mengatur siasat. Apakah Laras akan mau diajak kerja sama oleh nya sebagai teman sementara Kiara akan ke rumah Beno di Ludwig residen berjumpa ibunya.
"Sayang ayo menyatu lagi." ajak Bram di telinga Kiara.
Kiara menoleh menangkup wajah suami di belakangnya. "Bram, kita sudah dua kali pagi ini, kamu bahkan belum sarapan." ujar Kiara.
"Aku masih kenyang sayang, makan kamu, hehe." jawab Bram menyeringai.
Ck, "Sini, gantian aku gosok kamu saja."
Kiara mengambil sponge busa dari tangan Bram lalu memutar Bram agar membelakangi nya, daripada suaminya itu kepikiran mesum terus.
Saat aku menggosok nya, bukannya nanti tambah mesum, ah.
Dalam hari Kiara serba salah mau digosok ataupun menggosok sepertinya sama saja, yang penting sekarang adalah mengulur waktu setidaknya berjarak, jangan nonstop.
*
Laras juga selesai mandi lalu berpakaian kemudian bergegas ingin melihat Sora ke halaman utama, apa sudah berhasil diambil sampelnya.
Setelah menutup pintu kamar, Laras berjalan ke lorong menuju halaman utama rumah Wijaya.
Melewati ruang keluarga, ia melihat ada beberapa orang berkumpul duduk di sofa. Di antaranya, Sabit duduk di samping Yudi dan seorang wanita cantik yang sedang menggendong Sora yang lagi makan es krim tersenyum bahagia duduk di sofa di seberang Yudi dan Sabit duduk.
Siapa itu, apakah pengasuh? Cepat amat sudah bisa begitu akrab.
Dalam hati Laras mendekati mereka, Yudi tersenyum padanya.
"Laras."
Panggil Yudi berdiri menyambut istrinya mengulurkan tangannya, Laras menerima uluran tangan Yudi yang menariknya duduk di sebelahnya setelah Sabit berpindah ikut berdiri di samping Samsir.
Salma melirik ke Laras hatinya kecewa, karena Yudi bersikap mesra pada Laras.
Ternyata dia sudah ada yang punya, batin Salma.
Tadi Yudi mengaku bahwa dia adalah saudara kembar Suganda walaupun belum ada bukti kongkrit, entah kenapa Yudi yakin bahwa Suganda memang saudara kembarnya.
Lalu Yudi berjanji akan menggantikan Suganda merawat Sora dan membiayai kebutuhannya.
Sempat terbersit harapan di hati Salma bahwa Yudi juga akan bertanggung jawab terhadap dirinya yang telah jadi korban saudara kembarnya.
Di pandangan Salma Suganda yang telah operasi plastik aja tampan ternyata Yudi lebih tampan, gambaran asli wajah Suganda.
Batinnya menyayangkan sifat Suganda yang kejam, andai Suganda selembut dan sebaik sikap Yudi betapa bahagianya. Walaupun ada saat di mana Suganda bersikap manis padanya, yaitu saat menidurinya.
Tidak dipungkirinya, Salma sering merindukan saat-saat itu, ditambah lagi melihat tatapan dan senyuman Yudi serupa persis saat Suganda sedang bersikap manis padanya.
****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tun muda romantis ya. Like, vote dan hadiah author ucapkan banyak terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏